
“Kamu? Ngapain ada di sini!" bentak Fisha dengan keras sambil mendorong orang yang berada di depannya.
“Fisha maafkan aku, aku dulu tak bermaksud seperti itu," balas Asult dengan berjalan mendekati Fisha lalu mencoba meraih tangan Fisha namun Even secepatnya menepis tangan Asult itu.
“Cukup! Aku tak mau dengar lagi!" Fisha semakin berteriak, sedangkan Even mendekat dan merangkul Fisha dengan eratnya. Asult berusaha untuk terus mendekati Fisha tapi tak berhasil karena Even dengan sigap selalu melindungi Fisha dengan berada di depannya.
“Kamu ngapain ada di sini! Apa mengikuti aku hah!" teriak Fisha lagi hingga mengotot sampai terlihat otot-otot lehernya.
“Tidak Fish, aku di sini hanya berlibur saja bersama keluargaku itu," tunjuk Asult ke arah keluarganya yang berada di depannya itu.
“Alasan! Sudah aku gak akan percaya padamu lagi, ayo maz!" ajak Fisha dengan cepat dan menggandeng tangan Even, meninggalkan Asult yang masih melongo menatap Fisha dengan penuh kerinduan.
Fisha kenapa kamu menjauhiku, apa kamu sudah bersama dosen itu? Tidak ini tidak bisa dibiarkan. Batin Asult. Ia mengepalkan tangannya sambil menggerutukkan giginya. Lalu berlalu pergi ke arah keluarganya.
Sedangkan Fisha yang sedang berjalan ia memanyunkan bibirnya sambil sesekali menghentakkan kakinya seperti anak-anak yang kehabisan permen dan merengek.
“Kamu kenapa Sayang? Apa karena Asult tadi?" Fisha hanya mengangguk cepat, melirik ke arah Even masih sambil memanyunkan bibirnya. Even yang tau itu ia lalu mencubit pipinya dengan gemas.
“Haha udah biarkan saja dia berkreasi, kita cuekin saja, yang penting kita sudah bersama Sayang, selama ia tak mengganggu kita tak apa-apa, sampai kalau dia mengganggumu lagi akan aku jadikan perkedel dia," ucap Even dengan tersenyum menyeringai. Fisha yang mendengarnya ia tersenyum lalu menatap Even dengan mengedipkan matanya.
“Eh kamu kenapa Sayang? Apa matanya sakit?" tanya Even dengan menahan senyumnya.
“Bukan haha, kamu ini! Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas semuanya Maz, kamu terbaik," puji Fisha dengan mengangkat kedua jari jempolnya menyodorkan ke depan mata Even.
Mereka lalu saling berpelukan sebentar spontan seperti teletubis. Lalu Fisha dan Even yang tersadar langsung melepaskan pelukannya dengan canggungnya.
“Eh maafkan Sayang, ya sudah kalau begitu masuk ke kamar gih, istirahat! Maz mau keluar sebentar ada perlu!" perintah Even sambil mengantar Fisha ke depan pintu kamarnya. Fisha menatap lalu memelaskan wajahnya.
“Mau ke mana? Tak bisakah Maz mengajakku jalan-jalan? Aku kan ingin tau isi Makassar seperti apa?" rengek Fisha bergelayut manja di bahu Even.
__ADS_1
“Eh tapi ini jam 2 siang Sayang, mending kamu istirahat dulu, nanti sore saja aku ajak jalan-jalan setelah seminar, tak ajak jalan sampai malam beneran, sekarang Maz benar-benar ada perlu," bujuk Even dengan tersenyum secerah mentari.
“Baiklah!" pasrah Fisha menuruti Even dan ia masuk ke dalam kamarnya dengan jalan yang melemas karena dirasa sangat capek. Sedangkan Even pergi dengan bersemangat ingin merencanakan sesuatu.
Syukurlah Fisha tak mengikutiku, bisa gawat dan gagal rencanaku. Batin Even lalu ia berjalan dengan langkah di percepat menuju tempat yang direncanakan sejak awal.
Fisha di dalam kamarnya ia merebahkan tubuhnya dan menggeliat ke kanan dan ke kiri. “Rasanya capek sekali, aku rasanya ingin tidur sebentar. Eh ... tapi aku belum sholat dhuhur kok bisa hampir lupa, aku sholat dulu kalau begitu." Fisha balik berdiri dan menuju kamar mandi. Ia menadahkan tangannya di bawah kran yang bercucuran airnya tak lupa dengan doanya, ia membasuh mukanya dengan sangat lembut menyapukan ke seluruh bagian yang menjadi rukunnya wudlu.
Setelah selesai melakukan itu semua ia mengucap doa sesudah wudlu lalu menunaikan sholat dengan khusyuk, selesai sholat seperti biasa di manapun Fisha berada ia melantunkan ayat-Nya dengan sangat merdu.
Fisha menyudahinya dengan membaca alhmdulillah disertai dengan menyunggingkan senyumannya. Ia bersandar di dinding dan menselonjorkan kakinya berusaha menghilangkan penat sebentar, namun yang ada ia tertidur pulas dengan posisi masih memakai mukenahnya.
------
1 jam telah berlalu. Fisha yang masih tertidur dengan memakai mukenahnya itu ia sudah merubah posisinya sendiri menjadi tidur terlentang tanpa disadarinya. Ia bermimpi indah hingga tak membuatnya untuk bangun. Saat ia masih tertidur telepon pun berbunyi dengan sangat nyaring. Membuat Fisha kaget dan spontan mengerjapkan kedua bola matanya dengan cepat dan berdiri lalu mengangkat teleponnya.
“Eh kok gitu Sayang, nadanya? Apa baru bangun? Keluarlah makan dulu Sayang, terus kan mau seminar kan setengah jam lagi," balas Even mengingatkan semuanya.
“Oh iya, iya, baiklah!" Fisha dengan cepat lalu mematikan teleponnya membuat Even menggelengkan kepalanya dengan dibarengi tersenyum.
“Dasar yaaa, kebiasaan sekali," celoteh Even manja sambil mondar-mandir menunggu Fisha di ruang makannya.
Even hening dengan duduknya sambil menunggu Fisha ia memainkan ponselnya dan mengecek proyek kerjanya dengan sangat serius. Beberapa menit kemudian Fisha datang mendekati Even dengan senyuman manisnya.
“Hai Maz? Lho kok masih di sini? Sudah makan? Apa nungguin aku?" sapa Fisha dengan memberondong pertanyaan. Even yang melihat Fisha dengan wajah polosnya ia melongo karena selalu tersihir oleh kecantikan Fisha yang memakai baju apapun masih terlihat cantik.
“Eh kenapa melihatku seperti itu? Apa bajunya jelek? Atau kenapa ini." Fisha menutupi badannya dengan kedua tangannya yang di silangkan dengan memegangi pundaknya lalu memiringkan badannya dari Even untuk menghindari tatapan Even itu.
Even hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Haha udah cantik, gak ada apa-apa, Maz hanya selalu tersihir oleh kecantikanmu saja," puji Even dengan sangat gemas membuat Fisha tersipu malu dan merah merona kedua pipinya.
__ADS_1
“Ihhh gombal, sudah! Sudah! Ayo makan Fisha lapar, Fisha gak akan mampan dengan rayuan gombalmu," ledek Fisha dengan tawanya lalu menuju meja yang tersedia banyak makanan yang sudah dipesan Even itu. Fisha duduk lalu mencicipi makanannya.
Lalu ia melahap makanannya bersama Even dengan sangat menikmatinya. Setelah selesai makan ia meneguk minumannya dengan menyedotnya sampai habis.
“Ahhh kenyangnya ... makanannya enak sekali Maz, terimakasih ya ... pintar sekali Maz memilih menunya," ucap Fisha sambil meraba perutnya yang sudah selesai di isi itu. Even hanya menatap Fisha mengangguk disertai senyumannya.
“Sudah belum? Kalau sudah ayo segera ganti kita, seminar akan dimulai dalam waktu 5 menit," balas Even dengan berdiri lalu mengajak Fisha agar segera berganti bajunya.
“Lho aku sudah cantik begini Maz ngapain ganti baju lagi, Maz saja sana! Aku tungguin di sini!" usir Fisha dengan nada yang lembut.
“Eh Sayangku, bajunya itu warna putih Sayang, apa lupa sama pesanku waktu itu," ujar Even lalu menarik tangan Fisha agar tidak malas dan bangkit dari duduknya.
“Oh apa baju putih dipakai sekarang?" tanya Fisha dengan mengernyitkan dahinya.
“Enggak tapi tahun depan! Haha ya sekarang Sayang, ayo cepat ganti! Nanti kalau telat lama malu hehe." Even terkekeh geli dengan kepolosan Fisha lalu mereka berjalan ke kamar masing-masing untuk berganti baju.
Setelah selesai ganti baju mereka pergi seminar dengan memakai baju putih seperti mau acara tahlilan ibu-ibu yang resmi seperti itu.
Saat mereka duduk menunggu acaranya di dalam. Fisha membelalakkan matanya saat melihat semuanya. Ia menatap Even dengan penuh keheranan.
“Maz? Kamu!"
--------
Note :
Jangan lupa like-nya. Maafkan Otor ketiduran hehe up tengah malam menjelang pagi karena terbangun jam 12.30, eh Otor lihat masih 500 kata. Untung saja gak hilang, kalau hilang sia-sia karena Otor pernah tuh nyesek rasanya.
Langsung lanjut jam 01.30 baru deh selesai mikirnya. Lama kan menghallu itu, jadi hargailah. Curhat nie Otor hehe. ❤🙏
__ADS_1