
Mereka pun dengan sigap masuk ke dalam kamar Fisha, karena teriakan erangan dari Fisha ditambah suara tembakan itu, membuat mereka sangat panik dengan was-was sekali.
“Kenapa? Ada apa Sayang? Mana yang sakit? Bangunlah sini Ibu lihat!” ibu bertanya panjang lebar sambil mengecek seluruh tubuh Fisha, yang mana yang tertembak, membuat semua mengernyitkan dahinya karna tak ada luka tembakan dan Fisha masih memejamkan matanya.
“Loh ... Bu, lalu suara tembakan tadi apa? Sumbernya dari mana kok kencang sekali, membuatku syok sekali, tak kirain Fisha, tapi syukurlah ternyata tidak.” Awan menghela nafas panjang dengan masih bertanya-tanya.
Lalu ada derap kaki dari luar dan mau masuk ke dalam kamar, ternyata dia adalah Farsi, dari tadi ia di bawah untuk berjaga-jaga barangkali ada kebutuhan di bawah yang dibutuhkan.
Tok, tok, tok ...! (Suara ketokan pintu).
“Masuk ...! Kenapa Nak, Apa ada sesuatu?” ibu bertanya setelah Farsi masuk ke dalam kamar.
“Hmmm kalian kaget ya gara-gara tembakan tadi, aku awalnya pun sama aku kira ada penjahat datang terus mengincar keluarga kita, yang pertama adalah Mbak Fisha, terus aku mikir, apa mungkin seperti itu, kan kita bukan orang kaya atau apa kok sok sekali bayanganku tadi haha, kebanyakan nonton sinetron aku.” Jelas Farsi panjang lebar.
“Eh ... ternyata tadi aku cek keluar Bu, ternyata anak tetangga sedang main PS menembak dengan kencang, dasar kampret kan, gak sopan sekali haha, pengen aku maki tadi Bu, tapi malah ntar runyam haha, gemas sekali kan haha,” lanjutnya sambil terus ketawa lalu duduk di sebelah mbaknya.
Fisha yang ternyata tak tidur nyenyak, dia mendengarkan cerita Farsi, dia mengerjapkan mata dan tersenyum, karna merasa cerita adiknya lucu sekali, semua yang melihat Fisha siuman mereka mendekati Fisha dan bisa bernafas dengan lega dan saling mengusap puncak kepala Fisha. Lalu Fisha pun berusaha bangun dengan dibantu Ibu.
“Gimana Nak? Apa sudah baikan?” tanya ibu dengan penuh perhatian. Fisha pun mengangguk dan tersenyum.
“Oh ya Ney? Kenapa kamu tadi berteriak, bikin kita jantungan saja, kami kira tadi kamu kenapa-kenapa, ditambah kenapa kebetulan sekali tembakannya pas sebelum kamu berteriak.” ucap Awan dengan tatapan penuh dan mengedipkan matanya.
“Udah kamu jangan mesum seperti itu, aku lagi gak mood, iya tadi itu aku mimpi buruk serasa ada yang menembakku beneran, lalu aku mati di alam putih gitu sepi jadi berteriak dech,” jawabnya dengan entengnya sambil berusaha mengambil air minum yang ada di meja. Sesil yang melihatnya pun dia memberikan air minumnya kepada Fisha, lalu Fisha meminumnya dengan cepat dan habis.
“Eh tapi ternyata kenapa di mimpiku ada tembakan, di asli juga ada, apa tembakan itu masuk ke dalam mimpiku haha lucu sekali,” lanjutnya dengan ketawa.
“Udah, kamu istirahat saja Fish! Kami mau pulang kalau kamu sudah tak apa-apa,” ucap Sesil dan yang lainnya pun mengiyakannya.
“Eh jangan pulang! Temani aku saja semua, ya ya... Lagian aku mau introgasi kalian dech.” Fisha menatap kedua sahabatnya Sesil dan Sasa dengan penuh selidik dan penuh memohon dengan mata yang berbinar. Mereka semua pun melihat Ibu, ibu pun mengedipkan matanya tanda setuju.
__ADS_1
---------
Ares dan Alby pun sudah datang dengan membawa obatnya, Awan yang melihatnya pun mengambil alih obatnya dan memberika obatnya ke Fisha.
“Nie diminum dulu Ney!” Awan memberikan obatnya lalu mengambil air dan menyodorkannya.
“Terimakasih semua, kalian benar-benar sahabat terbaikku, maafkan aku yang selalu merepotkan kalian ya ....” Fisha memelas dan memandangi semua sahabatnya, semuanya pun tersenyum lalu ketawa dengan wajah polos Fisha.
“Haha udah jangan begitu muka kamu serem sekali kalau memelas, inginku musiumkan jadinya.” Ejek Alby dengan menyeringai dan ketawa, membuat Fisha melototkan matanya, semuanya pun ketawa dengan ulah Alby dan Fisha.
Lalu Ares pun membuka suara, dia berpamitan untuk pulang kepada ibu Fisha, ayahnya Fisha tak ada karna sedang menjemput nenek dan kakeknya Fisha perjalanan bisnis kemarin.
“Fish, kami pulang dulu ya? Besok kita bisa kumpul lagi.” Ares berkata sambil melirik ke Alby Dan Awan yang masih melamun dan tidak beranjak.
“Hey ayo! Kalian gak mau pulang?” lanjut Ares sambil menarik tangan Alby dan Awan. Mereka pun tersadar dan cekikikan.
“Haha iya ayo! Tak kira tadi semua boleh nginap di sini Fish.” canda Awan, dan Fisha menatap tajam ke arahnya siap untuk memangsa Awan.
Dasar! Semua sahabatku emang benar-benar gila, semoga aku aja yang tidak. Batin Alby.
“Boleh kok nginap di sini, tapi siap-siap untuk di nikahkan sama semua orang yang ada di desa ini dengan kemesuman haha.” ibu mengucap sambil ketawa dan bergidik ngeri.
“Udah ya Bu, kita permisi dulu ya Bu, untuk pulang, besok-besok kita ke sini lagi,” ucap mereka serempak lalu mencium tangan ibu Fisha, ibu Fisha pun mengiyakannya dan tersenyum juga mengucapkan terimakasih. Fisha pun demikian dia tersenyum lalu melambaikan tangannya kepada sahabat cowoknya itu. Mereka pun tersenyum balik dan membalas lambaian tangan Fisha.
----------
Ibu pun menyuruh Fisha istirahat, begitu juga dengan Sesil dan Sasa. Mereka pun tidur dengan berhimpitan Karena kasur Fisha yang tidak besar, hanya muat 3 orang dengan ukuran yang pas saja. Tidak seperti kasur mereka semua yang lebar beserta kamarnya 2x lipat dari kamar Fisha ini.
Fisha melirik kedua sahabatnya dan bertanya dengan serius.
__ADS_1
“Sa, Sil, gimana? Apa kalian lulus?” Fisha memandang mereka dengan lekat, dan bersiap untuk mendengarkannya.
“Em gimana ya Fish? Aku malu, aku mau bilang kalau aku enggak lulus,” ucap Sasa dengan wajah ditekuk dan menundukkan kepalanya.
“Iya aku juga Fisha, jadi gak bisa nemenin kamu terus hik, hiks, hiks.” Sesil mulai menangis dengan sendunya.
“Apa?! Gak mungkin? Kalian jangan membohongiku, dosa tau ....”
Haha iya gak lulus beneran, tapi enggak salah haha.” Canda mereka kepada Fisha, membuat Fisha berkerut dengan cemberutnya.
“Haha udah jangan cemberut! Kan enak suka bercanda agar awet muda, lagian dari dulu bukannya kita suka bercanda dengan kehebohan dan keseruan?” Sasa berkata sambil memainkan hp-nya bermain game ular memakan ayam.
Mereka semua asik dengan dunia game-nya sendiri, hingga ada seseorang yang mengetuk pintu, Sesil pun membukanya dan sedikit terkejut dan menyalami mereka dengan tersenyum.
“Eh, Nenek, Kakek, apa kabarnya?” Fisha mencoba berdiri dan menghampiri beliau, namun beliau dengan cepat menghampiri Fisha, sehingga Fisha tak jadi menghampirinya.
“Udah kamu jangan banyak tingkah dulu Sayang! Nenek Kakek kabarnya baik-baik saja kok alhamdulillah, kamu cepet sembuh dan baik-baik saja ya, apa gak capek sakit terus haha.” Canda kakek dengan memainkan kedua alisnya, Nenek pun menggelengkan kepalanya melihat ulah cucu dan suaminya itu yang sifatnya sama persis.
-------
Note :
Mohon dukungannya selalu ya kakak-kakak kesayangan ... 😍
Tinggalkan jejak kalian ... ❤
Like, vote dan komen.
Jangan pelit like gak baik, berdosa😁
__ADS_1
Habis baca tinggalkan jempolnya agar tidak kaku, kalian baca terhibur, lalu jempol dan aku pun senang karena dihargai, terimakasih kakak .... 🤗😘