
Alex kini sudah berada di depan gedung pencakar langit. Iya gedung yang ayahnya dirikan dengan hasil jerih payahnya selama ini. HEROS group itulah nama yang Alex baca saat ini.
" Wow amazing baru tau kalo bokap ku ternyata kaya juga hahaha " tawa Alex seakan menggelitik dirinya.
Baru kali ini Alex mendatangi gedung tersebut, karena Alex tak begitu meminati hal yang berbau perusahaan.
" Permisi " Alex menghampiri resepaionis, maklum Alex yang tak tau letak dimana kantor papanya dia harus bertanya terlebih dahulu.
" Iya pak ada yang bisa kami bantu " tanya Resepsionis tersebut dengan tatapan terpesona akan diri Alex yang begitu menawan dan gaya stile Alex yang begitu mewah walau hanya pakaian sederhananya.
" Emm ruangan pak William dimana? " tanya Alex serius.
" Maaf apa bapak sudah ada janji? "
" Jangan panggil bapak, aku masih muda kenapa sih setiap orang panggil aku bapak udah tua ya kak wajah ku? " Alex mendekatkan wajahnya ke arah resepsionis tersebut.
Namun sebelum resepsionis itu menjawab tiba-tiba ada lelaki menghampiri Alex.
" Hey jaga sikap "
__ADS_1
Plak.. Jotosan mendarat di pipi Alex.
" Uhhh.. " Alex mengerang kesakitan, luka lebab sisa semalam dia kenak tabok sekarang harus ditambah lagi aduh nasib bener kamu Lex Lex hahaha sorry.
Semua karyawan pun menyaksikan kejadian tersebut, Alex dan lelaki itu terjadi baku hantam dan resepsionis itu pun sibuk melerau keduanya.
" Sudah, sudah berhenti ini kantor " teriak resepsionis tersebut dan membuat pandangan lelaki yang sedang berkelahi dengan Alex menoleh ke arahnya.
" Oh jadi kamu sekarang membelanya hah, terpesona dengan wajahnya iya " bentaknya.
Resepsionis itu hanya diam menunduk tak menjawab karena takut sudah si bentak.
" Hey.. Hey hey pria bangsat taunya sentak cewek ajah kamu ya dasar pecundang lo " Ucap Alex menunjuk ke arahnya.
" Hey kurang ajar kamu, dasar bocah ingusan " pria tersebut menghampiri Alex dan hendak memukulnya tapi ada tangan yang mencegatnya.
Pria itu pun menoleh.
" Tuan Edward? " ia menoleh ke arah tangan yang memeganginya.
__ADS_1
Edward iya dia asisten dari William papa Alex yang kini tengah memberikan tatapan tajam ke arah pria yang tadi hendak memukul Alex.
" Ada apa? kenapa sampai buat keributan di kantor hah, kamu tau bukan ini kantor bukan arena tarung " ucap tegas ke arah laki-laki yang sebelumnya terlihat sangar sekarang berubah dengan wajah lesu dan khawatirnya.
" Maafkan saya tuan, tapi bocah ini yang cari masalah dulu. Dia tadi hendak mencium pacar saya " ucap pria itu dengan berbohong.
" Hweekkk... " Alex tertawa lepas lalu dia menghampiri resepsionis itu yang kini tengah menunduk dan menahan tangisnya.
" Hy kak kamu bener pacaran sama dia hah? pria tua kaya dia wajahnya ajah kaya aspal apa yang kakak liat darinya " Alex mengatai kebenaran kepada resepsionis tersebut.
" Benar, tapi saya sungguh sangat terpaksa karena teramcam olehnya " jawab resepsionis tersebut dengan mulut bergetar dan isak tangis di mulutnya.
Mata pria itupun terbelalak dan menatap tajam ke arah resepsionis yang dibilang cantik nan muda tersebut.
" Diancam apa kak? " Alex mendekat, resepsionis itu melirik kearah pria yang kini menatapnya tajam.
Resepsionis itu pun menghela nafas beratnya,
" Kak gak usah takut, Alex akan bantu kakak katakan semuanya sebelum terlambat " ucap Alex meyakin kan wanita tersebut.
__ADS_1
Bersambung...