Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
115. Tuduhan Tidak Benar


__ADS_3

Malamnya Lilis dipindahkan ke rumah sakit Bhayangkara. Ratna terus mendampingi Bang Chandra dan Lilis. Dia juga memastikan sendiri ambulance yang membawanya sudah berangkat. Ratna segera melangkah masuk ke dalam rumah sakit kembali karena dia lelah jika harus tarik urat dengan wartawan lagi seperti siang tadi. Ratna hanya duduk diam di ruang dokter, bahkan makan malam saja di sana. Dia tidak berani keluar.


Dia akui para wartawan itu cukup gigih mencari berita. Tidak sedikit yang rela menerobos penjagaan dengan berbagai cara hanya demi mendapatkan informasi. Bahkan beberapa kali satpam terlihat mengusirnya dari dalam lorong bangsal.


"Wartawan sekarang kok gitu sih heran," kata Theo mengeluh pada Ratna.


"Bukan wartawan resmi kali itu. Kalau dia resmi, ada surat izin meliputnya pasti akan tenang diam menunggu kabar dari brimob. Lagian kan dari pihak kepolisian sudah mengadakan press conference. Biasanya oknum-oknum dari media yang entah jelas entah tidak. Sepupuku ada yang wartawan juga tidak begitu. Padahal hanya wartawan koran ibaratnya bukan wartawan tv besar tapi kelakuannya yang tidak begitu," kata Ratna.


"Gitu tuh orang-orang yang mencoreng nama baik profesi ya yang begitu," kata Theo.


"Lo nggak pulang aja biar tenang?" tanya Dipta.


"Emang udah jam berapa sih?" tanya Ratna akhirnya melihat ke arah jam tangannya.


"Udah habis Isya Rat, anak lo di rumah sama siapa?" tanya Theo.


"Astaghfirullah, duh mikir apa gue. Balik ya. Samlekom," kata Ratna langsung ngibrit pergi.


"Waalaikumsalam."


Ratna berjalan menuju ke tempat parkir. Dia mengambil motornya dan segera memakai helm. Tidak disangka, orang yang tadi siang menerobos masuk IGD dan memaksa Ratna menjawab datang lagi. Dia mendekati Ratna dan masih menanyakan hal yang sama seperti siang tadi. Dia bahkan mulai menyebut pertanyaan-pertanyaan yang menurut Ratna tidak perlu dia tanyakan. Untuk apa dia menanyakan hubungannya dengan Bayu? Hanya karena Ratna bisa memanggil Bayu dengan panggilan yang cukup akrab dan Bayu menuruti perintah Ratna dia langsung menanyakan hal-hal yang menurut Ratna bersifat privat.


"Bapak ini sebenarnya wartawan betulan atau bukan sih?" tanya Ratna yang mulai emosi.


"Kok Ibu malah nyolot sama saya?"


"Pak, yang namanya wartawan itu punya etika-etikanya. Media bebas, informasi tersebar dimana-mana. Tapi tetap ada batas-batas pribadi yang tidak boleh dilanggar," kata Ratna.


"Kok Ibu menggurui saya? Ibu ini jangan-jangan simpanan polisi ya? Ibu simpanannya Bapak Bayu ya?" tanyanya dengan tidak hormatnya.

__ADS_1


"Apa? Astaghfirullahaladzim. Bapak, saya ini seorang bhayangkari Pak, punya kartu anggota aktif. Jangan asal bicara saja Bapak," kata Ratna.


Ratna sudah tidak mau mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan padanya. Mulai ngawur dan keluar dari apa yang sedang terjadi. Ini sih namanya bukan dia mau mengusut kasus pengeboman itu tapi dia ingin mencari kesalahan Ratna.


Ratna melepaskan kembali helmnya kemudian berusaha menghubungi keamanan. Wartawan itu sempat diamankan oleh pak satpam dan Ratna dengan segera melaju untuk pulang. Dia tidak mau berlama-lama di lokasi kejadian yang akan membuatnya semakin emosi dan bisa saja kelepasan. Jujur emosinya sedang tidak terkendali. Moodnya sedang berantakan dan hal-hal yang dia alami hari ini jelas membuatnya naik pitam.


...***...


Ketika sampai di rumah, dia melihat Aksa sedang berjoget di depan tv dengan cerianya. Di sampingnya ada Uli yang sedang menyuapinya makan dengan sayur sop. Begitu melihat Bunda, Aksa langsung menghentikan tariannya dan berjalan mendekati Bunda. Ratna tersenyum sambil merentangkan tangannya meminta Aksa untuk memeluknya.


"Bunda sedih?" tanya Aksa.


Memang. Tapi bagaimana anak ini tahu jika Bundanya sedang sedih?


"Nggak kok, Bunda nggak sedih," kata Ratna sambil mengelus ujung kepala Aksa.


"Bunda bohong. Bunda sedih," kata Aksa lagi. Kali ini raut wajahnya seperti sedang marah.


"Iya maaf ya sayang, Bunda kan nggak mau Aksa sedih juga. bunda nggak bohong kok," kata Ratna menyerah. Dia memang tidak pernah bisa membohongi anak ini bahkan sejak masih dalam perutnya anak ini sudah begitu perasa. Kalau ada apa-apa dengan Ayah Bundanya dia pasti jadi yang pertama tahu.


"Aksa lagi apa sih? Kok kayanya happy banget?" tanya Ratna mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aksa makan Bunda, pake sayur sop," katanya.


"Pinternya anak Bunda. Dilanjut sana, Bunda mandi dulu ya," kata Ratna.


"Iya Bunda," kata Aksa.


"Bu, tadi katanya ada pengeboman di markas terus Bu Lilis terluka ya? Bu Lilis nggak papa kan Bu? Nggak ada korban lain lagi kan Bu? Kondisi sudah aman kan Bu?" tanya Uli.

__ADS_1


"Satu-satu tanyanya," kata Ratna.


"Kondisi sudah aman, Lilis juga baik-baik saja tadi dibawa ke rumah sakit bhayangkara," jelas Ratna.


"Alhamdulillah..., Tadi Bang Bayu kasih kabar kalau malam ini nggak pulang. Apa Bapak juga nggak pulang Bu?" tanya Uli.


"Sepertinya nggak pulang juga. Kamu nginep sini saja ya, Li. Di luar lagi bahaya, kamu cewek sendirian lagi," kata Ratna.


"Saya juga sudah mau minta izin mau nginep Bu, saya lagi parnoan banget nggak tahu kenapa."


"Bawaan bayi kali, kamu lagi hamil kan?"


"Apa iya Bu?"


"Tuh kan, kita nakes padahal tapi kenapa ketika hamil sendiri malah serba bingung kan. Aku juga gitu waktu hamil Aksa," kata Ratna.


"Hahaha iya juga ya Bu, kaya ilmunya bertahun-tahun tuh nggak kepake semua," jawab Uli sambil tertawa.


Untung malam ini Uli menginap jadi Ratna tidak perlu khawatir lagi. Karena jujur saja dia sedang tidak tenang sekarang. Kejadian yang terjadi di markas hari ini seakan seperti undangan berperang. Dalam hatinya dia terus berharap tidak akan terjadi lagi hal yang serupa. Dari rumahnya saja bisa terdengar deru mobil patroli yang terus berkeliling kota untuk berjaga. Suasananya jadi cukup mencekam ditambah lagi dengan langit mendung yang mulai menurunkan hujan.


"Mas lagi dimana?" tanya Ratna ketika suaminya telepon.


"Mas lagi patroli Dek, kamu jangan lupa kunci semua pintu terus nggak usah keluar-keluar. Di dalam saja jangan kemana-mana. Uli ada di situ juga kan?"


"Iya Mas aku minta nginep. Habis bahaya kalau dia pulang sendirian, pakai motor pula."


"Mas, tadi ada wartawan yang deketin aku dan nuduh aneh-aneh," curhat Ratna.


"Nuduh gimana?" tanya Tama.

__ADS_1


Baru Ratna akan cerita, Tama langsung memotong pembicaraan. Dia mematikan telepon setelah seseorang memanggilnya. Sepertinya ada sesuatu entah mereka menemukan seseorang yang mencurigakan atau apa. Ratna mengurungkan niatnya untuk curhat. Dia kemudian mengecek semua jendela dan pintu juga mengecek apakah gerbang sudah dia gembok selanjutnya dia masuk dan meminta Aksa dan Uli untuk tidur bersamanya.


__ADS_2