Takdir Cinta Mikayla

Takdir Cinta Mikayla
Chapter 74


__ADS_3

" Begini pak buk, ibu Raisha memang mengidap penyakit kanker tapi kalian sebagai keluarga harus memberikan nya semangat, kalian tau tuhan memberikan mukjizat nya saat ini kepada mereka yaitu bayi yang dikandunganya. Besar kemungkinan orang penderita kanker serviks tak bisa hamil atau mandul bahkan jika bisa hamil bisa keguguran.


Tapi alhamdulillah tidak bagi ibu Raisha bayinya sehat dan di kurun waktu selama ini ibu Raisha masih baik-baik saja bukan, namun tuhan memberikan ujian kepada kalian keluarga ibu Raisha untuk bersabar dan tetap memberikan cinta penuh kepadanya.


Saya sarankan kepada kalian jangan beri tau kepada pasien untuk saat ini dulu, kondisi pasien begitu lemah dan ditambah sedang hamil yang masih rentan gugur. Usia kandungan yang masih 5 bulan bisa juga gugur karena kondisi ibu yang tidak stabil atau jika tidak gugur bisa membuat bayi stres karena ibunya juga stres akan dirinya.


Bisa difahami buk pak maksud saya? " tanya dokter, yang hanya dijawab anggukan saja karena tak tau hendak menjawab apa.


Dokter melanjutkan penjelasan nya.


" Jika ibu bapak sudah mengerti lebih baik ibu dan bapak merahasiakan nya, ingat bu pak, jika ibunya dalam kondisi baik maka bayi pun ikut tenang didalamnya tapi jika ibunya tak stabil dalam berfikir atau bersikap maka bayi pun sedemikian atau bisa menyebabkan bayi mendapatkan kecacatan di tubuhnya karena fase sekarang bayi sedang mengalami pertumbuhan dibagian organ yang masih belum membentuk, lebih jelasnya nanti anda semua meminta penjelasan kepada dokter Obgy yang menangani nya pak buk. Mengerti bukan? "


" Iya dok kami faham, apa masih ada hal lain " Tanya Henry


" Oh tidak ada pak, saya sudah selesai, mungkin anda ada pertanyaan? "

__ADS_1


" Ada dok, kapan anak saya sadar dari koma, apa bayinya tidak papa? " tanya Rosmala yang mengkhawatirkan putri dan cucunya.


" Masalah sadar nya hanya tuhan yang tau buk, kami hanya usaha saja tapi masalah kondisi untuk saat ini alhamdulillah sangat baik dan sehat, berdoalah bu untuk keselamatan mereka berdua "


" Iya dok terimakasih "


" Iya buk sama-sama "


" Yasudah kalo begitu kami pamit dok, permisi " Henry beranjak dari duduknya untuk meninggalkan ruangan tersebut karena merasa sudah selesai urusannya dengan dokter.


" Iya dok terima kasih, mari dok "


" Iya mari pak buk " Pasutri itu pun hilang di balik pintu yang tertutup.


*****

__ADS_1


Tempat Alex,


Jam menunjuk kearah pukul 12.00 kemungkinan besar mereka semua yang ada disana harus menginap dan memang mereka semua terlelap kecuali Alfin yang mendapatkan telpon dari pacarnya. Dia asyik sendirian dengan bertelpon ria dengan pacarnya diruang depan sedangkan yang lain berada di ruang tengah untuk tidur.


Selesai bertelpon ria, Alfin merasa mengantuk dan ikut menyusul teman-teman nya tidur diruang tengah. Namun langkahnya terhenti saat mendapatkan telpon dari papanya Alex.


" Om William? ada apa? " Alfin bingung, diapum mengangkatnya dan duduk kembali di sofa yang tadi dia duduki.


" Iya om ada apa? ini sudah malem? "


" Fin, Alex dengan mu kan saat ini? "


" Iya om, dia sudah tidur dengan yang lain, kami sedang di basecamp om "


" Baguslah, aku mulai tadi hubungi dia tapi nomer nya gak aktif jadi aku hubungi kamu walaupun juga sulit di hubungi "

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2