Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
75. Cewek Gatel


__ADS_3

Sebenarnya Tama sudah berniat membelikan motor untuk Ratna, tapi dia menolak. Ratna bilang dia lebih suka Tama mengantar jemput dirinya setiap hari. Toh jam kerja Tama dan Ratna selaras, arah kantornya juga searah walau sedikit memutar. Alhasil, Ratna yang biasanya berangkat lebih siang jadi harus ikut berangkat pagi-pagi buta karena mengimbangi jam kerja Tama.


Pagi ini juga begitu, hujan gerimis menemani keberangkatan Tama dan Ratna menuju ke rumah sakit. Setelah berpamitan dengan Bapak dan Ibu, Tama dan Ratna berangkat kerja seperti biasanya. Saat ini kondisi Ratna sudah jauh lebih baik, Aditama juga sudah mulai kuat dan morning sickness Ratna sudah hilang. Cuma karena si kecil terus tumbuh dari ke hari, Ratna sekarang mulai terganggu aktivitas geraknya. Untuk keluar dari mobil saja dia harus dibantu suaminya.


"Nanti jemput jam berapa?" tanya Tama.


"Kaya biasanya aja," jawab Ratna.


"Bu Dokter, selamat pagi Bu," sapa Hengki yang entah datang dari mana.


"Eh ada Pak polisi, ngapain di sini Pak? Bu Ratna punya salah apa sama Bapak?" tanya Hengki kali ini pada Tama yang tampak bingung siapa orang di hadapannya ini.


"Pak polisi, saya berani jamin Bu Ratna ini adalah warga negara yang baik Pak. Nggak mungkin bikin salah apalagi sampai kriminal," kata Hengki lagi.


"Yang mau nangkap Bu Ratna siapa?" tanya Tama.


"Lha itu buktinya, ngapain Bapak pegang-pegang Bu Ratna? Pak, kalau suaminya lihat Bapak bisa dimarahin lho."


Ratna di sana hanya melihat saja sambil menahan geli. Bagaimana dia bisa melontarkan kalimat seperti itu padahal yang dihadapannya saat ini dan dia semprot tidak lain dan tidak bukan adalah suami dokter Ratna.


"Emang suaminya siapa, kamu tahu?" tanya Tama yang dengan niatnya meladeni.


"Tahu dong. Hengki Hermawan kok nggak tahu," jawab Hengki dengan sok.


"Siapa coba sini saya mau ketemu," ancam Tama sambil berkacak pinggang sengaja memperlihatkan seberapa sangar dirinya.


"Suaminya Bu Ratna itu namanya Pak Pratama. Kerjanya jadi Brimob. Kalau Bapak berani macam-macam ditembak lho nanti."


Tama lebih dulu tertawa, ternyata orang ini polos juga. Dia bukannya marah malah geli.


"Mbok pikir yang lagi kamu semprot siapa Heng? Baca coba name tag-nya," perintah Ratna pada Hengki agar bisa lebih cermat membaca name tag di seragam Tama.


"Pratama Aji....," gumam Hengki.

__ADS_1


"Pratama Aji Saputra, suaminya dr. Adiratna," kata Tama menegaskan disusul gelak tawa Ratna yang sudah geli tidak karuan melihat tingkah juniornya.


"Weladalah..., eh, ampun Pak saya ndak tahu," kata Hengki yang langsung berusaha cium tangan meminta maaf pada Tama.


"Kamu itu siapa? Belum sempat kenalan kok sudah main semprot," tanya Tama.


"Anu Pak, saya Hengki residen tahun pertama yang dibimbing sama Bu dokter Ratna. Ngapunten Pak, saya salah. Ampun ditembak ya Pak, saya belum mau mati," kata Hengki sambil cengar cengir.


"Sudah ah, Hengki masuk sana. Kamu pagi ini presentasi katanya. Mas juga, cepetan berangkat nanti telat," kata Ratna menengahi.


"Mas berangkat dulu ya, assalamualaikum," pamit Tama setelah mencium kening Ratna dan memberikan penghormatan.


"Waalaikumsalam wr. wb., ngatos-atos Pak," kata Hengki menjawab salam dengan semangat dan hormat pada Tama yang mulai menjalankan mobilnya keluar dari pelataran rumah sakit.


Seharian Ratna hanya mendampingi para residen. Setelah itu, menjelang makan siang dia menyusul Theo, Ela, Jay, dan Dipta yang sudah lebih dulu sampai di cafetaria. Ratna pergi ke cafetaria bersama dengan Nita. Ketika sampai di sana, Nita langsung disambut oleh Jay sedangkan Ratna ya dia harus ambil makan sendiri dan membawanya sendiri.


"Keliatan jomblo aku di sini, miris banget heran," kata Ratna mengeluh.


"Jadi bumil tuh jangan kebanyakan ngeluh sih," kata Theo.


"Hormonal. Dipikir Nita kek apa, jangankan cuma marah wong banting vas bunga juga pernah," kata Jay.


"Papa...," kata Nita yang tidak terima akhirnya mencubit pinggang Jay begitu keras.


"Kalau Ratna kayanya bukan vas lagi yang dibanting tapi suaminya langsung dia banting," kata Theo menggoda.


"Jangan terlalu diikutin Rat, lumrah sih tapi kesiksa sendiri kan akhirnya. Dibawa nyantai aja, tenang lo banyak yang jagain ini udah beda kalau waktu di Samarinda," kata Dipta menenangkan.


"Anehnya gini nih. Nit, La, gue pengen tanya serius sama kalian berdua. Pas kalian hamil nih, kalau Jay sama Dipta ada apa-apa kalian berdua ikut ngerasain nggak?" tanya Ratna.


"Maksudnya?"


"Maksud kamu kalau Dipta marah aku ikut marah, dia sedih aku ikut melow gitu? Aku nggak sih, cuma mual-mualnya aja yang aku pasrahkan," kata Ela.

__ADS_1


"Dan aku udah nggak mau lagi. Capek Ma," tambah Dipta.


"Kalau aku sih nggak ada," kata Nita.


"Iya nggak, tapi cemburuan parah," jawab Jay.


"Emangnya lo ngerasain apa sih?" tanya Theo.


"Nggak tahu rasanya kaya gelisah banget, panik, cemas gitu. Nggak tenang aja intinya. Padahal aku nggak ngapa-ngapain Te, nggak ada beban apapun. Yang menurutku lagi ada beban tuh Mas Tama malah, lagi sibuk banget ngurusin pilpres. Kemarin juga ada bentrok lagi kan sampai ada korban meninggal. Ngalamat ditinggal tugas keluar lagi juga aku. Kalau dia sampai diminta mimpin tim ke Mabes bisa berbulan-bulan dia nggak pulang," kata Ratna.


"Kayanya emang kamu sama suamimu harus ngobrol deh. Sebentar aja gitu biar Bang Tama tahu yang kamu rasain dan kamu juga tahu yang Bang Tama alami. Heran, kemana-mana udah berdua terus lho padahal," kata Jay.


"Sekarang mending lo makan yang bener. Nggak cuma diaduk-aduk kek gitu. Nangis tuh nasi," kata Theo melihat Ratna hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa ada niat menghabiskan.


Ratna tidak berselera makan lagi. Dia hanya memesan segelas susu dan menghabiskannya. Selesai makan, Nita dan Ela pergi lebih dulu sedangkan Dipta sudah undur diri sejak beberapa menit lalu karena memenuhi panggilan IGD. Kepala Ratna mulai berdenyut tanpa sebab. Dia mengirim pesan pada suaminya namun tidak segera mendapatkan balasan.


"Mending lo istirahat aja sih habis ini, atau mau pulang aja?" tanya Jay.


"Mukamu mulai pucet lho Rat, lo belum sembuh total. Kalau ada apa-apa sama bayi lo kan panjang urusannya," tambah Theo.


"Nggak ah, kalau gue diem aja di rumah malah makin stres yang ada," kata Ratna.


Baru beberapa langkah lebih jauh, ada seseorang yang berdiri di hadapan mereka. Laki-laki ini tidak pernah Ratna harapkan akan bertemu lagi dengannya. Laki-laki yang pernah mengisi hati Ratna bahkan pernah menyakitinya berkali-kali itu entah terbawa angin dari mana sekarang malah berdiri di hadapan Ratna.


"Hi Ratna," sapanya.


Ratna enggan membalas sapaan laki-laki itu. Jay dan Theo pun begitu. Mereka juga mengenal dekat siapa laki-laki itu. Dia yang bernama Vino, yang pernah berjanji akan memberi cinta pada sahabatnya tapi ternyata malah menyakitinya dengan begitu dalam. Jay bahkan bernah baku hantam dengan laki-laki ini ketika masih kuliah dulu.


"Mau apa lagi lo ke sini?" tanya Jay dengan begitu ketus.


"Gue nganter istri gue check up," kata Vino sambil tersenyum getir.


Ratna sudah tidak ingin berada di sana. Dia lebih memilih untuk putar balik dan meninggalkan tempat, namun ada satu tangan mendarat mulus di pipinya lebih dulu membuat Ratna langsung mengentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Oh jadi ini cewek gatel itu?!" katanya.


__ADS_2