
Ratna pagi itu cukup sibuk mondar mandir. Beberapa waktu lalu dia diberi kabar kalau Bapak sakit dan membutuhkan operasi untuk bisa sembuh. Bapak juga akhirnya diboyong ke Jogja oleh Ratna dan dia rawat sendiri. Kemarin Ratna dan Tama sudah membersihkan kamar sebelah. Beruntungnya rumah mereka sudah selesai diperbaiki dan sudah ditempati oleh Tama dan Ratna sejak seminggu lalu. Setidaknya rumah masih bersih dan rapi. Ratna hanya perlu menata tempat agar Bapak bisa beristirahat dengan nyaman selama menjalani pengobatan di Jogja.
"Beneran nggak mau Mas anter?" tanya Tama melalui sambungan telepon.
"Beneran Mas, katanya kamu juga mau ke Kaliurang ngurus latgab," jawab Ratna.
"Tapi kamu cuma naik motor. Sini ke kantor tukeran mobil," bujuk Tama lagi.
"Nggak usah Mas, nggak keburu kalau tukeran dulu. Nanti aku jam 11 masuk ruang operasi. Aku cuma mau nuker tabung oksigen aja sama beli tensimeter. Nggak bawa sendiri kok, aku minta tolong dikirim langsung ke rumah," kata Ratna.
"Yaudah deh, hati-hati ya Bunda."
"Iya ayah," jawab Ratna sebelum menutup panggilan karena dia sudah sampai di tempat parkir.
Ratna menuju ke tempat yang ditujunya dengan laju kendaraan sedang. Dia masih sempat bersenandung padahal kondisi jalanan teramat macet pagi ini. Ditambah lagi kondisi mendung membuat para pengendara terkesan buru-buru untuk sampai ke tempat tujuan sebelum hujan.
"Silahkan, ada yang bisa saya bantu?" sapa si petugas yang jaga.
Ratna langsung saja menyebutkan semua yang butuh dia beli. Setelah selesai memilih dan memastikan alamatnya dengan benar, Ratna mengeluarkan dompetnya untuk menarik kartu debit guna menyelesaikan transaksi. Ratna sedang menunggu nota belanjanya selesai dicetak ketika dia mendengar keributan dari arah luar. Ratna berusaha menahan rasa penasarannya dan beharap bisa segera pergi, tapi rupanya dia sudah terjebak ditengah-tengah kerusuhan. Satpam toko bahkan melarangnya untuk keluar karena masa mulai tidak terkendali dan sedang berusaha ditenangkan oleh polisi yang baru saja datang.
Ratna masih berusaha sabar menunggu kondisi terkendali, tapi bukannya mereda masa semakin banyak datang dan beberapa dia lihat sudah menggenggam benda tumpul dan saling lempar. Toko tempat Ratna berada saja kacanya sudah pecah.
__ADS_1
Tak lama kemudian dia melihat Baraccuda milik Brimob datang. Ratna semakin merasa was-was. Kalau sampai Brimob turun tangan begini, artinya kerusuhan di luar bukan hanya sembarang kerusuhan. Nyatanya memang benar-benar serius. Bahkan motor Vario yang Ratna parkir di depan toko ikut ringsek tergeletak tak berdaya karena menjadi korban dari kemarahan banyak orang. Tak lama kemudian, Ratna mendapatkan telpon dari Dipta yang mulai mencari keberadaannya. Sudah hampir jam 11 dan dia masih berada di sini terjebak entah sampai kapan.
"Rat, lo di mana itu?"
"Lihat berita makanya. Gue kejebak di tengah kerusuhan nih. Bentar gue lagi berusaha keluar," kata Ratna.
"Segera Rat. Lo bisa kan minta tolong polisi untuk kawal lo keluar dengan selamat? Pasien butuh lo di sini," jawab Dipta.
"Back up dulu. Gue susul langsung ke kamar operasi," kata Ratna langsung mematikan telpon.
"Pak, maaf saya harus keluar dari sini segera," kata Ratna pada seorang polisi yang berjaga di dekatnya.
"Maaf Bu, kondisinya belum aman di luar. Kalau Ibu keluar sekarang bahaya," katanya.
"Bu Aji? Astaga Ibu, kok ada di sini?" tanya Bayu yang ternyata ada di dekat mereka.
"Mas Bayu, bisa saya minta tolong diantar keluar? Siapa saja, asal saya bisa kembali ke rumah sakit sekarang. Saya ada pasien," kata Ratna pada Bayu yang dia kenal sebagai bawahan Tama.
"Waduh, sebentar Bu saya harus izin komandan Aji dulu. Kalau ada apa-apa sama Ibu bagaimana? Bisa dipecut saya nanti," kata Bayu.
"Saya yang tanggung jawab. Kamu aman. Kalau sampai komandanmu itu berani hukum kamu saya hukum balik dia," kata Ratna membuat Bayu yang tadinya ragu mulai pasang ancang-ancang untuk membawa Ratna keluar.
__ADS_1
Dengan bantuan beberapa polisi yang berjaga akhirnya Ratna berhasil keluar dari lokasi dengan selamat dan sedang menuju ke rumah sakit diantar sebuah mobil patroli. Tadinya Ratna mau memesan ojek online saja, tapi rupanya yang sedang rusuh adalah para driver ojek online makanya Bayu melarang istri komandannya itu naik ojek online dan memilih mengantarnya dengan sebuah mobil.
"Terima kasih Mas Bayu, selamat bertugas," pamit Ratna yang langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit begitu mobil yang mengantarnya sampai di pelataran.
Ratna berlari menuju ke ruangannya untuk lebih dulu berganti pakaian barulah menuju ke ruang operasi. 5 menit lalu Dipta kembali memberi kabar kalau pasien sudah masuk ke kamar dan siap dibius. Sesampainya Ratna di sana, tepat ketika pasien siap. Setelah memastikan kondisi pasien baik-baik saja dan mempelajari hasil CT terbaru, dia langsung meminta pisau bedah dan mulai menjalankan tugasnya. 3 jam berkutat dengan pekerjaannya Ratna akhirnya bisa beristirahat walau tidak sepenuhnya. Selama 2 jam kedepan dia masih harus memantau perkembangan pasien yang baru saja dibedah olehnya.
...***...
Tama sore itu baru saja kembali ke kantor setelah mendengar berita tentang kerusuhan yang terjadi. Dia masih biasa saja awalnya. Ketika anggota banyak yang sedang beristirahat di lapangan setelah selesai bertugas, dia masih sempat menyapa dengan senyum dan ucapan selamat karena sudah menyelesaikannya dengan baik tapi ketika dia melihat satu buah motor yang ringsek di sebelah mobil dinas yang terparkir di sebelah lapangan senyum di wajahnya langsung hilang.
"Anu Ndan izin lapor. Itu motor Ibu tapi Ibu selamat tanpa luka satupun. Sekarang sudah aman di rumah sakit. Eh..., maksud saya di rumah sakit kerja, bukan jadi pasien," kata Bayu dengan sedikit terbata.
"Ya Allah, kok bisa kaya gini? Ibu jadi korban?" tanya Tama.
"Iya Ndan, waktu kerusuhan dimulai pas Ibu masih di toko alat kesehatan tadi. Tapi Komandan Aji jangan khawatir, Ibu baik-baik saja, saya sendiri yang mengantar Ibu sampai ke rumah sakit," kata Bayu lagi.
"Ya sudah terima kasih ya," kata Tama yang kemudian mengeluarkan handphone dari dalam sakunya.
"Tadi Ibu bilang ada pasien darurat, maaf Ndan kalau Ibu tidak mengangkat barang kali sedang sibuk," kata bayu.
"Diangkat nih," kata Tama sudah kembali tersenyum.
__ADS_1
Tama hanya ingin memastikan jika Ratna baik-baik saja. Setelah itu dia mematikan telpon dan kembali bertugas, "Bay, ini motor Ibu tolong kamu bawakan ke bengkel ya barang kali masih bisa diperbaiki. Kalau tidak yasudah," kata Tama sebelum berlalu pergi.
"Siap. Laksanakan Komandan," jawab Bayu.