
"Ratna, aku butuh bantuanmu," kata Ina, rekan dokternya dari Obsgyn. Yang kebetulan juga menanganinya ketika hamil Aksa.
"Ada apa?"
"Ada satu pasien yang butuh pembedahan. Dia menderita kanker payudara, aku butuh bantuanmu buat operasi pengangkatan. Ini datanya, nanti kuminta pasien daang ke kamu," katanya.
"Biar kucek dulu ya," jawab Ratna.
"Sebelum itu ada yang harus kamu tahu...," kata Ina membuat Ratna terdiam.
"Pasien baru saja dikuret kemarin. Janinnya kalah dengan kemoterapi yang dia jalani. Selama menangani dia kita semua hati-hati banget. Jadi kuminta kamu hati-hati juga ya," kata Ina lagi.
"Ok makasih informasinya, nanti kukasih kabar lagi. Aku ada operasi," kata Ratna langsung pamit.
...***...
"Ji. Gue ada dua kabar buat lo," kata Cece pada Aji yang sedang berdiri di sudut lapangan mengawasi perwira tahun pertama yang sedang berlatih.
"Lo masih inget kan kasus yang bikin lo dikasih tanda jasa? Pelaku yang lo tangkap itu bukan pimpinan yang sebenarnya," kata Cece membuat Tama membelalak kaget.
"Maksudnya?"
"Dari reskrim kasih kita kabar kalau dia itu cuma kaki tangannya aja. Ibarat game lo baru sampe lv. 3. Lo belum ketemu bos yang sebenernya. Komandan Gegana dari Brimobda Kaltim tempat lo tugas dulu mengalihkan pengejarannya ke komandan Novan," kata Cece.
"Kenapa harus ke sini sih? Pelakunya ada di Samarinda, kaki tangannya tertangkap semua di sana. Paling jauh cuma ada di Kalbar," kata Aji yang sudah berusaha lepas dari pembicaraan ini. Dia paling malas kalau harus membahas soal kasus itu. Dia bahkan sudah tidak mau lagi mengingatnya.
"Ada kabar kalau dalang sebenarnya ada di Jogja dan Lo tetep dibutuhin Ndan Novan untuk ikut gabung di satgas," kata Cece.
"Gue udah pernah nolak Ce. Gue nggak mau balik ke gegana," kata Tama.
"Ndan Novan nggak bakal tega maksa elo tapi gue tega Ji. Lo pernah bilang ke gue kan alasan lo kerja di sini biar lo bisa menciptakan Indonesia aman buat anak istri lo. Terus ketika ada ancaman di depan mata lo malah mau lari? Lo pengecut Ji," kata Cece terlanjur termakan emosinya.
"Lo bilang apa? Pengecut? Lo kalau nggak ngerti apa-apa lebih baik diem," jawab Tama.
"Gue ngerti Ji. Lo sakit hati karena anak lo jadi korban. Tapi itu kan masa lalu Aji lo udah punya Aksara. Mantan pacar lo yang gila itu juga udah nggak pernah ganggu rumah tangga lo lagi. Ratna juga baik-baik aja sekarang. Karirnya juga sukses. Lo mau cari apa lagi? Hidup kalian udah lebih dari nyaman," kata Cece.
"Lo gila ya? Mau hidup atau mati dia tetep anak gue Ce. Putri sulungku. Bahkan belum dia lahir juga gue sudah sayang sama dia. Sekarang lo mending pergi daripada lo babak belur ditangan gue sekarang lo pergi!" Tama sudah mulai membentak. Baik Tama maupun Cece sudah saling berteriak membuat banyak mata memperhatikan mereka. Apalagi anak didik Tama yang mulai ciut dan hanya bisa berdiri di barisan tanpa berani bergerak.
"Lo pemimpin Ji, tapi lebih dari itu lo prajurit. Gue tagih sumpah profesi lo. Kalau lo beneran bhayangkara sejati buktiin itu."
__ADS_1
Cece menyerahkan sebuah map secara paksa kemudian pergi. Dia tidak mau lepas kendali lebih dari ini. Terlalu banyak dia bicara semakin dia akan menyakiti hati sahabatnya itu. Cece paham seberapa beratnya trauma yang dihadapi oleh sahabat karibnya, tapi jika dia tidak segera menghilangkan trauma itu dia akan terus hidup dalam bayang-bayang. Semakin Tama akan kehilangan jati dirinya dan terus lari seperti pengecut. Cece tidak mau itu terjadi. Dia bahkan sudah berjanji, apapun yang terjadi dia akan bantu sahabatnya itu menuntaskan luka lamanya.
...***...
Ratna sudah selesai memeriksa pasien yang ditransfer padanya oleh dr. Ina. Ratna menanganinya dengan bantuan seorang dokter senior walaupun dia tetap diberi kewenangan sebagai dokter utamanya. Operasi belum bisa dilaksanakan karena kondisi psikis pasien yang parah. Ratna bahkan sampai harus mendekati dan membujuknya jauh lebih intens dibandingkan pasiennya yang lain.
"Ratna, mau gue bantu nggak buat bujuk pasien?" tanya Theo.
"Nggak perlu Te. Lo bantuin gue aja di ruang operasi. Gue nggak akan bisa sendirian," kata Ratna.
"Kalau itu sih udah pasti," kata Theo.
"Terus lo beneran baik-baik aja? Lo nggak papa kan?" tanya Dipta.
"Belum ngerti. Denger dia habis keguguran aja bikin kepala gue pening," kata Ratna.
"Aku tahu pasti berat. Tapi Ratna, kamu harus bisa move on. Kamu harus pikirkan masa depanmu, masa depan Aksara. Kalau kamu terjebak di masa lalumu terus terusan gimana kamu akan persiapkan masa depannya dia?" kata Ela.
"Bukan gitu La. Bagaimanapun juga dia anakku. Walau aku belum pernah meluk dia secara langsung tapi dia tetap putriku," kata Ratna.
...***...
Setelah dia mengabadikan moment itu dia perlahan membangunkan Ayah dan Putranya itu. Maghrib-maghrib tidur, pasti nanti malam mereka akan begadang. Apalagi Aksa sekarang sudah tahu tidur malam. Kalau belum Ayah atau Bundanya langsung yang membawanya ke kamar, menidurkannya dengan dongeng dia tidak akan tidur.
"Ndah," kata Aksa sambil merentangkan tangannya.
"Aksa tidur sama Ayah ya, dari jam berapa kamu tidur sayang?" tanya Ratna yang tidak direspon oleh putranya karena dia sibuk mengucek mata.
"Jangan dikucek dong Sa, sakit nanti matanya."
"Ayah, bangun yuk. Maghrib maghrib jangan tidur," kata Ratna membuat Tama terbangun perlahan.
"Bunda sudah pulang?"
"Maaf ya Bunda pulang telat tadi ada pasien," kata Ratna.
"Nggak papa. Bunda mau ganti baju dulu sini Aksa biar sama Ayah."
"Ayah, makan di luar yuk sekalian jalan-jalan. Bunda kan nggak masak," ajak Ratna.
__ADS_1
"Cari makan di Bukit Bintang mau nggak Bun? Ayah lagi suntuk nih," kata Tama.
"Boleh, Bunda juga lagi suntuk," kata Ratna mengiyakan begitu saja.
Mereka segera berangkat setelah bersiap. Perjalanan menuju ke sana kalau Tama yang nyetir tidak akan memakan waktu lama karena Ratna percaya kalau kemampuan menyetir suaminya ini bukan kaleng-kaleng. Barracuda sebesar itu saja bisa dia bawa apalagi hanya si Brian.
Ratna dan Tama mencari spot yang kira-kira dekat dengan pemandangan ke bawah. Tidak butuh waktu lama untuk Tama dan Ratna menghabiskan makan malamnya. Aksa saja makannya bisa cepat asal disuapi. Masih betah berada di sana akhirnya Tama dan Ratna memesan minuman hangat lagi dan asik curhat.
"Bunda tadi bilang lagi suntuk kenapa?" tanya Tama.
"Pasienku hari ini, baru dikuret karena janinnya nggak sanggup bertahan melawan kemo. Besok aku sudah menjadwalkan operasi pengangkatan jaringan kanker di payudara kanan selanjutnya di payudara kiri beberapa hari kemudian. Pasienku tadi kelihatan tertekan banget Mas, pandangannya setengah kosong," kata Ratna.
"Kalau Mas kenapa suntuk?" kali ini Ratna balik bertanya pada suaminya.
"Mas diminta kembali ke gegana."
Kalimat Tama singkat tapi mampu membuat Ratna terdiam. "Ingat kasus perdagangan organ yang Mas tangani di Samarinda?"
"Bagaimana aku bisa lupa Mas," jawab Ratna tidak kalah pelannya.
"Jaringannya belum tuntas. Orang yang menyandera kamu ternyata bukan dalang sebenarnya. Penyelidikan ditransfer ke Komandan Novan dan alasan Mas diminta kembali ke gegana adalah Mas yang pernah menangani kasus itu dan dalam tim hanya Mas yang tahu kondisi di TKP waktu itu," kata Tama membuat Ratna semakin terdiam.
"Ndah bobok...," panggil Aksa. Anak itu sepertinya mengantuk jadi Ratna betulkan posisinya. Dengan tangan kiri dia menopang leher putranya dan menyelimutinya dengan jaket milik Tama.
"Terus keputusan Mas gimana?" tanya Ratna kembali fokus pada pembicaraannya dengan sang suami. Tama hanya bisa menggeleng sedangkan Ratna menghela nafasnya berat. Dia menatap Aksa yang mulai tertidur di dalam pangkuannya. Anak berusia kurang lebih 2 tahun itu begitu tenang dalam tidurnya tanpa tahu kegalauan apa yang sedang menerpa kedua orang tuanya.
"Mas, terima saja," kata Ratna.
"Kamu yakin?"
"Kalau kamu menolak kamu yang salah Mas. Kamu adalah seorang bhayangkara, jiwa brigademu akan merasa dikhianati jika kamu menolak. Sudah tugasmu membuat tanah ini aman bukan hanya untuk aku dan Aksa tapi juga untuk seluruh warga masyarakat," kata Ratna.
"Tapi kasus itu..., Mas nggak ngerti sanggup menanganinya atau nggak," kata Tama yang masih terbelenggu dalam keraguan.
"Mas, aku juga sama traumanya. Putri kita meninggal ketika ikut bersama ibunya bertugas tapi aku dipaksa untuk tetap bertugas tidak peduli sesakit apa hatiku. Aku berusaha bertahan walaupun hatiku tersayat. Sekarang kita sudah punya Aksara. Dia akan butuh perlindungan dari kita berdua. Dia masa depan kita Mas," kata Ratna nyaris menangis mengingat kejadian memilukan itu.
"Maaf ya Mas harus membahas ini sama kamu. Padahal Mas tahu kamu takut bahas soal ini," kata Tama. Tangannya terulur untuk mengelus puncak kepala Ratna.
"Memangnya Mas akan bahas sama siapa kalau nggak sama istrimu sendiri? Aku nggak papa Mas, ini sudah resiko aku menikah sama kamu. Suka nggak suka aku akan ikuti apapun keputusanmu. Terima ya Mas, tuntaskan kasus itu biar mimpi buruk kita juga ikut lenyap," kata Ratna diangguki oleh Tama.
__ADS_1
Keraguan dalam hatinya langsung sirna begitu saja. Dia langsung meraih handphonenya untuk memberi kabar pada Komandan Novan perihal keputusannya. Dia menerimanya, dia akan menghadapinya. Benar Ratna bilang, untuk menghapuskan mimpi buruk mereka maka kasus ini harus tuntas setuntas-tuntasnya.