Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Dendam Kesumat


__ADS_3

Flashback On.


Di sisi lain seseorang sedang menjalankan rencana misi waktu dulu yang gagal ingin membunuh Fisha, ia sedang duduk di kursi goyang sambil ketawa jahatnya.


”Haha ... Fisha ... Awan sudah mati! Sekarang tunggu giliranmu, sebentar lagi kau akan mati ...! Hahaha,” ucapnya dengan ketawa jahatnya dan menggoyangkan kursinya ke depan dan ke belakang.


“Kali ini kau gak akan lolos karena kau tak punya pelindung lagi, dulu hanya keberuntunganmu saja! Emang kamu punya berapa nyawa cadangan hah? Sok keganjenan sekali kamu! Dan kenapa kau selalu beruntung dari dulu ...! Hiks, hiks, hahaha, cuih!” lanjutnya sambil memegangi foto Fisha dan memakinya lalu meludahinya dengan kasar.


Dia lalu mengeluarkan handphone-nya dari saku celananya.


”Hallo?” ucapnya saat panggilan sudah terhubung.


”Iya Bos? Kenapa Bos?” jawab seseorang di ujung teleponnya.


”Ada rencana buat kamu! Bunuh Fisha di mobil jeep warna silver menuju ke arah Malang, ia saat ini sepertinya berada di Pasuruan!” perintahnya dengan menekan kata bunuh dengan geram dan menyeringai.


“Oke Bos, siapa Bos? Kirim fotonya!”


”Oke, dia orang yang dulu pernah kau bunuh saat aku menyuruhnya ... ingat?” Sambil mengirim foto Fisha ke anak buahnya.


”Oh oke, ingat Bos hanya saja wajahnya agak lupa.”


”Oke Bos fotonya sudah masuk,” lanjut anak buahnya.


"Okeee jangan sampai gagaal!” bentaknya, ia pun berdiri dan berjalan lalu menatap cermin dengan tangan menyayat ke lehernya, ia sudah kehilangan akal sehatnya, karena dendam kesumatnya dulu.


"Siap Bos!” ia lalu mengakhiri telponnya dan memasukkan kembali ke kantong celananya.


Di jalan


Anak buahnya pun beraksi ia dengan cepat mobilnya sudah berada di belakang mobil Even.


“Eh ... bukankah itu mobilnya?” ucap temennya sambil menunjuk mobil di depannya.


”Sebentar aku lihat chat dari bos besar dulu,” balas temen satunya sambil membuka handphone-nya yang usai chat bersama bosnya tadi.


”Iya mobil jeep warna silver dengan plat nomor sekian, iya sama persis. Ayo kita pepet mobil mereka agar menuju ke jurang!” perintah bos pembunuh bayaran tersebut.


”Baik Bos!” mobilnya pun mendekat dan menyerempet mobil Even, Even pun melirik dan mengumpat.


”Hey kurang aja kalian, sialaaaan!” umpat Even dengan melihat di kaca spionnya, tapi alhamdulillah ia berhasil mengendalikan mobilnya.


”Siapa Kak?” tanya Alby dengan menoleh ke belakang penasaran dengan yang menyerempetnya, Fisha dan lainnya pun terbangun karena kaget dengan umpatan Even.


”Kenapa?" tanya Fisha sambil mengerjapkan matanya dan sesekali menguap.


“Gak apa-apa, tidur lagi aja!” perintah Even.


”Udah puas, gak ngantuk lagi ....” Fisha terkekeh dan tersenyum, membuat hati Even berdesir.

__ADS_1


Lalu misi pun gagal, pembunuh bayaran pun merasa jengkel lalu melanjutkan rencana yang kedua. Dengan membuntuti mobil di depannya, ia pun siap membidik ban mobil Even.


”Oke ayo! Kali ini tidak boleh gagal! Cepaaaat!” teriak bosnya dengan kencang.


Dan dor, dor, dor ... tembakan pun mengenai ban mobilnya, ciiiit ... ciiit ... cit ....


Mobil semakin tak terkendali, Fisha dan lainnya semakin panik.


”Kaaaak bagaimana ini Kaaaak?” tanya Alby setengah berteriak dengan kepanikan yang luar biasa di wajahnya, namun tak dijawab oleh Even karena ia tegang dan mengatur pengemudi mobilnya dengan kedua tangannya dan menginjak remnya, segala upaya dilakukannya dengan keadaan saat ini, sedangkan Fisha memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, karena ia teringat kejadian dulu bersama Awan saat kecelakaan, ia menangis lirih karena ketakutan.


Awan ... kalau emang sekarang waktunya kau menjemputku aku siap! ibu, ayah, kakek, nenek, Farsi maafkan aku ... selamat tinggal ... aku menyayangi kaliaaan. Batin Fisha, semua badannya pun ikut bergetar dan wajahnya sedikit memucat, Even hanya melirik, dia juga fokus mengendalikan mobilnya dengan wajah yang tak bisa ditebak.


”By, bagaimana ini?” Sesil menghadap ke belakang dan mengoyak kedua bahu Alby, Alby hanya diam membisu karena tak tau apa yang harus diperbuat.


”Aaaaaaaa Eveeeen awaaaas!” Fisha sesekali membuka matanya, ia berteriak dengan kencang sambil sesekali menutup matanya kembali, ia berteriak karena melihat Even dengan kencang mengarahkan mobilnya ke pohon besar. Semua cewek pun ikut berteriak dengan histeris.


”Aaaaaaa ...!” teriak semuanya bersamaan karena terkejut. Dan akhirnya mobilnya pun sengaja dengan cepat dibenturkan Even ke pohon agar tidak masuk jurang.


Jebraaak dus!


Dengan susah payah dan bercucuran keringatnya Even pun berhasil menghentikan mobilnya, meskipun mobilnya ringsek tapi semuanya selamat.


--------


Flashback Off.


”Alhamdulillah selamat ya Allah, terimakasih.” Sambil mengangkat kedua tangannya dan mengusap ke wajahnya. Ia lalu melirik ke arah Fisha yang masih bergetar dan memejamkan matanya.


Even mendekat ke arah Fisha, ia memajukan badannya ke arah kursi Fisha dan menatap Fisha.


”Hey, Fish bukalah matamu, sudah gak apa-apa, hey!” perintah Even sambil menggoyangkan badan Fisha, namun Fisha masih mematung bahkan ia pun menangis sesenggukan.


”Hey, udah jangan menangis, tenang ada aku!” Even semakin mendekat dan memeluk Fisha, sedangkan yang lainnya memperhatikan dengan tersenyum.


"Sebaiknya kita keluar dulu! Takut mobilnya bermasalah dan meledak!” ucap Ares sambil membuka pintu mobilnya, semuanya pun mengangguk dan mengikuti Ares.


Even pun lewat dari pintu Fisha dan mendekapnya sambil mengelus-elus pundaknya, Even pun mengajak Fisha keluar, Fisha menunduk karena ia merasa sedikit malu tiba-tiba menangis tadi.


”Sudah gak apa-apa, kita baik-baik saja ...,” kata Even sambil merangkul pundak Fisha, Fisha yang menunduk mendengarkan itu semua ia lalu memandangi Even dengan mata yang berkaca-kaca, Even tersenyum manis dan mengangguk mengerti akan semua perasaan Fisha.


Kakak Alby benar-benar lelaki yang baik, dia sangat mengerti aku, padahal tak mengenalku. Batin Fisha sambil masih memandangi Even.


Alby mendekat dan menghampiri kakaknya. ”Kak, sebenarnya siapa tadi? Kok sepertinya ingin membunuh kita?” tanya Alby dengan menatap mata kakaknya penuh.


”Kakak juga gak tau? Pertama Kakak kira orang mabuk karena menyerempet, mungkin gak sengaja lalu Kakak mencoba memakluminya, tapi yang kedua orang itu lagi dan membidikkan peluru ke ban mobil kita, berarti pasti mereka pembunuh bayaran,” jelas Even sambil meraih handphone-nya yang ada di dalam sakunya, ia ingin menelvon seseorang.


“Lalu untuk apa dia membunuh kita?” Sesil mendekat dan menimpali, sedangkan Ares bersama sasa saling bergandengan tangan, karena Sasa tak mau ditinggal.


”Entahlah,” balas Even singkat.

__ADS_1


”Mungkin mereka menginginkan nyawaku? Maafkan aku gara-gara aku kalian terus sengsara,” seru Fisha dengan menundukkan kepalanya dengan berlinang air matanya.


Even yang melihat itu dia geleng-geleng kepala dan mengurungkan telvonnya, karena menurutnya Fisha benar-benar melow dan cengeng, namun ia maklum karena trauma Fisha sebelumnya.


”Sudahlah, gak ada yang salah! Diamlah kalian! Aku mau menelvon dulu.” Mereka semua pun diam dan menatap ke arah Even yang berjalan dengan membelakangi mereka sambil manaruh handphone di telinganya.


”Halo Bos?” ucap seseorang disebrang sana.


”Halo Jon, selidiki daerah Pasuruan barusan! Berani-beraninya mereka bermain dengan Even!” ucap Even dengan sinis.


”Siap Bos!” Even lalu mematikan telvonnya, ia menoleh dengan cepat dan dari jauh ada orang yang mencurigakan.


”Sedang ngapain mereka? Jangan-jangan ...,” ucap Even lirih dan memicingkan kedua matanya dengan curiga, ia menoleh ke arah Fisha dan khawatir lalu berlari kencang.


”Fishaaaa ... awaaaas ....”


Brukkkk ....


-------


Note :



Gimana? Mau lanjut apa segera ditamatkan saja? Sepertinya gak ada yang suka dengan novel Otor receh ini😂.



Habisnya like\\-nya pelit dah! Otor kadang frustasi pengen menyudahi saja hmmm🙄



Like, vote, komen❤



Mampir ke novel Otor satunya judulnya :


\\*Pangeran Gayung & Putri Tidur\\*



Da ... da .... 🖐💋


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2