Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
113. Ulang Tahun Tama


__ADS_3

Besok adalah ulang tahun Tama. Entah kebetulan atau apa besok Ratna libur. Dia tidak memiliki jadwal jaga poli maupun jadwal operasi. Rencananya dia dan Aksa akan membuat roti ulang tahun untuk Ayah yang sudah bekerja keras demi keluarga selama ini. Ratna sudah membuat sendiri rotinya dari awal. Dengan bantuan Uli dia membuat semua menu yang sudah dia tentukan sejak semalam.


Ratna sebenarnya sudah menentukan akan memasak masakan eropa seperti steik dan pasta, tapi suaminya itu malah minta terong balado. Akhirnya Ratna membuat terongnya jadi 2 macam masakan. Sebagian dia goreng, dan sebagian dia buat jadi terong balado dengan sambel super pedas seperti permintaan. Ratna juga membuat beberapa cemilan untuk mengisi toplesnya yang mulai kosong. Dia membuat keripik kaca dan stick keju. Dia juga membeli beberapa bungkus biskuit kecil yang dia masukkan ke dalam toples plastik berwarna biru untuk Aksa.


Ratna sudah mulai menghias kuenya dengan whipped cream dan berbagai macam topping. Dia menyerut coklat batangan kemudian menaburkannya ke atas kue yang sudah diberi lelehan coklat. Selain itu Ratna juga menambahkan sedikit cream dan cherry diatas kue ulang tahun suaminya.


"Uli, tadi aku sudah jadi beli lilin belum sih?" tanya Ratna.


"Belum deh Bu kayanya," kata Uli.


"Ini lilin Bunda," kata Aksa membawa lilin yang memang selalu Ratna letakkan di rak dekat tv untuk jaga-jaga kalau mati lampu.


"Bukan pakai lilin itu dong Sa, kan lilinnya kotor. Nanti rusak kuenya Ayah," kata Ratna menahan geli.


"Saya belikan saja apa Bu? Sekalian mau beli pulsa nih paketan saya mau habis," kata Uli.


"Boleh, makasih ya Li. Beli yang angka 3, 6, sama yang lilin kecil-kecil itu satu box. Nih duitnya," kata Ratna.


"Siap Bu, saya pinjam motornya ya Bu," kata Uli bersiap pergi.


...***...


Menjelang maghrib Tama pulang. Ratna bisa mendengar suara mobilnya mulai memasuki garasi. Dia juga melihat pantulannya dari pintu kaca di samping dapur. Ratna menghentikan sejenak kegiatannya. Dia melepaskan apronnya kemudian melangkah keluar untuk menyambut kepulangan suaminya. Di belakangnya Aksa berjalan mengikuti Bunda dan langsung berlari ke pelukan Ayah. Tama merentangkan tangannya kemudian berjongkok agar bisa memeluk putranya yang berlari ke arahnya.


"Ayah selamat ulang tahun," kata Aksa sambil mencium pipi Tama.


"Terima kasih Aksa. Kok Aksa tahu kalau Ayah ulang tahun?" tanya Tama.


"Bunda yang beri tahu," kata Aksa.

__ADS_1


Tama menurunkan putranya karena dia harus melepas dulu sepatunya. Dia duduk di kursi yang ada di teras, melepaskan sepatu dan kaos kakinya kemudian meletakkannya di rak sepatu yang ada di sebelah pintu. Aksa membantu Bunda membawakan tas Ayah masuk ke dalam, tapi dia hanya bantu pegang karena yang mengangkat tetap Bundanya. Aksa mana kuat membawa tas sebesar ini.


Tama melangkah masuk menyusul istri dan anaknya. Dia lebih dulu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian baru dia duduk di sofa menemani Aksa yang sedang bermain di depan tv sendirian karena Bunda dan Tante Uli sibuk memasak di dapur.


"Assalamualaikum," kata seseorang sambil mengetuk pintu depan.


"Waalaikumsalam, masuk saja Bay," kata Tama yang tahu siapa yang mengetuk.


"Om Yu~," panggil Aksa begitu melihat Om Bayu datang.


Sama seperti yang dilakukan oleh Ayahnya tadi, Om Bayu juga mendekatinya kemudian mengajaknya tos. Bayu kemudian duduk bersama Aksa dan komandannya setelah mencuci tangan dan kakinya di kamar mandi.


"Om Bayu sama Tante Uli ikut makan malam di sini sekalian saja yuk," kata Ratna.


"Oh iya, Bapak hari ini ulang tahun, pantes ibu masak banyak banget," kata Bayu ingat jika komandannya ulang tahun.


"Nggak dikerjain kok Bu, cuma disiram air seember sama Pak Cakka. Terus habis itu disemprot selang deh sama Komandan Novan dan Komandan Rendy," kata Bayu membuat Ratna tertawa tapi tidak dengan Aji.


"Bangsat banget emang makhluk satu itu," kata Tama.


"Bangsat."


Ratna langsung melirik pada Tama begitu mendengar putranya mengkopi kata-kata umpatan itu dengan begitu fasih. Tama juga tidak kalah kaget putranya bisa mengikutinya begitu sekali mendengar. Walaupun Aksa hanya mengikuti kata-kata Ayah tanpa tahu maksudnya apa tapi kan tetap saja itu kata umpatan yang tidak seharusnya didengar oleh anak sekecil itu.


"Ayah bangsat?" tanya Aksa membuat seisi ruangan menahan geli.


"Eh Aksa nggak boleh bilang gitu. Itu kata-kata Ayah, Aksa nggak boleh ikut-ikut," kata Tama.


"Kenapa Ayah?"

__ADS_1


"Itu kata-katanya orang besar. Aksa kan masih kecil jadi nggak boleh ya," kata Tama berusaha memberi pengertian pada putranya.


"Aksa sudah besar. Bunda bilang Aksa sudah boleh punya adik," kata anak itu dengan polosnya membuat semua mata tertuju pada Ratna yang tengah menata makanan di atas meja.


"Bun, kamu nggak lagi hamil kan?" tanya Tama.


Ratna dengan cepat menggeleng. Bocor sudah rencananya. Bukan begini yang ada di bayangannya. Dia berencana untuk menanyakan dulu pada putranya mau tidak dia punya adik baru setelah Aksa setuju dia akan membujuk suaminya eh malah Aksara sudah nyeplos duluan.


"Ndan, kok kayaknya Aksa lebih baik saya bawa ya malam ini?" kata Bayu dengan senyum jahil yang membuatnya mirip Shrek.


"Hus. Abang!" koreksi Uli dengan cepat.


"Aksa mau main tempat om Bayu," kata Aksa.


"Iya, Aksa mau?" tanya Bayu yang jelas diiyakan oleh anak itu. Rumah Om Bayu dekat dengan sebuah TK dan terakhir kali dia main ke sana Aksa diajak bermain jungkat jungkit dan ayunan makanya dia senang begitu tahu dia bisa main lagi ke rumah om Bayu.


"Aksara, katanya mau bobok sama Bunda malam ini," kata Ratna mencoba membatalkannya.


"Nggak papa Bu, saya kan juga pengen punya. Kali aja karena Aksa saya bawa pulang saya jadi ketularan punya anak juga," kata Bayu.


"Oh boleh. Bawa aja, anaknya juga seneng kok. Nggak papa. Besok sore biar aku yang jemput di tempat kamu," kata Tama dengan cepat menyetujui.


"Apaan sih Ayah," kata Ratna mencoba protes.


"Katanya pengen punya anak lagi. Kalau Aksa di rumah nggak bisa puas kamu," kata Tama kali ini dengan sedikit berbisik agar hanya istrinya yang dengar.


Ratna tidak habis pikir bisa-bisanya suaminya ini bicara dengan semudah itu. Ratna langsung memukuli lengan suaminya tidak percaya dengan pikiran pendek Tama. Ratna memang ingin, tapi kan tetap harus dibicarakan juga tidak seasal ini. Kenapa sih suaminya berbeda. Kapan suaminya ini bisa normal sedikit saja, tidak bertingkah aneh-aneh atau sok ngide aneh-aneh juga.


Ya sebenarnya Ratna suka-suka saja diperlakukan begitu. Dia jadi tidak pernah bosan dengan tingkah Tama yang ada-ada saja. Cuma terkadang waktunya tidak tepat. Atau kalau bukan waktunya tidak tepat ya tempatnya yang tidak tepat. Seperti sekarang ini bisa-bisanya dia dengan gamblang membiacarakan hal ini padahal masih ada Bayu dan Uli, ada Aksara pula. Walaupun Bayu dan Uli sudah menikah dan hal seperti ini bukan merupakan hal tabu tapi tetap saja ini kan rahasia. Aksara saja kalau bisa tidak tahu ini malah koar-koar.

__ADS_1


__ADS_2