Takdir Cinta Mikayla

Takdir Cinta Mikayla
Chapter 107


__ADS_3

Setelah beberapa menit menenangkan diri Martin menemui istrinya dengan wajah sembab dan sedihnya.


" Pah ada apa kenapa diluar seperti barang-barang yang jatuh " Tina bertanya kepada suaminya.


" Pah mana anak kita, apakah dia cantik pah, katanya perempuan apakah benar pah? "


Martin tak menjawab dia menatap nanar ke arah istrinya, dia merasa kasihan karena baru beberapa menit yang lalu istrinya berjuang sepenuh tenanga dengan mempertaruh kan nyawanya demi anak yang tidak bisa dia lihat dan kini sudah pergi di bawa oleh bidan yang tidak bertanggung jawab itu.


" Pah kenapa, kenapa papa menangis dimana putri kita pah "


Martin tak menjawab membuat pikiran Tina tak karuan dia merasakan sesak di dadanya.


" Pah ada apa jawab pah, jangan diam saja dimana putri kita pah "


Martin bungkam tak menjawab dia terus menangis memeluk istrinya, bibir nya kelu tak bisa menyampaikan isi hatinya dan tak kuasa untuk memberi tau istrinya.

__ADS_1


" Pah kenapa, dimana bidan itu kenapa tidak masuk-masuk juga "


Tina semakin emosi dengan sikap suaminya yang tak mau menjawab dia pun berusaha bangkit dari tidurnya walaupun terasa sakit dia tahan karena ingin tau kebenarannya.


Namun Martin yang mengetahui itu tak ingin Tina semakin menderita dia pun menunjukkan sebuah surat yang sudah dia baca sebelumny dari bidan yang sudah membawa anaknya pergi.


Tina membuka perlahan isi kertas itu, dia pun membaca isinya matanya terbelalak, kepalanya pusing sekalian pandangannya buram dan dadanya semakin sesak ketika membaca bayinya akan di jual.


Jebleg.... Suara tubuh Tina yang terjatuh pingsan di atas kasur pasien. Martin yang menyadari itu langsung panik dia menggoyangkan tubuh Tina dan memanggil namanya.


" Tina sadarlah Tin, Tina maah mamah sadar mah sadarlah "


Tabungan yang dia miliki sudah di belanjakan untuk semua keperluan lahir bayinya dan membayar uang upah kepada bidan yang sudah mencuri anaknya.


Martin menghubungi orang yang dia anggap dekat dengannya untuk meminta pinjaman uang, namun alhasil tak ada satupun yang mau membantunya karena merek ber anggapan Martin adalah orang miskin yang tak akan mampu menggantikan uang yang mereka pinjamkan.

__ADS_1


Dengan segala cara martin sudah kuwalahan tak tau harus kemana dan bagaimana, dia memandang wajah istrinya yang semakin pucat memejamkan mata di tambah darah yang terus mengalir karena pasca melahirkan dia pendarahan.


Dengan berat hati Martin tak ada pilihan dengan menghubungi orang tuanya yang selama ini sudah lama putus kontak dengannya.


" Hallo " suara berat laki-laki terdengar dari sebrang telpon Martin.


" Pah " Suara Martin begitu kecil namun yang di telpon dengan jelas mendengarnya.


" Martin, kamu masih ingat orang tua mu hah mama mu sakit-sakitan mencari mu terus, pulang lah nak kami merindukanmu sudah 2 tahun kamu tak ada kabar "


Martin pun meneteskan air matanya mendengar papanya merindukannya dan begitupun Martin yang merindukannya.


" Maaf kan Martin pah, tidak bisa Martin tak mau meninggalkan istri Martin "


" Tidak Martin maksud papa pulanglah dengan istrimu, kami sudah menerimanya sebagai menantu "

__ADS_1


Wajah Martin yang semula lesu kini dia berubah bahagia, ketika mendengar bahwa orang tuanya sudah merestui pernikahan yang selama ini di tantang oleh orang tuanya.


Bersambung...


__ADS_2