
Pagi pun tiba, Fisha pun bersiap-siap sekolah dengan dibantu ibunya, ibu menata semua keperluan putrinya, juga membawakan bekal untuk minum obat, karena dirasa agar tidak sembarangan dengan makanan-makanan yang pedas, karena baru sembuh dari sakitnya.
Fisha pun heran dibuatnya oleh kelakuan ibunya, lalu dia menatap ibu dalam-dalam dengan penuh menyelidik dan menggelengkan kepala berulang kali.
“Kenapa menatap ibu seperti itu? Mau protes? Udah jangan protes! Demi kebaikanmu sayang, apa mau gak boleh sekolah sama ibu?” ancam ibu, beliau tersenyum cerah, secerah mentari, membuat Fisha mau tidak mau mengiyakannya namun dia menggerutu dalam hati.
Ihh Ibu, Ibu apa-apaan sih? aku seperti anak sd saja bawa bekal dan lagi banyak sekali isinya, perutku apa muat segitu banyaknya. Batin Fisha.
Ibu pun terus mondar-mandir tidak menghentikan aksinya, dia semakin gencar melakukan aksinya, Fisha pun akhirnya membuka suara takut telat masuk sekolah.
“Ibu udah dong Bu, Fisha mau sekolah Bu, bukan piknik,” ucap Fisha pura-pura merajuk menghampiri ibu, tapi beliau cuek tak memperhatikan Fisha, beliau masih sana sini sibuk menyiapkan perlengkapannya membuat Fisha geram dibuatnya.
“Ibu ... udah Bu, Fisha telat Bu huaaaaaa,” ulang Fisha dengan pura-pura manja dan pura-pura menangis.” dan ini membuat ibu langsung menghentikan aksinya, ibu menengok ke Fisha dan tersenyum.
“Hehe kenapa Sayang? Sudah kok, yaudah sana berangkat.” Sahut Ibu cengengesan, membuat Fisha menatap sebal.
Idih dari tadi kek Bu, sampek capek aku, aku ngoceh berulang kali gak direspon, tapi aku pura-pura menangis dengan air mata buaya baru manjur, menyebalkan! Itu baru air mata tangisanku, coba malah mutiara idih jelas bawa panci Ibu buat menadahi mutiaraku wkwk. Batin Fisha.
“Hey, udah sana Sayang berangkat, eh malah melamun,” ucap ibu dengan melambaikan tangannya, Fisha langsung sadar dengan lamunannya dan terkekeh.
“Ok Bu Fisha berangkat dulu assala... ” Belum selesai Fisha menyelesaikan kalimatnya, mereka dikejutkan oleh suara klakson mobil.
------------------
Tong, tong, toooong, telolet, teloleeeeet ....
Bunyi mobil itu membuat Fisha dan ibu tertawa terbahak-bahak dan mengernyitkan dahi, dalam benak mereka suara mobil siapa itu, aneh sekali kayak suara bus mencari penumpang.
“Eh haha suara apa tuh Bu, apa suara bom atom,” ucap Fisha dengan tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
“Gak tau Nak, haha jangan ngawur bom atom ya duar bukan telolet wkwk.” Cengenges ibu. “Yaudah ibu mau nengok, kamu mau sekolah? Cepat katanya berangkat, sana udah jam segini, pasti Sasa udah nunggu di luar,” lanjutnya.
“Ayo Bu.” Rengek Fisha, ibu pun mengiyakannya dan keluar bersama. Dan ternyata Fisha dikejutkan seseorang yang keluar dari mobil, dia adalah manusia yang super melow sejak jatuh cinta, siapa lagi kalau bukan si Awan. Fisha pun membelalakkan matanya dan tak berkedip. Membuat ibu meliriknya dan mendorong dengan sikunya.
“Ahem, itu ada pangeran kodok Nak,” goda ibu dengan tersenyum, tapi tiada respon dari anaknya tersebut, membuat ibu melirik sekali lagi dan ternyata Fisha melamun, ibu langsung menepuk jidatnya.
Ihh dia apaan ke sekolah deket aja pakai mobil, iya aku tau kamu horang kaya punya mobil, tapi gak gitu juga keles, malu aku sama ibu, mau taruh dimana mukaku, apa dikantong kresek, haiss, tapi cakep juga kalau kayak gini, iss sadar Fisha dia batu permata, kamu batu kali, apa orang tuanya mau sama kamu haha jangan mimpi, udah jalanin aja dulu jangan terlalu, nanti terjungkal tau rasa. Batin Fisha.
“Ahem udah cepet sana Sayang, katanya telat malah segitunya memandangnya sampai ilernya keluar.” Ibu menggoda anaknya. Fisha pun mendengarnya mengiyakannya, Awan yang dengan pun menahan tawa.
“Apa kamu lihat-lihat!” teriak Fisha, Awan pun terkekeh, lalu mendekati ibu dengan tersenyum.
“Bu, kita berangkat dulu ya, assalamu'alaikum,” Awan mencium tangan ibu, ibu tersenyum mengiyakannya.
“Fisha juga Bu assalamu'alaikum,” Fisha menimpali.
“Eh tunggu Sasa dulu, itu dia, ayo Sa.” Fisha berjalan menuju mobil sambil menunjuk Sasa dan berteriak. Awan pun mengikutinya.
“Ihhh Ibu, dia namanya Awan tau?” ucap Fisha dengan memutar kedua bola matanya.
“Haha sama aja, mau Langit mau Awan sama aja, bukannya Langit sama Awan sama ya, saudara seibu kayaknya hahaha,” jawab ibu dengan tertawa terbahak-bahak.
“Hmmm terserah ibu aja.” Fisha pasrah, lalu Awan mengangguk menjawab jawaban ibu tadi dan mengangkat jari jempolnya ke arah ibu tanda siap, ibu tersenyum.
Ibu sama anak sama aja ya ternyata, lucu sekali, berarti kelucuannya menurun dari ibunya, Haha gemes. Batin Awan, lalu dia geleng-geleng kepala.
“Kamu kenapa? Aneh sekali,” tanya Fisha memandang Awan dengan penuh curiga.
“Hahaha gak apa, masuk yuk Sayangku.” Jawab Awan ketawa langsung membukakan pintu mobil buat Fisha.
__ADS_1
“Makasih,” Fisha tersenyum cerah dengan mengedipkan matanya, membuat Awan salah tingkah. “Ayo Sa,” lanjutnya.
“Udah jangan menggodaku Ney.” Awan berujar dengan masih melirik Fisha, Fisha yang dilirik dia segera masuk mobil. “Sa ayo, mau ditinggal?” lanjutnya.
“Udah kalian aja, aku naik ontel saja, aku gak mau gangguin kalian berduaan,” ucap Sasa dengan merapikan tasnya.
Kamu tau aja, pengertian sekali sih, top markotop, gue suka gaya lho. Batin Awan.
Lalu Fisha yang mendengarnya pun membuka kaca mobilnya dan berteriak.
“Ayo cepat Sa, kalau tidak mau aku akan puasa ngomong sama kamu dan gak akan mau melihat wajahmu.” Ancam Fisha, dan berhasil Sasa pun mengiyakannya lalu masuk mobil.
Di dalam mobil Fisha bersenden di kursi mobil dan memejamkan mata, lalu memijit pelipis keningnya. Awan yang melihat dari spion pun khawatir, Sasa yang meliriknya pun memulai membuka suara karena dirasa hening dari tadi.
“Fish, kamu kenapa? Sakit?” tanya Sasa dengan mengecek kening Fisha mengecek suhu tubuhnya.
“Iya kamu sakit? Pulang aja istirahat, lagian paling cuma arahan besok UN aja, gak ada pelajaran, biar besok fit UN nya Ney.” Awan menimpali.
“Enggak udah ayo, bentar lagi nyampek, lagian kalian tau ibuku bawa bekal banyak seperti aku piknik aja, jadi aku gak bakal kenapa-kenapa, aku pasti akan segar bugar sampai melar.” Jawab Fisha dengan tersenyum kecut dan mengangkat bekal ditangannya, membuat Sasa dan Awan ketawa, Fisha yang diketawain dia cemberut.
“Itu tandanya beliau sayang banget sama kamu,” ucap Awan, Sasa mengangguk membenarkan.
Mereka pun sampai di sekolah dan dikejutkan oleh seseorang yang memelas di gerbang sekolah, mereka pun mengernyitkan dahinya.
Dia adalah ...?
----------
Note :
__ADS_1
Makasih yang selalu setia menunggu kisah karya recehku, salam sayang dariku lophyupolepel kakak-kakak kesayangan ....❤
Terus dukung saya ya, klik like, komen kritik dan saran, juga bantuin vote kakak-kakak, jangan pelit like ya gak baik .... 😁🙏💋