
" Hana dia aku suruh pulang kasian dia sepertinya kelelahan sudah lah ada aku kau sekarang cucilah mukamu, habis ini ayo kita temui om Alen "
Mikayla pun tak banyak komentar dia hanya bisa menyetujui perkataan Rafa.
Setelah mereka selesai mencuci muka masing-masing, Rafa pun memapah Mikayla menuju ruangan papanya
" Sudah Raf gak usah di pegangi aku gak sakit " tolak Mikayla yang akan di rangkul oleh Rafa.
" Baiklah maaf " Rafa pun mengurungkan niatnya lalu merekapun berjalan beriringan.
Setelah beberapa menit berjalan kaki menuju kamar Alen kini mereka telah sampai di sebuah ruangan yang bertuliskan Vvip dan masuklah keduanya, terlihat kan di dalam ada seorang perawat yang sedang merawat Alen.
" Selamat pagi tuan nona " sapa seorang perawat itu menyambut kedatangan Mikayla dan Rafa
" Pagi sus, gimana kondisi papa " tanya Mikayla.
" Alhamdulillah nona, beliau sudah mengalami kebaikan, sebentar lagi dokter akan datang beri penjelasan yang lebih akurat nona "
" Iya baiklah terimakasih "
Perawat yang sudah selesai dengan pekerjaannya diapun keluar dari ruangan Alen.
Suasana ruangan hening, hanya suara kaki melangkah kesana kemari dari luar ruangan, sedangkan Mikayla hanya duduk melihati wajah ayahnya yang mulai tak muda lagi.
__ADS_1
Tak selang beberapa menit ada orang mengetuk pintu dari luar lalu masuk kedalamnya, dan mereka adalah Viona, Martin, Tina dan juga Hana.
" Hallo selamat pagi " sapa Tina.
Mikayla hanya menoleh tak menjawab, dia kembali menatap ayahnya kosong.
" Kay " sapa Viona.
Mikayla tak menjawab dia masih tetap dengan pandangannya.
Tina menyentuh bahu Viona lalu menggeleng ke arahnya dengan tujuan untuk tidak mengganggu Mikayla saat ini.
Suasana menjadi hening, semua terdiam melihat ke arah Alen yang masih berdiam diri tak berkutik.
" Pa, papa sudah sadar pa? " Mikayla yang menyadari pergerakan tubuh papanya dia pun bangkit untuk melihat kondisi papanya.
" Panggil dokter Raf " pinta Martin yang juga antusias dengan kesadaran papa Mikayla Alen.
" Iya pah "
Rafa pun keluar menuju ruang dokter, dan kebetulan Alex lewat dan menemui Rafa.
" Sedang apa dia disini " batin Alex bertanya dan tak selang beberapa menit ada dokter yang mengikutinya di belakang.
__ADS_1
Alex terus menatap kepergian Rafa, Rafa menuju ruang rawat Alen.
Dokter masuk kedalam dan memeriksa keadaan Alen. Yang awalnya kondisi Alen membaik namun tiba-tiba dia mengalami sesak di dadanya dan tak sadarkan diri.
" Dok papa kenapa dok " Mikayla panik dengan keadaan papanya.
" Tunggu sebentar saya periksa lagi " dokter yang tadinya hendak keluar kini dia berbalik arah lagi memeriksa Alen.
Semua dokter mulai sibuk karena kondisi Alen papa Mikayla semakin kritis, alat-alat medis semuanya yang sudah di siapkan langsung di pasangkan ke tubuh Alen.
" Han papa kenapa Hana " isak tangis Mikayla membuat Hana yang memeluk Mikayla menjadi suasana semakin genting dan mencekam.
Tit..Tit..Tit.. Tanda detak jantung sudah berbunyi di dalam komputer yang mendeteksi detak jantung pada papa Mikayla.
Dokterpun melakukan pertolongan dengan sangat serius.
Tak selang beberapa menit keadaan menjadi normal kembali dan Alen mulai membuka mata perlahan.
" Kayla, Mikayla " panggil papanya kepada Mikayla.
" Iya pah "
" Sayang maafkan papa ya, sudah membuatmu menderita " ucap Alen dengan terbata-bata karena kondisi fisiknya yang lemah.
__ADS_1