
Setelah menyelesaikan sesi makan bersama, Fisha dan Even berjalan ke arah masjid Amirul Mukminin untuk menunaikan sholatnya. Mereka bergandengan tangan sambil diayun-ayunkan dengan manisnya.
“Maz ... ayo lewat sana yuuuk, pakai jalan pintas situ biar cepet," rengek Fisha dengan manjanya sambil menunjuk arah yang diinginkannya.
“mau ke mana? Jangan di situ sempit nanti jatuh." Even berpura-pura ketakutan dengan badan yang gemetaran agar Fisha tak menginginkan lewat situ, ia sambil menahan tawanya.
“Kenapa takut? Apanya yang sempit ihh Maz alasan saja kan, takut kecepetan kan nyampeknya dan gak bisa berlama-lamaan denganku?" balas Fisha dengan percaya dirinya juga sedikit jengkelnya karena Even menolaknya.
“Haha iya kok tau sih kamu, pintar sekali, pokoknya jangan lewat sana biar kita bisa lama bersama, lewat jalan biasa aja enak agak jauh dan so sweet. Kita bisa mempercepat langkahnya kalau kamu capek biar aku gendong!" ajak Even yang semakin mendekat ke arah Fisha dan mau menggendongnya.
Fisha hanya menatap Even dengan melototkan matanya dengan menggerakkan jari-jarinya kee arah Even, peringatan agar Even tak macam-macam, lalu Fisha mencubit lengan Even dengan geregetan.
“Fishaaa, jangan begitu, itu bisa membangkitkan ..." ucapan Even terputus saat Fisha mencubit pinggangnya dan menyahutinya.
“Iya, iya membangkitkan itu, jangan bicara itu saja hih menjengkelkan kamu ini Maz, mesum sekali!" Fisha menghindari Even, yang awalnya malas lewat jalan jauh ia akhirnya tak ada pilihan lain dan melewati jalan jauh dengan langkah yang dipercepat.
“Heyyy, tunggu Sayang! Cepet amat sih ... nanti kamu capek Sayaaaang!" celetuk Even dengan cepat disertai hentakan kaki untuk menghampiri Fisha, lalu secepat kilat Even sudah berada di sampingnya Fisha karena kakinya yang panjang itu.
“Wow hebat bisa menyusulku. Tapi ayo cepat Maz nanti keburu habis waktu sholatnya." Fisha melirik dengan bertepuk tangan bangga kepada Even yang langkahnya cepat lalu melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Even lalu merangkulnya dengan manjanya.
“Haha habisnya kaki kamu pendek sekali," ejek Even dengan tawa renyahnya lalu Fisha menoleh dengan tatapan tajamnya. Even hanya ketawa dan mengusap wajah Fisha dengan tangan kanannya sambil berjalan terus beriringan bersama Fisha.
Akhirnya mereka sampai di masjid Amirul Mukminin yang terkenal itu. “Eh wow menakjubkan sekali Maz kalau malam, foto dulu yuuuk!" ujar Fisha yang sudah bersiap mengeluarkan handphone-nya di sakunya untuk berselfie.
__ADS_1
“Eits nanti Sayang, katanya keburu waktu sholat habis! Ayo cepat! Nanti saja pas pulang habis sholat bisa foto sepuasnya mau sampai penuh memori juga oke,” balas Even dengan menahan tawanya. Fisha hanya terkekeh lalu mengangguk cepat. Mereka lalu berpisah untuk menunaikan sholatnya di balik tabir tempat yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan.
Beberapa menit kemudian mereka selesai melaksanakan sholatnya lalu sesuai permintaan Fisha. Even memotret Fisha beberapa kali, juga foto bareng berselfie ria.
“Sudah cukup ayo balik hotel! Maz sangat mengantuk," keluh Even sambil menguap dengan gencarnya.
“Ihh masih jam segini kok sudah ngantuk Maz? Payah, ya sudah ayo balik," balas Fisha dengan wajah yang cemberut.
“Habisnya Maz tadi siang kan gak tidur, kalau kamu udah, jangan ngambek ya Sayangku, besok Maz janji akan ajak jalan-jalan sepuasnya," janji Even dengan mengangkat jari kelingkingnya sambil tersenyum dan mata yang berair karena sangat mengantuk.
“Iya deh iya, ayo!" Fisha membalas jari kelingking Even, lalu ia berjalan bersama dengan berdampingan. Saat sudah berada di hotel Even dengan cepat melangkahkan kakinya lalu melambaikan tangan ke arah Fisha dengan cepat dan menutup pintu kamarnya tanpa berkata apapun.
“Ihh dasar! Dia sungguh mengantuk kelihatannya haha lucu juga ternyata si Even itu," ucap Fisha dengan berbicara sendiri sambil masih memandangi kamar Even, setelah itu ia lalu duduk di kursi yang disediakan oleh hotel.
-------
“Hai bebek, ayam, sapi, kambingku dan lain-lain, maafkan ya jarang aku kunjungi aku sibuk," sapa Fisha melambaikan tangan dengan gemas ke arah game-nya itu dengan suara manjanya.
Ia lalu tertawa terbahak-bahak karena dirasa konyol menyapa sesuatu yang tak hidup itu. Dengan gesit ia memainkan game-nya itu sambil sesekali menatap keseluruhan hotel yang dirasa sepi itu.
“Eh ini kenapa hotel kok sepi amat ya? Apa pada tidur semua? Perasaan belum juga isya', kurang sebentar lagi masih kok sepi begini, aku jadi merinding." Fisha melirik ke sana sini sambil menggosok bahunya perlahan karena rasanya bulu kuduknya merinding dan bulunya berdiri. Ia lalu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Rasanya aku takut sekali, eh iya aku ingat sekarang malam jum'at kliwon kan aduh aku takut jadinya, biasanya aku tak pernah seperti ini, kenapa firasatku tak enak sekali, apa karena ini di Makassar ya bukan tempat sendiri jadi rasanya aneh. Batin Fisha sambil berusaha berdiri dengan kaki yang gemetar. Ia lalu berjalan pelan dan santai.
__ADS_1
Saat ingin menuju kamarnya, seseorang bertubuh kekar menghadangnya yang berjumlah dua orang.
“Halo anak manis? Mau ke mana? Ayo sini ikut Om saja," ajak pria paruh baya itu dengan menaikkan kedua alisnya dengan tersenyum menyeringai.
“Iya mari ikut! Dijamin pasti enak hidupnya," bujuk pria baya yang satunya dengan meraih tangan Fisha, namun dengan cepat Fisha menepisnya.
“Eh ... ka-kalian siapa? Mau apa kaliaaan!" teriak Fisja dengan disertai terbata karena ketakutannya, seluruh badannya gemetaran takut hal aneh terjadi kepada dirinya.
Tuhaaan jadi tadi firasat aneh dan akan terjadi hal buruk itu ini? Apa aku akan meninggalkan dunia fana ini Tuhaaan, dan tak bisa mencicipi surganya dunia? Maz Eveeen tolooong, jangan tidur saja, harus aku kasih petunjuk si Even agar menolongku, tapi apa? Batin Fisha dengan gelisahnya.
Ia memikirkan sesuatu namun idenya buntu sekali. Lalu dengan cepat ia memasang ilmu kuda-kudanya, berharap ia bisa melindungi dirinya sendiri. Fisha mencoba menghajar pria paruh baya itu namun yang ada Fisha ngos-ngosan karena mereka sangat tangguh dan tak terkalahkan, bahkan tergeser saja tidak saat Fisha mendorongnya.
“Gimana anak manis? Apa masih mau bermain-main?" Fisha menggeleng dengan cepat. Lalu dirasa kedua pria itu lengah, Fisha berlari menuju kamar mandi hotel yang dekat di situ sambil berteriak minta tolong namun nihil tak ada yg menjawabnya dengan hotel yang sepi itu.
.
Saat Fisha sudah mengunci kamar mandinya dengan suara yang kencang kedua cowok itu mengetok pintu dengan kasarnya.
“Hey keluar anak manis cepat!" Teriakannya membuat Fisha ketakutan sambil meraih ponselnya dan mencari tombol Even berulangkali namun yang ada nomornya tidak aktif.
“Kamu kok gak aktif sih Maz? Disaat aku membutuhkanmu hiks, bagaimana ini kenapa hotel sepi sekali sih, apa semua orang dibunuh mereka atau dipukul jadi bisa sepi?" Ketakutan Fisha semakin menjadi saat pintunya didobrak dengan kasarnya. Ia mencari jalan keluar namun dalam toilet hotel tak ada jendelanya.
Dengan secepat kilat Fisha mengechat Even lalu menyimpan ponselnya kembali, berniat barangkali nanti ia bisa menggunakannya. Lalu pintu pun rusak dan Fisha dengan cepat memberontak namun tak bisa karena ia yang sangat mungil itu.
__ADS_1
“Selamat tinggal Maz Even," ucapnya lirih sambil menatap pintu kamar Even dan ia melempar benda kecil saat kedua pria itu tak melihatnya. Fisha yang ketakutan ia menunduk dan menangis tersedu-sedu.
Baru aku bahagia sedikit, kenapa kau ambil kembali Tuhaaan, apakah aku tak pantas bahagia? Apakah waktunya ajal menjemputku? Batin Fisha dengan pilunya.