Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Tragedi


__ADS_3

Awan sangat panik karena ternyata rem mobilnya blong, ia frustasi dan berwajah pias, dan ia mencari akal agar tak sampai terjadi apa-apa.


“Kenapa? Ada apa Hon ...?” tanya Fisha panik dengan menatap ke arah Awan.


“Ini remnya blong, padahal tadi aman dan gak pernah begini, pasti ada yang sabotase, kamu pegangan kencang-kencang ...! Aku akan cari pohon dan menabrakkannya sedikit, kita gak akan kenapa-kenapa tenanglah!” balas Awan menenangkan Fisha dengan tetap fokus mengemudi, padahal dia aslinya juga ketakutan karena tak pernah seperti ini sebelumnya.


“Tapi itu, itu, Awaaaan awaaaas ... aaaaa ...,” ada ibu-ibu yang menyebrang dadakan, Awan pun tak bisa mengontrolnya mereka pun terperosok ke dalam hutan dan menabrak pohon dengan kencang, Awan yang masih tersadar sedikit ia melihat ke arah Fisha yang sudah tak sadarkan diri dengan darah yang bercucuran di keningnya.


”Fi-Fisha bangun ... Kamu harus kuat Sayang ... jangan tinggalkan aku, aku ....” Awan mencoba meraih tangan Fisha, tapi ia pun sangat lemas dan kehilangan kesadarannya.


Seseorang dari kejauhan tersenyum kemenangan, dia pun mendekat dan mengecek keadaan Awan yang ternyata hanya luka sedikit, ia pun menabrak mobil Awan dari arah Awan dengan truk yang dikendarai anak buahnya, hingga mobil Awan pun hancur tak tersisa, keadaan Awan pun sangat tragis, karena hanya Awan yang ditabrak, sedangkan Fisha ia sedikit mengerjap dan sadarkan diri, ia melihat ke arah Awan yang sangat tragis, ia menangis histeris dan berteriak.


“Tolooong ...! Aku mohon tolonglah kita ... Awan ...! Hiks, hiks ... Aku mohon bangunlah Sayangku! Jangan tinggalkan aku! Kamu sudah berjanji untuk selalu bersamaku, tolooong ...! Auh kepalaku sakit sekali,” Fisha memegang keningnya lalu ia tak sadarkan diri lagi. Karena jalanan sangat sepi, dekat dengan hutan arah Batu Malang itu sehingga tak ada yang buru-buru mendengar dan menolongnya.


“Rasain kalian ...! Dengan begini aku sangat puas kalau Awan meninggalkan dunia ini, agar tak ada yang memiliki Awan, aku sungguh membenci percintaan mereka, persetan tentang Fisha juga, mau mati atau tidak, aku juga gak peduli sama si Asult juga itu, gak akan ada yang menolong kalian di hutan yang sepi ini malam-malam Haha,” seseorang itu ketawa jahat lalu pergi meninggalkan mereka yang terluka sangat parah.


Beberapa menit kemudian ada seseorang naik motor dengan berboncengan yang lewat ke arah situ, mereka sangat terkejut karena ada kecelakaaan yang tragis yang mobilnya sudah tak terbentuk itu karena ringsek dan hancur tak menentu, lalu mereka segera menelvon polisi dan membantu Awan juga Fisha untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat.


--------------


Fisha dan Awan pun di tangani oleh dokter, suster pun menghubungi semua keluarganya, dengan rasa kaget dan takut keluarga yang dihubungi oleh suster pun tergopoh-gopoh datang dengan wajah yang bermacam-macam karena mereka sangat panik.


Mereka pun saling menyapa dengan mengangguk sedikit dan menitikkan air mata dan tak mampu berkata-kata, hati kedua orang tua Fisha dan Awan teriris karena anak mereka berada di ICU antara hidup dan mati.


Beberapa jam kemudian lampu operasi yang sebelumnya menyala, kini pun mati karena operasi sudah selesai. Mereka pun dengan secepat kilat menghampiri kedua dokter tersebut.


“Bagaimana keadaan anakku Awan, Dok ...,” tanya mama zara dengan sesenggukan.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Fisha Dok?” Sahut bu lani dengan nada bergetar, karena Awan dan Fisha di ruang operasi yang sama karena kecelakaan bersama, dengan ditangani dua orang dokter.


”Itu Bu, Fisha dia ....” Dokter menggantungkan kalimatnya karena tak sanggup menjawabnya.


“Fisha kenapa ...!” Bentak ibu lani dengan menarik kerah dokter Joni yang menangani Fisha.


“Karena benturan yang keras ia mengalami kebutaan, harus ada pendonor yang mau mendonorkan matanya dengan suka rela,” jawab dokter Joni dengan sendu, dokter pun menunduk dan mengangguk berpamitan dan berlalu pergi.


“Yah, Fisha Yah ... hiks, hiks, Fisha ....” Ayah Johan pun mengangguk dan menenangkan istrinya, ia pun memeluk dan mengelus punggung suaminya, ia pun sangat hancur mendengarnya.


Tuhaaan kenapa Fisha selalu celaka dan tak beruntung, tak bisakah aku saja yang menggantikan putri kecilku itu ... Batin Ayah Johan, air mata lolos dengan sendirinya.


“Lalu kalau Awan bagaimana? Apa yang terjadi Dok?” tanya papa Aldi dengan serius. Mama Zara yang tak kuat mendengarnya ia bersiap-siap merangkul papa Aldi karena ia takut terperosok gara-gara terkejut.


“Kalau Awan dia sangatlah parah, kemungkinan hidup hanya 10% saja, ia sekarang sudah sadar dan pengen bertemu dengan kalian semua,” ucap dokter Rendi yang menangani Awan. Dia pun menunduk mengangguk dan berlalu pergi juga.


“Ma, sudah mama harus kuat, mama harus menyemangati Awan, jangan menangis seperti ini, ayo kita masuk Ma,” ajak papa Aldi dengan merangkul mama Zara yang sudah melemas.


Di sisi lain, ibu Lani dan ayah Johan pun masuk dengan berkaca-kaca, ia pun menunggu anaknya sadar, mereka sangat hancur dengan semua ini, bagaimana ia menjelaskan keadaan Awan kepada Fisha, pasti dia sangatlah terpukul dan hancur, dan juga dengan matanya yang buta, apa Fisha mau menerimanya dengan lapang dada untuk sementara waktu? Begitu yang ada di pikiran kedua orang tua Fisha.


Hingga beberapa menit kemudian Fisha pun terbangun dan mendesis nyeri.


“Aduh aku kenapa ini? Kenapa kepalaku sangat pusing ... Ibu ... Ayah ... Aku ada di mana? Apakah ini surga? Kenapa gelap sekali Bu ... nyalakan lampunya Bu ... Fisha takut ...! ”Fisha berteriak dengan histerisnya, ibu yang melihatnya beliau menahan tangisnya tapi air mata selalu lolos di pipi beliau, beliau pun mendekat dan merangkul putrinya.


“Tenanglah Sayang, ini hanya sementara ... tenanglah Ibu ada di sini ....” Ibu masih memeluk Fisha dan semakin kencang memeluknya.


“Ibu ... nyalakan lampunya ... Ayah ... Apa aku buta? Kenapa gelap sekali ... jawablah Ayah ... Ayah di mana?” ayah pun mendekat ke arah Fisha, mereka pun saling merangkul dengan hancur di hati masing-masing.

__ADS_1


“Iya Nak, kamu buta, ini hanya sementara kamu yang sabar ya ....” Dengan berat hati Ayah mengucapkannya, Fisha pun menangis histeris, lalu ia tersadar dan teringat Awan.


“Lalu Awan mana Bu, Ayah? Dia baik-baik saja kan?” Tiada jawaban dari mereka, Fisha pun mengulangi pertanyaannya kembali.


”Bu, Yah, Awan baik-baik saja kan? Antar aku ke Awan Yah, Ibu ...,” ucap Fisha dengan tersedu-sedu, ia tak siap mendengar kenyataan yang pahit.


“Awan dia ... dia ... sangatlah tragis, tapi dia sudah sadar.. Dia juga mencarimu tadi ... kemungkinan hidupnya hanya 10%,” jawab Ayah dengan berat hati.


“Apa?! Gak mungkin ... gak boleh dia meninggalkanku ... Aku sungguh mencintainya ... Tuhaan gantikan dengan nyawaku saja! Hiks, hiks, hiks ... Aku tak bisa hidup tanpanya ... Ayah antarkan aku ke Awan ... Ayah ... Hiks, hiks, Ibu ... Bagaimana hidupku tanpanya. Fisha histeris dan memberontak, ia pun berlari dan semua ditabraknya karena ia buta, ibu dan ayah mengejarnya lalu menghampiri Fisha yang terduduk lemas dengan menangis tersedu-sedu.


“Ibu ... Aku tak mau kehilangannya ... hiks Ibu ... ini semua salahku ... Ibu ....”


--------


Note :



Siap\-siap tisu ya ... Author mengetiknya dengan mewek hingga menghabiskan tisu banyak ...


Maaf kalau bagi kalian *feel\-nya* kurang dapat.



Dukung terus yaaa, like, vote dan komen ... ❤


InsyaAllah lanjut lagi nanti kalau tiada halangan🤗

__ADS_1


 


__ADS_2