
Pagi harinya selepas subuh Bapak dan Ibu mengantar Tama dan Ratna ke stasiun. Tama dan Ratna juga sekalian pamit pada seisi rumah juga pada Sasa dan Gandhi karena selepas dari Jakarta mereka akan langsung balik ke Samarinda.
Tama dan Ratna langsung duduk di tempat duduk mereka ketika kereta sampai di peron. Beruntungnya mereka ada di sisi yang memungkinkan mereka dadah ke Bapak dan Ibu yang masih enggan meninggalkan stasiun.
Tama dan Ratna bertolak dari Stasiun Kutoarjo tepat pukul 7 pagi dan diperkirakan akan sampai sore nanti. Tama menempatkan Ratna untuk duduk di sisi jendela sedangkan dia duduk di sisi dalam. Alasannya karena di samping kanan mereka yang duduk adalah bapak-bapak yang merokok dan Tama tahu Ratna tidak akan kuat dengan asap rokok. Ini saja selama perjalanan Ratna tidak melepaskan maskernya.
“Hehe, akhirnya ke Jakarta lagi aku,” kata Ratna.
“Ini kali ke berapa kamu ke rumah Mama, dek?” tanya Tama.
“Ketiga atau keempat ya? Aku lupa. Mas sih ngegas ngajak nikahnya makanya aku belum sempat kenalan lebih jauh sama keluarga besarnya Mas,” kata Ratna.
“Ya maaf, Mas tuh bukannya ngegas tapi takut kalah start sama yang lain. Apalagi kan mantanmu masih ngebet banget sama kamu gitu,” kata Tama sambil melingkarkan tangannya pada Ratna.
“Nggak ngaca. Mantanmu lebih ngegas Mas,” kata Ratna sambil melepaskan tangan Tama yang melingkari bahunya.
“Makanya Mas ajak kamu kesana sengaja mau manasin dia biar dia tuh sadar aku sudah bukan punya dia. Aku cuma punya Ratna seorang, Ratna juga cuma punyaku seorang,” kata Tama sambil sedikit berbisik.
Selama perjalanan Ratna sempat tertidur. Tama dengan senang hati menawarkan pahanya untuk bantalan Ratna. Dia melepaskan jaketnya untuk menyelimuti Ratna agar tidurnya lebih nyaman. Tama juga ikut tidur beberapa waktu sebelum mereka akhirnya sampai di stasiun tujuan.
Tama lebih dulu mengajak Ratna untuk mencari makan mengisi perut kosong mereka yang hampir seharian duduk di dalam kereta baru keduanya mencari angkutan umum yang akan membawa mereka ke daerah Kebayoran tempat rumah Tama berada. Mereka tidak akan lama di sana, karena besok sore sudah harus kembali ke Samarinda tapi setidaknya mereka harus menyapa Mama. Ratna yang ingin sekali main ke rumah Mama karena Ratna merasa alasan Mama dekat dengan Sindy karena dirinya yang kelewat sibuk dan tidak pernah ada waktu untuk Mama.
Sekitar pukul 5 Tama dan Ratna sudah sampai di rumah. Tama dan Ratna lebih dulu membersihkan diri baru menyusul Mama yang sedang menyiapkan makan malam.
Ratna terus menempel kemanapun Mama pergi. Ketika Mama sedang memasak dia ikut membantu, ketika Mama sedang menyiram tanaman di depan rumah Ratna juga ikut. Dia bahkan selalu tanya-tanya sama Mama membuat Mama yang tadinya agak cuek mulai menaruh simpati pada Ratna.
“Ma, katanya teh Rizka mau ke sini jadi nggak?” tanya Tama pada Mama.
“Nggak tahu, kalau suaminya pulang cepet ya jadi kalau nggak ya belum tahu.”
Teh Rizka yang tadi disebut itu adalah sepupunya Tama. Dulu waktu kecil Teh Rizka adalah teman berantem Tama katanya dan Ratna sudah lihat sendiri bagaimana kedekatan kakak beradik itu. Tama tidak memiliki saudara secara langsung makanya ketika kakak sepupunya itu datang dia senang sekali.
“Mama, ini album foto Mas Tama bukan? Aku boleh lihat ya?” tanya Ratna menemukan sebuah album foto lama di rak dekat sofa.
“Wah jangan. Aib aib,” kata Tama.
“Nggak papa udah biarin istrinya mau lihat kok,” kata Mama.
“Nggak ah yang ada digodain seminggu aku,” kata Tama.
“Dek, kamu kan sudah dapat versi gantengnya kok ya masih cari-cari. Dulu aku jelek dek, udah nggak usah lihat,” Tama mulai menarik album itu dari pangkuan Ratna membuat keduanya berebut seperti anak kecil.
__ADS_1
Mama melihatnya, Mama melihat bagaimana senyum Tama merekah begitu manis di wajah tampannya. Anak laki-laki semata wayangnya itu bahagia hidup bersama istrinya. Mama akhirnya sadar jika yang Mama lakukan itu salah, tapi mau bagaimanapun Mama tidak bisa melupakan Sindi. Dia pernah menjadi kesayangan Tama, sudah dekat dengan keluarga besar Tama. Bahkan Mama sudah berjanji akan tetap menyayangi Sindi seperti menyayangi anaknya sendiri.
“Aw…, sakit Mas,” kata Ratna mengeluhkan lututnya yang terantuk meja.
Lamunan Mama buyar. Mama langsung berjalan mendekati Tama yang tengah berlutut di hadapan Ratna sambil mengelus lutut istrinya. Tanpa pikir panjang Mama menjewer Tama membuat dia langsung merintih bahkan lebih keras dari rintihan Ratna tadi.
“Nakal ya kamu. Siapa yang ngajarin kamu buat nyakitin istri kaya gitu, hmm? Bilang sama Mama sini, siapa yang bikin anak Mama jadi nakal,” kata Mama sambil terus menjewer Tama.
“Astaga Ma, sakit…, Mama nyebut Ma nyebut. Istighfar ini anak Mama sendiri jangan dijewer ahh…, sakit Ya Allah Mama. Nggak bercanda ini beneran,” jawab Tama dengan nada manja yang kontras dengan perawakannya yang tinggi besar. Ratna baru sadar ternyata sekeren apapun Tama dihadapannya, dia tetaplah seorang anak yang selalu ingin dimanja ibunya.
“Halah katanya anggota Brimob paling jago. Mau dibanting juga nggak akan sakit. Masa cuma dijewer mewek,” kata Mama masih belum mau melepaskannya.
“Maa~, ampun aku kan nggak sengaja. Lagian Ratna nggak papa. Iya dia nggak papa, ahh Mama…, ini aku mau tanggung jawab jangan dijewer mulu kenapa. Ampun ini sakit beneran nggak pake bohong,” kata Tama kini berlutut kembali untuk memohon ampun.
Ratna melihat Mama membelanya, dia sadar apa yang Mama lakukan membuatnya tersenyum. Apakah ini tandanya Mama sudah menerimanya kembali? Air mata Ratna tidak sengaja lolos dan itu disaksikan oleh Mama membuat Mama semakin keras menjewer Tama, “Tuh lihatin istrinya nangis. Hayo minta maaf sana,” kata Mama.
“Ratna maaf, ampun Rat. Ini kalo kamu nggak maafin Mas nggak akan dilepas,” kata Tama kali ini pada Ratna.
“Ma, udah jangan dijewer Mas Tama kasihan. Lagian Ratna nggak papa kok,” kata Ratna pada Mama.
“Kalau kamu nggak papa kenapa kamu nangis? Udah jangan nangis. Mama minta maaf ya udah nyakitin kamu,” kata Mama.
“Mama…, jangan bikin Ratna tambah nangis,” kata Ratna yang kini memeluk Mama dan menangis di pundak Mama.
“Mas, berarti nanti malam batal ya,” bisik Ratna.
“Yah, ah nggak jadi. Kok kamu sama Mama enak-enakan aku sendiri yang nggak,” kata Tama protes.
“Ma, gimana nih. Suamiku masih kayak anak kecil. Suka ngambek,” kata Ratna tertawa bersama ibu mertuanya.
Beruntungnya Tama dan Ratna tidak perlu banyak membujuk Mama untuk sadar. Mama sudah lebih dulu sadar jika apa yang Mama lakukan menyakiti banyak orang.
Pagi harinya Mama dan Ratna pergi sejak pagi-pagi. Bahkan ketika Tama belum sempurna bangun Ratna dan Mama sudah ke pasar untuk belanja. Mama ingin sekali memasak untuk Ratna atau setidaknya jika memasak terlalu banyak memakan waktu Mama ingin membelikan Ratna sesuatu.
“Ma, biasanya Mas Tama kalau Mama ke pasar mintanya apa?” tanya Ratna.
“Kalau Tama sih paling minta ketoprak depan SD. Kamu mau?”
“Mau Ma, sekalian beliin buat Mas Tama,” kata Ratna.
Mama dan Ratna kemudian menuju ke tempat yang tadi Mama maksud. Ke tempat penjual ketoprak yang selalu buka lapak setiap pagi di depan SD yang jadi almamater Tama dulu. Awalnya sih Mama yang suka beli di Mang Ujang, nama si penjual. Tapi karena Tama itu tipikal anak yang sukanya ngerecokin Mamanya makan dia jadi ikutan suka. Bahkan sampai SMA Tama sering kali rela jalan memutar demi mendapatkan seporsi ketoprak Mang Ujang untuk dia bawa ke sekolah.
__ADS_1
“Pagi Bu Diana, ketopraknya mau berapa porsi, Bu?” tanya Mang Ujang pada Mama.
“Pagi juga Mang, pesen 3 porsi ya.”
“Kaya biasanya, Bu?”
“Iya, kaya biasanya. Terus yang satu dibuat sama kaya punya saya saja,” kata Mama.
“Bu, itu neng geulis siapa mbok dikenalin,” kata Mang Ujang kepada Mama.
“Siapa lagi kalau bukan menantuku, cantik toh?”
“Geulis pisan euy. Tama pinter bener cari istri, Bu.”
“Udah cantik, pinter, dokter pula.”
“Eh tapi bukannya Tama kerjanya di luar jawa sekarang, Bu? Ini lagi liburan po?”
“Kemarin adeknya si Ratna ini nikahan terus sekalian mampir nemui Mamanya. Nanti sore langsung balik ke Samarinda katanya,” kata Mama.
“Maaf Ma nggak bisa lama, yang penting ketemu semua. Kapan-kapan Ratna janji bakal main lagi kalau ada waktu,” kata Ratna.
Sembari mengobrol, pesanan mereka selesai dibuat. Ratna dan Mama langsung pulang ke rumah karena sudah hampir lewat waktu sarapan toh Tama juga sudah menanyakan kepergian keduanya karena dia anggap terlalu lama jika hanya untuk pergi ke pasar.
Ratna dan Mama sampai di rumah sekitar pukul 9.30, Ratna langsung membongkar belanjaannya sedangkan Mama masuk ke kamar mengambil sesuatu yang katanya Mama belikan untuk Tama dan Ratna. Sepasang baju tidur dengan pola kotak-kotak berwarna hitam dan putih berpadu garis merah diujung baju dan lengannya. Cantik sekali dan ketika dicoba oleh Tama dan Ratna keduanya terlihat serasi.
Selesai sarapan Ratna lebih dulu membereskan semua bawaannya agar nanti mereka tidak terburu-buru. Mama dan Tama sedang mengobrol di ruang tamu meninggalkan Ratna yang sedang sibuk menata kopernya. Tadinya koper mereka tidak terlalu penuh tapi ditambah beberapa hadiah dari Mama jadilah koper itu full. Sudah begitu tas ransel yang tadinya hanya berisi pakaian Tama sekarang ikut terisi dengan barang-barang lainnya.
“Buset ini kenapa bisa jadi dua kali lipat begini sih, Bun?” tanya Tama karena kaget melihat bawaan mereka.
“Ya gimana dari Ibu dari Mama bawain macem-macem. Nggak papa yang penting nggak lebih dari kapasitas kok ini. Ada untungnya kan aku bawa kopernya yang besar,” jawab Ratna.
Tama akhirnya membantu Ratna sedangkan Mama kini tengah memasak makan siang untuk mereka nanti. Karena Mama kan tidak bisa nyetir jadi nanti yang mengantar adalah Teh Rizka dan suaminya. Jadi Mama memanfaatkan waktu sebanyak mungkin untuk bersama anak-anak kesayangannya.
Mama sedang memotong sayur ketika masuk sebuah panggilan dari Sindi. Mama lupa dia dan Sindi janjian untuk pergi hari ini tapi Mama kan masih ingin quality time bersama Tama dan istrinya jadi Mama menunda janjinya pada Sindi. Sindi yang mengetahui Tama datang ke Jakarta langsung tanpa basa basi datang ke rumah Tama untuk menemuinya dengan dalih dia akan pergi dengan Mama.
Ratna dan Tama tadinya masih asik di kamar, namun ketika keduanya melangkah dan menemukan seorang gadis yang tidak seharusnya datang dan malah membantu Mama sekarang membuat senyum keduanya hilang. Apalagi Tama yang jelas tidak suka gadis itu berada di sana.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Tama.
“Nemui Mama, soalnya hari ini Mama janji mau nemenin aku belanja,” kata Sindy.
__ADS_1
“Oh…, yang penting bukan mau nemui suamiku aja,” kata Ratna dengan nada yang menyindir.
Tama dan Ratna sudah sepakat jika gadis itu datang ke rumah, maka Tama dan Ratna akan dengan sengaja memperlihatkan kemesraan. Niatnya agar gadis itu sadar dia sudah tidak seharusnya mengganggu laki-laki yang sudah beristri.