Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
43. Kabar Dari Jauh


__ADS_3

Matahari belum menampakkan dirinya ketika Tama dengan perlahan membangunkan Ratna yang masih terlelap dalam tidurnya. Dengan penuh kasih sayang dia mengelus rambut Ratna dan memanggil namanya untuk mengajak bhayangkarinya sholat subuh bersama. Ratna langsung terbangun, dia kemudian lebih dulu melangkah ke kamar mandi untuk wudhu sedangkan Tama memilih untuk wudhu di keran dekat mesin cuci. Dalam sholat keduanya pagi ini durasinya lebih lama dibandingkan biasanya. Banyak doa dan harapan yang mereka ucapkan hari ini.


Mau bagaimana lagi, setiap kali suaminya akan pergi, hanya doa yang bisa mengiringinya. Ratna tidak akan mampu mengikutinya sebesar apapun keinginannya. Walaupun dia mampu dia tidak akan sanggup. Ratna hanya bisa membayangkan seberapa jauh suaminya akan pergi, seberapa lama dia akan bertugas dan seberat apa amanah yang diembannya.


Kalau Ratna ditanya dia akan jujur menjawab bahwa dia tidak bisa membayangkan akan semengerikan apa pekerjaan Tama ketika dia berhasil menjadi satuan elit Polri itu. Selain beban hatinya yang harus menatap punggung suaminya setiap kali dia menjalankan tugas berat, Ratna juga terbeban dengan kemungkinan-kemungkinan yang membuat hidupnya terancam. Sebenarnya bukan begini jalan hidup yang dia harapkan ketika muda dulu. Bukan seperti ini ekspektasinya berumah tangga tapi dia percaya apapun yang menjadi keputusannya, selama keputusan itu baik dia akan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah.


"Dek, kamu nangis?" tanya Tama.


"Nggak kok, nguap aku makanya matanya berair," kata Ratna.


Tama kemudian mendekatkan dirinya pada Ratna, sudah lama juga dia tidak memeluk istrinya. Sudah lama juga dia tidak merasakan ketenangan ketika mendekap istrinya. Akhir-akhir ini Tama terlalu larut dalam pikirannya sendiri, dia terlalu terbawa suasana. Dia takut, Ratna akan bertemu dengan Bagas dan Zahra yang merupakan mimpi buruknya selama ini. Dia takut apa yang dia takutkan akan terjadi. Apalagi dengan kata-kata Cece semalam. Kalimatnya terus berputar di telinga Tama memaksanya mengingat kejadian-kejadian tidak mengenakkan di masa lalu.


"Mas..., kamu pulang hari apa?" tanya Ratna.


"5 hari dari sekarang. Karena ini hari Kamis artinya aku akan pulang hari Selasa. Kenapa Dek?" tanya Tama balik.


"Nggak papa," kata Ratna kembali fokus pada sarapannya.


"Mas...," panggil Ratna setelah diam selama beberapa saat.


"Dek, yang bikin kamu gelisah apa? Bilang sama Mas," kata Tama yang mulai mengerti maksud Ratna.


"Aku takut," kata Ratna kali ini dia hanya bisa menunduk. Tidak berani dia menatap mata suaminya.


"Nggak usah takut Ratna, percaya sama Mas."


Ratna mengangguk. Tidak baik juga dia melepaskan suaminya dengan tangisan begini. Sebagai permintaan maaf, dia berinisiatif akan mengantar Tama sampai ke kantor jadi dia meminta suaminya menunggu dulu sebentar agar dia bisa bersiap pergi ke rumah sakit sekalian. Ratna mengantar Tama sampai ke gerbang markas, menyapa Yudha dan Arya yang sedang bertugas kemudian kembali fokus pada Tama.


"Mas hati-hati ya, jangan maksa. Kalau nggak bisa yaudah," kata Ratna.

__ADS_1


"Magic spell nya dulu dong," kata Tama.


"Kalau sakit bilang, kalau capek istirahat. Jangan maksa," kata Ratna bersamaan dengan Tama.


"Dah sana. Selamat bertugas perwiraku," kata Ratna mendorong Tama untuk segera masuk ke dalam.


Ratna mencium tangan Tama, kemudian Tama membalasnya dengan kecupan di kening. Tama lebih dulu melakukan penghormatan pada Ratna agar dia bisa lebih dulu pergi. Ratna kembali masuk ke dalam mobil dan pergi lebih dulu karena dia tahu jika dia tidak segera pergi Tama juga tidak akan segera masuk.


Baru Tama berjalan sampai di lobi, dia bertemu dengan Bagas yang diam di meja piket sambil melayangkan pandangan yang begitu mengintimidasi. Tama jelas tahu kenapa Bagas bisa begitu tidak menyukai senyum Tama pagi ini. Karena alasan Tama tersenyum adalah Ratna. Bagas tidak suka bukan karena dia menyukai Ratna, dia kenal saja tidak. Semua ini berhubungan dengan gadis bernama Zahra. Gadis yang akhirnya memisahkan Tama dengan Bagas sahabat baiknya ini. Tama tidak ingin berangkat dengan membawa beban, itulah kenapa dia akhirnya berjalan menyusul Bagas dan berniat untuk bertanya apa maunya. Apa yang harus Tama lakukan agar Bagas mau memaafkannya.


"Cewek tadi istri lo kan? Lo nggak perlu ngapa-ngapain. Cukup lihat gimana gue ngancurin hidup dia. Biar lo tahu sesakit apa rasanya lihat orang yang lo sayang terpuruk," kata Bagas.


Hanya dengan kalimat itu Tama langsung panik. Disaat dia tidak bisa berada di samping Ratna, dia malah mendapatkan ancaman. Untung Tama ingat jika Nesya bilang dia ingin menginap di rumah Tama. Tama langsung mencari Nesya untuk meminta bantuan kepadanya, membantu dia menjaga Ratna selama dia tidak berada di kesatrian. Tama tidak menyebutkan jelasnya bagaimana, dia hanya meminta Nesya menemani Ratna.


...***...


Ratna tengah melepaskan lelahnya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dia baru keluar dari ruang operasi 15 menit yang lalu. Setelah meneguk habis air putih yang hanya tersisa sedikit di dalam botol minumnya, dia meraih 3 buah buku tebal dari laci bawah meja kerjanya kemudian melipat jaket yang dia pakai pagi tadi kemudian dia letakkan diatas buku itu. Setelah selesai dengan persiapan tidurnya, Ratna meletakkan handphonenya tepat dihadapan wajahnya dan langsung memejamkan matanya. Dia mengantuk, lelah, dan tidak ada yang menyemangatinya hari ini makanya dia jadi loyo.


Mendekati jam makan malam, Ratna memesan satu set makan malam melalui layanan pesan antar. Ratna mengencangkan kembali ikatan rambutnya baru dia kembali fokus pada pekerjaannya. Ketika tangannya mulai menari di atas keyboard, lagi-lagi handphonenya kembali berdering. Untuk yang satu ini Ratna terdiam. Untuk apa Jay temannya telpon dia. Dari 3 orang sahabatnya hanya orang ini yang tidak pernah menghubunginya setelah dia pindah ke Kalimantan. Padahal Ratna paling sering hangout dengannya semasa kuliah dulu.


"Halo Jay, ada apa kok tumben kamu telp....,"


"Radea meninggal dunia Rat," kata Jay bahkan sebelum Ratna menyelesaikan kalimatnya.


"Huh? Radea? Kok bisa?"


"Kecelakaan sore tadi. Dia meninggal di tempat," kata Jay dengan suara yang semakin lirih.


"Theo? Theo gimana sekarang?" tanya Ratna.

__ADS_1


"Theo nggak bisa ditenangin itulah kenapa aku telpon kamu. Cuma kamu yang bisa bikin dia tenang lagi. Aku sama Dipta udah nggak sanggup," katanya.


"Yaudah mana Theo sekarang?" Ratna kembali bertanya sambil menahan tangisannya karena dia jelas mendengar teriakan Theo dari seberang.


Atheo dan Radea, dulu mereka berdua terkenal sekali di fakultas kedokteran. Siapa sih yang tidak kenal Atheo si ketua BEM Fakultas? Dia cukup terkenal bahkan sampai di luar fakultas juga karena Theo itu vokal sekali dulu membahas soal isu-isu sosial yang terjadi. Dan Radea itu adalah sosok ibu negaranya. Walaupun Radea tidak ikut organisasi apapun. Ratna dulu pernah bilang Dea itu aneh. Dia anak kedokteran tapi ikut dalam komunitas kepenulisannya anak sastra. Tapi tidak dipungkiri, Ratna pernah dibuat menangis hingga galau berhari-hari karena novel karangan Dea. Dia cukup berbakat di bidang sastra tapi juga prestatif dalam kuliahnya.


Dari tahun ketahun Radea, Dipta, Ratna, Theo dan Jay terkenal sekali sebagai top 5 di fakultas kedokteran berkat nilai-nilai mereka yang luar biasa hebat. Tidak sempurna sih, tapi banyak yang gagal menggeser 5 nama itu dari jajaran ranking tertinggi. Ketika lulus, hanya Ratna yang berpisah tapi Ratna tidak pernah melupakan sahabat-sahabatnya itu. Apalagi Dea dan Ela yang sudah menikah dengan Dipta. Ratna bahkan masih menyempatkan diri datang ke pesta pernikahan Dea dan Theo 4 tahun lalu.


"Theo...," panggil Ratna yang sudah tidak sanggup menahan air matanya.


"Atheo Erlambang kamu denger suaraku nggak?" tanya Ratna lagi karena Theo tidak kunjung memberikan respon.


"Ratna...?"


"Ratna..., Dipta sama Jay jahat banget sama gue. Mereka bohong sama gue. Mereka bilang istri gue udah nggak ada Rat. Lo harus marahin mereka sekarang, cuma lo yang bisa bikin mereka berdua diem. Nggak mungkin Dea ninggalin gue Ratna. Dia itu sayang banget sama gue, gue juga sayang sama dia. Kita udah janji akan jagain Tio sampai dia gede. Baru minggu lalu dia kasih hasil tespack dia garis dua ke gue. Dea hamil anak kedua kita Ratna, kita lagi bahagia banget. Masa dia malah pergi ninggalin gue sih Rat, itu nggak mungkin," racau Theo.


"Theo please, jangan kaya gini dong. Gue jauh dari sana. Lo jangan bikin gue tambah sedih dong," kata Ratna yang sudah menangis.


Beberapa lama Ratna mencoba menenangkan Theo, Jay bilang dia sudah lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Ratna yang baru saja mematikan sambungan telepon menatap kosong pada log panggilannya. Ada nama suaminya di sana. Ratna sebenarnya ingin sekali terbang langsung sekarang juga. Dia ingin meminta izin pada Tama untuk pergi tapi suaminya malah tidak membalas satupun pesannya. Telponnya juga tidak diangkat.


Ratna seakan kehilangan harapan saat ini juga. Dia tidak senekat itu untuk langsung pergi tanpa mendapatkan izin dari suaminya tapi di saat seperti ini Tama malah tidak membalas teleponnya. Bahkan pesan-pesan yang Ratna kirimkan tidak satupun dia baca. Terakhir kali Tama memberi kabar padanya hanya sore tadi. Pesan singkat yang meminta Ratna untuk hati-hati. Walaupun Ratna tidak tahu apa maksud sebenarnya dibalik pesan itu. Rasanya tidak seperti biasanya.


Ketika dia tengah berjalan untuk pulang, Ratna yang setengah melamun tidak sengaja menabrak seseorang. Dia menabrak Rangga. Dia masih ingat laki-laki ini. Dia adalah suaminya Zahra. Ratna jadi ingat, hari ini adalah jadwalnya Zahra terapi jadi wajar saja jika suaminya ada di sana.


"Duh maaf, saya tidak sengaja, maaf," kata Ratna tanpa mampu menegakkan kepalanya. Rasanya berat sekali kepalanya ini.


"Adiratna. Kau istrinya Pratama Aji, kan?" tanya Rangga.


"Ya benar. Saya istrinya Pak Aji. Apakah anda mengenal suami saya?"

__ADS_1


"Tentu saja. Bagaimana mungkin saya tidak mengenal laki-laki brengsek itu," katanya membuat Ratna kaget bukan main.


__ADS_2