
Pengacara Ardian menceritakan semuanya walaupun tidak sedetail cerita yang sebenarnya.
Mendengar pengakuan dari Ardian mama Raisha begitu kanget namun dia mencoba menenangkan diri walaupun tak bisa menahannya.
" Maaf nyonya, sekarang izinkan kami bertanya untuk yang terakhir kalinya kepada nona Raisha. Tolong nona Raisha di jawab "
Raisha terdiam dia hanya menangis sesegukan.
" Nona, apa anda sekarang benar-benar mengandung anak dari tuan muda kami? "
Deg pertanyaan itu membuat jantung mama Raisha seakan berhenti.
" Raisha, jawab apa benar kamu sekarang kamu hamil hah? " tanya mama Raisha dengan nada syok.
" Iya mah, Raisha tengah hamil anak Alex "
Pyar.. Tamparan mendarat di pipi Raisha.
__ADS_1
" Dasar anak tak punya... hahhhh hahh " Mama Raisha tak bisa melanjutkan pembicaraan nya, karena penyakit jantungnya kini menyerang tubuhnya sehingga membuat dirinya seakan sesak dan sulit untuk bernafas dan tak sadarkan diri .
" Mah, mamah kenapa? maafkan Raisha mah " Raisha memeluk tubuh mamanya.
Keadaan menjadi genting, Henry begitu kaget dia segera mungkin membopong istrinya menuju mobil untuk di bawa ke rumah sakit. Begitu pula dengan William dia ikut serta dengan mengikuti Henry ke rumah sakit.
Mobil yang di tumpangi William dan Henry kini berhenti di sebuah rumah sakit yang tak lain adalah rumah sakit milik Keluarga Mikayla.
Setelah sampai di ruang ICU dimana mama Raisha sedang di tangani tenaga medis. Henry begitu khawatir dengan kondisi istrinya, di ruang tunggu dia di temani William dan kemudian di susul Edward, Ardian karena mereka tak satu mobil.
" Bagaimana keadaan istri anda tuan Henry " tanya asisten Edward
" Sabarlah tuan Henry, tidak akan terjadi apa-apa denganya. Maafkan ini semua karena kedatangan kami " ucap lirih William yang merasa sedikit bersalah.
" Tidak ini semua gara-gara Raisha anak tak tau di untung itu, sungguh aku tak tau harus apa saat ini tuan William maafkan perbuatan putri ku itu " Henry Memegang tangan William lalu memohon maaf untuk putrinya.
" Sudahlah, Alex akan bertanggung jawab tapi maaf tuan Henry saya tak menjamin kebahagiaan untuk putri anda, semua itu saya serahkan kepada Alex. Saya hanya bisa membantu sampai disini demi cucuku yang sedang di kandungan putrimu "
__ADS_1
" Sungguh mengecewakan sekali kamu Raisha " Henry menunduk lesu, bukan itu yang dia inginkan selama ini melainkan kebahagiaan putrinya namun karena kebodohan Raisha sehingga membuat Henry pasrah apa yang telah di putuskan oleh keluarga Alex.
Suara langkah kini datang dari arah Raisha yang terburu-buru, dia pun berlari menuju ruangan yang masih tertutup dengan berharap mendapat celah untuk mengetahui kondisi mamanya.
" Pah bagaimana kondisi mama " Raisha menoleh kearah papanya. Namun tak ada sahutan dari mulut papanya itu.
" Pah " panggil Raisha lagi.
" Jangan bicara dengan papa, kalo bisa pergi dari sini papa benci lihat muka mu " ucap kasar Henry kepada anaknya.
Ceklek suara pintu tiba-tiba terbuka.
" Maaf keluarga ibu Rosmala, dimohon bertemu dokter segera "
" Baik sus terimakasih " Henry pun segera menuju ruang dokter.
" Permisi sus apa saya boleh melihat mama saya, apa mama baik-baik saja sus " ucap Raisha kepada perawat yang hendak masuk kedalam.
__ADS_1
" Maaf nona pasien masih kritis jadi sebaiknya nona menunggu disini terlebih dahulu karena didalam tenanga medis masih melakukan pemeriksaan atas pasien "
Bersambung...