Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
6. Tugas Pertama


__ADS_3

Suasana malam berhujan memang memberikan perasaan tenang tersendiri untuk seorang Adiratna. Entah karena bau petrikor yang menyeruak, pemandangan basah yang menyegarkan atau suara dentingan hujan yang menari di telinganya. Semua tentang hujan Ratna suka, apalagi sekarang ditambah kehadiran Pratama Aji di hadapannya membuat dia semakin bahagia.


Gerakan malu-malu Ratna mulai memudar bersamaan dengan decapan yang semakin dalam menari di dalam rongga mulutnya. Ratna mulai menyerahkan diri dan memilih untuk ikut menikmati apa yang sudah mereka mulai, memberikan kesempatan untuk Tama menandai dirinya. Memberikan izin pada Tama untuk menjelajahi tubuhnya lebih dalam lagi.


"Dek...," Tama berhenti sejenak bukan hanya untuk meminta izin tapi juga mempersiapkan nafasnya untuk memulai lagi.


"Do whatever you want, I trust you," kata Ratna sambil melingkarkan kedua lengannya ke leher Tama.


Suara Ratna terasa memabukkan. Tama sudah tidak lagi peduli, dia tidak lagi menahan diri untuk melakukannya. Dia sudah bertekad untuk menghiasi suara hujan dengan suara rintihan Ratna yang mabuk akan pesonanya. Tama mulai turun menyisir tubuh mungil Ratna, tangannya mulai bergerilya melepaskan pakaian Ratna sedangkan si gadis tidak kalah brutal mengangkat kaos oblong yang masih melekat di tubuh Tama.


Hampir semalaman mereka menghabiskan waktu berdua dan hanya berdua. Tama baru berhenti ketika melihat Ratna sepertinya sudah tidak sanggup. Bukan hanya dia yang lelah tapi Ratna juga demikian. Bahkan wanitanya ini langsung memilih tidur tanpa berkeinginan mengenakan lagi pakaiannya. Dia lebih memilih merengkuh tubuh Tama dan menenggelamkan diri dalam dada bidang Pratama Aji laki-lakinya.


"Sleep well baby, I love you," bisik Tama sebelum dia ikut menyusul Ratna, mengangkat selimut agar tubuh Ratna sempurna tertutupi baru dia ikut memejamkan mata.


...***...


Di luar hujan sudah mulai berhenti lambat laun berganti dengan kokok ayam jantan peliharaan pak Somat si tetangga sebelah. Tama masih tenang dalam tidurnya sedangkan Ratna sudah bangun lebih dulu. Dengan perlahan dia menyingkirkan tangan Tama yang masih melekat di pinggangnya lalu ia turun dari tempatnya tidur dan langsung menuju ke kamar mandi. Seluruh badannya lengket, bahkan dia juga tidak mampu berjalan dengan lurus, namun dia merasa senang. Dia bahagia mengingat bagaimana Tama memperlakukannya dengan begitu hati-hati dan penuh cinta seperti semalam.


Kurang lebih 30 menit dia berada di dalam kamar mandi, Ratna akhirnya selesai. Dia membungkus rambut basahnya dengan handuk lalu berjalan ke depan untuk membuka jendela. Dia menyesap aroma basah pagi hari banyak-banyak. Belum pernah dia merasakan setenang ini dalam 22 tahun hidupnya. Mengingat kejadian semalam membuat pipinya merona alami, senyumnya bahkan terus mengembang tanpa mampu dia kendalikan.


Ratna masih berdiri melamun di depan jendela ketika Tama mendekatinya dan memeluk pinggangnya dari belakang, "Hai, selamat pagi," sapanya.


"Selamat pagi juga," balas Ratna.


Tama lagi-lagi mendaratkan kecupan tiada henti di pipi dan bibir Ratna membuat Ratna tertawa kecil sebelum dia meminta Tama menghentikan perlakuannya. Bukan karena dia tidak ingin, dia hanya takut jika saja tetangga mereka ada yang melihat, kan malu. Ratna ini baru saja tinggal di sini kemarin, jadi dia tidak mau menciptakan kesan buruk.


"Mas mau makan apa?" tanya Ratna.


"Apa saja, terserah kamu mau masak apa."


"Biar simpel bikin nasi goreng saja gimana?"


"Boleh. Sini Mas ikut bantu," kata Tama.


"Nggak usah, mending Mas Tama sekarang mandi. Nanti Mas bantuin Ratna nyuci sprei aja ya," kata Ratna diangguki oleh Tama.


Selesai Tama mandi, dia langsung menyusul Ratna yang tampak kerepotan dengan nasi goreng yang sedang dia buat. Di pojok meja dapur water heater terdengar berbunyi karena air yang direbusnya mulai mendidih. Tama langsung berinisiatif membantu Ratna. Dia meraih 2 gelas kosong, meletakkan gula dan satu kantung teh dalam masing-masing gelasnya baru ketika air sudah benar-benar mendidih dia menyeduh tehnya. Selesai membuat teh, Tama membantu mengambilkan 2 piring kosong untuk menaruh nasi goreng buatan Ratna yang baru saja jadi.


Ratna menyerahkan penggorengannya pada Tama, sedangkan dia beralih mencuci tomat dan mentimun lalu memotongnya tipis-tipis. Pada Ratna kemudian meletakkan 2 potong tomat dan 3 potong mentimun di piring Tama juga sisa tomat ke piringnya. Ratna tak lupa juga menaburkan sedikit bawang goreng di atas nasi goreng telur buatannya.


"Selesai juga akhirnya," kata Ratna sebelum melepaskan apronnya dan duduk menyusul Tama yang sudah siap dengan sendok dan garpunya.


Keduanya makan dengan tenang, sambil sesekali saling memandang.Tama dan Ratna keduanya fokus pada makanannya masing-masing. Barulah setelah selesai mereka menggeser piring kosongnya dan mendekatkan gelas teh hangat ke hadapan masing-masing.


"Mas masih cuti?" tanya Ratna.


"Hmm, terakhir hari ini. Nanti malam lapor, siap tugas lagi," kata Tama.

__ADS_1


"Berarti hari ini masih bisa bantuin Ratna ngapalin jalan?"


"Bisa bisa, tapi jangan lupa satu hal dek," kata Tama membuat Ratna bertanya.


"Kiss mark di leher jangan lupa ditutupin," kata Tama membuat Ratna tersenyum kecut.


"Gara-gara Mas juga ini. Aku juga jadi susah jalan," protes Ratna.


"Tapi suka kan?"


Ratna tidak menanggapi. Dia lebih memilih bangkit berdiri dan berjalan menuju wastafel meletakkan piring kotornya. Sengaja dia memunggungi Tama karena malu untuk mengakui betapa bahagianya dia semalam. Sejak dirinya mengiyakan ajakan Tama untuk menikah, Ratna memiliki prinsip dia harus bisa menikmati setiap detiknya bersama Tama. Dia harus bisa menganggapnya berharga dan memasukkan semuanya dalam memori sekaligus juga dia simpan rapi untuk waktu yang lama bagaimanapun caranya.


Apalagi jika mengingat seberapa berbahayanya pekerjaan Tama. Walau dia tidak pernah tahu pasti seberat apa tapi dia mampu menyimpulkan pekerjaan Tama bukan pekerjaan mainan. Dia harus bertaruh nyawa pada setiap tugas yang sedang dijalankan, salah sedikit saja entah apa yang akan terjadi.


"Dek, memangnya kamu mau jalan-jalan ke mana?" tanya Tama membuyarkan lamunan Ratna.


"Eh..., nggak tahu mau ke mana."


"Yaudah keliling-keliling kota aja yuk, nanti siang kita makan siang di luar sekalian," ajak Tama.


"Oh iya Mas, mau tanya. Kalau misalkan nih aku mau beli apa gitu lewat online shop aku harus tulis alamatnya gimana?" tanya Ratna.


"Tulis saja alamat kesatrian, terus dikasih keterangan blok sama unitnya. Nama penerimanya tulis saja nama Mas, kalau pakai namamu takutnya di return karena yang jaga di depan nggak kenal," kata Tama.


Selesai membereskan meja makan, Tama dan Ratna berjalan ke belakang rumah. Ratna lebih dulu melepaskan sprei dari kasurnya sedangkan Tama mulai mengisi mesin cuci dengan air yang sudah dicampur dengan sabun. Ratna menggantinya dengan sprei yang baru saja mereka beli kemarin, dia juga mengganti selimut dengan yang baru sedangkan selimut yang lama ikut dia cuci beserta sarung bantal dan guling.


"Eh Aji, siapa ini?" tanya Pak Somat yang melihat kepulangan Tama bersama seorang wanita.


"Eh Pak Somat, ini istri saya pak. Maaf belum sempat ngenalin," kata Tama.


"Owalah ini istrimu? Bu sini Bu keluar sebentar," panggil pak Somat pada istrinya.


"Ono opo Pak kok bengok-bengok? Ibu lagi masak ni lho," seorang ibu-ibu terlihat berjalan keluar dengan daster ungu dan spatula di tangan.


"Iki lo Bu, kenalan o sama istrinya Aji. Ben Ibu ki orang mung ngelus hape wae," kata Pak Somat pada istrinya.


"Owalah ini toh yang kamu bilang ke Ibu itu? Cantik yo. Oiya Nama Ibu Saodah, panggil saja Odah namamu siapa anak manis?" tanya Bu Odah istri pak Somat.


"Kula Ratna Bu," kata Ratna begitu sopan.


"Dek, kalau misalkan Mas nggak ada di rumah terus kamu gabut main saja ke rumah Pak Somat, ngobrol sama Bu Odah ya," kata Tama.


"Iya bener, ben ibune nggak cuma nglutek hape wae."


"Yo piye to Pak, aku ki dolanan hape ben ngerti kabare anak adoh nggone kok yo diprotes wae," kata bu Odah.


Ratna sempat tertawa tapi segera dia hentikan. Bu Odah melihat tawa Ratna kemudian mendekati Ratna sambil menyodorkan handphonenya, "Nduk, Ibu minta nomormu," kata Bu Odah.

__ADS_1


Ratna dengan senang hati memberikannya pada bu Odah, lalu keduanya mengobrol singkat sebelum akhirnya kembali masuk ke rumah masing-masing. Ratna meletakkan tasnya di sofa lalu lebih dulu masuk ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya.


"Pak Somat sama Bu Odah lucu, Mas," kata Ratna.


"Memang, sukanya berantem tapi nanti kalau jauh baru bisa sayang sayangan," kata Tama.


"Pak Somat itu satu tim sama Mas Tama?"


"Pak Somat itu Komandan Satuan Wanteror. Kalau Mas tugas ya di bawah perintah Pak Somat. Oiya Dek, kalau misalkan Bu Odah ngajak kamu ke acara Bhayangkari kamu usahakan ikut ya. Soalnya istri Polisi wajib jadi anggota Bhayangkari. Kamu juga sudah dapat kartu anggotanya kan?"


"Sudah Mas, iya insyaallah aku akan ikut kok," kata Ratna.


"Dek..., Mas mau bilang sekali lagi sama kamu. Pernikahan kita berat, kalau andai di tengah jalan nanti kamu merasa keberatan jangan sungkan bilang sama Mas. Mas nggak mau kamu terbeban apalagi sampai terluka hanya karena Mas, ngerti kan?" kata Tama dengan begitu lekat.


"Mas, aku memutuskan menjawab iya bukan hanya karena perasaan suka semata. Aku sudah pelajari semua resikonya. Aku sudah berjanji, bahkan di sidang juga aku ucap lagi bahwa aku akan menyerahkan diriku buat kamu, buat pekerjaanmu, buat Ibu Pertiwi. Aku akan ikut mengabdi Mas," kata Ratna membuat Tama tersenyum sumringah. Dia kemudian memeluk Ratna sebagai salah satu bahasa terima kasihnya atas apa yang sudah dilakukan oleh Ratna.


"Mas mandi gih, siap-siap. Katanya mau tugas," kata Ratna.


Sembari menunggu Tama selesai mandi dan bersiap, Ratna memilih melipat pakaian bersih lalu menyimpannya dalam lemari. Dia juga menggantung seragam bersih Tama agar tidak kusut jadi besok dia tidak kesulitan menyetrikanya.


Selesai bersiap, Tama dan Ratna lebih dulu makan malam bersama baru Ratna mengantar Tama untuk berangkat. Bersamaan dengan keduanya melangkah keluar, Pak Somat juga akan berangkat. Sama seperti yang Ratna lakukan, Bu Odah juga ikut mengantar suaminya sampai di ambang pintu.


"Tugas pertama ya nak Ratna," kata Pak Somat.


"Tugas bagaimana Pak?"


"Tugas sebagai istri, baru semingguan kalian nikah sudah harus ditinggal. Dek Ratna yang kuat ya," kata Pak Somat.


"Ratna, kalau nanti malam takut sendirian ketok rumah Ibu saja ya nggak perlu sungkan," kata Bu Odah pada Ratna.


"Tuh ada temennya, Ratna maaf ya Mas tinggal dulu. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam..., Mas hati-hati."


Ratna melepas kepergian Tama yang berangkat bersama Pak Somat. Ratna berpamitan dengan Bu Odah setelah mengobrol selama beberapa waktu juga dengan Bu Arni yang rumahnya berseberangan dengan rumah Ratna. Katanya suami Bu Arni sudah 3 hari belum pulang karena tugas di Balikpapan. Ratna juga berkenalan dengan Jansen putranya Bu Arni. Malam itu Ratna menyempatkan memberi kabar pada kedua orang tuanya. Tadinya hanya Ibu yang bicara, tapi lama kelamaan Bapak, Sasa, dan Nata ikut gabung juga.


"Mbak gimana rasanya jadi istri polisi enak?" tanya Sasa.


"Enak Sa, enak banget, cepetan nyusul kamu sama Gandhi," goda Ratna.


"Suamimu lagi kerja po Mbak, kamu di rumah sendirian?" tanya Bapak.


"Iya pak, Ratna sendirian di rumah. Nggak papa lah kesempatan Ratna bisa bersih-bersih rumah. Bapak sama Ibu cukup doakan saja Ratna di sini akan baik-baik saja," kata Ratna.


"Aamiin...."


"Yasudah Pak Bu sudah dulu ya, Ratna mau istirahat," pamit Ratna sebelum memutuskan telepon dengan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2