Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
114. Kekacauan


__ADS_3

"Selamat pagi Komandan, akhirnya tim resmob sudah mendapatkan titik terang Ndan. Ini hasil penelurusan kemarin," lapor seorang bintara pada Komandan Novan dan Cece.


"Aji mana?" tanya Ndan Novan.


"Masih di bawah Ndan katanya ada tamu," jawab Cece.


"Suruh sini. Kita bicarakan ini dulu," perintah komandan.


"Siap, Ndan."


Baru Cece membuka lockscreen handphonenya, dia mendengar ada ledakan di bawah. Cece langsung mendekati jendela dan melihat kondisi di bawah. Dia bisa melihat beberapa anggota yang berlarian mengarah ke lapangan depan.


"Ndan, kayanya ada masalah di bawah," kata Cece.


Komandan Novan dan Cece langsung berlari ke bawah menuju ke sumber suara. Sudah keos di sana. Ada sebuah ledakan terjadi tepat di dekat tembok yang memisahkan TK dan Markas. Terduga dari sebuah ransel berwara hitam yang terletak di bawah pohon. Entah milik siapa. Cece sebagai anggota jibom langsung memakai perlengkapannya dan memeriksa ransel itu tepat setelah mereka berhasil memadamkan api.


"Anak-anak di TK semua aman kan?" tanya Komandan Novan.


"Ada satu guru Ndan yang terluka. Izin Ndan ambil ambulance untuk bawa korban," kata Tri.


"Siapa yang terluka?"


"Bu Chandra Ndan."


...***...


Ratna segera berlari tunggang langgang menuju ke IGD begitu mendengar kabar. Dia menyambut langsung ambulance brimob yang datang ke IGD dan segera menggeladak keluar brankar yang membawa korban. Ratna tanpa pikir panjang langsung memeriksanya.


"Panggil dr. Dipta ke sini," perintah Ratna.


"Siap Bu."

__ADS_1


"Lis, tahan ya," kata Ratna pada Lilis.


Satu perawat mengurus luka bakar di tangan kanannya, sedangkan Ratna berusaha membuka jalan nafas. Lilis sudah tidak sadarkan diri. Baju bagian kanannya sudah robek dan terbakar. Beruntung luka bakarnya tidak parah, tapi hampir seluruh permukaan tangan kanannya melepuh. Dipta sudah datang dan membantunya. Dia lebih berpengalaman soal luka bakar begini jadi dia minta Dipta membantunya.


"Detak jantungnya normal kan?" tanya Dipta.


"Agak terlalu cepat. Nafasnya juga pendek," jawab Ratna.


"Suaminya sudah datang? Kalau sudah kamu jelasin dulu Rat. Lilis baik-baik saja kok," kata Dipta.


Ratna berjalan keluar mencari orang yang mengantar Lilis tadi. Dia meminta Tri untuk memberi kabar pada komandan Chandra agar segera datang. Selain itu Ratna sendiri yang memberi laporan pada suaminya yang menelpon langsung padanya.


"Lilis sudah kutangani. Dia baik-baik saja. Ayah baik-baik saja kan di sana? Ada yang terluka lagi nggak?" tanya Ratna dengan nada yang sedikit memburu. Masih kaget dia karena kejadian ini dinilai terlalu tiba-tiba terjadi.


"Ayah baik-baik saja. Bunda tolong loudspeaker. Ayah mau bicara sama Tri," perintah Tama membuat Ratna langsung melaksanakannya.


"Tri kamu tetap di situ. Ambulance biar di bawa balik sama Joan. Kamu jaga Bu Chandra dan jangan ditinggal. Kamu juga jelaskan ke Ndan Chandra pelan-pelan. Pokoknya kalau kamu belum saya minta kembali jangan kembali. Mengerti?"


"Siap komandan. Laksanakan."


"Bagaimana kondisinya?" tanya Bang Chandra.


"Lilis baik-baik saja Bang. Luka bakarnya sudah dirawat. Selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sementara tangan kanan diistirahatkan total dulu. Kalau mungkin Lilis mencoba menggerakkan tangan kanannya ditahan ya Bang biar lukanya bisa segera membaik," kata Ratna.


"Makasih ya Rat."


"Saya tinggal dulu, permisi," pamit Ratna.


Dia diminta oleh Tama untuk mundur setelah selesai memeriksa Lilis. Ratna tidak diperbolehkan melakukan apapun selain menjadi dokternya Lilis. Dia juga diminta bungkam jika barang kali ada wartawan yang datang. Tri juga sudah meminta pada seluruh dokter di IGD untuk tutup mulut.


Namanya media masa cepat sekali datangnya. Pak Satpam bahkan sudah kewalahan menahan para wartawan yang berusaha masuk ke dalam rumah sakit. Ada yang diam-diam masuk melalui IGD, memutar melalui pintu pavilliun, bahkan ada yang menyelinap lewat rumah duka yang letaknya ada di belakang rumah sakit.

__ADS_1


Ratna sedang bersama dengan Ela berjalan di koridor setelah memindahkan Lilis ke bangsal dan memastikan dia aman bersama suaminya. Dia sedang memberikan instruksi pada perawat jaga soal obat dan penanganan yang harus diberikan pada pasien yang baru masuk. Ratna kemudian melanjutkan langkah menuju ke ruang dokter tapi sudah terlanjur Ratna melihat ada beberapa orang berdiri menunggu dan seperti melongok ke arah dalam ruangan.


"Firasatku jelek La," bisik Ratna membuat keduanya langsung putar balik dan berusaha agar tidak tertangkap.


Ratna dan Ela akhirnya diam di kantin dokter spesialis dan duduk di pojok ruangan yang tidak begitu ramai. Di jam tanggung begini kantin begitu lengang jadi ketika ada yang duduk di sini akan langsung terlihat.


"Tapi masa kita kucing-kucingan terus begini sih Rat?" tanya Ela.


"Nggak mungkin sih, tapi aku barusan dapat kabar kalau yang dari markas akan ada yang datang untuk memberi keterangan. Ini kalau sudah begini kan jadi meresahkan para pasien juga," kata Ratna.


Belum lama Ratna duduk bersama Ela menyesap segelas kopi, Ratna dipanggil menuju ke IGD karena pasien yang sedang ditransfer dari Surakarta baru saja datang dan Ratna harus memeriksanya. Ratna sudah lebih dulu datang dan melihat sendiri pintu depan IGD dipenuhi wartawan membuat ambulance kesulitan masuk padahal sirinenya sudah memekakan telinga.


"Minggir semuanya. Ambulance tidak bisa masuk itu!" Teriak Pak Satpam.


Ratna masih berusaha menjaga emosinya agar tetap terkendali. Dia menyiapkan dirinya untuk membawa keluar pasiennya dari ambulance dan membawanya masuk ke IGD. Beberapa orang dari Brimob sudah datang jadi Ratna sudah tidak ambil pusing. Dia memeriksa sekilas kondisi pasien kemudian meminta para perawat membantu wali mengurus bangsal. Ratna baru akan melangkah setelah selesai memberikan edukasi pada keluarga pasien juga pada pasien tapi dia langsung dihadang oleh seorang wartawan yang masuk.


"Bapak punya etika tidak sih Pak? Ini rumah sakit. Di IGD pula. Jangan berbuat seenaknya dong," kata Ratna yang mulai lepas kendali.


"Ya Ibu tinggal jawab pertanyaan saya. Ibu dokter yang menangani korban bom yang terjadi di Mako Brimob siang ini kan? Kalau Ibu jawab saya pergi," katanya terus mengarahkan handphone ke dekat mulut Ratna.


"Saya tidak akan menjawab. Maaf Pak bisa keluar? Anda mengganggu pekerjaan para medis di sini," kata Ratna sudah dengan sorot kemarahan.


"Ya Ibu tinggal jawab saja pertanyaan saya."


"Pak. Jangan sembarangan. Anda awak media punya etika dan tata krama kan? Silahkan keluar," kata Bayu yang datang membantu Ratna.


Ratna sudah tidak menggubris orang itu. Dia berjalan menjauh. Dia lebih dulu ke meja resepsionis memberikan instruksi tapi orang itu terus saja memaksa.


"Bapak mau pergi dengan sendirinya atau saya yang seret Bapak keluar dari sini?" tanya Bayu sudah dengan nada tinggi.


"Om Bayu, jangan ribut di sini. Ini IGD," kata Ratna memperingatkan.

__ADS_1


Bayu tidak basa basi lagi langsung menyeret wartawan itu keluar dari IGD kemudian dia bergabung untuk mengamankan kondisi di depan. Kondisi semacam ini bukan hanya terjadi di rumah sakit, tapi puluhan bahkan ratusan wartawan juga datang berusaha mencari keterangan di lokasi kejadian.


Tim dari Jibom sedang menyisir apakah ada benda mencurigakan lain yang ada di dalam markas atau tidak kemudian mereka kumpulkan di ruang terbuka untuk diperiksa. Cece yang memimpin. Dia dengan penuh konsentrasi menyelesaikan tugasnya tanpa terganggu dengan para wartawan yang ribut di dekat pintu masuk.


__ADS_2