
8 jam kemudian. Fajar pun menyingsing dengan semerbak embun dan bau bunga tercium menyeruak. Fisha yang mencium wangi itu, ia menggeliat dan mengumpulkan nyawanya kembali, lalu dengan cepat mengerjapkan kedua bola matanya.
Dengan dalih-dalih manja dan suara yang masih serak, ia bersuara sambil menengok jam yang ada di dinding hotelnya. Fisha bangkit dan mendudukkan dirinya di ranjang, lalu menggoyangkan badan Even, agar Even terbangun, karena jam menunjukkan pukul 4 pagi waktunya untuk sholat shubuh.
“Maz ... ayo bangun! Kita sholat shubuh yuuuk!" ajak Fisha dengan suara khas bangun tidur. Even tak beranjak ia hanya bergumam-gumam kecil.
“Bandel nih, ya sudah kalau gak mau, Fisha bangun sendiri dan mandi sendiri." Fisha bangkit dengan menekan kata mandi. Even yang mendengar itu ia tersenyum lalu meraih tangan Fisha dengan menggenggamnya. Fisha lalu menoleh dan tersenyum. Lalu dengan cepat ia mencium pipi Even singkat disertai gelitikan di badannya.
Even yang tak tahan dengan gelitikan ia lalu bangkit dengan cepat, ia membalas Fisha dengan rengkuhan yang sangat erat. Fisha mencoba menggeliat dan melepaskan diri dari Even, namun tak bisa.
“Maz ... keburu kesiangan nih, nanti dosa tau ..." rengek Fisha, suaranya dibuat sendu. Even yang mendengarnya ia ketawa lalu akhirnya ia melepaskan Fisha.
Fisha yang sudah merasa aman ia lalu berlari menuju kamar mandi, karena kesempatan dia kabur dan mandi sendiri tanpa Even. Fisha dengan cepat mengunci pintu kamar mandinya.
Even mendengus kesal lalu berteriak memanggil Fisha. Ia sangat tak terima apabila ditinggal mando duluan.
“Sayang ... buka! Aku ingin mandi bersama Sayang ...." Even berusaha merengek disertai dengan gedoran pintunya agar Fisha membukanya. Namun yang ada Fisha hanya cekikikan di dalam, tanpa menjawab suara Even.
“Sayang, Sayang, Sayang!" rayu Even berulangkali. Akhirnya pintu terbuka sempurna dengan Fisha yang sudah memakai handuk dibalut sempurna di tubuhnya.
“Wow, mandi lagi yuuuk, ayo sama Maz!" ajak Even berusaha menyentuh tangan Fisha. Fisha hanya melotot sambil menuding Even, bermaksud untuk mengingatkannya.
“Jangan macam-macam Sayang! Aku sudah berwudlu! Cepat sana mandi Maz ... kalau tidak akan aku tinggal!" Even mengangguk pasrah. Ia patuh kepada Fisha lalu ia mandi secepat kilat dan mereka menunaikan sholat shubuh bersama.
Beberapa jam kemudian. Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Fisha dan Even dengan cepat menuju loby hotel menunggu seluruh keluarganya. Saat dirasa mereka sudah kumpul. Mereka lalu makan bersama-sama sambil senyuman yang mengembang di pipinya.
“Apa sudah jadi keponakanku?" Alby membuka obrolan pertanyaan saat semuanya sudah menyelesaikan makanannya. Fisha yang mendengarnya ia kaget lalu tersedak makanan terskhir yang masih nyangkut di tenggorokannya. Even dengan cepat mengambilkan minum untuk Fisha, ia mengusap-usap punggung Fisha dengan khawatir, sambil sesekali melirik Alby dan menatapnya dengan tajam.
“Kenapa Nak? Apa tak apa-apa? Kenapa kamu sangat kaget mendengar pertanyaan Alby, apa bener hal itu?" Lani menimpali obrolan Alby. Fisha yang sudah selesai meminum airnya, ia hanya cengengesan lalu melirik Alby dengan melototkan kedua bola matanya. Semuanya hanya menahan tawanya atas tingkah laku Alby yang selalu blak-blakan itu.
“Oh ya, Ma, Pa, Ayah, Ibu, kalian pulang jam berapa?" Even mengalihkan pembicaraan dengan basa-basi saja, agar ia dan Fisha tak terpojokkan.
__ADS_1
“Mengalihkan pembicaraan nih ceritanya ..." canda ayah Irawan, membuat Fisha bersemu merah. Fisha menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menutupi kecanggungannya.
Ayah ini ya, masih saja gak berhenti sih ... stop Ayah Fisha malu. Batin Fisha. Ia menginjak kaki yang ada di bawah meja, bermaksud menginjak kaki ayahnya. Tapi yang ada ia menginjak kaki papa mertuanya. Beliau dengan cepat mendesis nyeri lalu tersenyum ke arah Fisha.
“Even! Istri kamu nakal sekali ya ... beraninya dia menginjak kaki Papa, atau mungkin niatnya ia mau menginjak kaki kamu, kalian ini romantis tak pada tempatnya," gerutu Papa Even dengan menggelengkan kepalanya. Fisha yang semakin malu ia memukul ayahnya yang ada di depannya. Ayahnya hanya tertawa kencang.
“Aku berniat menginjak kaki Ayah tau Pa, bukan Maz Even atau Papa juga, GR Maz Even huh!" ledek Fisha saat Even tersenyum menawan karena ucapan papanya tadi.
“Hahaha kalian sudahlah menggoda kita, nanti pasti kita buatkan bayi yang lucuuu, tunggu saja! Sekarang kalian tiketnya jam berapa?" celoteh Even sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 8 pagi.
“Jam 9 Nak!" jawab ayah Irawan mewakili semuanya.
“Sekarang sudah jam 8, ke bandara sekitar setengah jam, apa kalian sudah siap? Kalau sudah kita berangkat sekarang saja, takutnya macet atau gimana," ajak Even. Ia bangkit dari duduknya mendahului mereka yang masih santai duduknya.
Mereka lalu menerima ajakan Even dengan menganggukkan kepalanya, lalu bersiap-siap untuk ke bandara.
----
Saat mereka sudah mempersiapkan diri. Fisha bergantian memeluk mereka dengan sedihnya sambil sekali-sekali ia meloloskan air mata di pipinya. Even yang melihat itu ia merengkuh Fisha lalu mengusap air matanya.
“Hey, hey, heeeey ... gak boleh! Kalian kan honeymoon kok bareng kita pulangnya, belum juga beres-beres. Besok saja menyusul," tolak Lani dengan ganasnya. Fisha menatap semuanya bergantian, mereka semua menggeleng tanda tak menyetujuinya, sedangkan Even hanya menahan tawanya.
“Ih ... kalian ini kompak sekali sih ... ya sudah aku antar ke bandara saja, ayo berangkat semuanya," ujar Fisha mendahului mereka, seperti layaknya putri yang berjalan dengan anggunnya.
Beberapa menit kemudian. Sampailah mereka di bandara. Fisha memeluk kembali semuanya dengan bergantian. Mereka akhirnya saling berpelukan tanpa malu di hadapan umum. Even yang tidak melakukan itu ia hanya tertawa.
“Haha sudah, sudah! Itu sudah ada panggilan pesawat, hati-hati ya semuanya, jaga diri, kita nanti Ketemu di Malang," pesan Even. Semuanya hanya mengangguk, karena mulai sekarang orang tua Fisha juga ikut di Malang sementara untuk berlibur juga menjaga Fisha, beliau disewakan apartemen juga oleh Even dan berdampingan bersama-bersama kedua orang tuanya.
Saat mereka sudah masuk ke dalam pesawat. Fisha dan Even masih saling melambaikan tangannya ke arah mereka. Lalu Even mengajak Fisha untuk pulang, Fisha yang tiba-tiba merasa pening ia memegangi kepalanya dengan wajah yang pucat. Ia berjalan gontai. Even yang merasakan jalan Fisha aneh ia lalu melihat ke arah Fisha.
“Eh kenapa Sayang? Kenapa kamu pucat sekali," kata Even. Ia sangat khawatir kepada Fisha. Fisha hanya tersenyum yang dipaksakan, ia ingin membuka suaranya agar Even tak menghawatirkannya.
__ADS_1
Akhirnya pertahanannya runtuh. Ia pun tumbang disertai dengan pejaman mata yang sempurna. Lalu Even dengan cepatnya mernggendong Fisha sambil sesekali ia menepuk-nepuk pipinya dengan sangat khawatir.
“Sayang, kamu kenapa? Jangan bikin Maz khawatir!" saat Fisha masih tetap tak bangun juga, kecemasan Even semakin berlipat. Ia yang akhirnya sudah berada di dalam mobil, dengan cepat ia memajukan mobilnya dengan kencang ke arah rumah sakit terdekat.
Lalu ia pun sampai di rumah sakit dan meneriaki para suster. Dengan cepat suster membawa brangkar dan Even menaruh Fisha di atasnya.
“Kamu harus kuat ya Sayang! Maz akan selalu ada di sampingmu," ucap Even sambil menggenggam tangan Fisha. Ia mengikuti brangkar yang berjalan bersama Fisha.
Even lalu menunggu di luar saat Fisha dilakukan pemeriksaan. Ia gelisah dan mondar-mandir, takut Fisha trauma dan kenapa-kenapa.
Apa yang terjadi denganmu Sayang, aku sungguh sangat takut kehilanganmu. Batin Even. Ia menggigiti jari jemari tangannya karena ketakutannya.
Akhirnya dokter pun keluar dengan mengembangkan senyumannya. Even yang merasa aneh, ia dengan ganasnya memberondong pertanyaan.
“Gimana keadaan istri saya Dok? Dia baik-baik saja kan? Apa traumanya gak kembali lagi kan?" Even memberondong pertanyaan. Dokter hanya tersenyum dengan sumringahnya.
“Gak apa-apa Pak, selamat ya ...." Dokter menjabat tangan Even. Even hanya melongo tak mengerti, namun ia membalas jabatan tangan dokter itu.
“Maksud dokter apaan? Kenapa dengan istri saya kok malah selamat?" Dokter lalu menjelaskannya dengan cepat.
“Selamat Pak istri anda hamil," tegas dokternya. Even membelalakkan matanya, ia sungguh tak percaya Tuhan secepat itu memberikan titipan. Ia meloloskan air mata dengan sendirinya, lalu ia memeluk dokter dengan kencangnya, setelah dirasa puas Even sujud memgucapkan rasa syukurnya.
“Terimakasih Tuhaaan!" teriaknya, lalu dokter pun undur diri. Even mengangguk lalu ia mengucapkan terimakasih.
Even pun dengan sumringahnya menuju Fisha yang masih memejamkan matanya. Ia lalu mencium seluruh wajah Fisha dengan penuh syukur.
“Terimakasih Sayangku, aku akan menjagamu extra, baru tadi Alby menggoda, tak taunya secepat ini." Even memeluk Fisha dengan eratnya. Suster yang masuk dan melihatnya, ia tersenyum lalu memperingati Even agar tak mengencangkan pelukan seperti itu. Even hanya tersenyum sambil melepaskan pelukannya disertai dengan kekehan kecil.
-------
Note :
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian para readers, jangan silent readers, karena mendekati end seharusnya rame dong hmmm.
Jangan lupa like-nya pembaca yang budiman, terimakasih. 🙏💋