Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Ketakutan Even


__ADS_3

Even berjalan sambil dipapah oleh Jonatan, ia sesekali memejamkan matanya dengan seluruh tubuh yang bergetar, Jonatan yang memapahnya ia merasakan kebingungan karena ulah bosnya itu yang sempoyongan dalam berjalan.


“Jon, antarkan aku ke mobilku ya!” perintah Even dengan suara lirihnya.


“Bos, apa Bos tak apa-apa?" Jonatan tak membalas perintah Even namun ia balik bertanya karena khawatir dengan keadaan Even yang tak banyak bicara seperti biasanya.


“Bos?” ulang Jonatan sambil menatap Even penuh.


“Hmmm iya Jon aku baik-baik saja, aku hanya sedikit takut saja,” balas Even dengan senyum yang dipaksakan. Lalu ia berjalan ke arah mobilnya dengan diantar Jonatan, sampai di depan mobilnya Jonatan pun membukakan pintunya, ia bertanya lagi dengan ragu-ragu karena sungguh khawatir terhadap bosnya.


“Bos, apa perlu aku saja yang mengantarkan Bos ke apartemen? Sepertinya Bos lagi gak enak badan," tawar Jonatan saat Even sudah menutup pintunya, ia memasukkan kepalanya ke dalam pintu mobilnya yang sudah ditutup dan kacanya dibuka setengah oleh Even.


“Aku bisa kok Jon, makasih ya," seru Even lalu mengklakson tanda akan menjalankan mobilnya, Jonatan lalu mengeluarkan kepalanya kembali dan minggir sambil melambaikan tangannya.


“Hati-hati Bos! Telepon aku saja kalau ada apa-apa!" teriak Jonatan dengan kencang, sedangkan Even hanya melirik Jonatan lewat kaca spionnya.


Bos itu dia sungguh sangat mencintai cewek itu dengan segitunya, padahal dia gak pernah bersinggungan dengan lembah hitam, baru kali ia melakukan di depan mata kepalanya sendiri, pantas dia takut dan gemetaran, aku sungguh khawatir, semoga bos baik-baik saja, dia sungguh sulit untuk di atur. Batin Jonatan sambil ia masih menatap mobil Even yang bergerak pelan, lalu ia berlalu pergi ke arah anak buahnya kembali.


🍁🍁🍁


Di perjalanan Even.


Even menyetir dengan gelisahnya ia sesekali mengingat tembakan yang menggenaskan itu, sambil ia melihat ke arah tangannya dan menatap nanar.


“Tangan ini, tangan ini? Aku benar-benar menembaknya, aku membunuhnya,” celoteh Even berbicara sendiri sambil kedua tangannya di angkat menengadah ke atas, ia melupakan kalau saat ini ia sedang menyetir.


Seluruh badannya bergetar hebat dan air mata lolos di pipinya dengan sendirinya, ia lalu melihat ke depan dan dia mengingat kalau dia sedang menyetir.


“Eh, aaaaaa ...." Terjadi kecelakaan yang tak dielakkan karena Even ceroboh tak fokus karena ketakutannya, ia menabrak pohon besar karena tadi ia juga melihat ada seorang nenek menyebrang lalu ia dengan cepat mengemudikan mobilnya dibelokkan untuk menghindari menabrak nenek jadi dia yang menabrak pohon besar.

__ADS_1


Even mendesis sakit dengan sisa kekuatannya ia mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit, darah mengalir di pelipisnya.


“Euh sakit sekali, aku masih hidup kan Tuhaaan, hmmm tolong akuuu, siapapun itu!” teriak Even dengan lirih karena rasa sakitnya. Ia lalu berupaya menggerakkan tangannya lalu merogoh handphone-nya yang ada di kantong bajunya.


“Halo? Jon, tolong aku!” ucap Even saat telepon sudah terhubung.


“Eh ada apa Bos? Bos ada di mana? Share lokasi," Jonatan memberondong pertanyaan. Even yang masih kesakitan ia lalu menekan chat dan mengirim lokasi ke Jonatan lalu ia matikan teleponnya.


Even memegangi kepalanya sambil sesekali tersenyum membayangkan Fisha dan sesekali takut kalau mengingat pistol itu.


Fisha yang ada di rumah sakit ia merasakan ada sesuatu dengan Even, ia pun menghubungi Even dengan cepat. Even yang melirik nada teleponnya bergetar telepon dari Fisha ia mengabaikannya karena ia tak mau Fisha mendengar suaranya yang sungguh menyedihkan itu.


Eh Even ke mana sih kok gak diangkat? Sungguh firasatku sungguh tak enak. Batin Fisha, ia memegangi dadanya yang terasa sakit karena merasakannya.


-------


“Bos, ayo kita ke rumah sakit!” Jonatan mendekat dan menggendong Even di punggungnya, Even yang sudah tak berdaya ia pasrah apapun yang di lakukan Jonatan tanpa menolak.


“Bos mau ke rumah sakit mana?” tanya Jonatan masih menggendong Even menuju ke arah mobilnya bersama anak buahnya.


“Apartemen!” perintah Even dengan singkat.


“Apartemen?” tanya ulang Jonatan, sedangkan Even hanya menusuk-nusuk bahu Jonatan tanda iya.


“Baiklah nanti akan aku teleponkan dokter biar ke apartemen Bos." Sampailah di mobilnya, Jonatan mengantar Even bersama anak buahnya ke apartemen Even, beberapa menit kemudia mereka pun sampai apartemen, Ia lalu memapah Even ke arah kamar Even lalu menelepon dokter pribadinya.


“Jon? Air! Air ...!” pinta Even. Jonatan yang mendengarnya lalu dengan langkah yang cepat mengambilkan air dan menyodorkan ke arah Even, lalu membantu Even untuk minum.


“Bukannya tadi aku bilang, biar aku saja, Bos sih gak nurut, gini kan jadinya,” omel Jonatan karena ia merasa iba kepada Even dan dia sangat menyayangi bosnya itu karena sudah beberapa tahun ia bersama.

__ADS_1


“Diam!" lirih Even, lalu ia memberikan botol minuman kepada Jonatan, Jonatan yang merasakan panas karena tersentuh tangan Even, ia pun dengan cepat memegang kening Even.


“Eh Bos, kamu panas sekali, itu kalau aku ingin bikin air panas dan buat kopi bisa tuh di kening Bos,” canda Jonatan, sedangkan Even cuek karena dirasa ia sangat sakit dan masih merasakan takut.


“Sudah Bos gak usah takut, Bos sudah melakukan hal yang tepat, aku dan semuanya sangat bangga pada Bos, iya kan semuanya?” Jonatan mencoba menenangkan Even dan bertanya kepada semua anak buahnya, mereka semua mengangguk dan tersenyum dengan wajah yang datar masing-masing lalu menunduk.


Beberapa menit kemudian dokter pun datang dan memeriksa Even, lalu dokter menulis resepnya dan berpamitan dengan semuanya, semuanya berjabat tangan dan Jonatan memerintahkan salah satu mengantar dokter keluar, juga satunya lagi menebus obatnya, semuanya menurut dan melakukan tugasnya masing-masing dengan cepat.


Anak buahnya yang disuruh Jonatan akhirnya datang dengan membawa obat dan menyerahkan ke tangan Jonatan, Jonatan pun menerimanya dan menyodorkan ke arah Even beserta minumannya.


“Bos ini obatnya diminum dulu!” Even meminum obatnya lalu meneguk minumannya.


“Terimakasih aku mau istirahat dulu, kalian boleh pulang!” perintah Even namun semua menolak dan kekeh untuk masih berada di apartemen Even, akhirnya ia pasrah dan membiarkan anak buahnya berjaga di luar kamarnya.


“Bos pinjam handphone sebentar," seru Jonatan, lalu ia mengambilnya saat Even mengangguk.


Jonatan lalu mencari nomor Fisha lalu menyimpannya di handphone-nya, lalu segera mengechatnya setelah meletakkan handphone Even kembali di atas meja.


Fisha yang berada di kamar yang dari tadi sudah terbangun menunggui Asult yang masih tidur ia membaca pesan Jonatan ia sungguh sangat terkejut.


“Maafkan aku Sult, aku pergi sebentar, nanti aku balik lagi,” kata Fisha lirih berpamitan kepada Asult yang masih memejamkan matanya. Lalu segera ia berjalan pelan keluar dari ruangan untuk menengok Even ke apartemennya yang sudah dikirimkan lokasinya juga oleh Jonatan.


Kamu mau ke mana Fish? Apa mau menemui Even? Batin Asult, ia sudah bangun saat Fisha dengan gelisahnya tadi, tapi ia berpura-pura ingin tidur karena ingin tau Fisha melakukan apa.


----------


Note :


Jangan lupa like-nya, kiss unch semuanya buat yang gak pelit like, semoga membawa kebaikan selalu terimakasih ❤

__ADS_1


__ADS_2