
Sore ini Uli datang ke rumah Ratna karena Ratna bilang dia butuh bantuannya untuk belanja keperluan yang harus mereka bawa besok pagi. Mereka akan berangkat selepas subuh jadi hari ini Ratna menyiapkan perbekalan untuk mereka bawa. Setidaknya cemilan, susu, dan bubur untuk Aksa biar dia tidak rewel selama perjalanan. Ratna juga kan butuh terus makan jadi dia memasak beberapa makanan untuk bekal mereka.
"Ini sudah semua Bu?" tanya Uli.
"Coba kamu bantu cek apa yang kurang, kok kaya masih ada yang ngganjel gitu," kata Ratna mengecek isi trolinya.
"Bu nggak beli tisu basah apa karena di rumah masih ada?" tanya Uli menyadari jika Ratna tidak membelinya.
"Oiya, apa lagi?"
"Kayanya sudah Bu," jawab Uli kemudian keduanya membawa belanjaan ke kasir.
Mendung sudah mulai berubah menjadi hujan gerimis ketika Uli dan Ratna melangkah keluar dari supermarket. Untung Ratna mengikuti saran Tama untuk memakai mobil jadi mereka tidak perlu kerepotan karena Ratna bukan hanya belanja di satu tempat. Dia juga membeli beberapa dus bakpia dan gudeg sebagai oleh-oleh untuk kerabat Tama di sana.
"Uli, boleh tanya sesuatu?" tanya Ratna.
"Apa Bu?"
"Kamu apa sudah punya pacar?" tanya Ratna.
"Saya nggak doyan pacaran Bu. Saya ini kan anak satu-satunya di keluarga. Bapak sudah nggak kerja karena sakit, Ibu juga cuma jualan kue di pasar, penghasilannya nggak seberapa. Saya tertuntut untuk jadi tulang punggung Bu, makanya saya nggak mau pacaran karena menurut saya pacaran itu buang-buang waktu," kata Ratna.
"Tapi kalau ada yang mau dekat sama kamu gimana?" tanya Ratna lagi.
"Kalau niatnya baik sih saya open Bu, cuma kalau untuk main-main saja saya lebih baik nggak kenal," kata Uli lagi.
"Memangnya ada apa Bu kok tiba-tiba tanya?" tanya Uli.
"Kamu tahu nggak ajudan Bapak yang namanya Bayu? Seingatku kamu sudah pernah kenalan sama orangnya," kata Ratna.
__ADS_1
"Oh Bang Bayu ya? Iya yang waktu jemput Bapak kemarin main sama Aksa kan Bu?"
"Iya. Dia bilang mau kenalan sama kamu lebih jauh. Kamu mau nggak?" tanya Ratna.
"Ibu lagi jodohin saya?"
"Bukan jodohin Uli, kan saya bilang kenalan. Perkara nanti kalian jadi saudara atau jadi pasangan itu terserah kalian asal nggak jadi musuh saja. Di coba dulu, dia orangnya baik kok. Orang kepercayaan Bapak yang insyaallah nggak akan main-main sama kamu. Kalau dia berani main-main bilang sama saya biar saya yang tegur dia langsung," kata Ratna.
"Gimana?" tanya Ratna karena beberapa saat Uli tidak menjawab permintaannya.
"Boleh deh Bu, kalau Ibu sudah bilang begitu saya percaya sama Ibu," katanya dengan wajah tersipu.
...***...
Bukan hanya Uli yang menyetujuinya. Bayu bahkan berterima kasih karena komandannya ini mau membantu dia dekat dengan sang pujaan hati. Bayu itu belum pernah jatuh cinta. Walaupun sejak sekolah dia tenar di kalangan teman-teman perempuan, tapi tidak satupun bisa memenangkan hatinya. Ada sih satu, tapi gadis itu jangankan membalas, dia bahkan tidak menganggap Bayu ada. Gadis itu lebih memilih orang lain dan dari kabar yang Bayu dengar dia sudah menikah dan ikut tinggal dengan suaminya di Batam.
Uli mungkin baru bertemu dengan Bayu sekali. Tapi entah mendapat dorongan dari mana dia terus memandangi gadis itu. Ketika melihat Uli menggendong putra komandannya itu membuat hati Bayu seperti tanah gersang yang kejatuhan air hujan. Begitu berkenalan dan mendengar suaranya, tanah gersang itu mulai menumbuhkan bunga hingga akhirnya Bayu memutuskan untuk mengiyakan tawaran komandan Aji. Walaupun dia harus mau menjadi driver komandannya selama seminggu dia tidak masalah asal dia bisa diberi kesempatan kenal lebih jauh dengan gadis yang sudah mencuri hatinya.
Bayu sudah mengemasi bawaannya. Cukup beberapa potong pakaian handuk, sikat gigi, odol, sabun, beberapa sachet shampo dan pisau cukur agar dia bisa tetap terlihat rapi. Dia memasukkannya dalam ransel berukuran sedang kemudian dengan motor Supra merah andalannya dia berangkat ke rumah komandan.
"Mau balik Bay?" tanya Tri.
"Kagak. Gue ikut komandan Aji ke Jakarta," jawab Bayu sambil berkaca di depan cermin.
"Gila lo memanfaatkan libur berharga lo cuma buat ikut komandan? Kok komandan tega ngajak elo sih?" tanya Tri.
"Lumayan jadi driver seminggu, kali aja dapet rejeki tambahan. Lagian gue gabut juga," kata Bayu.
Begitu Bayu sampai di rumah komandan Aji, dia langsung diminta memasukkan motor ke dalam rumah dan membantu komandannya manasi mobil. Bayu juga mengecek kondisi mesin dan ban mobilnya. Memastikan mobil komandannya aman dipakai perjalanan jauh.
__ADS_1
"Om Bayu, bantu buka bagasinya dong," kata Ratna yang keluar menenteng 2 buah tas besar yang sepertinya berisi keperluannya sekeluarga.
Setelah Bu Aji, Bayu melihat kini Uli yang keluar. Dia meletakkan tasnya ke bagasi kemudian membuka pintu belakang meletakkan satu ransel berwarna biru berisi keperluan Aksara. Dia juga meletakkan satu kantung berisi air minum dan makanan ringan.
"Ayah, di cek lagi barangmu ada yang tertinggal nggak?" tanya Ratna pada suaminya.
"Nggak ada. Nih Bunda titip handphone sama dompet Ayah. Masukin dalam tasmu, muat kan?" tanya Tama.
"Yasudah yuk berangkat. Aksara mau sama Ayah apa sama Bunda?" tanya Ratna.
"Yah...," kata Aksa merentangkan kedua tangannya ke arah sang ayah.
"Yuk, sama Ayah duduk depan ya," kata Tama.
Dia menggendong Aksa dengan tangan kiri, kemudian tangan kanan dia membawa satu buah bantal dan selimut untuk Aksara. Ratna yang paling terakhir keluar dari rumah. Setelah memastikan semua keperluan terbawa, dan rumah dia tinggalkan dalam kondisi aman. Ratna melepaskan selang gas dan semua stop kontak yang masih menancap. Ratna memeriksa setiap sudut rumahnya. Setelah selesai dia menyalakan lampu teras kemudian mengunci rumahnya juga gerbangnya.
Mobil merah itu perlahan berjalan keluar dari gang menuju ke ring road. Bayu yang menyetir sedang di sebelahnya duduklah Tama dan Aksara. Di bangku belakang ada Uli dan Ratna. Tama membaca doa dengan bersuara agar putranya itu bisa belajar berdoa juga. Dia menengadahkan tangan kecil Aksa kemudian mengusapkannya pada wajah Aksa ketika selesai berdoa.
"Om Bayu kalau capek, laper, atau apa bilang saja nggak usah malu-malu ya," kata Ratna.
"Siap Bu," kata Bayu.
"Nggak usah ngebut-ngebut Bay, santai aja jalannya. Kan niat jalan-jalan ini kitanya," tambah Tama.
"Siap komandan," kata Bayu kali ini pada Tama.
"Om Yu...," kata Aksa menepuk lengan Om Bayu dengan kedua tangannya.
"Iya Sa, Om Bayu pelan-pelan kok. Biar Aksa bisa selamat sampai ke rumah nenek," kata Bayu membuat Aksa bertepuk tangan.
__ADS_1