
Pagi pun tiba, Fisha yang sudah rapi dan siap untuk berangkat kuliah, ia lalu duduk di kursi depan cerminnya yang menggantung dan ia mendengus kesal karena sekarang mata kuliahnya Even, ia masih malas untuk bertemu Even karena rasa kecewanya kemarin.
“Ih ... perasaan kuliahku ketemu Even terus sih ... apa emang harus ya ... oh iya juga sih harus, kan aku jurusan bisnis jelas ketemu Even terus lah hmmmm," sebal Fisha dengan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.
“Tapi ... aku sebenarnya sangat merindukannya, tapi untuk sementara aku akan mengulur waktuku agar kesannya keren dong, kan aku cewek, wajib diperjuangkan," ucap Fisha dengan semangatnya lalu ia pun terkekeh mengingat semua itu.
Lalu sekejab ia mengingat kejadian yang menjengkelkan itu. Fisha yang teringat oleh Asult yang menipunya mentah-mentah, ia pun mengepalkan tangannya ke udara dengan sangat geram.
“Dia benar-benar kurang ajar! Ingin aku mencabik-cabiknya hingga tak berbentuk, awas saja ya nanti kalau sampai aku bertemu dengannya, untung juga Allah sangat baik padaku, dia secepat itu memberitahuku kalau dia sangat busuk," maki Fisha berbicara sendiri sambil memainkan kakinya dan diayunkannya.
Fisha lalu bangkit dari kursi duduknya lalu ia duduk bersimpuh dan bersujud dengan tulus seraya mengucapkan sujud syukur atas kebaikan Allah, ia rasanya sangat lega karena tak terikat lagi oleh belenggu Asult.
“Terimakasih ya Allah, aku selalu mencintaiMu, Engkau terbaik unch," ucap Fisha dengan masih sujud, ia senang sekali karena itu. Lalu ia bangkit dan melihat jam yang ada di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 09.00 pagi waktunya berangkat kuliah.
“Eh kok udah jam segini sih? Bisa-bisa aku telat gawat!" lanjut Fisha dengan eluh yang berjatuhan karena takut dihukum, ia lalu berjalan sebentar dan setelahnya berlari kencang karena takut keduluan Even.
Dan saat Fisha sampai di depan kampus ternyata benar Even sudah datang mendahului Fisha. Fisha yang telat ia masuk dengan senyum tipisnya lalu duduk dengan sangat pelan karena Even yang sedang sibuk menerangkan mata kuliahnya dengan menghadap ke arah monitornya, itu menjadi kesempatan Fisha agar tidak ketahuan Even dan dihukumnya. Padahal jelas-jelas Even sudah melihat Fisha tadi namun ia hanya pura-pura tak melihatnya, ia hanya ingin menggoda Fisha saja sambil ia tersenyum membayangkannya.
“Syukurlah Pak Even gak tau," seru Fisha dengan lirihnya serta tersenyum tipis. Sedangkan Adrina hanya menatap Fisha dengan wajah yang cemas, karena ia tau Even yang sudah melihat Fisha tadi, namun Fisha yang tak tau itu ia hanya membalas tatapan Adrina dengan senyuman manisnya.
“Ehem, Fishaaa Aureliastra ... Fistra ... maju ke depan!" perintah Even dengan nada lantangnya sambil menatap Fisha penuh dengan kemarahan, ia hanya berpura-pura saja, karena sebetulnya dalam hatinya ia sangat senang dan ketawa karena kelucuan Fisha menurutnya.
“Aku ...! A-akuuu kenapa aku Pak? Orang aku tepat waktu kok," tanya Fisha menunjuk diri sendiri serta menatap Even dengan penasarannya.
“Lho ... siapa yang bilang kamu telat, gak ada yang bilang Fisha ... hayoo jangan-jangan kamu telat yaaa." Even menunjuk Fisha sambil menatapnya curiga. Sedangkan Fisha yang ditatap seperti itu ia menjadi gusar dan menghela nafas panjang lalu menghirupnya kembali.
__ADS_1
Gawat, bisa-bisanya aku keceplosan, apa jangan-jangan emang Even tau tentang aku telat, jelas dia tau nie tapi berpura-pura tak tau, dasar! Ingin rasanya aku remas-remas dia dan aku masukkan dia ke kantong bajuku ini. Batin Fisha sambil mengusap-usap hidungnya yang tidak gatal.
Fisha hanya menundukkan kepalanya tanda penyesalan dan meremas jarinya dengan erat.
“Jadi? Kamu telat?" tanya ulang Even dan mendekat ke arah Fisha dengan beberapa langkah. Fisha yang ditanya ia hanya mengangguk pelan membuat Even terkekeh.
“Ya sudah kalau begitu, hukumanmu nanti ya setelah selesai mata kuliah ini, sekarang dengarkan mata kuliahku ini!" perintah Even dengan menunjuk arah bangku Fisha, agar Fisha balik duduk di bangkunya. Fisha yang tau kode itu ia lalu berjalan dan balik ke bangkunya dengan memikirkan hukumannya nanti.
Waduh ... kira-kira apa ini hukumanku nanti, gawat bisa-bisa dia membullyku dengan ganas, semoga aja tidak, kalau dia macam-macam akan aku patahkan tangannya, aku kan bisa bela diri. Batin Fisha, ia lalu tersenyum dengan bangganya. Even yang melihat itu ia hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan lagi mata kuliahnya.
--------
Saat dalam pertengahan mata kuliahnya. Fisha pun meminta izin untuk ke toilet. Even mengizinkannya dan mengibaskan tangannya.
“Adrina ..." panggil Even dengan wajah datarnya.
“Iya saya Pak, ada apa Pak? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Adrina seraya tersenyum canggung karena ia takut juga kalau ia melakukan kesalahan namun ia tak tahunya.
“Kamu segera ke toilet sana!" suruh Even dengan menunjuk arah keluar.
“Eh ... kenapa Pak? Aku enggak ingin ngapain-ngapain, bahkan tidak kebelet apapun," balas Adrina dengan malunya, sedangkan semuanya yang mendengarnya ia tertawa dengan kerasnya.
“Hey ... diam! Siapa yang menyuruh kalian ketawa, cepat Adrina! Ke toilet!" perintah Even dengan geramnya, membuat nyali Adrina menciut lalu ia buru-buru ke toilet memenuhi perintah Even.
Even tersenyum saat Adrina mematuhinya, meskipun dengan sedikit paksaan, karena ia ingin melindungi Fisha, takut Fisha kenapa-kenapa karena rasa parno-nya.
__ADS_1
Sedangkan Adrina yang berjalan ke arah toilet ia menggerutu kesal, karena ia tidak tau maksud Even yang menyuruhnya ke toilet dengan tak jelasnya, karena ia sedikit melupakan cerita Fisha yang parno itu.
“Ih ... apa-apaan Pak Even itu, aku gak ingin kencing ya BAB, tapi disuruh ke toilet, ya sudah aku cuci muka saja," keluhnya Adrina, lalu ia pun sampai di toilet dan ia mendengar Fisha berteriak saat lampu tiba-tiba mati.
“Toloooong! Tolong aku ... aku takut!" mohon Fisha dengan nada gemetarnya, ternyata firasat Even benar-benar kejadian. Adrina yang takut Fisha kenapa-kenapa ia pun mengetok-ketok pintu kamar mandi yang ditempati Fisha.
“Fishaaa ada apa? Ini aku Adrina, buka!" perintah Adrina dengan berulangkali, lalu Fisha pun membukakan pintunya dengan tubuh yang bergetar, saat Adrina sudah berada di depannya ia lalu memeluk Adrina dengan kencang.
“Aku takut Adrina ... aku benar-benar parno ingat kejadian dulu," ucap Fisha dengan ketakutannya.
“Lho iya ya, aku baru ingat ya tentang ini, maafkan aku Fisha melupakannya," sesal Adrina dengan membalas pelukan Fisha sambil mengusap-usap punggungnya. Fisha hanya mengangguk dan tak menjawab obrolan Adrina.
“Untung tadi Even menyuruhku ke sini, coba ndak, apa yang akan terjadi? Jadi dia pasti menyuruhku ke sini juga karena ia ingin menjagamu lewat aku," jelas Adrina.
“Even? Dia melakukan itu?" Adrina hanya mengangguk.
Ternyata Maz Even benar-benar tulus, tapi aku ingin tau semuanya apa alasannya yang dulu itu. Batin Fisha sambil memejamkan matanya.
--------
Note :
Jangan lupa like-nya, jangan pelit gak baik 😝🙏❤
Anak Otor semakin aktif jadi Otor kadang kelupaan gak up, maafkan, tapi gak akan kok Otor kelupaan lama, paling kadang cuma sehari saja hehe terimakasih unch😘
__ADS_1