
Setelah selesai absen dan melapor pada atasannya, Tama melangkah ke meja kerjanya untuk meletakkan tas lalu pergi menuju ke gym. Sudah 1 minggu dia tidak olahraga jadi dia perlu memperbaiki postur badannya.
"Ohoo~ Pratama Aji...," sorak rekan kerja Tama ketika melihatnya masuk.
"Ini dia pengantin baru kita~"
"Hmm seger ya Aji sekarang...,"
"Bang Aji kok sudah masuk sih? Ku pikir ambil cuti buat honey moon."
"Wah susah ya jadi artis, ke mana-mana disoraki," kata Tama dengan begitu percaya diri.
"Gila kau sudah. Baru 1 minggu tidak masuk tingkat kepercayaan dirimu itu sudah tinggi benar," kata seorang sambil melemparkan botol air mineral kosong ke arah Aji.
"Ngomong-ngomong selamat Ji sudah nikah kau sekarang."
"Makasih pak Leo," jawab Aji.
"Heh cerita dong, bagaimana istrimu? Cantik?" tanya Pak Slamet.
"Wuahh Slamet, kau harus lihat istrinya Aji cuantek pol. Dokter pula," kata pak Somat.
"Lho..., lho..., kenapa jadi kau yang muji Somat, dia istri Aji atau istri keduamu?"
"Istri saya pak Sabar, Namanya Ratna. Iya dia dokter, cantik banget kaya kata pak Somat tapi jangan suka, dia punya saya," kata Tama mengundang gelak tawa.
"Nah sekarang tinggal si bungsu ini. Nesya, kau kapan mau menikah?" tanya pak Leo.
"Ah belum ada yang mau diajak Pak, habis saya pikir bakal sama Bang Aji tahunya malah sudah nikah duluan," kata Nesya.
"Eh enak saja, kamu mau dimutasi? Kena hukuman indisipliner mau? Satu tim pula kamu ini ada-ada saja," jawab Tama.
"Nggak beneran elah, becanda doang Bang," kata Nesya.
__ADS_1
"Lagian kau ini Nesya, anak gadis kok pakai masuk Brimob. Sudah tidak punya kawan kau juga sulit dapat pasangan," kata Pak Slamet.
"Rejekinya di sini Pak, mau bagaimana lagi?"
Malam itu Tama dan timnya hanya latihan sambil mengobrol hingga larut malam. Setelah lelah Tama berhenti dan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain. Banyak laporan yang harus dia selesaikan jadi daripada dia hanya mengobrol tidak jelas dia lebih memilih nyicil kerjaan. Lagi pula pekerjaannya tidak akan pernah ada habisnya jadi dia tidak ingin mereka menumpuk dan membuat Tama stres.
Menjelang subuh ada satu pesan masuk dari Ratna, dia baru bangun dan mengingatkan Tama untuk sholat. Dia jadi sadar kalau hari sudah mulai pagi jadi Tama bangkit menuju ke masjid untuk sholat jamaah dengan yang lainnya. Selesai sholat subuh dia kembali ke markas bersiap untuk apel pagi dan briefing.
Tama hari itu memiliki jadwal latihan tembak bersama teman-temannya. Walau dia masih terbilang belum lama bekerja di sana, namun kemampuan termasuk yang terbaik. Jarang seorang Pratama Aji melakukan kesalahan. Bahkan dalam banyak latihan dia sering menyukseskan misi dengan kemampuannya itu.
"Aji, bantu Pak Leo ajari anak baru di lapangan B," perintah pak Somat.
"Siap. Laksanakan."
Panggilan Tama di kalangan pekerjaannya adalah "Aji". Dulu di sekolahnya pun begitu, hanya orang-orang terdekat yang memanggilnya Tama. Sama seperti Ratna yang memiliki nama kecil "Nana", dia juga sama.
Tama dengan segala karismanya berdiri tegak memberikan pelajaran pada anak-anak calon anggota Brimob. Mereka adalah anak-anak yang sedang menjalani pelatihan dan magang termasuk juga para bawahan Tama yang masih harus banyak belajar. Kalau di Jogja Tama memiliki Cece, di sini dia memiliki Nesya sebagai partner. Walaupun dia adalah seorang perempuan, tapi Nesya ini tidak main-main. Dalam bela diri tangan kosong hanya Nesya satu-satunya yang berhasil membanting Tama hanya dengan sekali gerakan.
Jam makan siang sudah berlalu, Ratna baru selesai mencuci pakaian dan memasak. Rasanya cukup lelah karena memang dia belum memiliki kesempatan untuk istirahat dengan benar. Mendekati ashar Ratna berjalan-jalan keluar. Tama bilang sementara ini Ratna jangan keluar dari kompleks perumahan jadi dia menurut. Ratna hanya berjalan-jalan di sekitar blok sambil berkenalan dengan ibu-ibu istri anggota polisi yang bernasib sama dengan Ratna. Mereka semua hidup dan menetap di sini mengikuti suami.
Ratna beruntung memiliki banyak kenalan yang baik. Dia memang yang paling kecil karena rata-rata usia yang lainnya 30-40 tahunan. Agak jauh dengan Ratna yang bahkan belum genap 25.
"Dek Ratna, mau tanya nih maaf sebelumnya. Dek Ratna kan masih muda, dokter pula. Kenapa kok adek lebih memilih menikah dengan seorang anggota Brimob?" tanya bu Indah.
"Hmm kenapa ya Bu, soalnya saya suka dengan orang yang nggak neko-neko. Lagian Mas Tama itu baik banget sama saya, saya nikah muda gini belum ada pengetahuan sama sekali tapi Mas Tama nggak pernah menuntut apa-apa," jawab Ratna.
"Mas Tama?"
"Eh anu, Mas Aji maksud saya. Duh saya kebawa orang rumah manggilnya Tama, hehe...," kekeh Ratna dijawab ohh oleh ibu-ibu.
"Nggak papa, namanya panggilan sayang. Mumpung masih belum punya anak, nanti kalau sudah punya anak panggilannya otomatis berubah. Saya saja panggilannya jadi Mamanya Deva, manggil suami juga Papanya Deva," kata Bu Rosa.
"Dipuas-puasin berdua dulu saja dek Ratna. Kalau ada yang bilang anggota polisi itu wajib punya anak cepet nggak perlu dipikir banget-banget. Yang penting doanya, jadi dek Ratna nggak stres. Pokoknya kalau ada apa-apa cerita, dek Ratna kan jauh dari keluarga tapi setidaknya di sini ada kita-kita sebagai keluarga barunya dek Ratna," kata bu Indah membuat Ratna tersenyum. Dia merasakan begitu baik orang-orang ini padanya. Padahal Ratna sebenarnya agak sulit bergaul dengan orang baru, tapi dengan ibu-ibu ini dia merasa nyaman walau baru beberapa hari kenal.
__ADS_1
Ratna berterima kasih karena ibu-ibu ini dengan senang hati mengajari Ratna banyak hal. Bukan hanya apa yang harus dan tidak boleh dia lakukan, tapi juga tips-tips menjadi istri yang baik untuk seorang anggota kepolisian.
"Dek, lusa ada acara bakti sosial. Dek Ratna ikut yuk kalau masih selo," ajak Bu Indah.
"Boleh Bu?"
"Wajib atuh dek, kamu kan anggota Bhayangkari juga," kata Bu Rosa.
Ratna mengangguk, dia mengiyakan ajakan bu Indah, Bu Rosa, dan Bu Odah untuk ikut dalam acara bakti sosial lusa. Karena sebentar lagi maghrib, kumpulan ibu-ibu itu membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Ada yang harus memasak makan malam, ada pula yang harus memandikan anak. Kalau untuk Ratna dia masuk ke dalam rumah lebih dulu menyalakan setrika, lalu memilah pakaian yang perlu disetrika sekalian melipat baju-baju lainnya.
Sambil nonton tv Ratna menyetrika semua jemuran dia kemarin dan hari ini. Untung panas matahari mendukungnya untuk beres-beres jadi Ratna bisa segera menciptakan suasana rumah yang lebih baik lagi dibanding sebelumnya. Ketika Tama pulang ke rumah, Ratna masih berkutat dengan cuciannya jadi dia belum sempat menyiapkan makan malam.
"Dek, mau makan di luar nggak?" tanya Tama.
"Makan di luar mulu, nggak ah boros," jawab Ratna.
"Nggak boros sayangku, seminggu ini aja. Mumpung Mas masih santai jadi bisa sering ngajak kamu jalan-jalan, kita nggak bulan madu apalagi kedepannya Mas nggak janji bisa kasih banyak waktu buat kamu," kata Tama.
"Yaudah, tapi Mas Tama mandi dulu. Aku juga ngomong-ngomong belum mandi sih."
"Mandi bareng aja yuk biar cepet," ajak Tama.
"Cepet dari mananya?! Nggak ah red day," tolak Ratna.
"Kok kamu nggak bilang dek kalau lagi halangan?"
"Mau bilang gimana Mas kan baru pulang, lagian sebenernya belum tanggalnya sih."
"Yakin kamu nggak papa? Biasanya suka sakit kalau hari pertama," tanya Tama lagi.
"Insyaallah, nggak papa. Udah sana Mas Tama mandi dulu terus sholat ya. Ratna tunggu."
Pada akhirnya Tama dan Ratna tidak jadi berkeliling. Belum juga sampai pergi jauh Ratna mengeluh kedinginan dan perutnya sakit jadi mereka hanya sempat makan mie ayam dan langsung pulang. Biar Ratna bisa istirahat. Tama juga kalau boleh jujur butuh istirahat, dia sudah mulai kelelahan karena terlalu fokus membantu Ratna yang harus beradaptasi pada lingkungan baru yang jauh berbeda dengan kondisi lingkungannya selama ini. Kekhawatirannya lagi-lagi hanya sia-sia. Bahkan Ratna tidak merepotkan dia sama sekali. Semoga saja hal ini akan terus berlanjut. Semoga rumah tangga Tama dan Ratna akan terus baik-baik saja sampai nanti.
__ADS_1