
"Pinter banget emang suamiku ini, mobil jadi basah gitu joknya. Nggak mau tahu ya aku nggak tanggung jawab. Pokoknya harus dikeringin gimanapun caranya, Kalau sampai jok mobilku jamuran, Mas tidur di sofa seminggu," kata Ratna yang terus mengomeli Tama. Padahal sebenarnya jok ini tidak dikeringkan pun sudah kering sendiri karena diduduki oleh Tama. Dia merasakan sekali jika celananya sudah mulai basah.
"Udah dong sayangku, iya maaf. Pasti Mas keringin kok, sekalian Mas cuci sampai kinclong," kata Tama.
"Hmm."
"Jangan marah dong mungil," bujuk Tama.
"Siapa juga yang marah."
"Lha itu, buang muka gitu. Udah ah kalau marah donatnya besok lagi aja," kata Tama.
"Ya udah sih aku bisa beli sendiri besok," jawab Ratna masih dengan nada dingin.
"Beneran nggak mood? Terus itu yang di jok belakang udah Mas beliin gimana dong? Kukasih ke Deva aja apa ya, dia kan suka donat juga kaya kamu. Soalnya sayang kalau nggak kemakan," kata Tama membuat Ratna kembali berbinar wajahnya setelah menemukan satu kotak donat DDN di jok belakang.
"Uwaa...!"
"Kenapa?"
"Nggak papa. Lagi seneng aja, nggak nyangka suamiku yang nyebelin ini bisa bikin surprise kaya gini, manis banget," kata Ratna.
"Hoo..., tadi katanya ngambek. Katanya mau beli sendiri aja. Udahlah itu donatnya nanti kasih ke Deva terus bunganya buat Bu Rosa aja. Istriku kan ngambek nggak mau nerima," kata Tama.
"Ih nggak gitu Mas Tama, maaf ya aku marah. Habis kamu bodohnya natural sih," kata Ratna sambil merangkul lengan kiri Tama.
"Apaan? Yang bener ah minta maafnya nggak ikhlas nih," kata Tama berusaha menarik tangannya kembali.
"Nggak dimaafin ya? Yaudah kalau gitu mulai besok Mas...,"
"Iya, iya, iya, dimaafin. Maaf juga Mas bikin mobilmu jadi basah semua. Ngomong-ngomong selamat ya bu dokter cantik udah sukses sidangnya," kata Tama.
__ADS_1
"Makasih," kata Ratna yang begitu saja berbaikan dengan Tama.
...***...
Hari ini akan menjadi hari bersejarah lainnya dalam hidup Ratna. Hari ini adalah hari pertamanya sebagai dokter spesialis. Setelah dinyatakan lulus dan mendapatkan surat izin praktek Ratna langsung menyerahkannya pada bagian kepegawaian di rumah sakit agar statusnya diupgrade. Ratna kini tidak lagi menempati ruang kerja dokter residen. Dia sudah bergabung dengan para dokter bedah yang lainnya yang jelas lebih senior darinya.
"Nih buat kamu," kata Petra menyerahkan satu bucket bunga mawar.
"Buat apa?"
"Terima saja, buat ucapan selamat sudah jadi dokter spesialis. Bilang sama suamimu juga, nggak perlu cemburu lagi. Aku kan cuma suka sama kamu nggak punya niat buat ngerebut kok. Lagian bisa lihat kamu bahagia sama suamimu itu lebih dari cukup buat aku," kata Petra.
"Kok tiba-tiba?" tanya Ratna yang heran karena Petra sangat berbeda hari ini.
"Sudahlah terima saja. Bukan dari Petra yang katanya suka kamu, tapi dari teman kantor kamu. Sampaikan juga salamku buat suamimu, bilang sama dia makasih sudah menjaga kamu dengan baik," kata Petra.
"Nanti saya sampaikan. Terima kasih Petra."
Ratna melangkah menyusuri lorong. Dia sempat melewati ruang lamanya. Ruangan yang dia tempati ketika masih berstatus sebagai seorang residen. Di dalam sana ada 8 meja dalam satu ruangan yang selalu penuh ditempati oleh residen-residen bedah baik dari ortopedi, neurologi atau bedah umum.
Ratna berjalan terus menyusuri lorong kemudian berbelok ke arah kiri di ujungnya. Di sana terdapat jajaran ruang kerja para dokter spesialis. Mulai dari Ruang dokter spesialis penyakit dalam di paling depan sebelah kiri, di seberangnya ada ruang dokter psikiatri, sedangkan ruangan Ratna ada di paling ujung. Ruangan yang paling besar karena dokter spesialis bedah umum selalu memiliki personil paling banyak dibandingkan dokter spesialis lainnya. Walaupun yang menempati ruangan ini sebenarnya hanya dokter spesialis madya karena kalau sudah senior akan ada sendiri ruangannya dan itu tidak di lantai ini.
"Selamat pagi...," sapa Ratna pada Rati yang sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.
"Oh Ratna akhirnya kamu datang juga, seneng banget akhirnya kamu bisa lulus juga. Selamat ya," kata Rati sambil memeluk Ratna erat.
"Rati hati-hati, itu kasihan yang di dalam perut," kata Ratna.
"Nggak papa kok, dia pasti juga seneng bibi kesayangannya sudah jadi dokter spesialis juga. Ratna, segera nyusul ya," kata Rati sambil menepuk-nepuk pelan perut Ratna.
"Insyaallah," kata Ratna sambil tersenyum kemudian dia berjalan ke arah meja kerjanya.
__ADS_1
Ratna hanya meletakkan tasnya kemudian meraih sneli yang dia lipat rapi dan dia letakkan dalam laci hari sebelumnya. Dia memakainya kemudian memasangkan ID barunya, menata pulpen dan senter kecil ke dalam saku snelinya, memasang stetoskop lalu berjalan keluar. Dia ada jadwal visit pagi ini. Walau pasiennya tidak banyak tapi Ratna selalu memberikan semua yang terbaik yang dia bisa. Karena Ratna sadar, ketika dia memperlakukan pasiennya dengan baik, dia akan mampu belajar dari mereka lebih banyak lagi. Terkadang pelajaran yang dia ambil bukan hanya tentang bagaimana cara dia menyembuhkan suatu penyakit tertentu tapi juga banyak pelajaran hidup yang dia ambil dari pasiennya.
"Selamat pagi...," panggil Ratna ketika melangkah ke dalam sebuah bangsal.
Dia melaksanakan tugasnya dengan baik, memeriksa perkembangan pasiennya, memeriksa keluhan-keluhan yang mungkin diarasakan juga memberikan beberapa edukasi kecil untuk membantu pasiennya bisa merasa lebih nyaman. Setelah selesai memeriksa pasiennya, dia menuju ke ruang perawat untuk memberikan instruksi tambahan mengenai obat dan beberapa hal lainnya.
"Ratna?" panggil sebuah suara yang terdengar ragu dari arah samping tempat Ratna berdiri.
"Iya?" Ratna terkejut, ternyata Zahra yang memanggilnya. Dia baru saja keluar dari ruang terapi.
"Baru selesai terapi?" tanya Ratna.
"Iya," jawabnya singkat.
Ratna kemudian menyelesaikan obrolannya dengan beberapa perawat di sana dan lebih memilih untuk membawa Zahra pergi. Zahra bilang dia sedang menunggu seseorang dan Ratna yang kebetulan sedang senggang akhirnya menemani Zahra. Siapa tahu dia bisa berkenalan dengan suami Zahra juga. Ratna membelikan satu botol air mineral untuk Zahra kemudian membawanya ke taman tengah untuk menghirup udara segar.
"Jadi kamu orang jawa juga?" tanya Zahra.
"Saya asli Jawa, bisa nyasar ke sini karena ikut suami. Dia kerja sebagai seorang abdi negara dan saya memutuskan untuk ikut mengabdi," kata Ratna.
"Jangan pakai bahasa baku dong. Sepertinya selisih usia kita tidak banyak. Bisakah kita berteman? Toh aku akan sering kemari. Aku pasti akan kemari setiap beberapa hari sekali," minta Zahra.
"Bener nggak papa?"
"Iya. Aku senang bisa punya teman. Karena keterbatasanku aku tidak punya banyak teman. Di tempat lamaku pun aku hanya berteman dengan pengasuhku," katanya.
Jujur melihat kondisi Zahra memang menyedihkan. Dia bilang dia lumpuh karena sebuah kecelakaan, pernah mengalami koma selama beberapa tahun dan akhirnya terbangun dalam kondisi lumpuh. Zahra juga bilang dia sempat kehilangan motivasinya untuk hidup tapi karena ada orang-orang yang mencintainya dia berhasil bertahan dan kini mulai mencoba bangkit kembali. Dia mencoba untuk membuka lembaran baru bersama suaminya di sini.
"Oh iya, tadi kamu bilang suamimu polisi kan? Di bagian apa?" tanya Zahra pada Ratna.
"Dia di bagian....," belum sampai Ratna menjawabnya sampai selesai handphonenya berbunyi. Dia mendapatkan telepon dari seorang perawat yang meminta Ratna segera datang ke UGD. Ratna terpaksa meninggalkan Zahra yang katanya ingin tetap di sini menunggu suaminya menjemput. Ya sudah, Ratna langsung pergi. Dia langsung berlari menuju ke UGD karena katanya ada seorang pasien darurat yang memerlukan pemeriksaan segera. Ratna merasakan semangat baru di setelah hari berikutnya. Berkat Zahra dia mendapatkan kembali semangat serta motivasinya untuk melalukan pekerjaannya dengan lebih baik lagi.
__ADS_1