
“Jangan-jangan mereka keracunan Kak,” ucap Alby sambil menatap Even saat mereka sudah tiba di rumah sakit. Mereka sampai dengan cepat karena jaraknya hanya beberapa menit saja. Even saja yang sok bawa mobil karena kekhawatiran dia yang berlebihan membuatnya oleng dan melupakan itu.
“Sepertinya begitu ada yang sengaja meracuni dengan memasukkan ke minuman itu," balas Even dengan membelakangi Alby, karena Even sibuk mencari suster.
“Sus, Suster ... tolong ini cepat!” perintah Even berlarian dengan menggendong Fisha saat sudah turun dari mobilnya. Saat suster sudah mendekat dan membawa brankar, Even lalu meletakkan Fisha di atasnya sambil menatap pilu dan mengusap keningnya.
“Sus ada satu lagi di mobil, bawa kursi roda, dia sangat berat sekali!” pinta Alby minta tolong ke suster, lalu suster mengangguk dan menghampiri Asult bersama Alby, setelah itu Asult ditaruhnya di brankar.
“Merepotkan saja! Seharusnya cecunguk itu tadi di buang di jalan saja!” sinis Even dengan melirik Asult yang ada di brankar.
“Kakak ini bukan saatnya cemburu sekarang!” Alby terkekeh geli mendengarnya, lalu ia menuju ruang administrasi untuk mengurus pembayaran.
“Cepat Sus, ayo segera diperiksa, selamatkan Fisha!” suster mendorong brankarnya dengan cepat. Even mengikutinya sambil menggenggam tangan Fisha dengan mata yang berkaca-kaca.
“Fisha kamu harus semangat ya, aku tau kamu kuat! Berjuanglah demi aku!” Even memberi semangat penuh, sedangkan semua temennya juga ikutan panik dan mengikutinya lalu saat Fisha dan Asult sudah dibawa ke ruangan ICU, mereka pun duduk di luar di kursi tunggu.
Even mondar-mandir gelisah tak menentu dia berfikir dengan keras, bagaimana bisa di tempat seperti itu ada racun, pasti ada yang tidak beres begitu pikirnya.
Ia lalu merogoh handphone yang ada di saku kemejanya dan memencet tombol hijau saat sudah menemukan nama yang dituju.
“Jon, ikut aku! Aku sekarang ada di rumah sakit Muhammadiyah.” Even berucap saat nomor yang dituju menjawab panggilannya.
“Apa! Bos sakit?” tanya Jonatan khawatir.
“Tidak, cepat kamu ke sini!" Perintah Even singkat.
“Baik!" Even lalu menyudahi teleponnya dengan cepat lalu mengembalikan ponselnya kembali ke sakunya, ia geram dan mengepalkan tangannya.
Kurang ajar sampai aku benar-benar menemukan pelakunya aku akan tebas lehernya sampai habis dan aku bikin keripik goreng, semoga Fisha tak apa-apa, bertahanlah. Batin Even, ia melirik ke sana sini menunggu dokter keluar dari ruangannya.
“Kakak, bagaimana bisa ada racun di tempat itu? Padahal kita dari tadi makan gak apa-apa," tanya Alby saat sudah kembali dari ruang administrasi, ia mendekati kakaknya yang mondar-mandir dengan gelisah, lalu menepuk pundak kakaknya.
“Kakak mana tau? Kamu ini gimana! Ya sudah nanti Kakak yang cari tau, kalian tenang saja!" sewot Even karena ia sangat bingung.
__ADS_1
“Kakak ini suka marah-marah huh!" maki Alby dan ia lalu duduk ke kursi tunggu sambil sesekali melirik ke arah kakaknya yang masih gelisah itu.
Huh dasar! Nanti aku doakan kau bucin akut Kak, biar kapok kayak Awan dulu dia sampai segitunya, rasain Kakak juga kena omongan sendiri katanya gak bakalan cinta seperti itu, pret. Batin Alby, ia sesekali terkikik sendiri, Sesil yang melihat Alby seperti itu ia memegangi kening Alby lalu menaruh di keningnya.
“Panas, pantes agak gesrek," ledek Sesil dengan menahan tawanya.
“Sembarangan!” bentak Alby sambil menepis tangan Sesil yang masih berada di keningnya.
“Lalu?”
“Gak ada apa-apa, tuh lihat Kakakku yang sudah bucin,” ucap Alby dengan lirih sambil menunjuk kakaknya.
“Hey jangan kenceng-kenceng, nanti Kak Even tau, kamu bisa digantungnya.” Sesil menakut-nakuti Alby dengan menaruh tangannya di lehernya dan disayatkan sambil melotot ke arah Aby, Alby yang melihatnya tertawa lirih.
Lalu Jonatan datang menghampiri Even dengan langkah yang tegap dan baju serba hitam karena ia memakai jas hitam, celana hitam, sepatu hitam.
“Ihh serem juga ya anak buah Kak Even, selalu bikin aku merinding,” ucap Sasa lirih sambil mencolek Ares yang ada di sampingnya, Ares hanya menoleh dan menaruh jari telunjuk dibibirnya agar Sasa diam, Sasa yang tau itu ia mengangguk patuh dan diam.
“Bos ada apa?" tanya Jonatan saat sudah di belakang Even.
“Oke Bos, iya bawa Bos," balas Jonatan sesekali menunduk.
“Ya sudah jalan kaki saja, deket kok!” Jonatan mengangguk dan membuntuti Even yang sudah berjalan beberapa langkah.
“Kakak? Mau ke mana? Nanti Fisha cari kakak gimana?" teriak Alby saat kakaknya sudah agak jauh darinya.
“Hanya sebentar By, nanti Kakak balik, jaga Fisha!” balas Even dengan berteriak balik ke arah Alby sambil ia melambaikan tangannya.
“By, kak Even misterius sekali ya, kalau marah dia juga agak serem ya,” seru Sesil sambil memainkan ponselnya.
“Iya begitulah kakak, tapi dia sangat penyayang, dan bisa-bisa nanti Kakak bucin akut melebihi Awan haha.” Alby berbicara sembarangan sambil menyumpahi kakaknya itu agar kemakan omongannya sendiri yang dulu.
“Eh jangan begitu? Nanti kamu juga kalau sudah mencintai seseorang bisa bucin akut tuh sama saja,” balas Sesil dengan memainkan game-nya karena ia jenuh menunggu.
__ADS_1
“Enak aja, gak akan!” tolak Alby.
“Semoga beneran amin.” Sesil mengangkat kedua tangannya lalu mengusapkan ke wajahnya. Alby yang mendengar ucapan Sesil menatap tajam ke arahnya.
-------
1 jam kemudian dokter pun keluar dari ruang ICU dan menghampiri mereka yang menunggu di kursi tunggunya.
“Keluarga Fisha dan Asult?” ucap dokter dengan wajah yang tenang tapi berkeringat karena sesi berkutat di dalam tadi.
“Iya Dok, kami." Ares yang menjawabnya, lalu mereka sama-sama mendekat ke arah dokter.
“Ada apa Dok?" tanya Alby dengan penuh karena ia takut terjadi apa-apa dengan kesayangan kakaknya itu.
“Itu mereka keracunan minuman, beruntung Fisha hanya meminumnya sedikit, jadi dia tak apa-apa, racunnya tadi belum menyebar dan sudah kita atasi dengan menyedot racunnya tersebut," jelas dokternya dengan sesekali menyeka keringatnya dengan sapu tangannya. Mereka semua yang mendengarnya ia mengelus dadanya tanda lega.
“Tapi yang satunya Asult, dia meminum racun banyak, itu membuatnya kemungkinan dia akan lumpuh,” lanjut dokter dengan penyesalannya karena tak bisa berbuat apa-apa.
“Bagaimana bisa Dok?" tanya Sasa syok, karena ia takut Fisha mendengar itu semua ia akan menyesal dan menyalahkan dirinya berulangkali.
“Iya bisa karena racunnya sudah ada yang menyebar, maafkan kami yang tak bisa mencegahnya karena itu di luar kemampuan kami, tapi sepertinya ia akan pulih kalau dia terapi setiap hari dengan sungguh-sungguh.”
“Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu." Dokter pamit undur diri sambil menundukkan kepalanya, diikuti suster-suster yang membantunya, semua membalasnya dengan senyuman, lalu masuk ke ruangan di mana Fisha dan Asult berada.
Mereka lalu mendekati Fisha dan menatapnya nanar.
Fisha kenapa kamu dari dulu selalu mengalami sakit, kapan kamu bahagia, semoga saja semua cepat berakhir. Batin Sesil, ia mengelus puncak kepala Fisha, sedangkan Sasa menggenggam tangannya menyalurkan kekuatannya agar Fisha segera sembuh.
Sedangkan Alby dan Ares menatap Asult dengan penuh dan saling membatin.
Bagaimana ini? Bagaimana nasib Fisha, kakak dan Asult? Hmmm membingungkan sekali kisah cinta ini. Batin Alby.
-------
__ADS_1
Note :
Jangan lupa like-nya ya, dukung selalu ya kakak kesayangan, jangan pelit like 🙏🙄❤