Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
93. Ngambek


__ADS_3

Para tamu sudah membubarkan diri sejak lepas jam makan siang tadi. Saat ini Ratna sedang menyiapkan air mandi untuk Aksara sedangkan Tama mencoba melepaskan pakaian Aksa yang terus berontak dan menangis. Aksara kalau mau mandi pasti menangis, tapi nanti ketika kulitnya menyentuh air dia tidak mau diangkat. Tipikal Tama dan Ratna yang malas buka baju tapi suka mandi.


Ratna sudah siap dengan handuk kering kemudian mengambil alih Aksa dan membawanya ke dalam bak mandi yang sengaja dia letakkan di teras. Sekalian saja memberikan pengalaman baru buat anaknya mandi di luar sambil main air. Selesai mandi, Ratna mendekapnya dengan handuk kemudian membawanya kembali ke kamar dimana Ayahnya sudah menyiapkan pakaian bersih. Lagi-lagi Aksara menangis ketika Ratna memasukkan tangan Aksa ke dalam lubang pakaiannya tapi tidak sampai lama dia menangis karena Ayah dan Bundanya yang mengajaknya bermain.


Selesai mandi, giliran dia menyusu. Seharian dia hanya menyusu dari botol sekarang giliran dia didekap ibunya betah tidak mau lepas. Begitu lepas dia langsung menangis padahal dia sebenarnya sudah tidur dan tidak lagi menyusu. Dia hanya ngempeng.


"Bunda, kalau sudah tidur kenapa nggak kamu turunin aja? Biar istirahat juga lenganmu," kata Tama.


"Kalau mau sudah kuturunin dari tadi Ayah," kata Ratna.


"Ngempeng ya?" tanya Tama.


"Hmm, persis kaya Ayahnya. Doyan ngempeng," kata Ratna.


"Jangan dibahas atuh malu," kata Tama sambil tertawa.


Sekali lagi Ratna mencoba menjauhkan Aksa darinya. Ratna belum sempat makan, belum sempat mandi dan tubuhnya sudah kelewat lelah sekarang. Jadi dia agak memaksanya tega tidak tega. Untung Tama sigap membantunya. Dia membantu Ratna menidurkan Aksara, walau agak sulit tapi berhasil juga. Setidaknya Ratna sempat untuk mandi. Selesai mandi dia bergegas menggendong Aksara dan dengan sangat terpaksa terus memangkunya ketika Ratna sedang makan.


"Ayah, bantuin dong," kata Ratna.


"Mau tambah apa udahan?"


"Tambahin, tapi dikit aja."

__ADS_1


"Dasar. Nggak anaknya nggak bundanya perkara makan gerak cepat. Bener-bener deh anak bunda banget," kata Tama.


"Ya kan buah jatuh nggak jauh dari pohonnya Tama, wajar dong kalau Aksara mirip sama kalian berdua. Lha kalian Bapak Ibunya apa bukan?" tanya Ibu.


"Iyalah Bu, masih inget jelas nih kapan buatnya, dimana dan giman..., ahh...!! Bunda sakit," kata Tama merasakan cubitan Ratna yang cukup keras di pinggangnya.


"Nggak usah diceritain yang begituan Ayah," protes Ratna.


"Dih malu-malu padahal mau," kata Tama.


"Mbuh ah, nggak jadi mau tambah. Udahan aja," kata Ratna melangkah masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Aksa.


"Yap. Selain doyan makan istriku juga mutungan," kata Tama pada dirinya sendiri.


"Wuahh sakniki Pak, masih sama. Kalau sudah mutung jangankan mau ngomong. Buat ngelirik aja udah nggak mau," kata Tama setuju.


"Ning ngono-ngono Bapak ra wani ngelawan," kata Bapak sedikit berbisik.


"Nggih Pak, sami. Mengerikan kalo udah ngamuk," kata Tama akhirnya tertawa bersama Bapak.


...***...


Tama baru kembali setelah mengecek semua pintu dan jendela sudah terkunci. Dia juga mematikan lampu ruang tengah kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya menyusul Ratna yang baru mengganti popok Aksa yang basah. Sehari ini Tama tidak mencuci dan dia hanya bisa melongo melihat pakaian kotor Aksa menumpuk begitu banyak. Untung besok hari Minggu, jadi dia bisa menghabiskan hari untuk membersihkan rumah. Padahal sebenarnya Ratna juga sudah baik-baik saja, tapi Tama kelewat protektif makanya begitu. Padahal kalau Tama pergi kerja Ratna juga yang melakukan semua pekerjaan rumah.

__ADS_1


"Aksara sama Ayah sini," kata Tama.


"Titip bentar ya Ayah, aku mau ke kamar mandi dulu," kata Ratna.


Selesai urusannya di kamar mandi, Ratna tidak langsung kembali ke dalam kamar. Dia lebih dulu melangkah mendekati kulkas setelah mengambil piring di rak juga satu gelas berukuran sedang. Dia meletakkannya di meja makan kemudian meraih kotak susu dan box berisi donat dari dalam kulkas. Dia mengisi penuh gelasnya dengan susu, meraih 2 buah donat, satu piring kecil berisi pepaya yang sudah dikupas sore tadi, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar.


Tama kaget melihat apa yang Ratna bawa dengan kedua tangannya. Ratna kini sedang duduk di meja kerja, memasukkan laptopnya ke dalam laci dan menyingkirkan barang-barang yang ada diatasnya. Ratna duduk tenang sambil memutar ayat suci Al-Qur'an dari handphonenya. Tama sambil menepuk-nepuk Aksara yang mulai kembali tidur merasa bingung, sejak kapan istrinya memiliki napsu makan sebesar ini.


"Kamu kesambet setan laper apa gimana Bun?" tanya Tama.


"Laper Ayah, lagian aku harus nyusui Aksa. Nggak papa kan? Nanti kalau Aksa udah agak gede dan udah lewat ASI eksklusif aku diet lagi deh janji," kata Ratna.


"Aku nggak minta kamu diet lho Bun. Udahlah, yang penting jaga kesehatan aja. Aku nggak tega lihat kamu sering kelaperan malem-malem dan berakhir cuma minum banyak air putih kaya gitu," kata Tama.


"Mas, tahu nggak setelah lahiran aku jarang ngerasain sesak nafas," kata Ratna.


"Oh ya? Bagus dong. Alhamdulillah dikasih sehat. Pokoknya doa ayah cuma satu, semoga Bunda sama Dek Aksa dikasih sehat terus," kata Tama sambil menatap putranya.


"Ayah juga dong. Semoga ayah sehat selalu. Hati-hati kalau lagi tugas Mas, ingat ada keluargamu yang nunggu di rumah," kata Ratna.


"Pasti. Selama kamu kasih restu Mas pasti akan baik-baik aja," kata Tama sambil mengecup ujung kepala Ratna.


Ratna sudah selesai dengan makan malamnya yang kedua. Dia meletakkan piring dan gelas itu di wastafel lalu segera kembali ke dalam kamar setelah mencuci tangan dan mencuci piringnya. Ratna langsung naik ke tempat tidur menyusul Tama yang sudah lebih dulu merebahkan diri sedangkan Aksa di box bayinya sudah tertidur tenang. Setelah melahirkan, Tama kembali pada kebiasaan lamanya. Selalu memeluk Ratna setiap kali tidur. Dia tidak perlu lagi menatap punggung sang istri karena sekarang Aksa sudah tidur di tempat tidurnya sendiri.

__ADS_1


Yang agak menyebalkan adalah ketika Aksa tengah malam terbangun, Ratna tidak akan menidurkannya di box kembali tapi ditengah-tengah dirinya dan Tama. Dia akan tidur sambil menyusui Aksa agar dia tenang dan tidak rewel keesokan harinya. Baru ini dia dinomorduakan oleh istrinya, tapi tidak apa-apa. Toh semua yang Ratna lakukan adalah untuk anak kesayangan mereka. Untuk Aditama Aksara Langit harapan serta kebanggaan kedua orang tuanya.


__ADS_2