
Hari sudah mulai sore, Tama dan Ratna sengaja tidak pulang ke rumah melainkan ke rumah Bapak di Purworejo. Sudah lama mereka tidak menyapa Bapak dan Ibu. Kata Ratna mumpung ada waktu, karena kalau mereka menunda bisa-bisa Bapak dan Ibu yang datang ke rumah mereka padahal Ratna belum sempat membereskan perabotan.
Benar saja, ternyata Bapak dan Ibu sudah berencana berangkat ke Jogja lusa untuk mengunjungi rumah sulungnya, Ratna. Begitu sampai Bapak dan Ibu sudah heboh menyiapkan ini dan itu, menata kamar terutama. Bapak juga mengajak Tama dan Ratna makan di luar karena kebetulan Ibu hanya memasak bening bayam dan sudah basi karena sudah sore.
"Kok tumben Ibu nggak masak?" tanya Ratna.
"Ming berdua, ngapain masak banyak-banyak," kata Bapak.
"Lha, Bapakmu kalau dimasakin Ibu suka nggak dimakan, yasudah Ibu masak buat sendiri saja. Lagian kamu nggak ngomong mau ke rumah, Mbak," tambah Ibu.
"Ya maaf Bu, mendadak juga. Habis dari Gunung Kidul kok pengen mampir gitu. Habis males lihat rumah masih berantakan. Belum sempat ditata orang kemarin baru sampai. Seharian saya larang Dek Ratna beres-beres biar sama-sama bisa istirahat dulu wong lusa juga sudah mulai kerja dia," kata Tama.
Ketika mereka berempat sedang makan malam, kebetulan Sasa videocall Ratna karena dipameri foto Ratna yang sampai di rumah Ibu. Dia balik pamer ke kakaknya katanya si kecil Adrian sudah mulai belajar merangkak. Ratna juga melihat keponakannya itu saat ini tengah merangkak mendekati Ayahnya yang baru saja pulang dari kantor. Menyusul, Nata juga ikut bergabung dalam sambungan video dan ikut mengobrol bersama. Nata saat ini berada di asrama, sedang melepaskan lelah setelah latgab seharian tadi.
Selesai makan, mandi, Ratna dan Tama mohon pamit untuk masuk kamar pada Bapak dan Ibu. Tubuh mereka sudah lelah. Bahkan kaki Ratna sakit. Di dalam kamar, Ratna langsung tertidur sedangkan Tama masih asik memandangi istrinya yang sudah terlelap di sebelahnya. Tama seperti melihat kembali wajah yang sudah lama dia rindukan. Adiratna yang polos, lugu, dan manja. Adiratnanya yang manis, lucu, dan selalu mengekor kemanapun Tama pergi. Ratna yang sekarang memang sudah jauh berbeda.
...***...
Pagi harinya, Tama yang ganti merengek untuk diperbolehkan ikut ke warung padahal semalam Tama janji akan memandikan Brian. Saat sampai di warung, jelas dia jadi pusat perhatian dan Ratna mulai malu sendiri ketika melihat suaminya itu berdiri didepan meja yang berisi jajanan pasar. Tubuh tinggi besarnya terlihat kontras dengan ibu-ibu yang mendominasi warung ini.
"Siapa ini?" tanya seorang tetangga pada Tama yang menunduk canggung.
"Mantuku no, sopo meneh," jawab Ibu.
"Mantumu Bu? Sing polisi apa sing tentara?"
"Mantu mbarep. Yang polisi, suaminya Ratna," jawab Ibu lagi.
"Ealah ini Ratna? Ya Allah bulik pangling. Beda jauh kamu sekarang. Cantik banget, agak kurusan juga ya," kata satu yang lainnya.
"Pantes dari tadi tak lihat-lihat kaya kenal tapi siapa kok lengket tenan sama Bu Widi. Lagi liburan mbak?" kali ini yang bertanya Bu Mantri.
__ADS_1
"Nggih, alhamdulillah Mas pindah tugas di Jogja terus ini mampir mumpung lagi ada waktu," kata Ratna.
"Mbak, timbangin kentangnya dong 3 kilo," kata Ibu pada si penjual.
"Banyak ya Bu Widi belanjanya," kata ibu-ibu masih belum lelah bertanya-tanya pada Ibu.
Ratna kemudian berjalan mendekati Tama yang masih bingung mau membeli jajanan yang mana. Ratna berbisik pada Tama untuk meminta dompetnya. Tidak enak juga mereka sudah terlanjur jadi pusat perhatian. Kalau sampai satu warung tahu belanjaan ibu yang menggunung itu Ibu sendiri yang bayar, pasti Tama dan Ratna akan kena julid sekampung. Tama menyerahkan dompetnya pada Ratna kemudian berjalan menyusul sambil menenteng satu plastik klepon, satu plastik tahu bakso dan beberapa buah serabi.
"Bu, yang bayar biar aku aja," kata Ratna pada Ibu.
"Ya situ," kata Ibu.
"Berapa Bu belanjaannya?" kali ini Ratna bertanya pada si penjual yang mulai mengambil plastik kresek besar lalu mulai menghitung belanjaan Ibu.
"Total 234.500," kata si penjual.
Ratna menyodorkan 5 lembar 50 ribuan kepada si penjual, kemudian mengembalikan dompet Tama kepada pemiliknya sedangkan uang kembaliannya masuk kantong dia. Tama dengan senang hati membawakan barang bawaan Ratna dan Ibu jadi biar dua orang wanita ini berjalan saja tanpa harus membawa beban apapun. Begitu sampai rumah, Tama bergabung dengan Bapak duduk di teras. Menikmati hangatnya mentari pagi sambil nyemil klepon dan pisang goreng buatan Ibu.
"Mbak lama to disini?" tanya Bapak yang menerima segelas kopi dari Ratna.
"Boten Pak, nanti sore pulang wong besok pagi saya sudah mulai kerja," kata Ratna.
"Lha kok cepet?"
"Ya ayo Bapak sama Ibu saja main ke rumah. Tapi jangan sekarang Pak, masih berantakan," kata Tama.
Setiap kali pasangan ini ke rumah Ibu, Ratna akan lengket sama ibunya sedangkan Tama lengket dengan ayah mertuanya. Sekarang saja Tama ikut Bapak ke lapangan buat gantangan burung. Padahal Tama tidak tahu menahu soal burung tapi lumayan lah dari pada dia hanya di rumah lihatin Ibu sama Ratna yang sibuk berdua dan dia malah gabut.
Sama seperti ketika di warung tadi, sekarang ini Tama juga menjadi pusat perhatian. Siapa sih warga yang tidak kenal dengan keluarga Pak Yatna? Selain Pak Yatna ini tokoh masyarakat, keluarganya juga terpandang dan terkenal baik hati juga sopan. Ratna, Sasa, dan Nata juga tidak segan meluangkan waktu untuk aktif di Karang Taruna desa, makanya banyak yang kenal. Selain itu, keluarga Bapak lebih terkenal lagi karena dapat menantu yang dua duanya adalah seorang perwira. Satu di TNI-AD, satu di Brimob, dan Nata juga sekarang sedang menjalani pendidikan TNI-AU dan bercita-cita menjadi penerbang.
Ratna pernah bilang dan cerita padanya, kalau di desa keluarganya itu sangat-sangat dihormati sampai dia sendiri kadang terbeban karena kadang orang-orang yang lebih tua darinya dan harusnya dia hormati malah sudah menunduk padanya lebih dahulu. Sekarang baru terasa oleh Tama yang tidak kenal dengan siapapun tapi semuanya kenal dengan dirinya. Tama menikmati sih waktunya dengan Bapak. Dia jadi belajar sesuatu yang baru.
__ADS_1
"Mas, jare Ratna sakit?"
"Nggih Pak, Ratna sakit asma. Terus kemarin dia kan sempat diusilin orang sampai masuk ICU, tapi insyaallah sudah sehat," kata Tama.
"Astagfirullah, kok bisa?"
"Maaf Pak, resiko Ratna jadi istri saya memang berat. Maaf juga nggak bisa jaga putri Bapak dengan baik. Itu salah saya," kata Tama.
"Ora popo. Bapak kan wis ikhlas dia buat kamu. Asal bukan kamu yang menyakiti dia. Kalo kamu yang nyakiti dia tak bawa pulang langsung anaknya," kata Bapak.
"Saya insyaallah amanah Pak, nggak pernah terbersit untuk menyakiti Ratna setitikpun. Ibarat kata saya yang jadi orang tua dan punya anak perempuan pasti nggak akan rela kalau putri saya dijahati sama orang, makanya saya juga harus memperlakukan putri Bapak dengan baik. Saya tidak mau menumpuk karma buruk, Pak," kata Tama.
"Apik malah kalau kamu sudah punya pikiran kaya gitu. Wis yo pulang, Bapak wis ditelpon Ibune ki," kata Bapak.
"Ya jelas Pak ditelpon lha wong sekarang sudah jam 2. Bapak kan janjinya cuma sampai dhuhur tadi," kata Tama.
"Ya maklum nek wis pegang hobi ki sok lali," kata Bapak.
"Sama Pak," jawab Tama ikut tertawa bersama Bapak.
Ketika keduanya sampai di rumah, Ratna sudah berkacak pinggang di depan pintu. Death glarenya membuat Bapak dan Tama takut. Bapak tadi juga bilang, Ratna itu lebih galak dari pada Ibunya. Hal itu dibenarkan oleh Tama dan langsung terbukti oleh fakta. Ratna langsung marah-marah nyemprot Tama. Kalau Bapak sih biasa tidak sarapan ya sudah, tapi kalau Tama tidak sarapan perutnya bisa sakit. Apalagi ini sampai jam 2 belum menelan nasi.
"Kan Mas sudah makan nasi ketan tadi pagi."
"Beda Mas. Kamu tuh kalau lagi dieman mbok ya manut. Nek nanti malem kok sampai minta kerokan nggak akan mau aku ngerokin. Minta sama Mas Cece aja sana," kata Ratna mengancam.
"Astagfirullah Dek, karo bojo aja galak-galak mbokan," kata Tama berusaha membujuk.
"Aku nggak galak kalau kamu dibilangin nurut Mas," kata Ratna sambil memotong mentimun dengan penuh emosi.
"Iya ampun Nyai. Nurut, janji," kata Tama yang keder melihat Ratna terus memotong mentimun tanpa ampun.
__ADS_1
"Hmm..., makan yang banyak suamiku," kata Ratna akhirnya tersenyum tapi masih tampak menakutkan untuk Tama entah kenapa.