Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
34. Mantan


__ADS_3

Setelah mendapatkan begitu banyak peralatan membuat kue dari bu Odah, Ratna jadi tiba-tiba suka membuat kue. Sejak semalam Tama melihat Ratna begitu sibuk mempelajari resep pie susu. Ratna tidak hanya berpaku pada satu resep bahkan. Dia memadukan beberapa resep dan menciptakan resep baru yang dia rangkum dalam sebuah notebook yang dia beli tempo hari.


Mumpung minggu dan Tama Ratna sedang libur, Ratna menguji coba resepnya. Dia membuat pie susu dengan kedua tangannya sendiri. Mulai dari membuat adonan pienya hingga membuat isiannya. Ratna bahkan tidak beranjak menjauh dari dapur dan terus memantau ovennya. Berhasil, setelah berkutat selama setengah hari di dapur dan membuatnya berantakan dia berhasil membuat pie susu pertamanya.


Walaupun menurut Tama rasanya terlalu manis tapi kalau mengingat Tama yang memang tidak doyan manis akhirnya tidak berkomentar apa-apa. Ratna kemudian memotretnya dan memamerkannya di status.


“Dek, nggak mau buka usaha catering aja po kamu itu? Masakanmu enak dan semua eksperimenmu selalu berhasil. Kayaknya kamu lebih seksi kalau pegang pisau dapur dibanding pisau bedah,” kata Tama yang sudah menghabiskan 3 buah pie susu tanpa terasa.


“No…, no…, Mas belum pernah lihat sih seberapa seksinya aku pakai baju bedah, pake masker dan pegang pisau bedah. Beuh dijamin Mas bakal terpesona sama aku,” kata Ratna.


“Dek…, kamu di Jawa salah makan apa sih? Kok pulang-pulang jadi pede abis gini?”


“Ya nggak papa pede, kan kenyataannya juga gitu. Atau nggak?”


“Mungkin. Kalau Mas lihat kamu pake snelli aja udah mleyot apalagi lihat kamu pakai baju bedah. Nggak ah takut pingsan.”


“Ratna bersyukur deh Mas kita nggak kerja bareng,” kata Ratna yang kini ikut duduk di hadapan Tama.


“Kenapa?”


“Ya suka aja gitu. Kadang aku tuh merasa kaya kangen banget sama Mas, tapi kan nggak bisa selalu ketemu. Makanya ketika pulang dan lihat Mas di rumah rasa kangennya tuh langsung ilang gitu. Perasaan kaya gitu tuh yang aku suka,” kata Ratna.


“Padahal Mas punya cita-cita bisa nikah sama yang satu bidang pekerjaan sama Mas. Biar bisa diajak diskusi gitu. Setelah menikah sama kamu malah Mas nggak pernah berharap akan ketemu kamu waktu lagi kerja. Takut.”

__ADS_1


“Bener juga ya…, ketika seorang polisi dan dokter bisa bekerja bersama pasti ada sesuatu yang nggak baik dibalik itu,” kata Ratna.


“Tapi kalau dipikir-pikir soal yang kamu bilang tadi ada benernya juga. Ketika Mas pulang udah kondisi capek lihat kamu di rumah gitu rasa capeknya langsung hilang. Beban kantor rasanya copot semua dari badan. Enteng banget jadinya,” kata Tama.


“Mas Tama…,” panggil Ratna.


“Hmm?”


“Janji ya kita bakal baik-baik terus. Janji ya jangan sampai ada masalah diantara kita. Janji ya jangan pernah tingg…,”


“Stop sampai disitu,” kata Tama memotong kalimat Ratna sambil membungkam bibir Ratna dengan telunjuknya.


“Mas janji sayang, selama Mas masih hidup Mas akan selalu ada sama kamu. Apapun situasinya apapun masalahnya kita hadapi bareng-bareng. Udah ya, jangan dibiasain jalan-jalan kesana kemari pikirannya. Nggak baik,” lanjut Tama.


Tama kemudian membawa Ratna untuk duduk di sofa ruang tengah meninggalkan dapur yang masih berantakan. Tama duduk lebih dulu kemudian meminta Ratna untuk menyusul di sebelahnya. Tama menaikkan kedua kaki Ratna membuat posisinya Ratna bersandar pada sandaran tangan setengah dipangku oleh Tama.


“Cerita yuk, apa yang bikin kepalamu penuh,” kata Tama sambil mengetuk-ngetuk pelan kepala Ratna dengan telunjuknya.


“Banyak. Yang paling jelas adalah mimpi buruk soal Vino sama Sindi. Aku punya firasat jelek banget pula. Kayanya mending kita di sini aja deh Mas nggak usah pulang ke Jawa ya aku takut,” kata Ratna.


“Dek, ada masalah itu dihadapi bukannya dihindari. Kalau kamu cuma menghindar dan lari, masalah itu nggak akan selesai. Justru dia akan semakin gencar mengejar kamu dan bikin hidup kamu makin nggak tenang.”


“Soal Sindi Mas bisa pastikan sama kamu kalau Mas sudah nggak punya perasaan apapun sama dia, jadi kamu nggak perlu takut Mas akan kembali sama dia. Dia pernah membuat kesalahan dan kesalahan itu tidak termaafkan. Mas nggak mau kasih dia kesempatan kedua.”

__ADS_1


“Terus kalau aku yang buat kesalahan itu apa Mas juga akan ninggalin aku?”


“Nggak. Sebelum kamu membuat salah Mas akan luruskan kamu, Mas akan peringatkan kamu. Karena kamu tanggung jawab Mas sekarang dan hingga akhir nanti. Kalau kamu sampai berbuat salah, yang patut disalahkan bukan hanya kamu tapi imam keluarga kamu yaitu Mas.”


“Terus kalau soal Vino gimana?”


“Dipta bilang apa soal Vino sama kamu? Dia akan menikah kan bulan depan. Kita doakan saja agar dia bisa jadi suami yang baik untuk istrinya dan menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya nanti. Yang namanya doa baik insyaallah akan kembali baik juga. Nggak usah dipikirin banget-banget. Mas nggak suka kalau hanya karena orang luar kita jadi renggang gini,” kata Tama menyadari jika sejak kepulangannya dari Jawa Ratna agak menjaga jarak darinya.


“Maafin aku Mas…,” kata Ratna sembari memeluk Tama.


“Maafin Mas juga ya, kurang peka sama perasaanmu,” kata Tama.


“Mas Tama…, hari ini aku nggak mau kemana-mana. Mau sama Mas aja seharian. Nggak mau diganggu orang juga, pokoknya hari ini Pratama Aji cuma punyaku,” kata Ratna yang masih terus bergelayut di lehernya.


“Iya deh iya, Pratama Aji cuma punya Ratna doang. Terus kita mau ngapain? Mau pelukan terus kaya gini?” tanya Tama.


“Iya…, bentar aja aku kangen…,” kata Ratna yang nadanya sudah terdengar sedih bahkan Tama mulai mendengar Ratna terisak walaupun tidak dia lepas begitu saja.


Tama tetap memeluknya, membiarkan Ratna melakukan apapun yang dia mau dan mendapatkan apapun yang dia butuhkan. Karena untuk saat ini Ratna membutuhkan Tama sebagai atap yang akan menghalau dirinya dari derasnya hujan yang turun. Juga sebagai tembok yang akan menahan angin yang berusaha merobohkan dirinya.


Tama mengerti, siapa sih istri yang tidak cemburu jika ada wanita lain yang mendekati suaminya. Tama juga cemburu kok kalau Ratna terlalu dekat dengan Petra walaupun dia tahu jika mereka berdua tidak ada perasaan apapun.


Sedangkan ini adalah mantan pacar yang datang. Jelas Ratna insekyur habis-habisan. Dia bahkan pernah mendengar Sindi menyebut Ratna seorang pelakor. Padahal Tama mendekati Ratna ketika hubungannya dengan Sindi sudah usai. Ratna semakin insekyur ketika melihat Sindi bisa begitu akrab dengan Mama. Iya Tama tahu maksud dan tujuan Ratna membiarkan Sindi bersama Mama untuk apa tapi menurutnya siksaan itu tidak akan hilang begitu saja. Ratna hanya berusaha untuk ikhlas dan menerima keadaan.

__ADS_1


__ADS_2