
Setelah beberapa bulan menjalani terapi intensif yang didampingi langsung oleh sang suami, Ratna dinyatakan sembuh dari depresinya. Dia sudah sanggup tertawa lagi sekarang, dia juga sudah sanggup bercanda dan sanggup merajuk apalagi jika maunya tidak dikabulkan. Ratna juga sudah ingat manja lagi. Setiap pagi ketika Tama akan berangkat misalkan, Ratna pasti akan minta peluk, minta cium dan minta disayang. Katanya sih untuk semangat harinya.
Setahun kemudian, Ratna kembali pada pekerjaannya sebagai seorang dokter. Dia kembali mendapatkan izin untuk merawat pasiennya dan memimpin sebuah operasi seperti sebelumnya setelah dia berhasil lepas dari obat anti-depresan yang sempat diresepkan oleh psikiater yang menanganinya. Ratna benar-benar dinyatakan sembuh dan Tama sudah lebih dari bersyukur untuk ini. Dia bersyukur istrinya itu bisa kembali bangkit dan kembali tegak berdiri.
Tapi dibalik rasa syukur yang tidak ada habisnya itu Tama masih saja mengeluhkan sesuatu. Pasalnya, istrinya itu jadi sangat-sangat polos dan tidak paham lagi pada semua kode yang diberikan oleh Tama. Sudah tidak terhitung lamanya Tama menginginkan sesuatu yang hanya bisa dia dapatkan dari Ratna tapi istrinya itu saking polosnya sering kali membuat Tama gemas dan melupakan semangatnya lagi.
Bang Chandra, Cece, dan Tama sedang ngopi sambil bersantai di dekat kantin. Lumayan kan mumpung sedang tidak ada latihan, mereka juga sedang tidak ada pekerjaan jadi Bang Chandra mengajak dua juniornya itu untuk menikmati indahnya pagi sambil duduk di salah satu bangku di bawah pohon sambil menyeruput kopi dan makan gorengan.
"Kunaon itu sih Aji?" tanya Bang Chandra yang melihat Tama hanya duduk diam saja sambil menatap gelas teh pesanannya dengan menyedihkan.
"Teuing. Dari kemaren udah begitu," kata Cece.
"Woy tiang, kenapa lo?" tanya Bang Chandra.
"Ha?" tanya Tama seperti orang linglung.
"Mabok lu ya? Kesambet setan apa gimana lo?" tanya Cece yang merasa aneh dengan sahabatnya.
"Nggak tau istriku lagi cantik," kata Tama.
"Yailah ketauan ini mah," kata Bang Chandra yang sudah paham duduk perkaranya.
"Nggak dapet jatah ya lo?" tanya Cece.
"Lu bayangin ya, udah setahun lho setahun lebih dua bulan malah sejak Ratna sembuh. Keren nggak sih gue bisa tahan selama itu dengan godaan istri gue yang cantiknya melebihi bidadari surga gitu?" kata Tama.
"Emang lo nggak minta?" tanya Bang Chandra.
"Minta."
"Bantet nggak mau ngasih?" tanya Cece.
"Dia lagi bloon."
"Anjir istri sendiri dikatain bloon," kata Cece.
"Ya lo pikir aja coba, udah gue minta dari yang pake kode sampe yang gamblang ngomongnya dia masih aja nggak ngerti. Ya gimana gue mau mulai kalau dia aja berubah jadi polos banget gitu. Yang ada gue merasa bersalah Ce berasa pelecehan terhadap anak di bawah umur tau nggak," keluh Tama membuat Bang Chandra dan Cece tertawa penuh kemenangan.
"Kurang ampuh jurus lo," kata Cece.
"Kurang ampuh gimana lagi gue Ce, istri gue itu udah di tahap dimana gue buka baju aja dia tutup mata," kata Tama.
"Tapi bukannya istri lo jadi manja banget ya?" tanya bang Chandra.
"Manja sih manja Bang. Banget malah, setiap mau berangkat dia pasti ngelendot nggak mau lepas. Pulang aja kalau aku telat dan nggak ngabarin udah kaya cacing kepanasan dia nyariin," kata Tama.
"Menurut gue Ratna belum sembuh sepenuhnya deh Ji," kata Cece.
"Bukan belum sembuh Ce, tapi dia memang nggak akan bisa balik kaya tadinya. Lukanya terlalu dalam buat bisa sembuh. Tapi masalahnya gue bingung sekarang gimana caranya gue bisa tahan sama godaan istri gue sendiri. Ratna tuh lagi nggak peka. Dia suka manja padahal gue paling lemah sama yang begituan. Dia suka ngelendot padahal gue dilendotin dikit langsung nyetrum," kata Tama.
"Iya juga sih. Kalo gue jadi elo juga mana tahan," kata Cece.
"Bingung juga kan lo," kata Tama.
"Coba aja lo ajak pelan-pelan. Pemanasan dulu kek jangan langsung tuntas, kasihan juga sih Ratna," kata Bang Chandra.
__ADS_1
Tama menghela nafasnya. Dia kemudian menenggak tehnya dan segera pergi meninggalkan Bang Chandra dan Cece yang masih bertahan di sana.
"Mau kemana lo?" tanya Cece.
"Lari. Pikiranku lagi bruwet," kata Tama.
...***...
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Ratna yang hanya kelihatan kepalanya melongok dari dalam kamar mandi.
"Allahu Akbar. Kamu lagi ngapain Dek? Kok nggak ditutup pintunya?" tanya Tama.
"Apa sih, aku lagi gosok kamar mandi nih," kata Ratna.
Tama menghela nafasnya lagi, "Sabar Tam, tahan tahan ini ujian tahan," batin Tama.
Ratna meletakkan sikat kamar mandinya, kemudian dia mencuci tangannya lalu berjalan mendekati Tama yang masih berdiri di depan kamar mandi mengamati apa yang sedang Ratna lakukan. Ratna langsung memeluk suaminya dan Tama sebagai balasannya dia mencium ujung kepala Ratna.
"Itu apa Mas?" tanya Ratna ketika suaminya mengeluarkan kantong kresek dari dalam tasnya.
"Kaosnya Mas," kata Tama.
"Ya Allah kok sampe basah gini Mas tadi kena siram lagi?" tanya Ratna.
"Nggak. Tadi siang Mas lari makanya kaosnya basah," kata Tama.
Ratna kemudian membawanya ke mesin cuci. Dia segera merendamnya sekalian juga mencuci seragam Tama. Biar nanti ketika Tama selesai mandi, Ratna juga selesai mencuci pakaiannya. Akhir-akhir ini Tama sering berlama-lama di dalam kamar mandi. Dia sengaja menghujani kepalanya dengan air dari shower hanya untuk mendinginkan tubuhnya yang serasa mendidih setiap kali melihat lekuk tubuh Ratna.
"Tinggal masuk aja sih Dek, kaya belum pernah lihat badannya Mas aja kamu," kata Tama mencoba lagi.
"Ih nggak mau ah malu," kata Ratna membuat Tama langsung menyerah.
"Mas udah nggak tahan," keluh Ratna kembali mengetuk pintu.
"Iya iya," Tama terpaksa menyudahi acara mandinya. Dia keluar hanya dengan berbalut handuk dan membiarkan istrinya itu nyelonong masuk dan langsung mengunci pintu.
"Mau sampai kapan ini," kata Tama pada dirinya sendiri.
Mendekati jam makan malam Ratna mendekati Tama yang sedang duduk menonton tv di ruang tengah. Dia begitu saja melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Tama kemudian menyenderkan kepalanya di dada Tama.
"Mas...," kata Ratna dengan nada manjanya yang khas.
"Apa?" tanya Tama sambil melirik istrinya.
"Pengen...," kata Ratna menggantung.
"Pengen apa? Mas juga pengen lho Dek," kata Tama.
"Serius Mas? Yaudah hayuk," jawab Ratna dengan penuh semangat.
"Beneran?"
"Iya Mas beneran. Tadi Mas bilang juga pengen kan," kata Ratna.
__ADS_1
Mata Tama kembali berbinar. Dia kemudian menyusul Ratna yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Tama lebih dulu mengunci semua pintu, mematikan tv dan lampu kemudian masuk ke dalam kamar hanya untuk mendapati Ratna sekarang sudah memakai kerudungnya.
"Kok kamu malah pakai kerudung Dek?" tanya Tama.
"Lha kan emang kita mau keluar kan? Masa aku nggak pake kerudung sih Mas," kata Ratna.
"Ha? Emang maksud kamu pengen tuh pengen apa?"
"Pengen martabak telor. Kan tadi Mas juga bilang pengen kan, yaudah ayo beli," kata Ratna.
"Astagfirullah...," Tama mau apa sekarang. Dia hanya bisa pasrah. Setelah menggunakan celana panjang dan jaketnya dia pergi bersama Ratna. Saat ini Tama dan Ratna sedang duduk di alun-alun Kidul sambil menikmati martabak telur special dan beberapa cemilan lain yang dibeli Tama. Mereka asik duduk di rerumputan sambil memandangi langit malam yang terlihat cerah malam ini.
"Dek, Mas mau tanya sama kamu," kata Tama.
"Tanya apa Mas?" tanya Ratna yang baru saja melahap sepotong martabak dan memasukkannya langsung ke dalam mulut.
Tangan Tama tergerak membersihkan sudut bibir Ratna yang kotor dengan remahan martabak, "Kalau Mas minta sesuatu dari kamu apa kamu mau kasih ke Mas?" tanya Tama.
"Emangnya Mas mau minta apa?" tanya Ratna.
"Mas pengen punya anak lagi Dek. Dari kamu," kata Tama dengan perlahan.
"Tapi Ratna ragu Mas, Ratna takut," kata Ratna kini mulai menunduk dan merapatkan kedua kakinya.
"Apa itu juga yang jadi alasanmu menolak Mas selama ini?" tanya Tama lagi.
Ratna mengangguk, "Iya Mas maaf," kata Ratna.
Tama akhirnya paham, istrinya ini hanya takut bukannya menolak. Dia jadi mengerti jika Ratna memang masih membutuhkan penguatan agar dia bisa lebih berani.
"Mas nggak akan memaksa Dek, tapi jujur Mas kangen banget sama kamu. Gini ya, andai Allah memang kasih kita rejeki berupa anak ya kita jaga, kalau tidak ya sudah. Mas nggak akan memaksa," kata Tama. Ratna terdiam.
"Mas..., pulang aja yuk. Udah malem, aku kedinginan," kata Ratna.
"Yuk kita pulang," kata Tama.
Begitu sampai di rumah, Ratna yang lebih dulu masuk. Dia meletakkan sisa makanannya sembarang di atas meja dapur kemudian langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Tama bingung, kenapa istrinya itu tiba-tiba mengunci pintu kamar membuatnya menggedor pintu itu takut ada sesuatu dengan Ratna.
"Mas jangan masuk dulu sebentar. Mas mending kunciin pintu sama gerbang dulu," kata Ratna dari dalam.
Tama ikut saja dengan apa maunya Ratna. Dia mengunci gerbang, mengunci pintu kemudian mengetuk lagi pintu kamarnya, "Dek, ini kapan Mas boleh masuknya?" tanya Tama.
"Bentar. Bentar lagi aja," kata Ratna entah apa yang dia lakukan di dalam.
Tama memilih duduk di ruang tengah dan berusaha memasang telinganya untuk mencari tahu apa yang sedang istrinya lakukan di dalam sana. Tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka begitu saja. Karena Tama tidak melihat Ratna melangkah keluar dia yang memilih untuk masuk. Di luar dugaan, sekarang suasana kamarnya sudah rapi, wangi dan Ratna sengaja mengenakan pakaian yang tipis dan terbuka. Dia berjalan mendekati Tama dan langsung memeluknya.
"Mas boleh lakukan apapun yang Mas mau malam ini. Maaf ya Ratna sudah bikin Mas menunggu," kata Ratna.
Tanpa basa basi Tama langsung mengangkat tubuh Ratna dan menidurkannya di atas tempat tidur yang Tama sadari spreinya baru saja diganti. Dia langsung melepaskan kaosnya dan langsung menuntaskan semuanya malam itu juga. Semalaman mereka berdua bersenang-senang. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak merasakan kebahagiaan sebesar ini.
Ratna masih bertahan tidur di atas tubuh Tama yang enggan memakai kembali pakaiannya. Ratna terus memainkan kuku ibu jari Tama dan terus bercerita apa saja yang menjadi beban di hatinya selama ini begitupun dengan Tama.
"Dek, kita mulai lagi semuanya dari awal. Mau ya?" ajak Tama.
"Mau. Tapi yang disini di-reset dulu," kata Ratna sambil memegangi dada kirinya.
__ADS_1
"Sini, Mas reset dengan cara yang paling manis yang Mas bisa," kata Tama yang lagi-lagi memulai permainannya. Dengan penuh cinta dia kecup bibir istrinya untuk menyalurkan segala kasih sayangnya. Sebagai bukti jika Pratama Aji serius dengan kata-katanya.