
Karena author sedang bahagia, author double up hehe
Have fun semuanya, terima kasih untuk yang sudah mendukung author hingga sejauh ini 🤗❤️
Pagi ini Ratna akan datang ke markas komando bersama dengan suaminya untuk menghadiri acara penyambutan komandan baru. Hari pertama Tama akan bekerja di Mako Brimob Daerah Istimewa Yogyakarta. Ratna sudah rapi menggunakan pakaian serba pink sedangkan Tama menggunakan seragam loreng dengan atribut lengkap. Sebagai bagian dari upacara, ada seorang yang menjemput mereka berdua dari kediaman menggunakan mobil dinas. Ketika sampai di gerbang, Tama dan Ratna sudah disambut oleh para Bintara dan Tamtama yang berjejer juga disambut oleh Komandan Satuan di sana.
Acara dilanjutkan dengan pengenalan anggota baru di aula pertemuan bersama dengan ibu-ibu bhayangkari. Setelah diperkenalkan oleh Dansat Tama dan Ratna langsung bergabung dalam acara. Buat Tama sih bukan bertemu orang baru namanya. Dia hanya pulang ke tempat pertama kalinya dia ditugaskan dulu jadi sedikit banyak dia sudah kenal dengan mereka-mereka. Termasuk juga dengan jajaran staf dan para pemimpinnya. Sedangkan untuk Ratna, dia tidak mengenal siapapun di sini jadi dia memberanikan diri untuk berkenalan.
“Semoga betah di sini ya,” kata Mbak Sanas, istri dari Komandan Satuan.
“Insyaallah,” jawab Ratna.
“Maaf, Adiratna bukan ya?” tanya seseorang dari arah samping.
“Ya, maaf anda…,”
“Lilis, Lilis Malati. Anak Sastra Indonesia. Kamu anak Fakultas Kedokteran, Adiratna kan?”
“Oh My God. Lilis?! Ini Lilis?” kata Ratna tidak percaya. Dia bertemu dengan kawan lamanya di kampus dulu.
“Kamu kenal Bun?” tanya Tama.
“Banget. Wahh aku nggak nyangka kita ketemu lagi di sini,” kata Ratna yang lebih memilih heboh bersama dengan teman lamanya.
“Gila, gila, seneng banget aku bisa ketemu kamu lagi. Kupikir kamu bakal nikah sama Vino nggak tahunya malah nikah sama Brimob juga,” kata Lilis begitu blak-blakan.
“Vino? Bentar. Kok kayaknya Papa tahu,” kata Chandra pada istrinya.
__ADS_1
“Vino, Alvino. Karena dia kita berdua kenal, ya Lis?” tanya Ratna.
“Iya ya aku baru inget. Kita kenal karena rebutan dia ya?” kata Lilis yang ingat pada masa lalu dimana dia bisa kenal dengan Ratna.
“Ealah mantan,” kata Tama lalu berjalan menjauh.
“Sabodo teuing Ma,” kata Chandra ikut melangkah bersama Tama.
Ratna dan Lilis yang peka hanya bisa tertawa garing. Tiba-tiba saja hawanya jadi begitu dingin dan tidak enak. Untung Mbak Sanas datang mencairkan suasana. Mbak Sanas mengajak Lilis dan Ratna untuk bergabung dengan yang lainnya juga mengenalkan Ratna pada ibu-ibu Bhayangkari yang hadir. Kalau Tama dan Chandra sekarang malah diledek oleh kawan-kawannya di sudut lain ruangan.
Setelah selesai dengan pertemuan itu, Ratna langsung akrab dengan ibu-ibu bhayangkari yang lainnya. Apalagi ada teman lamanya walaupun sebenarnya pertemuan keduanya tidak begitu baik. Lilis dan Ratna sadar sih kalau ribut tidak akan ada artinya juga. Toh Lilis sudah bahagia dengan Chandra dia bahkan sudah punya dua orang putra. Ratna juga begitu, walaupun dia keluar sebagai pemenang ketika itu dia sadar kemenangan itu bukanlah akhir.
...***...
Acara hari itu selesai, Ratna kembali ke rumah sakit sedangkan Tama langsung menjalankan tugas-tugasnya. Dia berkeliling kantor dan berkenalan dengan semua yang dia mampu termasuk juga dengan anggota detasemen Gegana yang markasnya ada persis dibelakang kantor pusat. Tama ditemani oleh Cece berkeliling. Dia juga berkenalan dengan seorang perwira baru pindahan dari Manado. Komandan Nanda namanya, tapi beliau tidak bertempat di kantor pusat. Beliau adalah seorang Danyon B yang letaknya berbeda dengan kantor pusat. Beliau hanya akan datang untuk beberapa urusan tertentu saja. Tidak setiap saat ada di sana.
"Ya, saya sering mendengar nama anda. Banyak yang bilang anda adalah pelatih yang handal," kata beliau.
Posisinya sekarang sudah berbeda dengan ketika dia di Samarinda kemarin. Kalau di Samarinda kan dia bertugas sebagai Danki, di sini dia bertugas di bagian Binlatops jadi cakupan pekerjaannya lebih luas lagi sekarang. Dia bukan hanya mengatur satu kompi tapi mengatur latihan, pembinaan, dan operasi satu kesatuan.
...***...
Di tempat lain, Ratna terlihat canggung dengan tempat kerja barunya. Dia merasa kesulitan menyesuaikan diri karena memang prosedur di rumah sakit swasta dan rumah sakit umum daerah bisa begitu berbeda. Beruntung Ratna hanya duduk di poli saja sementara waktu dan untuk operasi dia hanya membantu Dipta saja sambil beradaptasi. Dia diberi waktu satu minggu dan Ratna benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Dia bahkan terlihat seperti mahasiswa residen tahun pertama lagi sekarang. Akibat buku catatan yang selalu dibawanya dan selalu mencatat apapun yang dia butuhkan.
Malam sudah menjelang, karena pagi tadi Tama dijemput oleh seorang ajudan maka malam ini dia diantar pulang. Sebelumnya dia minta lewat rumah sakit tempat kerja Ratna untuk menjemput istrinya baru menuju ke rumah mereka.
"Makasih ya Bay," kata Tama yang sudah turun dari mobil.
__ADS_1
"Siap, sama-sama Komandan. Selamat istirahat Pak, Bu," pamitnya dengan sopan.
Ratna yang memegang kunci rumah segera membukanya kemudian melangkah masuk langsung menjatuhkan diri di sofa. Lelah sekali rasanya padahal kalau dipikir pekerjaan dia tidak berubah, malah sedikit lebih ringan dibandingkan biasanya. Tapi berhubung mereka berdua sedang menghadapi lingkungan baru jadi pekerjaan mereka terasa berat.
"Dek, ngecheat yuk," ajak Tama.
"Mie?"
"Iya, kalau kamu mau."
"Nggak ah, berat badanku udah naik lagi masa. Beneran deh, besok aku harus mulai olahraga lagi kayanya," kata Ratna.
"Pelan-pelan aja Dek, toh kamu sebenarnya nggak gemuk-gemuk banget kok. Cukupan kalau buat Mas," kata Tama.
"Aku juga merasa masih normal. Tapi kalau aku nggak turunin berat badan, aku nanti nggak sehat-sehat. Kalau aku nggak sehat, kapan kita mulainya lagi?" jawab Ratna yang teguh pada pendiriannya.
"Ya besok Mas bangunin ikut lari pagi ya. Kalau tadi pagi kan Mas masih lihat rute dulu Dek, nggak asal ngajak lah. Porsi latihanmu mau Mas ubah," kata Tama.
"Terserah tapi jangan berat-berat ya aku nggak kuat," kata Ratna memohon.
"Iya."
"Sekarang mau makan apa terusan?" lanjut Tama.
"Pengen langsung tidur aja. Mas mau mie? Rebus atau goreng sini Ratna buatin dulu," kata Ratna mendahului Tama melangkah menuju ke dapur.
"Rebus aja Dek pake telur," kata Tama.
__ADS_1
Selelah-lelahnya Adiratna bekerja, ketika di rumah dia hanyalah seorang istri. Apapun yang diminta suaminya padanya harus dia penuhi dan semua perintahnya harus dia laksanakan. Melihat kenyataan jika begitu banyak gadis lain mencoba merebut suaminya membuat Ratna memiliki beban tersendiri. Lengah sedikit bisa saja dia langsung pergi. Ratna boleh saja percaya pada kata-kata Tama tentang kesetiaannya, tapi Ratna juga tetap berusaha sekuat tenaga agar setidaknya suaminya itu betah berada di rumah. Ratna selalu ingat kata-kata Ibu, mau seberapa setianya laki-laki kalau dia sudah jenuh ya dia akan pergi juga.
Jujur kalau ditanya, hanya satu hal yang membuat pikirannya tidak pernah tenang. Keberadaan Sindy yang masih terus bersama Mama. Tapi kalau mau Ratna meminta Mama menjauh ya bagaimana, dia sendiri yang terlanjur memperbolehkan. Kuncinya hanya bagaimana caranya dia bisa sehat agar setidaknya satu keinginan ibu mertuanya itu bisa terwujud. Dengan begitu Mama akan menjauhi Sindy dengan sendirinya.