
“Fish, aku tadi pas ke indomaret siang, lihat Awan, dia ...?” Sesil tak sanggup melanjutkannya takut menyakiti hati sahabatnya, dia mendesahkan nafasnya dengan kasar.
“Hey dia apa Sesil Sasmita? Jangan membuat orang penasaran huh.” Fisha menatap Sesil dengan serius dan mengernyitkan dahi, penasaran dibuatnya.
“Emmm dia jalan bersama seorang cewek tadi, ya lumayan cantik, 11 12 lah sama kamu, ups.” Sesil menutup mulutnya dan mengusap wajahnya kasar karena melihat mimik wajah Fisha berubah merah membara.
Ihh bodohnya aku, kenapa aku bilang Fisha sih, tapi kalau gak bilang juga kasihan dong sahabat dua mata wayangku itu, sahabatku kan bukan semata wayang tapi dua mata wayang yang harus aku lindungi hingga titik darah penghabisan. Batin Sesil menggeram sedikit menyesel.
“Apa?! Beneran Sil? Jangan mengada-ada, mungkin siapa tau sepupu atau adiknya,” keluh Sasa mencoba mencairkan suasana, sedangkan Fisha melamun mencerna kata-kata Sesil dengan wajah yang tak bersahabat, dia pun beranjak berdiri dan duduk lagi dan berdiri lagi.
“Hey mau ke mana kamu Fish, kayak setrikaan mondar-mandir, hey sabar belum tentu dia selingkuh, apa aku chat dia ya tanya dia,” sambungnya dan merogoh hp yang ada di saku roknya berniat menghubungi Awan.
“Gak usah, biarin! Biar saja nanti kena adzab, kalau beneran selingkuh aku kutuk dia jadi pangeran kera biar buruk rupaaaaa hais!” Fisha berteriak dengan mengibaskan tangannya ke kanan dan ke kiri dan lari di tempat dengan cepat.
“Hey hey heeeey sabar sayangku, kamu cemburu ya? Kok tingkahmu aneh sekali siiiihhh, aku baca di buku-buku novelku kalau cinta dan cemburu beda tipis, saling berkaitan sama-sama gilaaaa, kamu termasuk itu kan, aku gak tau soalnya belum pengalaman cinta hahaha.” Sesil ketawa berujar menggoda Fisha dengan tatapan antusias.
Sasa mendekati Sesil dan mengusap kasar wajah sesil seraya menaruh jari telunjuk ke mulutnya tanda menyuruh diam, Sesil pun mengangguk. Fisha pun berlalu pergi berniat masuk ke dalam, tapi tangannya dipegang oleh Sesil.
“Hey mau ke mana? Kita ikut!” ucap sasa.
“Mau ambil minum yang dingin banget gerah sekali, mau ikut kalian?” Fisha menoleh karna tangannya dipegang. Dia menatap tangannya dan menggerakkan alisnya tanda lepaskan tanganku begitu bunyinya.
“Ehh ups sorry,” seru Sesil cengengesan dan melepas tangan Fisha dan mengatupkan kedua tangannya, dan Fisha mengangguk.
“Kalau begitu kami gak ikut Fish, tapi tolong ambilkan minum dingin ya untuk kita, hari ini emang gerah sekali.” Sasa menimpali dengan nada memohon. Sedangkan Sesil menatap tajam ke Sasa, yang ditatap hanya mengernyitkan dahi tak mengerti.
“oke siaaaaap 45.” Fisha berlalu pergi dan mengambil minuman ke dalam rumah.
“Hey kamu gila ya Sasa Astridalin?” Sesil bernada menekan nama panjang Sasa karena geregetan.
“Ya Sesil Sasmita? Aku kenapa ada apa? Hih kurang ajar kamu bilang aku gila,” keluh Sasa sambil mengurut pucuk hidungnya karena kesal.
“Kamu tadi bilang kepanasan, menyindir Fisha ya? Dia sakit hati jelasnya keles,” debat Sesil kepada Sasa sambil ngotot.
__ADS_1
“Enggak lah aku gak sengaja, kamu yang gila, kenapa ngasih tau begitu belum tau kebenarannya, malah sekarang sepi suasananya mencekam kayak kuburan Fisha diam tak ceria, apa-apaan ini! Kumpulan hari ini gagal total, ngrumpi percabaian apaan yang ada hanya terbakar api membara,” bantah Sasa dengan nada serius.
“Ya udah kita hibur dia aja, menyanyi kek apa kek gitu haha, ya begitulah kalau jatuh cinta jadi bawaanya gila kadang ketawa gak jelas, kadang marah dan menangis, semoga aku tidak jatuh cinta,” sambung Sasa dengan ketawa dan memiringkan bibirnya.
“Kamu mau menjomblo seumur hidup? Biar kesepian seumur hidup?” Sesil berbicara sambil menjitak kepala Sasa, yang dijitak mendengus kesal dan mengelus kepalanya.
“Haha ya enggak tapi besok-besok aja, kamu du--”
Mereka tiba-tiba diam saat Fisha datang dengan membawa minuman dan menyodorkannya ke Sasa dan Sesil, lalu berucap dengan tatapan kosong sambil melamun. “Nie minum!”
Pantes dia gak chat aku sama sekali sejak habis latihan tadi, dia kencan sih bersama pacarnya, haish kalau belum pulang-pulang juga sekarang, semoga hujan dan mereka kehujanan. Eh tapi kalau hujan malah so sweet dong kehujanan berdua, haish gak jadi ya Allah doanya, semoga ban sepedanya kempes saja, eh malah romantis nanti dorong mendorong bersama, haish jangan ya Allah, semoga dia jatuh tersungkur. Eh jangan ya Allah kasihan juga, gini-gini aku orangnya baik kasihan sama orang. Fisha membatin panjang ngedumel kesal sampai ke ubun-ubun.
“Aaaaaa tidaaaak!” ucapnya frustasi sambil mengacak-acak kepalanya hingga kerudungnya terlepas dan amburadul.
“Eh kaget aku, kenapa Fish? Ada apa? Apa ada cicak, apa kecoa? Kamu takut hewan itu kan, mana-mana aku lindungi kamu. Sasa berceloteh mencari-cari alasan untuk menghibur Fisha, dia tau Fisha lagi membara tapi sengaja dibikin begitu.
Haha sampai dunia runtuh mana ada kecoak dan cicak di taman sebersih ini, ih mana muka Fisha tetap tak tersenyum lagi, garing banget sih aku menghiburnya, semoga aja Sesil bisa, dia kan makhluk aneh humoris tingkat dewa di atas rata-rata aku mah lewat, ih Awan awas kalau beneran akan aku jadikan perkedel biar dimakan ikan lele, berani-beraninya membuat sahabatku kayak ikan terkapar di daratan. Batin Sasa bergemuruh, dia mencengkram jarinya dan membentuk kepalan geram.
“Pada zaman dahulu ada ka--” Sesil belum selesai melanjutkan ceritanya, Fisha memukul bahu Sesil.
“Apa? Kamu gila? Emang aku bayi yang sebelum tidur dikasih dongeng haha,” lanjutnya dengan tertawa terbahak-bahak. Sesil dan Sasa tersenyum lalu mereka tos tanda berhasil buat Fisha tertawa.
“Aaaaaaa tidaaaak! Besok aku akan balas dendam menghajarnya pasang kuda-kuda dan siap menghantam, kalau perlu pasang buaya-buaya juga boleh dech, akan aku cabik-cabik dia aaaaa.” Fisha bergumam kecil dengan wajah menyeringai sedikit frustasi.
Sedangkan Sasa dan Sesil mengedikkan bahunya tanda tak mengerti mau apa Fisha begitu tatapan mata mereka, yang mereka dengar cuma teriakan Fisha saja, mereka melirik dan saling berbisik.
“Ihh mulai kumat lagi haaaah,” bisik Sasa mendesah dengan pelan.
“Haha iya biarin dia teriak biar lega,” bisik Sesil balik berdecit kecil agar tak terdengar Fisha.
“Hey kalian apa bisik-bisik haaaaa!” teriak Fisha. Sedangkan mereka menggelengkan kepala tanda tidak ada apa-apa, mereka pun berlari dan Fisha mengejar mereka dan saling ketawa.
Begitulah sahabat akan selalu ada penuh warna di saat saling membutuhkan dalam segi hal apapun, mereka selalu melalui apapun bersama.
__ADS_1
Selanjutnya Sasa dan Sesil pun pulang dan berpamitan dengan ibu juga Fisha.
-----------------------------------
Pagi pun menyapa, waktunya masuk sekolah, seperti biasa Fisha menyelesaikan ritualnya setelah sholat shubuh tadi, dia selalu dengan tlaten melakukannya, dan setelah dia rapi dia berangkat ke sekolah bersama Sasa. Dia membawa motor jadi mereka boncengan, Fisha yang membonceng, entah kenapa hari ini begitu malas naik ontel.
Tiba di sekolah setelah memarkir motor, Sesil pun kebetulan sudah di parkiran, dia tau Fisha bawa motor karna Sasa semalam sudah memberitahunya, mereka berjalan bergandengan tangan beriringan, tapi saling hening gara-gara cemburu tak jelas kemarin.
Sampai di dalam kelas, Awan pun datang tersenyum cerah secerah mentari kepada Fisha, tapi yang ditatap menatap ke arahnya tajam lalu memalingkan mukanya, sehingga Awan mengernyitkan dahinya.
Hmmm ada apa dengan Neyku sayang, apa dia marah sama aku karena gak chat dia sama sekali? Kan kemarin aku sibuk bantuin papa ngerjain laporan perusahaannya, aku akan minta ma'af dengannya. Batin Awan.
Dia berjalan mendekat ke Fisha dan menggenggam tangannya, tapi Fisha menepisnya dan berucap dengan sewot serta menujuk Awan dengan jari telunjuknya. “Jangan pegang-pegang jangan dekat-dekat! jarak satu meter da--”
Belum selesai Fisha melanjutkan pembicaraannya ada seorang cewek berlari dan memeluk Awan. Awan yang dipeluk dia mengernyitkan dahi tanpa membalas pelukan cewek itu, dia menoleh ke Fisha dan berusaha melepaskan pelukan tersebut.
Fisha berlalu meninggalkan kelas tanpa menoleh ke Awan, dia berjalan dengan cepat
“Astaga dia pasti salah paham.”
“Hentikan!” teriak Awan lalu mendorong cewek itu dan melepasnya dengan kasar, dan berlalu mencari Fisha menoleh ke sana ke mari.
Fisha ada di toilet dan berteriak, “Aaaaa kurang ajar kemarin belum selesai, sekarang nambah lagi haish, apa dia playboy cap kapak, cap kuda nil, buaya darat yang ganti pasangan terus, aaah sok kecakepan jelek, aku kutuk kamu jadi pangeran kera buruk rupa yang banyak bisulnya haha hiks,” ucapnya dengan se-kesal mungkin dan ketawa lalu menangis.
Cinta ... benar-benar bikin terciduk, campur aduk kayak es campur yang bercampur-campur banyak isinya .... 😂😂😂
--------------
Note :
Dukung terus kakak-kakak ... ini part terbanyak seribu lebih sampai pegel mengetiknya, apa sih yang enggak buat kalian hehe semoga menghibur unch,
ketik like, komen kritik dan saran, bantu vote berapapun seikhlasnya 😁🙏, semoga Allah yang membalasnya, lopyupolepel unch salam manis dariku sahabat dumay.😍😘❤💋
__ADS_1