Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
69. Tugas Istri Abdi Negara


__ADS_3

Setelahnya Theo, Dipta, Ela, Jay dan Nita juga undur diri memberikan privasi pada keluarga itu agar bisa beristirahat. Sekarang gantian Gandhi dan Ratna yang pergi sholat sekalian Tama dan Sasa juga ikut turun karena mereka akan pergi mencari makan malam. Tama dan Sasa menunggu di dalam mobil Bapak sambil menunggu Ratna dan Gandhi selesai sholat. Tama sedang asik mengajak keponakannya bermain di kursi kemudi sedang Sasa berdiri di pintu berusaha mengganti pakaian Adrian yang kotor.


"Belum pernah ketemu langsung kok wis lengket Yan, tumben," kata Sasa pada putranya.


"Ya kan om Tama baik ya Yan, ngapain takut. Nanti tak beliin permen kapas wis. Tantemu suka permen kapas, kamu suka nggak?" kata Tama pada Ian yang berusaha memencet klakson mobil.


"Iki nek ada yang nggak tahu njuk dikiranya Mas selingkuh ora ngene iki?" tanya Sasa yang merasa terlalu dekat dengan kakak iparnya.


"Ora bakal. Wong nggak banyak juga yang tahu nek aku bojone mbakyumu. Yang ada Gandhi malah dikira iparmu," kata Tama yang tenang-tenang saja melihat Ratna tengah berjalan berdua dengan Gandhi dengan akrabnya sampai beberapa pasang mata terus memperhatikan keduanya.


Selama makan, Ian terlihat lengket dengan Ratna dan Tama. Bahkan Sasa akhirnya bisa merasakan lagi nyaman makan tanpa diganggu si kecil karena dia sekarang sedang sibuk mengganggu om dan tantenya. Mereka berempat makan di sekitaran Malioboro sekalian mengajak si kecil yang sudah rewel sejak sore tadi untuk main dan refreshing.Seperti janjinya Tama tadi, dia membelikan Ian permen kapas, baju, dan sepatu. Dia juga membelikan Ian mainan biar si kecil tidak rewel. Setelah selesai makan, mereka langsung kembali ke rumah sakit.


"Habis ini kamu ikut Ibu pulang ya Dek. Bapak biar aku sama Nata yang jagain," kata Tama.


"Kok gitu?"


"Kamu istirahat mungil. Besok jadwalmu standby IGD kan? Kamu jagain Bapak besok aja ya. Malam ini biar aku," kata Tama.


"Yaudah deh. Besok seragammu yang mana biar aku siapin sekalian berangkat besok pagi."


"Seragam loreng Dek."


"Ha? Kok tumben pake loreng?"


"Besok mau ada upacara pembukaan Latgab Dek," kata Tama.

__ADS_1


"Astagfirullah besok? Aku lupa Mas maaf. Bajunya tak taruh mana jal, kemarin tak cari belum ketemu," kata Ratna.


"Dek...."


"Hehe, bercanda sayang. Ada kok. Yaudah aku pulang dulu ya, assalamualaikum," pamit Ratna kemudian berjalan keluar mengikuti yang lainnya.


Ketika sampai di rumah, hal yang pertama kali Ratna lakukan adalah merebus air. Dia menaikkan air satu panci ke atas kompor lalu merebusnya dengan api besar. Setelah itu dia mengintip ke dalam kamar yang akan ditepati Sasa. Memastikan kamarnya bersih agar Ian tidak batuk-batuk karena debu. Ibu sempat berkeliling karena takjub dengan rumah baru putrinya. Rumahnya tidak terlalu besar, tapi tidak kecil juga. Cukup jauh perbedaannya dengan ketika Ratna hidup di Samarinda.


"Rumahnya bagus Mbak," puji Ibu.


"Alhamdulillah Bu," jawab Ratna.


"Ning ini rumah atas nama siapa? Ibu tanya ming nggak mau kamu kena masalah suatu saat nanti," kata Ibu.


"Ini rumah pensiunnya Papa. Waktu Papa nggak ada baru selesai 80% tapi pembangunannya dilanjutkan sama Mama. Jadi secara garis besar ini rumah punya mertuaku," jawab Ratna.


"Nggak ada si Bu. Mama tuh cuma nuntut anak kok. Nggak beda sama Ibu. Selebihnya nggak ada tuntutan lain. Terus kalau perkara rumah, sejak awal sertifikat rumah ini sudah atas nama Mas Tama jadi mau diapakan sudah terserah Mas. Mama sudah tidak ikut campur," jelas Ratna.


"Lha iyo, lagian kalian berdua pakai sok-sokan nunda waktu awal nikah. Coba kalau nggak kan anakmu sudah besar sekarang. Kemarin-kemarin Ibu nawari buat jagain anakmu kamu bilang nggak mau. Nek sekarang yo wis repot. Bapak juga sakit begitu. Makanya kalau dikasih tau tuh nurut," kata Ibu.


"Bu udah dong. Jangan bahas itu lagi. Lagi nggak mood banget aku asli. Mending Ibu sekarang istirahat Bu. Pasti capek kan, besok pagi mau balik ke rumah sakit lagi. Bapak sudah sakit jadi Ibu jangan sampai sakit juga," kata Ratna kemudian segera meninggalkan Ibunya.


Ratna beralih menyetrika pakaian seragam suaminya dan menggantungnya di gantungan yang terletak dekat dengan lemari pakaiannya di dalam kamar. Ratna juga sekalian mencuci pakaian yang akan dipakainya besok. Tidak lupa dia melipat cuciannya yang belum sempat dia angkati kemudian segera membereskannya. Selesai mandi, Ibu, Sasa, dan Gandhi semuanya berkumpul di ruang tengah sambil menonton televisi.


"Mbak, kok itu ada tabung oksigen Mbak yang pake?" tanya Gandhi yang menemukan tabung oksigen berukuran sedang di sudut ruangan.

__ADS_1


"Kadang aku pake sih. Itu baru kutukar sama yang agak gedean kemarin buat jaga-jaga kalau Bapak butuh," jawab Ratna.


"Owalah kirain."


"Emangnya sakitmu parah?" kali ini Ibu yang bertanya.


"Nggak mau bilang parah. Toh aku masih bisa aktivitas seperti biasa kok nggak sampai cuma tiduran di atas kasur. Cuma kalau lagi kambuh aku nggak mau ketergantungan obat. Jadi lebih milih pakai oksigen. Akhirnya juga Mas bantuin aku buat diet kok. Jadi insyaallah aku sehat," kata Ratna dengan optimisme yang tinggi.


Baru akan lanjut mengobrol, Adrian menangis dan sudah merajuk minta tidur jadi Sasa langsung membawanya ke dalam kamar. Ratna juga akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


"Siapa besok yang ganti jagain Bapak?" tanya Ratna.


"Aku Mbak," jawab Sasa.


"Njuk Ibu di rumah sama Gandhi?"


"Nggak, aku balik Jambi. Cuma cuti berapa hari kok.Titip Sasa sama Adrian ya Mbak, Bu, aku mau mimpin pasukan tugas di Palestina soalnya," kata Gandhi.


"Iya dijagain kok. Hati-hati ya. Ingat kalau tugas tuh jangan gegabah. Anak istri nunggu di rumah. Jangan lupa kasih kabar terus," kata Ratna.


"Siap Mbak."


Setelah semuanya masuk ke dalam kamar, Ratna juga menyusul. Dia lebih dulu mengecek semua pintu dan jendela, mematikan lampu dan terakhir mematikan lampu kamarnya. Ratna fokus chatting dengan suaminya yang jelas belum tidur kalau jam segini. Terbukti kan, Tama dengan secepat kilat langsung membalas pesannya. Ratna malam itu curhat tentang Gandhi yang katanya akan diberangkatkan untuk misi perdamaian.


Tama hanya tersenyum membacanya, mau bagaimanapun menjadi abdi negara semacam ini tanggung jawabnya bukan hanya terletak pada bahu masing-masing tapi juga pada nama keluarga besar. Paling terasa ya anak istri yang harus sabar dan tabah setiap kali suaminya harus berangkat mengemban misi kapanpun dan dimanapun demi keutuhan NKRI.

__ADS_1


Apalagi untuk Bapak dan Ibu. Dua menantunya adalah abdi negara, sedangkan anak bungsunya juga sama saja. Pekerjaan ketiga putranya ini akhirnya menjadi beban tersendiri untuk Bapak dan Ibu, walaupun sebenarnya Ratna, Sasa, dan Sania sudah siap secara mental, tapi Bapak dan Ibu yang harus melihat putri-putri mereka menghadapi hari tanpa suami sedikit banyak pasti akan merasa tertekan. Itulah kenapa terkadang Tama mengajarkan kepada kedua adiknya tentang bagaimana cara agar setidaknya keluarga yang mereka tinggal tidak merasakan ketakutan.


"Pulang dengan kondisi bernyawa itu wajib hukumnya. Dan untuk menuju ke sana, kita harus menyiapkan perbekalan sematang mungkin. Kita adalah pemimpin. Ketika bertugas, ada tim yang bergantung pada kita sedangkan di rumah ada rindu yang selalu menunggu. Itulah kenapa sebagai seorang laki-laki, terutama seorang prajurit harus bisa menjadi sosok yang profesional dan cerdas bertindak. Karena ada puluhan nyawa yang bergantung pada setiap keputusan yang kita buat," kata Tama yang selalu dia tegaskan kepada adik-adiknya.


__ADS_2