
Pagi ini Ratna akan menghadiri pertemuan rutin ibu-ibu bhayangkari, biasa arisan. Tama menurunkan Ratna persis di depan lobby baru memarkir mobilnya di tempat parkir. Perut Ratna sudah mulai berat dan Tama tidak tega pada istrinya yang harus selalu membawa si kecil kemana-mana tanpa bisa istirahat. Setelah memarkir mobilnya dengan benar, Tama bergegas menuju ke lobby menyusul Ratna kemudian bersama-sama naik ke ruang pertemuan di lantai 3.
Alasan kenapa Tama ikut dalam pertemuan adalah, karena mereka akan membahas soal haornas yang akan dirayakan oleh seluruh personil beserta istri/ suami dan Tama sebagai perwakilan diminta hadir untuk membantu mengatur jadwal.
"Ini fiks ya, kita rayakan hari Jumat selepas upacara. Bagaimana ibu-ibu setuju?" tanya Tama meminta persetujuan.
"Setuju Pak," jawab ibu-ibu kompak.
"Terus pakaiannya bagaimana Pak? Harus pakaian formal dulu?"
"Karena kita upacara dalam rangka hari olahraga ibu-ibu bisa langsung pakai pakaian olahraga saja. Terus untuk panitia, kan mau ada lomba memasak katanya. Otomatis kan akan pakai lapangan butuh tenda dan lain sebagainya, perizinan pinjam tenda bisa langsung ke subbag logistik ya. Kalau sudah dapat ACC nanti lapor saya biar nanti saya dan anggota yang mendirikan tendanya. Ibu-ibu terima beres," kata Tama lagi.
"Baik Pak Aji, terima kasih," jawab Mbak Puput yang merupakan ketua panitia.
Selesai dengan rapat koordinasinya, Tama undur diri. Dia kembali ke kantornya sedangkan ibu-ibu masih bertahan di sana sampai lepas makan siang. Ratna dan Lilis yang lebih dulu mengundurkan diri karena akan menemani Ratna check up. Lilis bilang dia ingin sekali-kali menemui Ela yang dulu pernah kenal juga dengannya juga Dipta dan yang lainnya kalau beruntung. Mumpung dia senggang dan suaminya Ratna sedang banyak pekerjaan dan tidak bisa mengantar.
Sebelum pergi, Ratna lebih dulu turun ke lantai 2 menemui Tama yang sejak tadi sudah berada di ruangan mengerjakan sesuatu. Ratna mengetuk pintu kemudian dipersilahkan masuk oleh Bayu yang sedang sibuk di mejanya.
"Mas, aku sama Lilis pergi dulu ya," pamit Ratna kepada suaminya.
"Ya, hati-hati ya Bunda. Nanti hasilnya gimana Ayah kabari," jawab Tama sambil menerima tangan Ratna. Setelah Tama mencium kening Ratna, dia undur diri.
Lilis dan Ratna menuju ke rumah sakit dan langsung ke poli kandungan lebih dahulu. Sembari menunggu, Ratna memberi kabar pada sahabat-sahabatnya untuk yang tidak memiliki pekerjaan bisa merapat di cafe depan rumah sakit dan menyapa Lilis. Sayangnya semua sedang sibuk. Theo ada di ruang operasi, Dipta di poli hingga sore, Jay masih ambil cuti menemani Nita yang kerepotan setelah melahirkan. Hanya Ela yang bisa ditemui dan saat ini orangnya sudah duduk dengan mereka di depan poli.
Sesuai dugaan, Ela dan Lilis bisa sama-sama heboh. Wajar, sebelum pertikaian itu kan sebenarnya mereka sudah saling kenal dan akrab. Makanya mereka bisa kembali akrab walaupun sudah sangat lama tidak bertemu.
"Oho, kalau habis ini mau ngedrama gue dukung," kata Ela tiba-tiba.
"Ada apa sih?"
"Noh yang bikin lo berdua pernah ribut dateng sama istrinya."
__ADS_1
Ratna langsung membuang muka, Lilis apalagi. Mereka bertiga tidak ada satupun yang menyapa Vino yang datang menemani istrinya check up juga. Padahal Vino duduk tepat dibelakang mereka bertiga. Lilis juga sebenarnya duduk menghadap kesamping agar lebih mudah mengobrol dengan Ela dan Ratna tapi dia juga tidak sekalipun menyapa.
"Eh Lis, ngomong-ngomong kok anakmu nggak diajak sih," kata Ela.
"Siapa? Si Abang kan sekolah, kalau Faisal mana mau diajak. Dia itu aktif banget anaknya nggak bisa diem sama sekali. Dari pada aku ajak malah rewel yaudah lah aku titip sama pengasuhnya di rumah, sekali-kali ini nggak setiap hari."
"Berarti habis dari sini harus langsung pulang kamu. Jauh rumahmu lho," tegur Ratna.
"Nggak papa, kan aku pulang sama Papanya anak-anak. Katanya dia ada rapat koordinasi sama Dansat. Terus pulangnya ngajak bareng, makanya aku nyantai," jawab Lilis.
Ketika obrolan ketiga wanita ini sedang asik-asiknya, istri Vino pamit ke kamar mandi dan meninggalkan Vino seorang diri di belakang tiga orang yang sebenarnya adalah temannya semasa kuliah ini. Bahkan dua diantaranya pernah menjadi spesial di hatinya.
"Hi," sapa Vino memberanikan diri menyapa ketiganya.
"Maaf siapa ya?" balas Lilis.
"Ibu Adiratna?" panggil suster meminta Ratna untuk masuk. Lilis menemani Ratna masuk sedangkan Ela masih bertahan sedikit lebih lama hanya untuk melayangkan ancaman pada Vino.
Setelah beberapa waktu ada di dalam, Ratna, Lilis, dan Ela keluar dari ruang pemeriksaan. Ratna langsung meraih handphonenya berniat mengirim foto hasil USG si kecil pada Tama tapi urung dia lakukan karena Ratna mendengar cibiran keras dari arah samping yang tidak lain dan tidak bukan dari istri Vino.
"Dasar gadis murahan," katanya.
"Sayang, jangan mulai. Rame, malu dilihat orang," kata Vino mencoba menahan istrinya.
Ela dan Lilis sedikit mendorong Ratna agar mereka bisa segera menjauh dari sana. Lilis mentraktir Ratna dan Ela di cafe depan rumah sakit, sekalian menenangkan hati setelah dibuat emosi oleh istrinya Vino barusan. Kalau Ratna sih sudah beberapa kali menghadapinya tapi bagi Lilis ini yang pertama makanya dia bisa begitu emosi.
Ela sudah undur diri karena harus melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Ratna yang pada dasarnya hari ini tidak ada jam shift bisa seharian duduk bersama Lilis di cafe untuk ngobrol kesana kemari. Sudah lama juga kan mereka tidak bertemu dan ada waktu untuk saling curhat begini. Selain Lilis sibuk, Ratna juga tidak pernah ada waktu.
Hanya satu hal yang membuat mereka berdua suntuk adalah kehadiran Vino dan istrinya yang akhirnya duduk tak jauh dari mereka berdua. Sebenarnya Lilis sudah minta pindah tempat saja tapi karena di luar hujan, mereka jadi tidak bisa kemana-mana. Untung Tama dan Chandra segera datang dan bergabung bersama mereka berdua, jadi Ratna tidak perlu was-was lagi karena dia tahu istrinya Vino itu bisa begitu nekat.
"Idih tukang pamer. Mentang-mentang suaminya polisi," cibir istrinya Vino yang panas melihat Ratna dan Lilis terlihat anggun dengan seragam pinknya ditambah kehadiran dua orang laki-laki berseragam hitam di sebelahnya membuat mereka berempat menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Sayang, udah dong kamu tuh kenapa sih? Aku sudah berhenti lho. Aku udah nggak mikirin dia, aku cuma mikirin kamu nggak yang lain," kata Vino.
"Kamu juga. Dari bahasamu aja aku tahu kamu masih sayang sama cewek murahan itu. Aku juga tahu kali kalau yang namanya Lilis itu juga pernah jadi pacar kamu."
Pertengkaran Vino dengan istrinya tidak sengaja terdengar oleh Tama dan Chandra. Kalau Tama sih sudah tidak menggubris tapi Chandra yang belum tahu siapa dia sebenarnya mulai kepo.
"Anjir, berantem sama istri kok dihadapan umum. Nggak malu tuh?" kata Chandra.
"Bang, tahu nggak tuh orang namanya siapa?" tanya Tama pada Chandra.
"Saha?"
"Alvino. Mantannya istrimu sama istriku, Bang. Dan yang lagi mereka berdua ributin itu adalah Ratna dan Lilis yang sekarang lagi anteng duduk di sini," kata Tama sedikit berbisik.
"Owalah, itu toh mantanmu. Nggak ganteng. Masih gantengan Papa, ya nggak?" tanya Chandra pada istrinya. Tangannya juga langsung merangkul Lilis dengan posesif.
"Ya jelas. Aku aja nyesel, ngapain juga aku pernah suka sama cowok modelan kek gitu. Untung aku sadar ya Pa, walaupun aku kelihatan kaya nikah sama om-om tapi setidaknya kamu jauh lebih baik. Kamu itu segalanya buat aku," kata Lilis.
"Yaelah Ma, cuma beda 8 tahun doang," protes Chandra.
"Asem beda 8 tahun ki banyak Bang," kata Tama.
"Itu nggak cuma sih kayanya. 8 tahun tuh bedanya jauh lho. Tapi dibanding salut ke Lilis aku lebih salut ke Bang Chandra yang bisa menaklukkan hati kerasnya Lilis Malati. Dia kan nggak doyan cowok lebih tua, tapi mau dinikahi sama Abang," goda Ratna.
"Ya siapa yang nggak mau dinikahi sama cowok kaya Bang Chandra," Lilis membanggakan suaminya.
"Aku nggak mau tuh," celetuk Ratna tanpa dosa.
"Heh Adiratna, kamu mau sama Bang Chandra terus kita berantem lagi kaya waktu itu iya?" kata Lilis.
"Bunda, Ayah masih kurang po?" protes Tama ikut-ikutan.
__ADS_1
"Nggak beneran Ayah. Kan aku bilang aku nggak mau. Aku maunya cuma sama kamu, cemburuan banget sih," kata Ratna membuat Tama tidak berani protes lebih banyak lagi.