
Lagi-lagi waktu terlewat begitu saja. Tidak terasa juga ternyata sudah 3 tahun pernikahan Tama dan Ratna berjalan. Ratna saat ini sedang menjalani PPDS sebagai langkah awalnya untuk bisa menjadi seorang dokter bedah seperti mimpinya. Beruntung Tama mendukung keputusan Ratna, dia bahkan dengan senang hati menyisihkan sebagian gajinya untuk biaya pendidikan Ratna.
Sudah 1 tahun berjalan, Ratna mulai mengalami beberapa kendala. Tahun pertamanya memang berjalan baik-baik saja, tapi tahun keduanya ini dia merasakan perbedaan yang cukup besar. Dia sudah mulai dilepas oleh pembimbingnya. Ratna juga sudah diberi tanggung jawab untuk mengedukasi dan merawat beberapa pasien pasca operasi tanpa didampingi lagi.
Kesibukan Ratna dengan pekerjaannya kemudian memaksa dirinya untuk terus berada di rumah sakit selama puluhan jam lamanya. Terkadang Ratna akan pulang larut malam, atau bahkan menjelang pagi. Ini saja sudah sekitar 3 hari dia tidak bertegur sapa dengan Tama. Terkadang dia baru bisa pulang ketika Tama sudah tidur atau kebalikannya, Tama yang pulang larut sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengobrol dengan Ratna karena istrinya itu sudah terlelap.
Tahun-tahun berat lainnya sedang mereka jalani saat ini. Terlepas dari segala usaha mereka untuk berkomunikasi, tapi kesibukan memaksa mereka untuk lepas kontak selama beberapa waktu. Ratna hanya melihat 2 buah pesan pamitan dari Tama yang berangkat melaksanakan misi pengintaian di luar kota dan entah kapan dia akan pulang. Bahkan kini Ratna tidak memiliki waktu lagi untuk khawatir. Dia hanya bisa mendoakan, semoga Tama baik-baik saja di sana. Semoga suami tercintanya itu bisa pulang dalam keadaan selamat dan dapat bertemu lagi dengannya.
"Ratna, kok kamu masih di sini? Bukannya kamu ada jadwal visit?" tanya Bima yang mengambil PPDS yang sama dengannya.
"Sekarang jam berapa?"
"Jam 8.13. Ratna kamu terlambat," kata Bima lagi.
"Astagfirullah, aku ngalamunin apa sih.... Maaf Bim aku tinggal dulu, bye," kata Ratna langsung berlari keluar dari ruang kerjanya.
Hari ini berlalu dengan berat untuk Ratna. Keterlambatannya pagi tadi membuat dia dimarahi selama sehari penuh bukan hanya dari pembimbingnya melainkan juga dari teman residennya yang lain. Mereka tidak terima karena kesalahan Ratna mereka ikut dimarahi juga.
Ratna akhirnya bisa pulang malam ini. Dia diizinkan pulang setelah bermalam di rumah sakit selama 2 malam sebelumnya. Ratna pulang dalam kondisi sudah teramat sangat lelah. Dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk menyapa Bu Odah yang tengah video call dengan kedua anaknya di teras. Ratna langsung meraih kunci, lalu masuk ke dalam rumah.
Rumahnya terasa dingin, gelap, dan kosong. Tanpa kehadiran Tama di sana rumah rasanya tidak seperti rumah. Ratna langsung merebahkan diri begitu saja tanpa melepaskan kaca matanya, tanpa melepaskan sepatunya, juga tidak mengganti pakaian. Dia hanya meletakkan tasnya sembarang di sofa dan langsung terlelap saking lelahnya.
Menjelang tengah malam, Tama akhirnya pulang juga. Dia menemukan rumah tidak terkunci langsung panik mencari Ratna yang ternyata tertidur di bed dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Ratna tidur miring dengan kedua kakinya tetap menapak di tanah. Dia bahkan tidak menggunakan bantal dan hanya menggunakan tangan kanannya untuk menopang leher.
__ADS_1
Tama sejatinya sudah terlalu lelah. Melihat kondisi rumah begini berantakan tadinya dia akan menegur Ratna, tapi melihat Ratna dalam kondisi demikian membuat amarahnya luntur begitu saja. Tama menaikkan kedua kaki Ratna perlahan. Tama kemudian menyusul Ratna untuk tidur tanpa mengganti pakaiannya juga.
"Maaf ya, Mas tadi hampir marahin kamu," bisik Tama di telinga Ratna.
Tama yang hampir memejamkan matanya melihat ada setetes air mata Ratna mengalir menuruni pelipisnya membuat Tama semakin yakin jika Ratna tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Pagi berikutnya, Ratna terbangun lebih dulu dengan kondisi kepala yang pusing tidak terkontrol. Dia ingat semalam dia tidur begitu saja dengan posisi yang kelewat tidak benar. Tapi pagi ini dia bangun dengan posisi tidur yang baik. Bahkan juga memakai selimut. Ketika Ratna akan beranjak baru dia merasakan kehadiran seseorang di sana. Satu tangan kekar melingkari tubuhnya mengungkung dia dalam pelukan. Ratna mengenali pelukan ini adalah Tama suaminya sehingga tidak butuh waktu lama untuk Ratna langsung berbalik badan dan memeluk balik Tama yang bahkan belum bangun.
"Dek? Kamu nangis?" tanya Tama yang langsung terbangun begitu Ratna memeluknya tadi.
Tama merasakan gelengan dari dalam pelukannya. Tama tidak puas, dia ingin memastikan sendiri apakah Ratna benar-benar menangis atau tidak tapi baru dia akan melepaskan tautannya, Ratna kembali mengeratkan pelukan.
"Gini dulu sebentar Mas. Jangan dilepas...," kata Ratna.
"Udah dulu yuk, kita sarapan dulu. Nanti kalau masih kangen kita pelukan lagi habis makan," kata Tama mengajak Ratna untuk bangkit dari tempat tidur.
Tama dan Ratna hanya berpisah ketika mandi, selebihnya Tama tidak pernah menjauh dari Ratna. Bahkan ketika Ratna berkutat di depan kompor Tama masih terus berada di belakangnya. Sesekali mencium ujung kepala Ratna, sesekali juga memeluknya dari belakang.
"Sini biar Mas aja. Kamu buatin kopi dong dek, Mas kangen kopi buatanmu," kata Tama mengambil alih pekerjaan Ratna.
Ratna terlihat tidak berselera makan pagi ini. Dia hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa tenaga.
"Kenapa dek? Itu kasihan nasinya kamu aduk-aduk gitu pusing dia nanti," kata Tama.
__ADS_1
"Nggak selera makan Mas," keluh Ratna.
Tama mengulurkan tangannya hanya untuk menempelkan punggung tangannya di dahi Ratna. Tama merasakan jika suhu tubuh Ratna tidak seperti biasanya. Dia demam, apalagi Tama juga melihat keringat dingin mengalir di keningnya. Ratna juga terlihat sedikit kedinginan.
"Dek, kamu libur kan hari ini?" tanya Tama.
"Iya, aku shift nanti malam. Tapi tetap posisi stand by," jawab Ratna.
"Isitrahat ya, kamu demam ini."
Ratna mengangguk, "Mas aku mau tidur aja boleh ya? Nanti piring kotornya tinggal aja biar Ratna yang beresin."
"Kamu sakit gitu mau beresin rumah gimana caranya? Udah Mas aja yang beres-beres nggak papa. Kamu dihabisin dulu makannya, paling nggak perutnya keisi dikit biar bisa minum obat," kata Ratna.
"Nggak mau, mau langsung tidur. Kepalaku pusing banget," keluh Ratna lagi.
"Yaudah iya sana tidur, jangan maksain diri," kata Tama.
Ratna akhirnya kembali masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Tama seorang diri menghabiskan makan paginya di meja makan. Setelah selesai, Tama meraih piring Ratna dan menghabiskan makanannya juga. Sayang kalau dibuang, lagi pula Ratna kalau makan rapi. Jadi masih bisa layak dimakan oleh Tama.
Selesai mencuci piring, Tama melangkah menyusul Ratna ke dalam kamar. Dia letakkan teh hangat Ratna di nakas sebelah tempat tidur baru dia berjalan ke rak di pojok meja tv untuk mengambil kotak P3K. Kotak P3K yang mereka miliki cukup lengkap, bukan hanya karena Ratna yang seorang dokter, tapi Tama sendiri juga sadar betul betapa pentingnya keberadaan benda ini di rumah.
Tama meraih satu plester kompres lalu menempelkannya di dahi Ratna. Sepertinya Ratna tidak tertidur. Dia hanya berusaha tetap memejamkan matanya, Ratna terus berguling ke kanan dan ke kiri akibat pusing yang mengganggunya. Tama dengan penuh perhatian membetulkan selimut Ratna lalu menepuk-nepuk bahunya pelan membuat Ratna sedikit lebih tenang.
__ADS_1
"Cepet sembuh sayangnya Mas," kata Tama sambil mencium kening Ratna yang sudah kembali tidur.