
“Aksara!!!” Teriak Tama melihat anaknya sudah tergeletak dengan peluru di punggung.
“Kau! Dasar iblis!” Tama langsung berlari mendekat ke arah Sindy. Dia tidak tinggal diam, Sindy sekali lagi menembakkan peluru ke arah kepalanya sendiri namun berhasil digagalkan oleh Tama yang melempar pistolnya dan mengenai lengan Sindy membuat tembakannya meleset. Dengan sekejap dia mampu mengunci tangan Sindy dan menghajarnya. Beberapa personil berusaha menenangkan komandan mereka sedangkan sisanya melarikan Aksara dengan segera ke rumah sakit.
Ratna yang tahu kondisi anaknya dengan segera menerobos masuk ke dalam ambulance dan ikut ke rumah sakit. Dia masih sempat melihat Aksa menatapnya, namun tatapan itu terasa kosong.
“Aksa sayang, tahan nak. Sebentar lagi sampai. Bunda janji Bunda akan hilangkan sakitnya darimu. Aksa percaya kan sama Bunda? Bunda akan sembuhkan Aksara. Setelah ini Bunda janji Bunda akan selalu sama-sama Aksara. Nggak akan Bunda tinggal-tinggal lagi. Bunda sayang sama Aksara, Ayah juga sayang sama kamu. Jangan tinggalin Bunda nak Bunda butuh kamu, Bunda nggak mau kehilangan kamu,” kata Ratna sambil menekan luka di punggung anaknya.
Sampai di rumah sakit, sudah ada Jay, Theo, dan Dipta yang stand by. Mereka semua membantu Ratna melakukan semua yang mereka bisa untuk menyelamatkan Aksara yang sudah menutup matanya.
“Detak jantungnya melambat,” kata Jay.
“Aku siapkan ruang operasi,” kata Dipta kemudian berlari keluar.
“Nita, percepat transfusinya. Pendarahannya belum berhenti,” kata Theo memeriksa luka di punggung kecil keponakannya. Jas mereka sudah ternoda darah, namun tidak ada yang peduli. Apalagi Ratna yang seluruh pakaiannya sudah kotor. Tama baru datang ketika Aksa sudah masuk ke dalam ruang operasi. Tama hanya melihat Ratna diam seperti tanpa nyawa di depan pintu sambil terus menatap sendu ke arah dalam.
“Bunda…,”
“Ayah…,” Ratna langsung menangis sejadinya ketika Tama datang dan langsung memeluknya erat.
__ADS_1
Sekitar 5 jam kemudian, Jay dan Theo berjalan pelan dengan raut yang begitu sedih bahkan cenderung tidak menahan air mata mereka. Dengan amat sangat terpaksa, Jay mengumumkan kematian Aditama Aksara Langit yang tidak berhasil melawan kesakitannya. Seketika itu juga Ratna langsung menghujani Jay dan Theo dengan pukulan dan tamparan. Dia terus protes pada kedua sahabatnya karena dia anggap tidak becus bekerja.
Tama memang berusaha menahan Ratna, tapi kedua tangannya juga sudah tidak memiliki tenaga. Ratna terus meracau hingga akhirnya dia jatuh pingsan membuat Tama akhirnya menangis juga.
Sindy mungkin berhasil ditangkap beserta anak buahnya. Tapi apakah Tama bangga pada dirinya? Tidak sama sekali. Dalam kasus kali ini, setelah dia berusaha menguatkan dirinya untuk kembali berdiri, semesta mendustainya dengan merenggut dua orang kesayangannya.
...***...
Kediaman Tama langsung ramai dengan para pelayat dan kerabat. Tama terus berusaha kuat menyalami setiap pelayat yang datang. Di samping kirinya ada Ratna yang terus diam menatap jenazah putranya. Ratna bahkan terus memeluk foto Aksa yang mereka ambil pada ulang tahunnya yang ketiga beberapa bulan lalu. Aksa terlihat gagah dengan menggunakan seragam polisi mini lengkap dengan baret biru seperti milik Ayahnya. Di foto itu Aksara tersenyum begitu manis. Walaupun Ratna masih sanggup melihat sekilas senyuman Aksa di wajahnya saat ini tapi itu semua tidak mampu membuatnya bahagia.
Ratna terus meratap dan beberapa kali jatuh pingsan. Sudah semalaman dia tidak mau makan, minum atau bahkan berbicara. Bukan hanya Bapak dan Ibu yang gagal membujuk Ratna, bahkan Sasa dan Nata pun ditepis semua olehnya. Tama tampak tidak mau memaksa Ratna, jika istrinya itu kembali jatuh pingsan dia juga tidak berusaha membangunkannya. Dia hanya akan menopang tubuh istrinya tanpa usaha untuk menenangkan.
"Shtt..., kuat Ma. Kuatkan ya, demi Mbak Ratna dan Bang Tama," kata Gandhi menenangkan istrinya.
"Mbak Sasa...," Nata datang ke kakak tengahnya kemudian memeluknya sambil terus menahan tangisan. Dia meredam tangisan kakaknya ini agar tidak sampai terdengar keluar.
Sebagai wasiat terakhir, Mama sempat mengutarakan pada Teh Rizka yang meminta jenazahnya dimakamkan di satu liang lahat dengan suaminya. Teh Rizka dan Bang Zaki kemudian mengatakan itu pada Pak Yatna yang mengkoordinir pemakaman mewakili Tama yang tidak mampu melakukan banyak hal.
"Ya, Mbak Diana dan Aksara akan dimakamkan dekat dengan almarhum," kata Bapak.
__ADS_1
"Kalau begitu bagaimana kalau kita segera makamkan saja Pak? Kasihan Tama dan Ratna terus meratap begitu," kata Bang Zaki.
"Apa dari pihak Mbak Diana tidak ada lagi saudara yang akan hadir?"
"Sudah tidak Pak, saudara Mama itu hanya Ayah saya dan keluarga dari beliau sudah hadir semua di sini Pak," kata Teh Rizka.
Bapak kemudian meminta izin pada Tama dan Ratna untuk memakamkan Aksara dan neneknya. Di luar dugaan, Tama mampu menahan kesedihannya untuk sesaat. Dia bahkan meminta agar dia saja yang menggendong Aksa sampai ke peristirahatan terakhirnya. Sedangkan di depan ada peti jenazah Mamanya yang diangkat oleh Bang Zaki yang dibantu Nata, Gandhi, dan beberapa tetangga.
Sebagai penghormatan atas jasa keduanya, Komandan Novan yang sekarang sudah menjabat sebagai Dansat brimob memberikan komando untuk seluruh anggotanya yang hadir untuk hormat dengan sikap sempurna ketika menghantar jenazah yang mulai turun ke liang lahat.
Ratna ada di sana, dia juga masih tenang ikut mendoakan ibu mertua juga putranya yang gugur dalam operasi kepolisian yang dipimpin oleh Tama. Sangat berbeda ketika di rumah tadi. Dia bisa begitu tegar melihat putranya mulai tertutup tanah. Dia bahkan mampu meletakkan karangan bunga pada pusara Aksa yang masih basah. Tama melihatnya, dan dari sekian banyak pelayat yang ikut ke pemakaman mungkin hanya dia yang sanggup menangkap seberapa hancur hati istrinya itu.
Bukan hanya Ratna yang hancur, Tama bahkan lebih remuk lagi. Selain kehilangan Ibu dan putranya, Tama juga kehilangan senyum di wajah istrinya. Dia kehilangan separuh nyawanya dalam satu waktu. Tama mendekati istrinya yang diam menatap batu nisan bertuliskan nama putranya di sana. "Aditama Aksara Langit Bin Pratama Aji Saputra". Melihat namanya sendiri terukir di nisan itu membuat hatinya seakan ditusuk ribuan duri. Tidak pernah dia mampu membayangkan akan memakaikan nama itu pada anak-anaknya dengan cara semenyakitkan ini.
"Bunda...," Tama mencoba meraih tangan Ratna kemudian memeluknya. Ratna tidak membalas, hanya sebutir air matanya yang seakan tidak ada habisnya kembali mengalir bersama hujan gerimis yang mulai melebat.
"Tama, Ratna, hujannya sudah mulai deras. Kita pulang ya," bujuk Ibu.
Dengan berat hati Tama dan Ratna meninggalkan pemakaman, membiarkan putranya itu tenang tertidur di sebelah nenek dan kakeknya. Mengikhlaskan Aditama Aksara Langit yang bahkan tidak sampai menginjak usia 4 tahun harus berpulang, bergabung dengan Aditama Putri kakak perempuannya yang juga gugur dalam tugas sang Ayah.
__ADS_1