
Sholat subuh adalah sebuah kewajiban untuk Ratna dan Tama, jika mereka sedang berada di rumah mereka akan sholat berjamaah, jika tidak pun mereka akan selalu berusaha untuk mengerjakannya kecuali jika ada hal-hal mendesak yang memaksa.
Selesai sholat, Tama dan Ratna langsung bersiap untuk berangkat. Mereka bangun sudah cukup siang jadi tidak banyak waktunya. Ratna sedang menggulung rambutnya ketika Tama selesai memakai seragamnya dan sedang berdiri di belakang Ratna untuk berkaca pada cermin yang sama dan sejenak fokus pada penampilan masing-masing.
"Waw..., gantengnya suamiku," puji Ratna.
"Kamu juga cantik, istriku," Tama balik memuji.
"Gimana dek sudah siap?" tanya Tama pada Ratna.
"Bentar...."
Ratna kemudian meraih sebuah lipstick berwarna peach dan memolesnya tipis ke bilah bibirnya. Setelah selesai dia baru berdiri dan berbalik pada Tama. Ratna memberikan kode pada Tama untuk menunduk, baru setelah Tama melakukannya Ratna membetulkan posisi rambut Tama yang kurang rapi.
"Udah ganteng, tapi jangan sok ganteng ya. Nanti banyak yang naksir aku cemburu loh," kata Ratna.
"Sama Nesya kamu nggak cemburu?" tanya Tama.
"Cemburu lah, dia lebih sering ngabisin waktu sama suamiku masa aku nggak cemburu," kata Ratna.
"Udah nggak usah cemburu, aku nggak doyan sama bentukan kaya Nesya."
"Tahu kok, makanya aku diem aja. Tapi kalau sampe Mas main-main pulang tinggal nama kamu, Mas," kata Ratna.
Tama tertawa, dia mencium pipi Ratna lalu melangkah mundur sebanyak 3 langkah. Segera mengenakan baret biru kebanggaannya lalu dengan sikap sempurna dia mengangkat tangan kanannya, memberikan penghormatan terbesar untuk wanita hebat di hadapannya. Untuk Adiratna istri juga pelabuhan hatinya. Untuk teman sehidup sematinya. Ratna mengikuti, dia sama hormat dengan sikap siap, hormat pada imam keluarganya, pada laki-laki yang terus berusaha membawanya pada Syurga yang paling sempurna.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pada segenap bhayangkara yang bertugas, mengabdikan dirinya dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan demi keamanan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Selamat juga saya ucapkan, semoga dengan kenaikan pangkat ini akan dibarengi dengan peningkatan kualitas kerja serta tanggung jawab dalam mengemban amanah," kata Kapolda Samarinda yang memberikan sambutan.
Ratna berdiri di sebelah Tama ketika laki-laki itu disemati satyalencana. Sebagai tanda jasanya telah mengabdi pada negara secara terus menerus tanpa mengenal lelah. Ratna juga ada di sana ketika Tama menerima sertifikat penghargaan dengan nama Pratama Aji Saputra tercetak jelas di atas sana sebagai bukti bahwa Tama adalah seorang prajurit, seorang perwira, dan seorang bhayangkara yang baik dan amanah terhadap Pertiwinya.
Selesai upacara, Ratna dan Tama melangkah keluar dari Aula. Pak Somat, Nesya dan teman-teman tim Tama mendekatinya dan semua mengucapkan selamat pada Tama yang tengah berbahagia.
"Bang Aji selamat ya...," kata Nesya memberikan karangan bunga untuk Tama.
"Thanks, Sya.... Makasih juga semuanya," kata Tama sambil menerima karangan bunganya.
Doakan aku segera nyusul. Biar pangkat ini segera ganti," lanjutnya kali ini sambil menepuk-nepuk pangkat di bahunya.
"Iya iya. Makanya nggak usah kebanyakan tingkah, biar promosimu nggak delay," kata Tama.
"Biar dulu lah dia begini, kalau nggak ada Nesya siapa juga yang bakal buatkan aku kopi di markas," kata Pak Leo.
__ADS_1
"Pak Leo ada-ada saja," kata Tama sambil tertawa.
"Mbak Ratna juga selamat ya, suamimu naik pangkat. Habis ini gajimu naik juga, seneng toh?" tanya Pak Somat pada Ratna.
"Ah boten Pak, biasa saja," jawab Ratna.
"Mas nggak mau foto sama anggota tim? Sini hp nya biar aku yang fotoin," kata Ratna kali ini pada Tama.
Tama dan yang lainnya mulai berpose mengelilingi Tama dan siap untuk berfoto. Setelah beberapa jepretan, kini Nesya meminta Ratna agar berdiri di sebelah Tama lalu dia ambil alih handphone Tama untuk memfoto Tama dan istrinya.
"Eii~, peluk dong Bang. Dipangkalan aja mujinya setengah mati, ini di depannya malah malu-malu," goda Nesya.
"Banyak orang ini main peluk-peluk, kemesraanku bukan konsumsi publik."
"Banyak orang tapi tidak satupun memperhatikanmu. Sudahlah peluk saja Tama," kata Pak Slamet kompor.
Tama akhirnya merangkul Ratna. Dia lingkarkan tangannya agar sampai di bahu kanan Ratna lalu tangan kirinya berpose menggenggam sertifikat yang dia dapatkan. Untuk Ratna, begitu merasakan tangan Tama di bahunya dia ikut mengeratkan tubuhnya mengikis jarak. Digenggamnya erat karangan bunga dari tim kerja Tama tadi lalu berpose dengan senyum sumpringah di wajahnya.
Selesai dengan acara foto-foto, Tama pamit. Dia sudah janji akan menemani Ratna ke rumah sakit. Makanya dia tidak ingin membuang banyak waktu. Sampai di rumah sakit, Ratna dan Tama langsung melangkah ke poli dan menunggu antrian di sana.
Tama sempat melihat tangan Ratna menggenggam erat tali tasnya, sepertinya Ratna gugup. Ya siapa juga yang tidak gugup jika dihadapkan pada situasi ini. Dia hanya bisa berharap jika hasilnya akan bagus. Berharap agar rumah tangganya dengan Pratama Aji akan selalu baik-baik saja.
"Kenapa?" tanya Ratna.
"Hmm?"
"Kenapa bisa tes seperti ini nggak pengaruh ke kamu? Banyak loh rumah tangga yang jadi beda setelah ikut tes semacam ini," kata Ratna.
"Dek, yang aku nikahin itu kamu. Bisa nggak bisa punya anak ya bodo amat, kalau Allah nggak kasih kita bisa apa sih? Aku bahagia sama kamu, dan akan terus seperti itu sampai nanti habis nafasku. Aku kan sudah sering bilang gitu, masih aja ragu. Kamu itu istrinya Pratama Aji, bukan anaknya Bunda atau putrinya Ibu. Kamu wajibnya nurut ya ke aku. Kalau aku bilang aku nggak akan ninggalin kamu ya kamu harus percaya itu," kata Tama pada Ratna.
"Janji?"
"Janji," kata Tama.
"Ibu Ratna?" panggil seorang perawat.
Tama melepaskan Ratna untuk masuk ke dalam bertemu dengan dokter sedangkan dirinya lebih memilih menunggu di sini. Duduk diam di kursi panjang bersama dengan ibu-ibu yang mengantre untuk USG juga.
"Permisi...," kata seorang ibu.
"Iya Bu? Ada yang bisa dibantu?" jawab Tama reflek.
__ADS_1
"Anda sedang menemani istri tes kehamilan ya?" tanya ibu itu lagi.
"Iya Bu...," jawab Tama ragu.
"Maaf saya tidak bermaksud nguping tapi tidak sengaja dengar percakapan anda dengan istri. Saya hanya mau bicara, saya menikah dengan suami sudah 15 tahun dan baru dikaruniai anak. Jangan sedih ya, apapun hasilnya saya harap anda tidak meninggalkan istri anda," kata Ibu itu pada Tama.
"Tidak akan Bu, dia istri saya. Kalau dia saya tinggalkan saya mau hidup dengan siapa?" kata Tama membuat Ibu itu tersenyum lagi.
Selepas dari rumah sakit, Tama tidak langsung membawa Ratna pulang ke rumah. Hitung-hitung merayakan kenaikan pangkatnya, Tama mengajak Ratna untuk berjalan-jalan di sekitaran sungai Mahakam. Niatnya sih untuk makan malam sekalian jalan-jalan menikmati pemandangan malam dengan banyaknya lampu juga kapal-kapal yang berlalu lalang sepanjang sungai.
"Dah sana mau jajan apa aja Mas beliin," kata Tama.
"Kalau jajan nanti nggak makan malam dong," kata Ratna.
"Ngapain nanya gitu, setau Mas mau kamu jajan seabrek kalau belum makan nasi belum akan kenyang," kata Tama.
"Iya juga sih ya," kata Ratna.
Ratna dan Tama lalu berkeliling, membeli beberapa bungkus street food yang berbeda lalu mencari spot untuk duduk berdua. Ratna dan Tama tengah asik bercanda berdua, tapi tidak lama kemudian Ratna melihat seorang anak laki-laki melompati pagar pembatas. Bukan hanya Ratna, Tama juga melihatnya. Bahkan mereka sempat berkomentar tentang ke manakah orang tua anak itu sampai dia bisa bermain seorang diri di tepian sungai yang dalam begitu.
Naasnya, baru Tama akan menyedot lagi es teh yang dibelinya dia mendengar suara deburan air. Tama refleks menoleh ke arah anak tadi dan menemukan anak itu sudah berada di dalam air, mencoba meminta tolong pada siapapun yang bisa. Tama langsung melepaskan jaketnya lalu berlari ke arah anak itu sedangkan Ratna menyusul dengan kecepatan larinya yang tidak seberapa.
Tama melompat ke dalam air, dia berusaha menyelamatkan anak itu. Bersyukur Tama berhasil meraihnya dan membawanya ke tepian di mana Ratna sudah menunggu. Anak ini dibawa ke tempat yang lebih aman baru Ratna memeriksanya.
"Jalur nafasnya ketutup," kata Ratna lalu merentangkan tubuh anak itu dan berusaha mengeluarkan air dari dalam paru-parunya. Tama masih di sana, dia meminjam handphone salah seorang dari kerumunan untuk menelepon ambulance sedangkan Ratna masih terus berusaha membuka jalan nafasnya hingga anak itu tiba-tiba terbatuk dan memuntahkan air.
"Terus dek, dimuntahin semuanya...," perintah Ratna sambil mengelus punggung anak itu.
"Astaga Rangga...!!" teriak seorang wanita paruh baya yang baru menyadari jika yang terjatuh ini adalah anaknya.
"Bu, jangan digendong dulu," kata Ratna.
"Anda siapa? Anda apakan anak saya?"
"Maaf Bu, saya melihat anak ibu tenggelam tadi. Saya hanya bantu menolong. Ibu tidak perlu khawatir, saya adalah seorang dokter dan yang menyelamatkan anak Ibu tadi suami saya. Dia seorang polisi Bu, saya jamin anak ibu tidak salah penanganan," jelas Ratna.
"Maaf maaf, saya panik, maaf, terima kasih sudah menyelamatkan anak saya," kata Ibu itu lagi kali ini dengan nada yang lebih sopan.
"Nggak papa Bu, itu ambulancenya. Bu, lebih baik anak ibu dibawa ke rumah sakit dulu biar di cek dengan lebih baik. Saya akan bantu jelaskan pada petugas ambulance-nya," kata Ratna.
Kondisi cepat terkontrol berkat tindakan cekatan Tama dan Ratna. Anak itu baik-baik saja dan tidak sampai menimbulkan insiden. Hal semacam ini sudah menjadi pekerjaan Tama dan Ratna tapi entah kenapa mereka malah terus menerima ucapan terima kasih dari semua orang yang berada di sana. Tama dan Ratna yang merasa tidak enak akhirnya memutuskan untuk pulang. Membenahi semua bawaan mereka dan langsung menuju ke parkiran. Lagi pula kasihan Tama pakaiannya sudah basah semua.
__ADS_1