
Malam ini Ratna heboh menyiapkan ini dan itu. Menyetrika pakaian Tama, menyiapkan alat mandi dan lain sebagainya. Besok pagi Tama akan diberangkatkan untuk mengikuti seleksi akhir Densus di Mabes selama seminggu. Berpisah lagi Ratna dengan suaminya. Tadinya Ratna berpikir untuk keluar dari pekerjaannya saja dan mulai menyiapkan untuk pindah tugas. Dia sudah yakin sekali kalau Tama akan diterima. Tapi Tama malah melarangnya, dia bilang dia tidak yakin. Walaupun sebenarnya dia memiliki kemampuan yang mumpuni, tapi entahlah sepertinya ada sesuatu yang tidak Tama ceritakan kepada Ratna.
Tama sedang menyiapkan segala adiministrasi juga berpamitan kepada komandan serta rekan-rekannya. Dia tengah menemui Pak Slamet, Pak Leo, dan Nesya. Mereka sedang makan malam bersama sebelum mengantarkan Tama untuk berangkat besok pagi.
"Bang, selama Bang Aji pergi aku boleh nggak nginep di rumah Abang?" tanya Nesya.
"Mau ngapain kamu?"
"Cuma mau ngobrol sama Mbak Ratna kok, nggak akan aneh-aneh Bang dibilang aku tuh nggak doyan modelan kaya Abang," kata Nesya.
"Mau ngobrolin apa sih? Akhir-akhir ini kamu sering banget ngajak istriku ketemuan kayanya," kata Tama penasaran.
"Sudahlah Ji, biarkan Nesya nemui istrimu. Dia kan lagi panik karena mau nikah. Kudengar dia dilamar sama Yudha dan lamarannya langsung diterima sama orang tua Nesya tanpa basa basi," kata Pak Leo.
"Ya? Heh kok nggak ada yang cerita sama aku?" protes Tama.
"Mbak Ratna nggak cerita emangnya?"
"Nggak. Ya cerita aja kamu sering ngajakin dia ketemu tapi kan dia nggak cerita kalian ngobrolin apa. Itu privasi kalian aku nggak akan tanya-tanya," kata Tama.
__ADS_1
"Sya, aku mau tanya sekali lagi sama kamu. Kenapa kamu yang notabene selalu nempel sama cowok se gentle Aji malah suka sama orang lain, juniormu pula," kata Pak Leo.
"Pak Leo masih aja nyomblangin aku sama Bang Aji. Nggak Pak, makasih. Saya nggak cukup baik buat mendampingi laki-laki sehebat Bang Aji. Cuma Mbak Ratna yang bisa. Lagian kalau nggak jodoh mau dipaksa kaya apa juga nggak akan jadi Pak. Saya itu jodohnya Yudha, sudah yakin insyaallah," kata Nesya.
"Pintar kamu," jawab Tama sambil high five dengan Nesya.
Tama dan Nesya memang akrab dan Ratna tidak pernah mempermasalahkan itu. Karena Ratna tahu Tama masih menjaga batasannya. Dia dan Nesya juga dengan tegas mengatakan jika hubungan mereka tidak lebih dari seorang kolega. Toh Nesya itu memang sudah mengekor Tama kemana-mana sejak hari pertama anak ini masuk ke Brimob bersama 8 orang teman satu angkatannya. Buat Tama yang anak tunggal, mengenal Nesya rasanya seperti memiliki seorang adik. Apa lagi gadis ini selalu menuruti apapun perkataan Tama. Jadi wajar jika Pak Leo sampai berharap jika Tama yang akan berakhir meminang Nesya. Lagi pula keduanya memang kompak baik dalam hal pekerjaan atau obrolan lainnya.
Walaupun mereka hanya makan malam diruang kerja Aji, tapi sudah serasa seperti di restoran. Hasil kerja Ratna ini semua, dia yang memasak sejak kemarin. Akibat tragedi pohon mangga Ratna yang runtuh dan panen mangga muda mendadak itu. Bu Rosa yang lagi ngidam kepingin mangga muda akhirnya menelepon Tama untuk meminta sedikit kalau boleh. Eh taunya malah diajak barter. Bu Rosa pernah cerita di rumah orang tuanya ada banyak pohon nangka dan Ratna mintalah nangka mudanya untuk dia buat Gudeg yang saat ini tersaji di hadapan Tama dan koleganya.
"Ternyata Gudeg yang citarasa asli Jogja ki beda sama yang suka di jual di sini ya," puji Pak Leo.
"Berapa lama masaknya ini bisa sampe coklat kedalem-dalem gini sih? Wah baru ini aku ngerasain masakan seenak ini," kali ini Pak Slamet.
"Nah ini lho Bang alasanku mau nginep ditempatmu itu. Mau belajar masak aku sama Mbak Ratna. Mumpung Bang Aji nggak di rumah kan seminggu," kata Nesya.
"Terserah. Tapi jangan ngerepotin istriku kamu," kata Tama.
"Iya tenang. Aman terkendali."
__ADS_1
"Heran aku sama istrimu itu, coba saja dia mau buka rumah makan sudah kaya raya dia. Masakannya enak begini. Buat apa pula dia susah payah jadi dokter, gajinya besar sih tapi untuk sekolah dan penelitian habisnya banyak juga," kata Pak Leo.
"Dia masak cuma hobi sih Pak, jangankan Pak Leo orang saya aja udah hampir setiap saat tanya kenapa dia malah milih kedokteran ketimbang kuliner," jawab Tama.
Ketika mereka sedang asik bercanda, tiba-tiba masuk sebuah telepon dari kawan lamanya. Namanya Cakka Candra atau yang akrab dipanggil Cece. Dia adalah sahabat Tama sejak masih SMA. Sama-sama mengadu nasib di Akpol walaupun setelah lulus mereka berpisah jauh sampai sekarang tapi keduanya masih tetap menjaga tali persahabatan.
"Tumben lo telpon. Masih inget sama gue?" sindir Tama yang kini melipir untuk menerima telpon dari sahabatnya itu.
"Wah belagu lo sekarang. Yang setiap di chat bilang sorry sibuk tuh saha?"
"Ya sorry sih. Ada apa lo telpon, nggak mungkin cuma mau nanya kabar kan?"
"Gue denger Bagas dipindah ke tempat lo. Udah ketemu lo sama anaknya?" tanya Cece dengan nada yang sedikit lebih serius.
"Udah banget. Bukan cuma dipindah ke tempat gue. Dia sekarang satu divisi sama gue. Gue masih heran kenapa dia bisa pindah ke sini sih? Setau gue dia udah nyaman kerja di Polres Banjar. Dan lagi, pangkatnya IPTU Ce, seharusnya paling nggak dia udah AKP sekarang," kata Tama.
"Nah itu dia yang gue mau bilang sama lo. Bagas sekarang udah berubah Ji, dia terkenal kasar dan seenaknya sendiri. Rendi bilang sama gue alasan dia akhirnya pindah ke tempat lo dengan pangkat yang turun tingkat itu karena dia diduga terima suap di tempat lamanya. Dia bisa pindah ke tempat lo karena posisinya kosong. Gue pikir dia akan dipecat tapi nyatanya orang dalem bikin dia bertahan dan ada sama lo sekarang. Gue cuma mau bilang hati-hati Ji."
"Di bawah pengawasanku dia nggak akan aneh-aneh. Gue pastiin dia balik jadi Bagas yang dulu kita kenal."
__ADS_1
"Nggak bisa."
"Zahra masih sama dia Ji. Gue nggak tahu pasti gimana tapi gue berspekulasi kalau dia jadi gila karena kondisi Zahra," kata Cece membuat Tama diam beribu bahasa. Kenapa dari sekian nama yang dia takuti harus nama itu yang di sebut. Nama yang menjadi mimpi buruknya di masa lalu yang bahkan masih sering membayanginya hingga saat ini.