
Penyelidikan terus dilanjutkan. Kali ini penyelidikan sementara difokuskan pada pencarian pelaku pengeboman. Polisi terus menyisir dimana letak tempat yang kemungkinan akan dijadikan lokasi selanjutnya oleh pelaku. Ketika kepolisian itu fokus pada pengeboman yang terjadi, maka mulai beraksilah pelaku yang sebenarnya.
Ratna memutuskan untuk memberi cuti panjang pada Uli dan membiarkan dia tenang mempersiapkan kelahiran putrinya. Lagi pula kasihan juga jika dia harus terus menemani polah Aksa yang semakin hari semakin aktif padahal perutnya sudah besar. Ratna tidak tega. Sebagai gantinya, Aksa sementara dibawa oleh Bunda ke rumah sakit setiap harinya. Ratna selalu menitipkannya ke penitipan anak yang dikelola oleh depart. pediatri di rumah sakit.
1 bulan kembali terlewat. Lusa adalah tanggal yang menjadi kemungkinan pelaku kembali melakukan pengeboman. Seluruh polisi berjaga sudah sejak semalam. Seluruh sudut kota diawasi dan sedikit saja gerak gerik mencurigakan langsung akan digeledah dan dimintai keterangan.
Satgas yang diberi kewenangan dibawah komando Tama akhirnya mulai sibuk melakukan pengamanan dengan ketat di setiap tempat. Bahkan beberapa ruang publik dan perkantoran juga dipaksa libur karena status keamanan sempat dinaikkan lagi.
"Selamat siang komandan, maaf ada yang ingin menemui komandan di bawah, namanya Ibu Diana. Bilangnya Ibu komandan. Kalau berkenan komandan boleh turun dan mengecek sendiri," kata seseorang yang berada di pos pada Tama yang sedang mempersiapkan bahan rapat koordinasi untuk malam nanti.
Jujur Tama kaget. Begitu dia sampai di pos penjagaan memang benar Mama yang datang. Hanya dengan menenteng tas ransel dengan wajah lelah tidak karuan.
"Astagfirullah Mama, kok Mama bisa sampai di sini sih?!" kaget Tama.
"Alhamdulillah Mama akhirnya ketemu sama kamu juga. Tama, Mama bawa sesuatu yang penting buat kamu. Tapi Mama nggak bisa ngomong di sini Tam," kata Mama.
"Ada apa sih Ma?"
"Ayo Tama cepet carikan tempat di mana kita bisa ngobrol berdua. Mama mohon," kata Mama sudah menangis.
"Iya iya, ayo Ma ke ruanganku. Tapi Mama tenang dulu jangan kaya gini. Perasaan Tama sudah nggak enak ini."
__ADS_1
Setelah sampai di ruangannya, Mama langsung menyerahkan tas yang dibawanya. Di dalam tas itu banyak berisi map, flashdisk, foto, bahkan identitas dan uang palsu yang jelas membuat Tama kaget. Dalam dokumen-dokumen itu tercatat jelas transaksi-transaksi jual beli yang terjadi selama beberapa dekade terakhir. Bukan hanya soal transaksi jual beli obat-obatan terlarang, tapi juga transaksi penjualan organ ilegal yang pernah Tama usut ketika dia di Samarinda dulu.
"Mama dapat ini semua dari siapa Ma? Kok Mama bisa dapat ini semua? Mama bukan pelaku yang sedang aku kejar kan Ma? Jawab Mama!" bentak Tama tanpa sengaja. Entah kenapa pikirannya langsung buntu dan tertutup amarah.
"Demi Allah bukan Tama. Itu Mama dapat dan Mama kumpulkan semua dari Sindy selama 10 tahun terakhir ini," kata Mama.
"Apa? Jadi maksud Mama?"
"Sindy adalah putri gembong mafia yang sedang kamu cari. Mama baru tahu fakta tentang siapa dia setahun setelah kamu menikah Tama. Alasan Mama yang bertahan sama dia adalah untuk mengusut lebih dalam tentang kasus kematian Papa kamu. Pelakunya tidak lain adalah Papanya sendiri dan Papanya itu dia yang kamu penjarakan. Sindy sejak awal bukan mencintai kamu tapi dia hanya ingin membalaskan dendam karena dia tahu kamulah anak dari Suseno Wibowo yang sudah memporakporandakan bisnis Papanya hingga dijatuhi hukuman mati ketika itu," jelas Mama membuat Tama memucat.
"Dan Mama nekat menyelidikinya seorang diri? Ma, anakmu ini perwira kepolisian tapi kenapa Mama...," Tama tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia langsung bangkit berdiri dan menelepon bagian intel dan resmob untuk menindaklanjuti bukti-bukti yang dibawa oleh Mamanya. Mama sekarang sedang bersama tim penyelidik. Kepala Tama pening sekali rasanya hingga dia tanpa sadar sudah menghubungi Ratna soal kedatangan Mama yang jelas mebuat Ratna ikut kaget.
Mama yang baru selesai dimintai keterangan kini hanya bisa duduk diam di ruangan Tama. Mau dimarahi pun Tama tidak akan sanggup walau Mamanya memang salah. Tama hanya mendekati Mama, menyodorkan bungkusan berisi roti dan air mineral untuk Mama yang mungkin belum makan sama sekali.
"Ma, sekarang Mama pulang. Tama sudah minta Ratna untuk datang jemput Mama," kata Tama.
"Tama, Mama takut. Mama mau tetap sama kamu. Jangan libatkan istrimu Tama Mama nggak mau ada apa-apa sama menantu Mama," kata Mama.
"Mama jangan khawatir. Mama dan Ratna sekarang kembali ke rumah bersama orang kepercayaan Tama. Mama, Ratna dan Aksa diam saja di rumah dan jangan kemana-mana ya. Tama akan menyusul pulang setelah menyelesaikan pekerjaan di sini," kata Tama mencoba menenangkan Mamanya.
"Mama harus minta maaf sama menantu Mama. Aku nggak akan membahas Mama yang berusaha menyelidiki kasus ini seorang diri tapi untuk luka yang Mama gores di hati Ratna tolong Mama obati," kata Tama hanya mampu diangguki Mama yang terus menangis. Kalau sudh begini Tama bisa apa selain memeluk dan menenangkan Mamanya.
__ADS_1
Tama memerintahkan Bayu dan Tri untuk ikut bersama dengan istri dan Mamanya pulang ke rumah. Kedua orang itu bersenjata lengkap dan ikut masuk ke dalam rumah komandan mereka melakukan penjagaan dari dalam.
Ratna sudah mendengar semuanya baik dari Tama maupun dari Mama sendiri. Aksa di pangkuannya sudah tertidur pulas karena memang hari sudah malam. Ratna masih terus menggendong putranya bahkan ketika dia makan dan melakukan hal lain. Seharian tadi Aksa rewel dan terus menangis. Dia juga sedikit demam semalam.
"Ratna, sini Aksa biar sama Mama kalau kamu mau mandi," kata Mama perlahan. Memang setelah mengetahui fakta itu Mama dan Ratna jadi begitu canggung. Keduanya hanya saling diam karena bingung mau bicara apa.
"Nggak papa Ma, Ratna nggak mau mandi kok. Udaranya dingin. Takut sesak nafas malah repot," kata Ratna.
"Ratna, maafin Mama ya sayang. Mama terlalu banyak salah sama kamu. Dosa Mama besar banget ke kamu. Maaf ya menantu Mama, Mama nggak bisa memperlakukan kamu dengan baik sampai kamu harus menderita batin seperti ini," kata Mama.
"Ma sudah jangan dibahas. Ratna paham kok. Andai Ratna yang ada diposisi Mama pun kemungkinan besar Ratna akan melakukan hal yang sama. Ratna tahu Mama melakukan semua ini bukan demi Mama pribadi. Ini semua demi putranya Mama, demi aku menantu Mama. Justru Ratna ingin minta maaf karena Ratna terlalu bodoh untuk menyadari kondisi Mama selama ini dan membiarkan Mama berjuang seorang diri," kata Ratna sudah lebih dulu menangis.
Mama juga ikut menangis. Bahkan Mama sempat berusaha berlutut dihadapan Ratna untuk memohon maaf. Tentu saja Ratna tidak akan menerimanya. Dia tidak segila itu. Dia selama ini sebenarnya curiga dengan alasan Mama terus mempertahankan Sindy. Jika ketika itu masalahnya soal anak, Ratna sudah memiliki Aksara tapi Mama masih memaksa Sindy untuk tetap dekat. Seandainya Ratna punya lebih banyak keberanian maka hal seperti ini tidak perlu terjadi.
"Mama tidur ya, istirahat. Biar aku yang tunggu Mas Tama pulang," kata Ratna.
"Nggak. Mama takut. Mama nggak berani tidur," kata Mama.
"Nggak Papa Ma, di depan ada om Bayu dan om Tri yang menjaga. Mama aman di sini. Mas Tama juga pasti sudah memperhitungkan semua yang mungkin akan terjadi," kata Ratna.
Malam itu Tama berakhir tidak pulang. Dia terus berusaha melacak keberadaan Sindy yang tidak diketahui di mana. Dari pernyataan Mama sih Sindy tinggal di daerah Kebayoran Lama dan ketika brimob meminta bantuan ke polres setempat, rumah yang ditempatinya sudah kosong. Di sana tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan bahkan tetangga banyak yang bilang jika gadis itu sudah lama tidak terlihat. Pencarian besar-besaran dilakukan, namun hari itu belum membuahkan hasil. Tim gabungan yang dibentuk untuk mengusut kasus ini belum menemui titik terang.
__ADS_1