Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
Short Story 1. Persiapan Puasa


__ADS_3

Haii teman-teman barang kali ada yang kangen sama Tama dan Ratna?


Kayanya authornya nih malah yang kangen sama romantisnya Tama dan Ratna, hehehe


Oh iya, selama beberapa hari kedepan diusahakan author akan buat beberapa episode baru untuk mengobati kerinduan pada keluarga Aditama yang kocak nan absurd ini


Disclaimer dulu ya guys, cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan kisah Tama dan Ratna yang sebelumnya. Ini hanya sekedar cerita lepas untuk melepaskan rindu. So hope you like guys. Yang mau request short story dengan tema lainnya boleh juga drop di komentar yaa 🤗


...*🌱Ji🌱*...


Besok lusa seluruh umat muslim di dunia akan mulai menjalankan ibadah puasa. Seperti biasa, Adiratna selalu heboh melakukan ini dan itu. Mulai dari membersihkan kulkas, melakukan deep cleaning ke seluruh penjuru rumah dan membeli kebutuhan rumah tangga.


"Ayah...!!!" teriak Ratna.


"Allahu Akbar." kaget Tama. Tentu saja dia kaget, sedang asik mencuci baju sambil mengawasi Aksara main air tiba-tiba istrinya berteriak dari dalam rumah.


"Apa? Ada apa?!" panik Tama.


"Itu ada tokek," kata Ratna.


"Ya Allah kukira ada apaan Bunda, bikin kaget aja kamu tuh."


"Ya itu tokeknya tolong usirin," kata Ratna.


"Di mana tokeknya?" tanya Tama.


"Itu di belakang lemarinya Aksa," kata Ratna.


Tama meraih sapu kemudian meminta Ratna untuk keluar dari dalam kamar. Setelah Ratna keluar, Tama menutup pintu kamar agar tokeknya tidak lari keluar dari kamar. Setelah menyerahkan pekerjaan bunuh membunuh pada Tama, Ratna menyusul kedua kembarnya yang asik bermain dengan botol bekas air mineral yang berbunyi ketika dipencet. Nusantara sudah menginjak usia 1 tahun sedangkan Aksara belum lama ini berulang tahun yang ke-5.


Ratna dengan tenang menunggu hasil kerja Tama sambil merebus daging ayam dan memotong-motong sayuran untuk dibuat sop. Tak lama setelah bunyi-bunyi heboh tadi, Tama keluar dari kamar sudah membawa bangkai seekor tokek. Tama langsung membawanya keluar dari rumah dan menguburnya di pekarangan belakang, dekat dengan pohon mangga yang ada di pojok.


"Aksara mandi yuk, kamu dari pagi belum mandi lho Sa," ajak Ratna pada si sulung.


"Nanti Bunda," katanya.

__ADS_1


"Aksara, bandel deh dibilangin."


"I ih sebentar lagi Bundah, masih main busa," katanya masih terus memainkan busa dari ember kucekan seragam ayahnya.


Ratna sudah hampir kehabisan kesabaran. Dia sudah lelah sejak pagi tadi mengerjakan ini dan itu tanpa istirahat. Ratna langsung meraih Aksara dan mengangkatnya begitu saja. Dengan isengnya dia masukkan Aksara ke dalam ember berisi air bersih dan membuat seluruh bajunya basah semua.


"Mandi sambil main deh. Bentar ya Bunda ambilin sabun sama shampo dulu. Kamu jangan keluar. Udah di situ aja," kata Ratna.


"Bang, ngapain kamu di dalem ember begitu?" tanya Tama yang baru kembali.


"Bunda yang ceburin Aksa," katanya dengan girang.


"Iya, kamu kalau nggak diceburin dalam ember nggak akan mau mandi soalnya. Nih Ayah mandiin Aksa dulu, jangan kelamaan ya nanti dingin. Bunda mau bikin makan siang dulu," kata Ratna sambil menyerahkan sabun dan shampo kepada suaminya.


Kehebohan itu segera berakhir ketika Ratna berhasil mendudukkan ketiga anaknya di kursi masing-masing dan mengambilkan makan siang untuk mereka bertiga. Berhubung Nusantara masih kecil dan belum fasih memegang sendok sendiri, jadi Ratna harus duduk di antara keduanya agar dia bisa dengan mudah membantu Nusa dan Tara untuk menghabiskan makan siangnya.


"Dek, cobain deh enak nih, ahh...," kata Ratna sambil menyuapkan sepotong tahu bacem pada Nusa dan Tara bergantian.


"Bunda..., mau itu," kata Aksara sambil menunjuk oseng terong milik sang ayah.


"Mau coba," katanya.


Tama menyuapinya sedikit, dia cuil sedikit terongnya kemudian dia campur dengan nasi. Setelah dia tiup dia suapkan ke dalam mulut Aksara. Tama dan Ratna takut Aksara akan kepedasan tapi nyatanya anak itu malah minta tambah lagi.


"Mau lagi, A...," kata Aksara pada Ayah yang duduk di sebelahnya.


"Udah Bang jangan kebanyakan nanti perutmu sakit. Habis ini mau pergi lho," kata Tama.


"Tapi Abang boleh beli lego ya Ayah," bujuknya.


"Dih. Kok gitu sih? Lego kamu udah banyak Bang, itu lego land hadiah dari om Nata juga belum selesai kamu buat masa udah mau minta lagi?" kata Ayah.


"Ahh, tapi Aksa mau beli yang bentuk helikopter Ayah. Yang warna biru," kata Aksara.


"Aksa..., kalau kamu mau beli lego lagi yang itu diberesin dulu. Kalau udah beres udah jadi baru nanti Bunda beliin. Legomu itu berserakan kemana-mana lho Bang, kemarin juga hampir kemakan sama dek Tara hayo. Dijadiin dulu yang udah ada semuanya terus nanti kita pajang di lemari kaca di ruang tamu ya," kata Ratna sebelum anaknya itu semakin merajuk.

__ADS_1


"Yaudah deh," kata Aksa dengan raut sedih.


"Pinter anak ayah," puji Tama pada Aksara.


Memiliki adik di usianya yang masih kecil memang membuat Aksara sering kali merasa di duakan. Jika dia sudah tantrum dan menangis, dia akan berdiam diri di dalam kamarnya. Mau bagaimana lagi, kalau dia sudah begitu bahkan Uli saja tidak bisa membujuknya. Paling-paling hanya Ratna yang akan sangat sabar memberi pengertian pada putra sulungnya. Buat Ratna, Aksara memang berbeda. Dari segi perjuangan untuk mendapatkannya, sampai dia akhirnya bisa tumbuh sehat dan cerdas begini sangatlah berat rasanya.


Sebenarnya Ibu selalu menemani dan membantunya merawat Aksara, begitupun mendiang Mama yang sampai nafas terakhirnya masih selalu membantu Ratna. Sayangnya, banyak budaya-budaya lama yang sudah tidak relevan lagi untuk dilakukan. Apalagi dia dokter. Dia paham betul detail kesehatan itu seperti apa. Sekali membaca, dia bisa langsung paham semua bahaya dan resikonya. Contohnya saja tentang pemberian MPASI sebelum 6 bulan. Ratna pernah berdebat hebat dengan Ibunya hanya karena Ibu akan memberikan air tajin pada Aksara yang baru berusia 5 bulan.


Lain Aksara, lain Nusantara. Walaupun Ratna sudah memiliki pengalaman yang dirasa cukup, tapi mengurus bayi tunggal dan bayi kembar sangat-sangat jauh berbeda. Apa lagi Nusa dan Tara ini berbeda jenis kelamin. Dalam perlakuannya tentu saja berbeda. Sifat keduanya saja berbeda. Jika Nusa bisa begitu jahil persis seperti Ayahnya, Tara berbeda. Dia ini cengeng dan mudah menangis. Dijahili sedikit, dia akan langsung menangis dan mencari Bunda untuk minta peluk atau gendong.


Yah, namanya orang tua masih muda. Dia memang masih harus banyak belajar. Untung saja Tama bisa mengerti. Dia juga tidak segan untuk membantu dan bersedia menjadi tempat untuk Ratna mencurahkan seluruh keluh kesahnya. Atau jika diperlukan, Tama terkadang bisa menjadi teman diskusi yang baik untuk istrinya.


"Ayah yang cuci piring. Bunda bantu anak-anak aja," kata Tama mencegah Ratna untuk mencuci piring.


Tama memang agak tergesa karena ingat jika selepas maghrib nanti Ratna harus ke rumah sakit melakukan operasi sedangkan hari ini banyak hal yang harus mereka beli. Ratna juga harus survey untuk menentukan isi parcel dan hampers lebaran dengan apa.


"Nusantara baik-baik sama Abang dibelakang ya, Bunda di depan sama Ayah," kata Ratna yang sedang sibuk mendudukkan si kembar dalam kursi khusus bayi.


Selagi Ratna mendudukkan Nusantara yang setengah tidur ke kursinya, Tama membuka bagasi untuk memasukkan kereta bayi si kembar. Dia lebih dulu menekuk kursi paling belakang dan menaikkan kereta dorong Nusantara di atas jok yang terlipat.


"Sudah siap jalan ya," kata Tama yang sudah duduk di kursi kemudi.


"Eh bentar. Bunda lupa bawa handphone," kata Ratna bergegas turun.


Tama hanya diam memandangi Ratna yang berlari kecil masuk ke dalam rumah. Sejak bertaruh nyawa melahirkan si kembar, Ratna jadi agak pelupa. Tama pikir penyakit itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Toh Ratna pada dasarnya memang orang yang sangat detail dan teliti. Tapi rupanya sampai si kembar ulang tahun yang pertama penyakit Ratna belum juga sembuh.


"Bun, cerobohmu kebawa sampai OR nggak?" tanya Tama ketika Ratna sudah duduk dan menutup pintu mobil.


"Semoga nggak. Aku takut ih, kayaknya aku harus mulai mempertimbangkan untuk stop masuk ruang operasi aja. Biar aku bisa fokus ngajar, ngurus anak sama aku juga terpaksa menerima amanah jadi pengurus bhayangkari," kata Ratna.


"Mau diperiksain nggak? Pelupamu itu pasti ada penyebabnya Bunda. Biasanya kamu orangnya teliti banget lho," tanya Tama.


"Takut Mas," kata Ratna.


"Nggak usah takut Ratna, Mas temenin kok," kata Tama tetap mendapatkan gelengan dari Ratna.

__ADS_1


Sejatinya Tama hanya khawatir. Dia takut jika terjadi sesuatu pada istrinya. Dia ingat keluhan Ratna soal matanya. Setelah melahirkan, mata Ratna minus cukup tebal karena saat mengejan dia melukai syaraf optiknya. Masih beruntung Ratna bisa beraktifitas normal walau harus dibantu kaca mata. Tapi untuk yang satu ini dia takut kondisi Ratna akan memburuk suatu hari nanti.


__ADS_2