Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Seperti Dulu


__ADS_3

Saat dirasa Fisha sudah agak tenang, Adrina pun mengajak Fisha untuk kembali ke kelas, Adrina menggandeng tangan Fisha yang berjalan dengan pelan dan masih sedikit gemetaran.


“Kamu gak apa-apa kan Fish?" tanya Adrina sambil menoleh ke arah Fisha, memandangi Fisha dengan rasa khawatirnya. Fisha hanya mengangguk dan tak banyak bicara lagi.


Mereka lalu sampai di kelas dan duduk di kursi masing-masing. Even yang melihat Fisha yang berubah 360 derajat sebelum dan sesudah dari kamar mandi, ia pun berfikir pasti Fisha sedang parno, Even pun menatap Fisha dengan sendunya dan rasa khawatirnya. Lalu ia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


Sudah 1 jam aku mengajarnya, aku sudahi saja dan mengasih tugas ke mereka saja, aku khawatir kalau Fisha terlalu lama ia bisa sakit dan tak bisa istirahat. Batin Even, ia langsung menerangkan mata kuliahnya sedikit lalu menyudahi perkuliahannya dengan cepat, dengan alasan ada sesuatu yang sangat mendesak.


Para mahasiswa-mahasiswi saling menatap satu sama lain dan curiga kepada Even karena tumben ia menyudahi perkuliahannya dengan cepat, tapi mereka memendam saja tanpa mengungkapkan.


Mereka lalu berlalu pergi dan beraktifitas sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, sedangkan Adrina dan Fisha masih berada di kelas bersama dengan Even.


“Fishaaa kamu tak apa-apa?" Fisha hanya mengangguk pelan lalu dirasa kepalanya yang pening ia pun menaruh kepalanya di bangku dan menenggelamkan kepalanya di kedua bahunya membuat Adrina takut dan gusar karena khawatir.


“Eh ... jangan begini Fish, ayo kita pulang!" ajak Adrina tapi tiada sahutan dari Fisha. Adrina tidak sadar kalau Even dari tadi masih ada di kelas dan memperhatikan mereka.


“Hey Fish, kamu gak apa-apa kan? Jangan buat aku takut!" lanjut Adrina dengan nada yang takut dan menggoyang-goyangkan bahu Fisha. Fisha yang merasa digoyangkan dengan kencang ia sedikit mendongakkan kepalanya ke arah Adrina lalu berusaha untuk tersenyum tipis.


“Sudah kamu pulang saja! Aku gak apa-apa," usir Fisha dengan lemahnya lalu ia kembali menenggelamkan kepalanya lagi.


“Gak apa-apa bagaimana? Kamu panas begini!" Saat Adrina masih sibuk menunggui Fisha. Even pun mendekat dan mencolek Adrina. Adrina yang merasa dicolek ia pun melirik dan kaget saat melihat Even. Even dengan cepat lalu membekap mulut Adrina agar tak berbicara apapun. Adrina yang patuh dan mengangguk dengan cepat atas perintah Even. Even pun langsung melepaskan bekapannya dan menghela nafas panjang.


Ia lalu beralih ke Fisha dan mengusap-usap puncak kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


“Eh ... panas sekali, Adrinaaa Fisha demam, sebaiknya kamu pulang saja! Gak apa-apa ada aku, aku akan bawa dia ke rumah sakit," cetus Even dengan khawatirnya lalu ia menggendong Fisha yang sudah tak sadarkan diri.


Adrina hanya mengangguk dengan patuh, karena menurut Adrina ini adalah kesempatan agar mereka bisa kembali memperbaiki hubungannya lagi dan bisa utuh kembali. Adrina hanya tersenyum sambil sesekali menatap Even. Even yang tau sedang ditatap ia mengangguk dan mengisyaratkan tangannya untuk dijadikan telepon. Kodenya adalah bahwa nanti kalau Fisha sudah sadar, aku akan meneleponmu begitu. Adrina mengangguk lalu pulang ke rumahnya.


Sedangkan Even yang panik, ia sesekali berusaha membangunkan Fisha yang panas dan menggigil itu.


“Fishaaa bangun Sayang! Tak bisakah kau menghilangkan traumamu ini dan berbagi rasa sakitmu denganku? Aku sungguh sakit bila melihatmu seperti ini," celoteh Even sambil berjalan dengan cepat dan mengelus-elus pipi mulus Fisha.


---------


Saat Even sudah sampai di rumah sakit ia lalu berteriak memanggil suster. Suster pun mendekat lalu dengan cepat mengarahkan Even dengan menggendong Fisha, sesampainya di ruangan rawatnya Fisha lalu diinfusnya karena menurut suster demamnya terlalu tinggi jadi wajib diinfus. Fisha lalu diberi obat penurun panas dan penghilang rasa sakit yang disuntikkan di dalam cairan infusnya.


Even yang berdiri ia lalu duduk dan menatap Fisha dengan sedihnya.


Even yang merasa capek dan mengantuk ia pun berusaha membuka matanya agar terjaga menjaga Fisha, namun ia yang sudah tak tahan menahan rasa kantuknya ia pun tertidur dengan cepat.


Beberapa menit kemudian, Fisha yang tersadar ia sambil sesekali memegangi keningnya karena rasa pusingnya yang masih membekas.


Ia lalu menoleh ke arah samping dan ia sangat kaget saat melihat Even tertidur menjaganya sambil menggenggam tangan Fisha.


Eh jadi yang menolongku dan semuanya adalah Even? Weleh-weleh hatiku semakin terenyuh, dia dari dulu emang gak berubah ya emang yang terbaik, dan semakin hari semakin terbaik. Batin Fisha, ia menyodorkan tangannya dan berusaha mengelus-elus kepala Even, saat Fisha sedang asyik mengelusnya. Even pun terbangun dan mengerjapkan matanya lalu menatap Fisha kembali dan ia tersenyum karena melihat Fisha yang sudah terbangun.


“Eh ... Sayangku sudah sadar? Apa kamu gak apa-apa Sayang ... mana yang sakit sini aku lihat!" tanya Even dengan perhatian dan hebohnya karena baru kali ini ia melihat infus secara langsung, membuat bulu kuduknyaa berdiri dan menggaruknya dengan kasar.

__ADS_1


“Enggak aku gak kenapa-kenapa, Bapak kenapa ada di sini? Adrina mana? Aku gak mau berhutang budi kepada Bapak, saya mau pulang Pak," keluh Fisha dengan pura-pura sewotnya membuat Even yang mendengarnya ia tersenyum.


“Kamu masih marah sama Maz? Yakin gak mau berdamai?" goda Even dengan gencarnya membuat Fisha melengos dan memalingkan wajahnya dengan bersedekap. Even lalu menggelitik Fisha. Ia pun ketawa terbahak-bahak karena sangat geli, ia lalu berteriak agar Even menghentikannya.


“Maz ... stop! Geli tau? Eh ... maksudku Pak, maaf!" kata Fisha dengan canggungnya hingga ia kaku memanggil nama dan membungkam mulutnya.


“Sudah seperti biasa saja ya ... jangan menyiksa Maz lagi seperti ini, rasanya sakit tau? Kamu ingin tau kenapa Maz dulu seperti itu?" Fisha mengangguk dan menoleh ke arah Even dengan rasa penasarannya, lalu menatap nanar Even saat Even memelaskan wajahnya.


Fisha lalu berusaha bangkit dari tidurnya dibantu oleh Even. Ia menselonjorkan kakinya dan siap untuk mendengarkan Even berbicara.


“Aku melakukan itu untukmu Sayang, aku tau kamu punya trauma yang kuat, aku gak mau menambahi itu Sayang, bagiku kamu cukup tersenyum dengan cerah itu yang terpenting, aku tak mau membeni rasa cintaku untukmu, aku gak mau gara-gara aku nanti kamu bingung memilih antara aku dan Asult," ungkap Even disertai dengan menghela nafas panjang.


“Biarlah aku yang mengalah dan ikhlas, asalkan kau bahagia, tapi ternyata takdir berkehendak lain, meskipun rintangan menghadang, kita bisa menyelesaikannya dan cinta benar-benar kembali pulang," lanjut Even menatap Fisha yang sudah mulai menitikkan air mata karena rasa terharunya. Even lalu mengusap air mata Fisha dan memeluknya dengan erat seperti tak ingin melepaskannya kembali. Fisha pun membalas pelukan Even dan Mereka pun baikan seperti dulu.


“Terimakasih Maz, cintamu terbaik! Terimakasih!" Tiada henti Fisha berucap dan bersyukur.


-----


Note :


Ingin end sampai berapa? Hehe yuuuk jawab dengan sepenuh hati.


Jangan lupa like-nya terimakasih. ❤

__ADS_1


__ADS_2