Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Maz?


__ADS_3

Fisha masih berjalan sambil Ares masih merangkul Fisha dengan langkah mereka yang pelan karena mereka santai tak terburu-buru. Lalu Fisha berhenti mendadak membuat Ares bingung karenanya.


“Stop Res, stop!” Fisha menghentikan Ares dan melepas rangkulan Ares dengan tatapan curiga, lalu terlepaslah mereka.


“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tatap Ares dengan mengernyitkan dahinya.


“Kamu tau? Si kakaknya Alby itu dia pindah ke sini, kalian yang merencanakannya kan?” tanya Fisha dengan memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di dada tanda sebal.


“Apa! Maksudmu apa? kak Even? Mana mungkin? Kak Even kan dia sudah sarjana tinggi lulusan luar negeri masak jadi mahasiswa lagi di UM?” Ares terkejut saat Fisha bercerita tentang Even, ia sedikit meninggikan suaranya.


Fisha menggelengkan kepalannya lalu menempeleng kepala Ares dengan lumayan kencang. “Ih sakit tau?” desis Ares dengan menggosok-gosok kepalanya sambil memicingkan matanya.


“Salah sendiri, aku berbicara dulu dengerin!" perintah Fisha dengan jari telunjuknya digerak-gerakan ke depan dan ke belakang, Ares patuh lalu mengangguk cepat.


“Kalian kan yang merencanakan agar maz Even di sini?” tanya ulang Fisha karena belum mendapatkan jawaban dari Ares tadi.


“Maz?" syok Ares dengan sedikit menahan tawanya.


“Udah gak penting, hais gara-gara dia aku keceplosan, sekarang ngaku saja jangan mengalihkan pembicaraan!" jelas Fisha dengan ngototnya dan menundukkan pandangannya sebentar untuk mengatur malunya ucapannya tadi tentang maz, lalu dirasa sudah tak malu ia menatap lagi Ares dengan tajam.


Ternyata rencana Alby berhasil juga mendekatkannya terus menerus dengan kak Even, yang pasti Alby pengen menjodohkan mereka, tapi untuk masalah ini kak Even di UM, Alby gak bilang apa-apa sama aku, berarti mungkin ini keinginan kakaknya sendiri, pasti ada yang tidak beres. Batin Ares, ia melamun dengan tatapan kosongnya.


“Hey malah melamun, kalian kan yang menyuruh Venano di sini? Hayo ngakuuuu.” Fisha mencubit dan menggelitik Ares agar dia jujur, namun tetap tiada hasil, karena Ares ternyata bisa menahan gelitikan Fisha dan tak membuatnya geli.


“Enggak Fisha, kita gak melakukan itu, coba tanya Alby mungkin itu keinginan kak Even sendiri,” jelas Ares lalu ia duduk di bangku yang ada di dekat gang kosnya orang.


“Lagian kak Even apaan kenapa balik S1 lagi sih?" tanya Ares dengan sok taunya, karena dia tak mengira dan tak menebak kalau Even menjadi dosen.


“S1 gundulmu! Bukan S1 kampret ... tapi menjadi dosen mata kuliah bisnis, mengajar aku pula hmmm!”


“Apa!" Ares sangat terkejut, ia langsung mengambil handphone-nya dan mengechat Alby menjelaskan semua yang dibilang Fisha, sedangkan Alby tidak akan membalasnya dengan cepat karena ia masih tidur pulas, ia masuk kuliah siang, dia pun mengabaikan handphone-nya.


“Udah gak usah terkejut dan chat Alby sudah terlambat, pasti dia masih ngorok, menyebalkan sekali kalian para cowok, ya sudah aku mau segera nyampek kos ngantuk,” pamit Fisha dengan beralasan karena ia sangat bad mood, lalu Fisha melambaikan tangannya ke arah Ares dengan berjalan cepat.


“Hey yakin nie selesai berbicara sama aku?” teriak Ares saat dirasa Fisha sudah jauh.

__ADS_1


“Iya aku sudah gerah, mau mandi, bilang sama Alby dan yang lainnya sekali-kali kita kumpul di cafe nanti malam,” balas Fisha dengan berteriak pula.


“Oke siap laksanakan, bye!” Ares membalas melambaikan tangannya juga ke arah Fisha, sedangkan Fisha mengangguk dan tersenyum lalu berlari dengan cepat.


-------


Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi setengah siang, Fisha pun mandi untuk yang kedua kalinya, karena ia merasakan gerah padahal dirinya bukan habis lari maraton atau yang mengeluarkan keringatnya, tapi mungkin karena bersama Even tadi ia jatuh bergulingan dan berada di gudang dengan penuh debu, jadi badannya menjadi lengket dan sedikit kotor. Fisha pun mandi dengan cepat agar cepet selesai.


Setelah selesai dia bercermin di depan kaca sambil menyisir rambutnya dengan tersenyum senang dan ia menguncir rambutnya di ikat ke atas sambil bersenandung ria.


“Kenapa aku sesenang ini? Apa karena Even? Atau Asult?” Fisha menggoyangkan wajahnya ke kanan dan ke kiri dengan tatapan penuh.


“Cih kamu sok sekali Fisha, seperti mereka memperebutkanmu saja!” maki Fisha kepada pantulan dirinya sendiri di cermin sambil menunjuk-nunjuk pantulannya dengan melototkan matanya. Fisha lalu geleng-geleng kepala atas kekonyolannya lalu ketawa dengan sendirinya.


“Haha aku benar-benar gila! Sejak ditinggal Awan aku gila, aku gilaaaa!" teriak Fisha di dalam kamar, waktu itu kos lagi sepi belum ada yang pulang jadi Fisha bisa bebas mau teriak atau apapun gak akan ada yang menertawakannya, kapan lagi dia seperti itu selain di sawah juga di kos waktu sepi.


Saat Fisha masih keasyikan bercermin mengelus pipinya dan berencana baring di ranjangnya, handphone-nya yang berada di atas meja bergetar kencang. Seperti biasa nada di jeritan hati indosiar berbunyi.


Fisha mengambil handphone-nya lalu mengangkat teleponnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


“Halo Sayangku?" balas seseorang di ujung teleponnya.


Fisha berpikir penuh saat mendengar suara itu.


Eh suaranya sepertinya aku mengenalnya, sebentar sebentar, dia adalah? Ia dia pasti Even tidaaaak, aku harus gimana ini. Batin Fisha, ia yang mau membaringkan badannya di urungkannya lalu ia duduk di tepi ranjangnya dengan menyilang kedua kakinya dengan mengatur gaya bicarannya yang seperti biasanya bertemu dengan Even perang sedikit-sedikit.


Lalu Fisha melihat handphone-nya agar dia semakin yakin kalau itu adalah Even, dan benar dugaannya itu adalah Even.


“Tuh kan bener," ujar Fisha berbicara sendiri.


“Apanya Honey yang bener?" goda Even, membuat Fisha semakin salah tingkah.


“Honey, Honey apaan! Sembarangan, udah sana Pak dosen yang terhormat, bukannya anda sangat sibuk? Sana ngajar lagi," usir Fisha dengan ketusnya.


“Haha tenang maz udah selesai Sayang, kapanpun waktuku ada buatmu," balas Even dengan menahan tawanya.

__ADS_1


“Kamu benar-benar gila! Sudah aku matikan!” Fisha ingin memencet tombol merah sambil tersenyum.


“Hey sebentar, bisakah nanti malam kita bertemu? Kita keluar yuuuk!" ajak Even dengan nada yang mendayu-dayu berharap Fisha menerimanya.


“Gak bisa Ven, nanti kita kumpul semuanya bersama Alby dan lain-lain, kalau kamu mau ikut boleh!"


“Apa! Van Ven, Van Ven, dibilangin maz, maz Sayangku?" Even berintonasi nada gemas saat menyebut kata maz.


“Haha iya lupa, kamu pemaksa sekali maz?" pekik Fisha dengan nada malasnya.


“Haha good, oke boleh deh aku ikut, biar nanti Alby terkejut melihat kakaknya yang tampan ini."


“Terkejut apanya, pasti dia udah tau dari Ares.” Fisha menahan tawanya saat bilang itu.


“Kamu bilang Ares?”


“Iya tadi, kenapa? Gak boleh?"


“Ya gak apa sih, ya sudah jam 7 ya, lain kali kita dinner berdua saja oke!" pinta Even sambil tersenyum.


“Ngarep! Lihat saja nanti!” wassalamualaikum bye!” tut, tut, tuuut.


Fisha memutuskan panggilannya dengan cepat membuat Even tertawa terbahak-bahak.


“Pasti dia sangat malu, hmmm Fisha, Fisha kamu membuatku merindukanmu selalu haha aku sudah gila." Even memasukkan handphone-nya lalu berniat pulang ke kontrakannya karena dirasa selesai mengajarnya.


-----------


Note :


Gimana semakin dag dig dug kan? mereka saling cinta tapi gengsi dan masih ragu untuk itu karena baru beberapa hari.


Lalu mereka berada di antara 3 cinta 😂?


Eng ing eng, lanjutkan ikuti terus kakak-kakak 😍.

__ADS_1


Jangan lupa like-nya ya kesayangan, jangan habis baca langsung kabur❤🙏.


__ADS_2