
Setelah libur lebaran, kira-kira 1.5 bulan kemudian Bapak dan Ibu berkunjung ke rumah dinas tempat Tama dan Ratna tinggal. Hanya berdua, naik bus karena Bapak tidak mau naik pesawat. Takut jatuh katanya. 2 hari di perjalanan jelas menguras tenaga. Untungnya Tama hari itu sedang tidak stand by jadi dia bisa menjemput Bapak dan Ibu modal pinjam mobil Pak Somat karena dia belum punya.
"Bapak sama Ibu capek banget nggak? Mampir makan dulu ya," ajak Ratna.
"Boleh Mbak boleh banget. Tapi jangan makanan yang aneh-aneh yo, sing umum wae," kata Bapak.
"Lah Tama sama Ratna saja kalau makan umum kok pak, kadang oseng kangkung, kadang ayam goreng, opor, bacem," kata Tama.
"Ora popo, mertuamu yo masaknya gitu. Kadang sayur jengkol, kadang sayur bayem," kata Bapak.
"Sayur jengkol karena Bapak yang mau deh kayanya," goda Ratna.
"Bapak ki ora seneng jengkol, Mbak. Nek ra mergo omah-omah karo ibumu yo ora doyan," kata Bapak.
"Apane sing ora doyan Pak? Anggere Ibu masak sayur jengkol Bapak sing habisin kok," protes Ibu.
Tama tertawa bersama Ratna, dia melihat rona lain di wajah Ratna. Terlihat sekali dia merindukan kedua orang tuanya ini. Wajahnya begitu sumringah dan senyum tidak pernah lepas dari wajahnya sejak bertemu dengan Bapak dan Ibu 1 jam lalu.
Hari sudah malam ketika mereka sampai di gerbang kesatrian. Tama terpaksa membangunkan Bapak dan Ibu karena harus melapor pada petugas penjaga. Selesai melapor Tama melanjutkan laju mobilnya ke arah rumahnya. Rumah Tama ada di paling ujung di belokan ketiga dari gerbang depan. Ketika mereka sampai Pak Somat dan Bu Odah terlihat sedang duduk berdua ditemani tempe goreng dan segelas kopi.
Sekalian Tama mengembalikan kunci, Bapak dan Ibu berkenalan dengan pasutri rumah sebelah ini. Tadinya Bapak berusaha menyapa dengan bahasa Jawa, tapi begitu mendengar Pak Somat juga bicara dalam bahasa daerah yang sama Bapak jawanya langsung keluar, bahkan halus sekali. Apalagi setelah Tama mengenalkan siapa Pak Somat sebenarnya.
"Pak, Bu, makasih banget ya sudah dipinjami mobil," kata Ratna.
"Sama-sama dek Ratna. Kalau suatu waktu butuh pinjam saja nggak papa. Dari pada nganggur toh, saya juga jarang pakai kok," kata Pak Somat.
"Nggih Pak, matur nuwun," kata Tama yang sedikit demi sedikit belajar bahasa jawa juga.
"Sami-sami, Mas Aji."
Tama dan Ratna kemudian menyusul Bapak dan Ibu yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Ratna langsung mengantar Bapak dan Ibu sekalian membawakan tasnya ke dalam kamar yang sudah Ratna sediakan.
"Bapak sama Ibu mau mandi dulu ndak? Kalau iya Ratna buatkan air hangat," tanya Ratna.
"Boleh."
Ratna kemudian melangkah ke dapur, mengisi panci dengan air hingga penuh, meletakkannya di atas kompor. Setelah menyalakan apinya, Ratna menutup pancinya lalu beralih ke meja makan membantu Tama yang baru saja mengambil 4 gelas untuk membuat teh hangat.
__ADS_1
"Bapak..., mau kopi atau teh?" tanya Ratna.
"Teh saja mbak, nanti Bapak ndak nggak bisa tidur," jawab Bapak yang kini sudah duduk di sofa.
Tama akhirnya memilih untuk meletakka jajanan yang tadi mereka beli ke atas piring lalu membawanya ke meja sofa bergabung dengan Bapak dan Ibu yang hanya duduk sambil melihat-lihat.
"Maaf ya Pak, saya belum bisa kasih Ratna rumah yang besar," kata Tama.
"Nggak papa, Nggak usah minta maaf. Bapak sama Ibu sudah serahkan Ratna ke kamu buat kamu jaga, buat kamu sayang, buat teman kamu hidup. Dia sendiri yang milih kamu, dia juga yang meyakinkan Ibu kalau cuma kamu orang yang dia mau. Ya itu bagian dari konsekuensi dia karena milihnya kamu," kata Ibu.
"Tuh Mas dengerin, wong akunya nggak sempurna kok Mas juga nggak perlu jadi sempurna," jawab Ratna sambil berjalan ke arah mereka yang duduk membawa nampan berisi teh hangat.
"Ada aja caramu jawab dek..., dek...," kata Tama menggeser sedikit duduknya agar Ratna bisa duduk di sebelahnya.
"Ratna jadi istri piye Tam? Ngecewain kamu nggak?" tanya Bapak kali ini.
"Wah jangan tanya lagi pak. Sangat...., sangat memuaskan. Ratna ini nggak rajin-rajin amat sih, tapi dia selalu berusaha. Kalau nggak bisa tanya, kalau nggak tau tanya, cerewet, kepoan, ya gitulah.... Tapi saya suka, setidaknya saya jadi tahu gimana keseharian Ratna. Sampai detail terkecil juga diceritain sama dia. Ya buat saya sih mempermudah proteksi Ratna Pak, habis jauh dari keluarga dia juga nggak punya siapa-siapa di sini," kata Tama curhat sama Bapak.
"Kok gitu sih Mas Tama bilangnya, aku cerewet banget po?"
"Banget, tapi nggak papa. Dari pada kamu diem Mas yang bingung," kata Tama.
"Betah nggak betah harus betah Bu, namanya ikut suami."
"Bau-baunya nggak enak nih, kenapa dek?" tanya Tama menggantikan Bapak dan Ibu.
"Nggak ada Mas, aku kan sudah cerita sama Mas waktu aku ketilang itu," kata Ratna.
"Oalah iya, Bu Ratna penah nangis gara-gara kena tilang, Bu," goda Tama.
"Kok iso Mbak?"
"Sim dia mati ternyata, dianya nggak sadar. Apesnya dia dapat petugasnya yang kaku. Pulang-pulang nyodorin kartu tilang sambil mewek. Takut polisinya galak katanya," kata Tama begitu jujur.
"La piye to Mbak, suamimu ki yo polisi kok malah takut sama polisi," kata Ibu.
"Tuh dengerin.... Suamimu itu Polisi dek, anggota Brimob lo nggak tanggung-tanggung. Polantas yang nilang kamu kalau sama Mas hormat," bangga Tama.
__ADS_1
"Masa?"
"Bu, anakmu loh kalo dikasih tau ngeyel. Sudah dikasih tahu kalau saya itu Perwira nggak percaya."
"Ya gitu Tam, Bapak ini di luar sana banyak yang hormat kalau di rumah ya nggak ada yang pecaya. Karisma waktu kerja nggak ke bawa ke rumah, nggak ngerti lagi Bapak," kini Bapak yang curhat.
Malam semakin larut, Bapak dan Ibu juga pasti ingin mandi dan istirahat jadi mereka memutuskan untuk melanjutkan ngobrolnya besok. Selesai membersihkan diri, semuanya masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat. Bapak dan Ibu di kamar tamu sedangkan Ratna dan Tama di dalam kamar mereka.
"Dek belum tidur?" tanya Tama.
"Handphoneku masih di cas, nanti bentar nunggu 60%. Mas Tama tidur duluan aja, besok shift pagi kan?"
"Dek, ada Bapak sama Ibu kamu pasti tambah kerjaan. Kalau misal kamu repot banget bilang sama Mas loh ya, janji?" kata Tama.
"Iya Mas insyaallah."
"Mas...," panggil Ratna.
"Hmm?"
"Aku mau tanya nih.... Kalau misalkan Bapak sama Ibu tanya soal anak aku harus jawab gimana ya Mas? Kalau aku bilang apa adanya Bapak sama Ibu pasti sedih. Kalau aku bilang se-dikasihnya sama aja ngasih harapan dong," kata Ratna.
"Jawab saja apa adanya, pelan-pelan. Mas yakin Bapak dan Ibu nggak akan maksa," kata Tama.
"Kalau yang tanya Mama, aku harus jawab sama juga?" tanya Ratna.
"Mama ngejar-ngejar kamu juga ya?"
"Ya Mas Tama kan anak tunggal, wajar Mama ngebet banget dapet cucu dari Mas. Kalau Bapak sama Ibu santai kan karena ada Sasa sama Nata," jawab Ratna.
"Kalau Mama yang tanya bilang sama Mas, biar Mas yang kasih pengertian. Jangan nyiksa dirimu sendiri cuma karena Mamaku," kata Tama.
"Tidur aja yuk, hanphonennya biarin, sekali-kali juga," kata Tama lagi.
Tama secara perlahan mengambil alih handphone Ratna lalu meletakkannya di atas meja yang terletak di samping tempat tidur. Tama sedikit mengangkat kepala Ratna agar dia bisa lebih mudah menyelipkan lengan kirinya di tengkuk belakang Ratna. Biarlah malam ini lengannya menjadi bantal pengantar tidur untuk Ratna. Tama menarik selimut agar tubuh Ratna sempurna tertutup selimut. Ratna tidak tinggal diam. Ketika Tama mendekapnya di dalam selimut, Ratna ikut menaikkan selimut agar punggung Tama tidak kedinginan.
"Singkirin aja tangannya Mas nanti sakit loh," kata Ratna berusaha menyingkirkan lengan Tama di kepalanya.
__ADS_1
"Nggak Ratna, malam ini aja. Aku pengen peluk kamu sampai tidur. Mas kangen sama kamu. sudah 3 hari juga kamu shift malam terus, Mas tidurnya sendirian," kata Tama yang malah menggenggam tangan Ratna.
"Aku juga kangen sama Mas," kata Ratna.