
Setelah selesai membasuh mukanya, Fisha dan Adrina menuju kantin dan makan bersama, sesekali Fisha melamun dengan tak berselera mengaduk-aduk makanannya terus menerus hingga beberapa menit.
“Fish ... ayo makan dong ... nangis tuh makanannya, udah jangan dipikirkan! Santai saja nanti pasti indah pada waktunya oke!" perintah Adrina dengan senyumannya. Fisha hanya mengangguk saja dengan pandangan yang kosong.
“Aku hampir selesai nih makannya, ayo kamu habisin terus bentar lagi juga mata kuliah lagi kita ekonomi, dosennya agar galak lho, ayo jangan telat serem," ajak Adrina dengan merengkuh pundaknya sendiri tanda takut.
“Haha kamu makannya cepet banget perasaan baru duduk kita, pantatku aja belum basah haha," keluh Fisha dengan tertawa terbahak-bahak.
“Yeee kamu yang kebanyakan melamun," protes Adrina dengan bibir dimiringkan.
“Hehe ya sudah ayo, aku sudah!" Fisha bangkit lalu mengajak Adrina dan membayar makanannya.
“Eh ... tapi itu masih ada, gak mau dihabiskan dulu?" tawar Adrina menengok ke piring Fisha dan menghentikan Fisha yang mau membayar makanannya.
“Enggak aku sudah kenyang," balas Fisha dengan meraba-raba perutnya.
“Oh ya sudah, awas ya kalau nanti kurus aku jadikan perkedel kamu, aku kan gak mau kamu kurus," ujar Adrina dengan wajah yang serius.
“Baiklah! Ayo! Aku bayar dulu!" Mereka membayar saat sudah di karsir pembayaran. Lalu mereka menuju ruang kelas ekonomi.
Beberapa menit kemudian dosen pun masuk. Fisha yang tak fokus dia sedikit-sedikit hanya melamun.
Eh apa kabar ya Sesil, Sasa, Alby juga Ares, mereka sibuk sekali sampai-sampai jarang sudah bertemunya, nanti coba kencan bareng sahabat, Adrina pasti aku kenalkan pada mereka. Batin Fisha sambil menggigit pulpennya. Ia menatap layar monitor mata kuliah yang ada di depan namun pandangannya kosong, membuat dosen yang melihatnya geleng-geleng kepala dibuatnya.
“Fishaaaa ...” teriak dosen Ekonomi dengan geramnya.
“Fisha, Fish ... kamu dipanggil tuh," bisik Adrina duduk bersebelahan sama Fisha, namun Fisha yang melamun dengan fokusnya tak mendengarnya. Lalu Adrina dengan kencang mencubit Fisha, ia pun menggerutu kesal sambil memanyunkan bibirnya.
“Ihh sakit tau? Kamu ini apa ..." ucapan Fisha terpotong saat dosen sudah di samping Fisha yang menggerutu dan menjewer telinganya, membuat Fisha geram dan menepis jewerannya karena dikira Fisha temannya yang sedang jail.
“Hey kamu ini? Sakit tau?" pekik Fisha sambil mengusap-usap telingannya.
__ADS_1
“Sakit?" Suara memberat lelaki paruh baya yang didengar oleh Fisha. Fisha yang merinding dan rasanya akan sial ia pun melirik dengan pelan dan menengok dengan mengkomat-kamitkan bibirnya menghitung dari angka 1 sampai 3 dan belum sempat menengok dengan jelas. Dosennya pun langsung menaruh mukanya di depan Fisha sambil mengedornya. Fisha pun terkaget dan mengelus-elus dadanya.
“Eh ... bapak, ada apa Pak?” tanya Fisha dengan cengengesan dan wajah sok polosnya karena ia canggung dan benar-benar merasa bersalah karena melamun dalam mata kuliah.
“Apa! Ada apa kamu bilang? Maju ke depan! Dan presentasikan mata kuliahnya!” perintah dosen paruh baya itu dengan disertai teriakannya, membuat semua mahasiswa-mahasiswi yang ada di ruangan itu menutupi telingannya. Fisha yang disuruh ia hanya mengangguk pasrah lalu ke depan dan menerangkannya.
Dan untuk ke sekian kalinya Fisha pun menjelaskan dengan lancar samapi semua tersihir dan terpaku lalu banyak yang bertanya hingga selesai penjelasannya.
Dosen pun mengangguk lalu menyuruh Fisha duduk dengan senyuman sangat tipis.
“Lain kali jangan diulang lagi ya!" perintah dosen kepada Fisha, Fisha hanya tersenyum malu lalu mereka belajar kembali.
-----
2 jam kemudian mata kuliah pun selesai. Fisha melangkahkan kakinya keluar bersama Adrina saat dirasa dosen sudah pergi.
Mereka berjalan dengan lenggak-lenggok dengan genitnya untuk saling menghibur hati Fisha.
“Belum bisa Adrina Sayang, aku harus beres-beres katanya Asult lusa pulang, aku kan masih punya tanggungan merawat bayi besar tuh," jawab Fisha dengan nada jutek kalau membahas masalah Asult.
“Lama bener sih di sananya? Krasan amat dia, dia modus tuh hanya ingin memanfaatkan kemesraan bersamamu," terang Adrina dengan menggerutukkan giginya karena kesal, sedangkan Fisha hanya menggedikkan bahunya tanda tak mengerti.
“Oh ya sudah aku bali dulu ya ... bye Fisha ... hati-hati sama kadal itu berbahaya!" peringat Adrina dan berjalan meninggalkan Fisha. Fisha yang mendengarnya hanya terkekeh.
“Ada-ada saja," ucap Fisha sambil berjalan ke arah berlawanan dari yang dilalui Adrina, ia mau menuju kosnya sebentar untuk mengambil buku mata kuliahnya. Saat Fisha berjalan dengan renungannya Ares pun mendekat ke arah Fisha lalu menyapanya.
“Fish, apa kabar? Kamu kok kayaknya makin kurusan kenapa? Kalau Sasa dan Sesiltau bisa-bisa kamu dimarahinya," kilah Ares menatap Fisha dalam-dalam dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Kamu kenapa seperti itu? Udah gak usah lebay begitu, aku gak apa-apa, oh ya aku mau ke rumah sakit lagi nanti, aku duluan ya buru-buru," pamit Fisha dengan berlalu cepat.
“Hey kamu lupa ya? Kos kita itu searah, ayo bareng!" Fisha menepuk jidatnya dengan cengengesan, ia melupakan kalau Ares searah dengannya.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong Asult gimana? Masak belum sembuh-sembuh dia," tanya Ares dan seketika Fisha memurungkan wajahnya.
“Udah jangan tanya masalah dia, ternyata menjengkelkan! Kamu juga pasti tau dari Alby, gak usah pura-pura lagi, heleh!" kesel Fisha saat menyebutkan nama itu.
“Sampai kapan pun aku gak akan mencintainya, apalagi dia memaksaku seperti itu malah aku semakin ilfeel dan benci," lanjut Fisha dengan memanyunkan bibirnya, membuat Ares gemes lalu mencubit pipi Fisha. Fisha pun lalu spontan menatap Ares dengan melototkan kedua matanya.
“Jangan terlalu benci nanti jadi cinta," peringat Ares dengan mengacungkan jari jempolnya. Fisha hanya mendengus kesal lalu menepis jari jempol Ares.
Mereka berjalan bersama dengan gurauannya, sesampai Fisha di kos Ares menunggu Fisha di luar.
Beberapa menit kemudian saat Fisha sudah rapi dan berjalan keluar kosnya ia pun terkejut dan membelalakkan matanya.
“Lho kok masih di sini? Gak pulang ke kos kamu apa, kata Fiha sambil menepuk bahu Ares dengan lembut.
“Aku ingin melihat Asult yang gila itu, gimana kelanjutannya, Alby selalu memerintahkan aku begitu setiap hari, tapi aku banyak penelitian, baru sekarang free banyak, jadi aman," kata Ares dengan wajah yang memohon.
“Ok ayo!" Mereka menuju rumah sakit sambil bergandengan tangan mesra.
Saat Fisha berjalan dan sudah sampai di depan pintu ia menyaksikan hal yang tak terduga, lalu ia terduduk lemas dan menangis pilu.
“Fisha ... tenanglah! Habis ini akan aku bantai dia," geram Ares dengan mengepalkan kedua tangannya, sedangkan Fisha hanya melamun dan meratapinya sambil memasukkan kepalanya di pangkuannya.
“Di-dia ....”
--------
Note :
Hai, hai maaf Otor telat upnya, di samping weekend, Otor juga agak eror dari kemarin, tetapi meskipun begitu selalu aku usahakan up kok buat kalian.
Kasih dukungan penuh untukku ya, ketik like, gratis kok ... jangan tega sama Otor meskipun karyanya recehan, terimakasih 🙏❤
__ADS_1