
Fisha kaget bukan main saat dosen baru adalah seseorang yang sangat ia kenal, ia menatap tajam dosen itu sambil memberi kode lewat pergerakan bibirnya berucap lirih, namun sang dosennya tak mengerti itu, ia hanya terbengong menatap balik Fisha dengan mengernyitkan dahinya.
“Kenapa?" ucap lirih sang dosen. Sedangkan Fisha menggelengkan kepala sambil menggedikkan bahunya serta mengedipkan matanya tanda nanti saja di luar. Dosen yang belum paham maksudnya ia menahan tawanya dengan menaikkan kedua alisnya, lalu memulai sapaan dan perkenalannya kepada semua mahasiswa-mahasiswinya.
“Assalamu'alaikum, selamat pagi Adik-adik?” sapa dosen baru itu dengan tersenyum dan melambaikan tangannya membuat semua para mahasiswi berdesir dan berteriak histeris.
“Wa'alaikumsalam Pak? Eh Kakak? Eh kita panggil apa ini? Habisnya Bapak masih muda,” balas mahasiswi serempak dengan genitnya, sedangkan para mahasiswa semuannya tersenyum kecut karena merasa pada genit gara-gara dosen baru itu.
“Panggil Bapak saja, saya kan dosen di sini, meskipun saya belum nikah sih dan masih muda!” perintah Even.
“Baiklah, nama Bapak siapa?” Even tak menjawabnya karena ia menatap ke arah Fisha yang mengkomat-kamitkan bibirnya tanda mengejek Even, membuat Even yang sedari tadi menahan tawanya ia langsung melepaskan tawanya karena kelucuannya Fisha.
“Hahaha.” Even kelepasan lalu membungkam mulutnya, Fisha yang tau itu dia melototkan matanya.
“Ehehe sorry, namaku Venano, panggil Pak Ven atau Pak Nano juga gak apa,” jelas Even dengan tersenyum.
“Eh permen nano dong?” canda mahasiswi lainnya.
“Haha terserah kalian dah, baiklah kita mulai mata kuliah bisnisnya, buka halaman 30 dan pelajari kalau gak paham bisa bertanya ke saya, saya yang menggantikan Pak Hendri sementara beberapa bulan, selaku dosen bisnis.
Dasar ini anak apa-apaan sih, kenapa dia berprofesi jadi dosen segala, apa gajinya gak cukup sampai dia cabang sana sini pekerjaan, terus mau apa dia, dia juga sekarang genit, perasaan kalau sama aku sering mukannya dingin seperti es, terus jangan-jangan dia di sini hanya mengikutiku saja, ihh protektif sekali, padahal belum juga pacaran, apalagi sudah bisa-bisa over, eh aku ngomong apaan, ngaco. Batin Fisha sambil menepuk jidatnya.
“Hey kenapa? Apa kamu kenal dosen tampan itu?” tanya Adrena menoleh ke arah Fisha, ia sahabatnya Fisha dan duduk di samping bangku Fisha, ia berucap dengan lirih karena mata kuliah sudah di mulai dan ia melihat Fisha yang dari tadi sedang melamun karena membatin, namun Fisha yang masih syok ia hanya fokus menatap dosen itu dengan jengkelnya, tanpa memperdulikan pertanyaan Adrena.
“Fisha ... itu siapa?” ulang Adrena sambil menggoyangkan bahu Fisha dengan kencang.
“Bukan siapa-siapa,” pura-pura Fisha agar tak ada yang mencurigainya.
“Kalau begitu biar aku ambil saja nanti, dosen itu buat aku saja, sepertinya dia masih jomblo, tampan sekali dosen itu masih muda pula,” goda Adrena memancing Fisha agar ia jujur. Adrena tau Fisha sejak awal ia kenal di kampus dengan Fisha meskipun baru berteman beberapa bulan saja, tapi ia tau sifat Fisha yang gak bisa membohongi orang lain, dan sangat kentara apabila berbohong.
__ADS_1
“Apa! Main ambil saja emang barang? Lagian ambil saja kalau dia mau, dia kan manusia dingin sekali dan sok jaga image padahal ya biasa aja perasaanku,” balas Fisha dengan keselnya ia tak tau kalau sedang dipancing dengan Adrena dan ia keceplosan semuanya.
Adrena pun tersenyum dan mencolek-colek Fisha. “Hayooo ketahuan kan akhirnya? Kamu punya hutang penjelasan padaku nanti!” cetus Adrena dengan memonyongkan bibirnya.
“Apaan! Haha iya nanti! Sudah dengerin tuh dosen nyebelin, nanti bisa digantung kita kalau ketahuan rame!” sentak Fisha, Adrena pun mengangguk lalu menatap ke depan, begitu juga dengan Fisha ia mendengarkan materi yang dijelaskan Even.
----------
2 jam pun berlalu mata kuliah bisnis pun selesai, mereka pun membubarkan diri karena waktunya jam selanjutnya pindah ruangan, tapi kebetulan dosen jam kedua kosong jadi Fisha memanfaatkan untuk menemui Even.
Fisha merogoh kantong handphone-nya dan mengechat Even dengan cepat.
📥 Halo assalamualaikum Pak dosen yang terhormat?
Even yang sudah berada di ruangannya mendengar handphone-nya bergetar ia merogoh handphone yang ada di saku kemejanya lalu membuka chat yang dikirim Fisha, ia pun terkikik geli.
📤 Waalaikumsalam kesayangan? Ada apa? Kangen ya haha.
📤 Oke! di mana? Mumpung aku belum berlanjut mata kuliah kelas sebelah, aku bisa melambatkannya sedikit.
📥 Iya terserah kamu dah Pak dosen jelek, di mana saja boleh! Asalkan gak di hatimu.
Even yang membaca itu ia terheran dan memegangi dadanya, karena baru kali ini dia seheboh ini dengan seorang wanita.
“Eh dasar! Apa aku benar jatuh cinta? Tapi, apa perasaanku terbalaskan?” tanya Even terhadap diri sendiri, ia sekejap melupakan handphone-nya lalu Fisha mengechat kembali.
📥 Hey Pak, kok gak dibalas? Jadi di mana?
📤 Kamu ini segitunya merindukanku sampai tergesa-gesa begitu, di gudang belakang saja, aman!
__ADS_1
📥 Dosen gila, baiklah siap! Aku meluncur.
Fisha memasukkan handphone ke dalam tasnya lalu ia berjalan menuju ke arah gudang, Adrena yang melihat Fisha berjalan ia pun menghalangi jalan Fisha dan menarik tangan Fisha.
“Eh Adrena Sayang, ada apa?” tanya Fisha cengengesan menutupi kecanggungan rahasia pertemuannya dengan Even agar tidak ketahuan dengan sahabatnya itu.
“Mau ke mana? Fisha Sayang? Kamu hutang penjelasan padaku, jangan belaga bodoh dan melupakannya,” sentak Adrena merasa geram karena ulah Fisha yang sepertinya sedang menghindari dirinya.
“Enggak Sayang tenanglah, aku mau ke toilet, sakit perut pengen BAB," pamit Fisha dengan pura-pura memegangi perutnya agar segera bisa meloloskan diri.
“Aku tidak percaya, kamu menutupi sesuatu dariku!” Adtena berkacak pinggang melototkan kedua matanya.
Idih bagaimana ini, sepertinya Even sudah di sana, nanti dia bisa-bisa memakiku karena lama, satu-satunya cara agar terlepas dari Adrena adalah kentut beneran, kentut keluarlah kau! Batin Fisha, ia pun meremas perutnya agar kentut keluar beneran, dan seperti keajaiban tuhan mengabulkannya, ia pun kentut dengan berbau busuk, sehingga Adriana pun menutup hidungnya.
“Ihh kamu jorok, baunya auh kamu makan apaan? Sudah pergi sana!” usir Adrina masih menutup hidungnya.
“Dibilangin sakit perut gak percaya, ya sudah aku pergi dulu! Jangan khawatir aku akan menjelaskan nanti, oke!" Fisha berjalan dengan cepat sambil sesekali menoleh ke sana ke mari agar aman tak ada yang melihatnya ke arah gudang, dan benar Even sudah menunggu dengan melipatkan kedua tangannya di dada.
“Hey lama sekali kamuuuu!” teriak Even saat melihat Fisha masuk.
“Hehe tadi hampir ketahuan orang Pak, jangan kencang-kencang tau?” ucap Fisha lirih sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya.
“Aku belum tua jangan panggil aku Bapak, kalau di kelas tak apa, kalau di luar yang spesial dong!” Fisha menendang kaki Even dengan kencang.
“Ngarep dasar mesum!” Even pun terkekeh.
“Jadi? Ada apa?”
--------
__ADS_1
Note :
Jangan lupa like-nya ya kesayangan, jangan habis baca langsung kabur, ngenes tau seperti cinta tak terbalaskan haha. 🙏🙄💋