Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Maaf Ditolak


__ADS_3

Fisha ternyata belum tidur, dia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bahwasanya dia segera disuruh tidur cepat, dia pun keluar kamar dengan ragu dan duduk di kursi depan kamarnya, dia pun mendengarkan semuanya dan dia kaget bukan main juga spontan berteriak, dia pun berdiri dan kepalanya berdenyut nyeri, alhasil dia pun terkapar karna syoknya.


Semua orang yeng mendengar suara Fisha berteriak dengan kencang dan juga suara Fisha jatuh tersungkur,


mereka panik bukan main lalu mereka menaiki tangga dengan setengah berlari menghampiri Fisha.


“Fisha ...!” Awan berjongkok lalu menyentuh bahu Fisha dan menggoyangkannya dengan pelan agar tersadar. “Kamu kenapa Ney? Bangun Ikanku ...!” sambungnya dengan nada yang bergetar karena panik, dia semakin panik karena Fisha yang pucat dan badannya panas. Dia langsung menggendong Fisha dengan menatap ke yang lainnya, mereka pun diam sejenak juga kalut dengan fikirannya masing-masing.


“Ayo Nak Awan! Bawa Fisha masuk ke kamarnya!” perintah ibu dengan membantu Awan membuka pintu kamarnya dengan tangan yang bergetar hebat. Sedangkan Sasa dan Sesil membantu menyiapkan membereskan kamarnya.


Mereka semua memasuki kamar Fisha dengan panik, Awan pun membaringkan Fisha dengan pelan dengan mata berkaca-kaca. Ibu pun membantu mengambilkan handuk dan air hangat untuk mengompres Fisha.


Ayah pun berlalu keluar kamar dan menelvon dokter agar segera datang ke rumahnya.


“Assalamu'alaikum. Hallo?” ucap seseorang disebrang sana dengan mengunyah camilannya sambil memainkan pulpen dan kertasnya.


“Wa'alaikumsalam. Dok, Dokter, tolong segera datang ke rumah ya ...! Anakku syok lalu dia pingsan,” jawab ayah dengan terburu-buru dan panik.


“Oh oke, Pak, meluncur,” ucap dokter lalu memutus panggilannya. Ia dengan segera beranjak berdiri dan berlalu ke arah parkiran dengan cepat. Dokter pun mengambil mobilnya dan menancap gas ke arah rumah Fisha, ia sekarang menjadi dokter pribadi Fisha sejak Fisha sakit kemarin.


-------------


Ayah pun memasukkan telvonnya ke dalam kantong celananya, dia teringat ayah ibunya, beliau berfikir, apa dia harus memberitahu mereka karna udah malam begini, lagian tadi beliau bilang ada di luar kota untuk seminar pekerjaannya. Jadi ayah memutuskan untuk tidak memberitahu mereka agar tidak panik di sana, besok saja kalau mereka sudah pulang, ia akan memberitahunya, agar beliau bisa menginap di rumah beberapa hari, karena hanya nenek yang bisa menerangkan Fisha dengan cepat karena nenek yang paling dekat dengan cucu perempuannya itu.

__ADS_1


Ayah yang masih di luar sambil duduk, ia pun meminum kopinya yang dirasa sudah dingin karna sudah beberapa jam yang lalu, beliau menunggu dokter datang dengan wajah yang tegang, sedangkan yang di dalam mondar-mandir gelisah dengan keadaan Fisha, lalu mereka semua menatap tajam kedua orang itu.


“Hey, kenapa kalian kemari?! Kenapa kalian ikut! Harusnya kalian pulang kan? Kenapa tidak tahu malu sama sekali sih?!” Awan membentak dengan kasar dan wajah memerah padam, membuat yang melihatnya bergidik ngeri, karena baru kali ini mereka melihat Awan yang penuh dengan kesejukan berubah menjadi buas sekali.


“Ka-kami khawatir Nak, dengan keadan Nak Fisha,” ucap ibu bella dengan nada yang bergetar.


“Iya aku juga khawatir sama Fisha, dan kami berniat meminta maaf!” sahut kakak Bella berbicara dengan menundukkan kepalanya.


“Apa! Enak saja! tidak semudah membalikkan telapak tangan keles, setelah apa yang kalian lakukan kepada anakku, dan sekarang dia pingsan, Kalian masih menunggu kata kami memaafkan?” ibu menjelaskan panjang lebar dengan melototkan matanya seraya marah-marah dengan kencang.


Lalu beliau berlalu duduk di kursi dan memalingkan mukanya dari hadapan ibu Bella dan kakaknya.


“Pergi kalian dari sini! Pergi!” ayah pun masuk ke dalam kamar karna kaget dengan teriakan ibu, beliau khawatir.


“Ada apa Bu?” ucap Ayah dengan lembut dan khawatir. Ibu pun menggerakkan tangannya ke arah pintu dengan menatap ayah, ayah pun menengok gerakan ibu dan beliau paham ternyata masih ada kedua orang itu, beliau pun menggiring merek dengan sangat agar keluar, keduanya pun mengiyakan supaya tidak semakin runyam.


-------------


Dokter pun datang, semuanya pun menunggu di luar kamar, hanya tertinggal ayah dan ibu saja di dalam kamar, lalu dokter memeriksa Fisha dengan mengecek tekanan darahnya, suhu tubuhnya dan semuanya dengan teliti dengan wajah yang datar, membuat ayah ibu mencekam khawatir setengah mati, dokter pun selesai memeriksa dan menghampiri ayah ibu.


“Gimana Dok? Putriku baik-baik saja kan?” ucap ayah ibu bersamaan dengan cepat.


“Iya putri kalian baik-baik saja, tapi jaga dia dengan baik ya Pak, Bu, jangan biarkan dia mengalami syok keseringan karna bisa berakibat fatal pada mentalnya, bisa menjadi depresi atau gila hingga bunuh diri kebanyakan.” Jelas dokter dengan serius. Membuat ibu dan ayah mengangguk mantap dan wajahnya bersedih dan berkaca-kaca.

__ADS_1


“Ini saya tuliskan resep ya, nanti atau besok bisa ditebus di apotik terdekat atau ke RS juga bisa. Di ingat ya Pak, Bu. Obatnya di minum dengan teratur, yang satu untuk meredakan demam, yang satu vitamin agar tidak terlalu syok,” sambung dokter dengan berlalu pergi, ayah dan ibu pun menjabat tangan dokter dan berterima kasih, dokter pun mengiyakannya dam berpamitan, Alby dan Ares pun mengantarkan dokter ke depan, lalu segera menebus obat untuk Fisha.


“Bu, bagaimana? Apa kata Dokter?” tanya Sesil menatap ibu dengan nada yang lirih khawatir.


“Seperti dulu kata Dokter, Fisha gak boleh syok berat agar tidak terjadi yang fatal, hiks, hiks, hiks.” Awan yang melihat ibu mulai menangis dia menghampiri ibu dengan mengatupkan kedua tangannya, ibu pun menatapnya dengan sendu dan masih sesenggukan.


“Maafkan Awan, Bu ... semua ini salah Awan, gara-gara cinta dengan egoisnya membuat Fisha begini, aku berjanji akan menjaga Fisha dengan nyawaku Bu ....” Awan menunduk dengan menghapus air matanya yang lolos dari pipinya.


“Ini semua takdir Nak, cinta hadir dengan sendirinya, tidak bisa menolak, kamu tidak salah, yang salah mereka yang jahat, ibu gak akan pernah memaafkan keluarga Bella!” Kilatan kemarahan memancar di wajah ibu, semuanya pun mengangguk mengerti dan saling berpelukan dengan menangis masing-masing karena mereka sangat menyayangi Fisha.


Dorr ... dorr ... dorr ...!


“Arghhhhh ....”


----------


Note:


Tinggalkan jejak kalian kakak-kakak, senam jempolnya agar tidak kaku ....


Like, vote, komen🤗


Terima kasih kakak-kakak kesayangan.❤

__ADS_1


Dukung terus aku yaaa, tiada daya dan upaya tanpa dukungan dari kalian.


Jangan pelit dosa😝, ciyus dosa😎😘


__ADS_2