
Mamanya dulu yang teramat mencintai nya, memanjakannya kini telah tiada dan tergantikan oleh wanita dingin seperti Elena.
Mikaylapun tertidur dengan wajah sembabnya. Lalu dia bermimpi bertemu mamanya.
" Mama.. " Mikayla berhambur kepelukan mamanya
" Mikayla sayang " mamanya pun memeluknya dan mengelus rambut nya.
" Mah Kayla kangen sama mamah, kenapa mama pergi "
" Sayang Tuhan menginginkan mama, Kayla gak boleh nakal ya. Jaga papa terus, menurut lah sama papa, karna Kayla adalah pengganti mama. Rawatlah papa terus ya sayang gak boleh membantah sama papa nanti tuhan marah lo sama Kayla "
" Iya mah, pasti tapi mah papa... "
" Sudah sayang, apapun yang papa lakukan itu demi yang terbaik untuk Kayla, papa mama sangat sayang sama Kayla, Kayla gak boleh nakal ya sama papa, kalo papa di panggil juga sama tuhan Kayla mau? "
" Tidak mah itu tidak akan, Kayla janji Kayla akan menurut sama papa.. Kayla gak mau di tinggal papa seperti mama yang pergi meninggalkan Kayla "
" Anak pintar, sekarang Kayla pulang ya mamah harus pergi "
" Tapi mah Kayla kangen sama mamah "
Tanpa ada jawaban, mama Kayla hilang dengan cahaya yang bsgitu menyilaukan hingga Kayla menutupi mata nya. Diapun terbangun dari mimpinya dengan keringat yang membasahi seluruh bajunya.
__ADS_1
" Mamah aku bertemu mamah tadi, itu benar mamah " Mikayla kembali menatap potret mamanya dan mengelus nya.
Kryuuukkk... perut Mikayla berbunyi.
" Uh laparnya (sambil memegangi perutnya yang keroncongan), jam berapa sekarang? (melihat jam di dingding) astaga sudah sore "
Kaylapun bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya dan keluar dari kamarnya.
" Elena belum pulang kah? "
Mikayla melihat sekeliling rumahnya, dia melangkah menuju dapur dan mendapati meja makannya kosong tidak ada nasi disana. Karena asisten rumah tangga nya sedang ijin cuti hingga besok.
" Kalo aku masak nanti bisa pingsan aku, perut ku lapar sekali. Lebih baik cari makan diluar dah sekali-kali " Mikayla sembari langsung menuju kamarnya mengambil jaket dan kunci motornya. Lalu dia keluar dan mengunci pintu rumahnya, dia menghampiri motornya lalu melajukannya. Sampai di gerbang Mikayla berpamitan pada security
" Baik non, sudah bapak tadi makan bakwan non yang kebetulan lewat sini "
" Ah makan bakwan mana kenyang biar nanti Kayla bawa makan sekalian buat bapak, bapak mau pesan apa pak? "
" Gak usah non, terserah non saja, apapun yang non kasih pasti bapak makan "
" Baiklah pak Kayla berangkat dulu ya, tolong jaga rumah. Rumah saya kunci pak mama Elen nanti kalo datang bilang saya keluar gitu ya pak "
" Baik non, hati-hati dijalan "
__ADS_1
Mikayla hanya mengangguk dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Pak Tito pun menutup pagar yang tadi dia bukakan untuk Mikayla.
" Baik sekali hatimu non, seperti mamah mu, semoga kau terhindar dari mata jahat nak. Jadi rindu Vika di kampung " Pak Tito yang seketika itu langsung teringat keluarga nya, lalu dia pun menghubungi nya.
Mikayla kini berhenti di sebuah depot makanan, dia memesan sepiring nasi dan minuman dia duduk di pojokkan sambil memainkan hpnya sembari menunggu pesanannya.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Mikayla.
Mikayla terlonjak kaget, dan menoleh ke arah orang yang mengejutkan nya itu yang tak lain adalah Rafa teman masa SD nya dulu.
" Hy Mikayla kan? " Rafa melambai, Mikayla pun mengangguk
" Maaf siapa ya? "
" Kamu lupa aku Rafa kakak kelas mu dulu waktu SD " sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Mikayla
" Oh Rafa, maaf ya aku pangling liat kamu soalnya 100 persen berubah loh "
" Kenapa makin keren ya "
" Ngak kok biasa ajah hahaha, makin jelek malah. Aku suka yang dulu immuutt imut gimana gitu " Mikayla meledek.
Diwaktu SD Rafa adalah kakak kelasnya sekaligus sahabat nya. Mikayla pada saat itu masih duduk di bangku kelas 3 sedangkan Rafa sudah di kelas 6. Namun sikap mereka terbalik seakan yang kakak kelasnya adalah Mikayla karena sedari kecil tubuh Mikayla memang sudah terlihat tinggi, berbeda dengan Rafa yang berbadan pendek dan gendut sehingga menjadi bahan bully di sekolah nya. Namun Mikayla yang selalu membela Rafa bahkan mengancam para murid yang membully nya dengan ancaman yang menakutkan. Begitulah setiap harinya hingga Rafa lulus dari sekolah dan pergi keluar kota dengan kedua orangtua nya.
__ADS_1
Bersambung......