
Pagi berikutnya, selepas subuh rumah Ratna sudah heboh. Sasa memandikan Adrian kemudian menyerahkannya pada Papanya sedangkan dia menata koper Papanya untuk dibawa pulang. Kalau Ibu sibuk memasak dan membuat bekal untuk makan di rumah sakit nanti. Ibu juga membantu membuatkan MPASI dan bekal untuk cucunya.
Gandhi membawa mobilnya menuju ke rumah sakit dan memarkirnya di tempat parkir paviliun. Setelah itu mereka berjalan naik ke lantai 3 menuju ke ruang rawat Bapak. Ratna lebih dulu memisahkan diri karena harus absen. Dia hanya menyerahkan tas berisi seragam Tama pada Sasa dan menuju ke ruang kerjanya di gedung sebelah. Ratna segera meletakkan tasnya, memasukkan note kecil dalam saku snelli lalu meraih stetoskop dan senter kecil yang selalu dia bawa kemana-mana.
Untuk berjaga-jaga jika ada pasien darurat, Ratna juga sudah sekalian berganti menggunakan seragam OK dan melipat rapi pakaian yang dipakainya tadi ke dalam loker. Ratna tidak lupa mengganti sepatunya dengan sepatu khusus baru dia melangkah ke ruang inap Bapak.
"Sus, saya jam visit masih 1 jam lagi kan? Saya mau besuk Bapak dulu, nanti kalau sudah siap bisa kabari saya?" minta Ratna pada perawat yang berjaga.
"Baik Dok."
Setelah mendapatkan persetujuan, Ratna pergi. Ketika sampai, Nata sedang heboh mengantri kamar mandi. Dia bilang perutnya sakit padahal toilet sedang dipakai oleh kakak iparnya. Kalau Bapak saat ini anteng sambil bermain dengan Ian yang ikut duduk di atas ranjang Bapak.
"Kok pada heboh semalem ngapain emang?" tanya Ratna sambil menyomot tempe goreng yang dibawa Ibu tadi.
"Semalem Bang Tama ngajak beli bakso mercon. Aku mah ayo ayo aja nggak taunya malah sakit perutku. Bang cepetan woy gantian udah diujung ini," kata Nata sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Sabar. Belum beres."
"Bapak gimana kondisinya? Semalem tidurnya nyenyak nggak?" tanya Ratna pada Bapak.
"Alhamdulillah. Wong kasure empuk kaya ngene yo enak. Njuk dadi betah Bapak nang kene."
"Bapak...!!!"
"Maksud Bapak betah itu bukan betah sakit. Mbok dilihat to Bu, kapan meneh lihat anak-anak pada ngumpul kaya gini," kata Bapak pada Ibu yang kini ikut tersenyum.
Sekitar 20 menit kemudian kerusuhan Tama dan Nata berakhir. Sasa membelikan keduanya susu untuk menetralkan sakit perutnya baru keduanya anteng. Tama yang pertama bersiap lengkap dengan seragamnya kemudian melapisinya dengan jaket. Nata juga menyusul, bersiap dengan seragam tarunanya karena setelah ini harus segera kembali ke akademi.
"Bapak, maaf ya aku balik duluan. Semoga lancar operasinya. Nanti Mbak kabari ya kalau Bapak sudah keluar," pamit Nata pada semuanya.
Tama juga ikut pamitan pada Bapak. Tama yang bertugas mengantar iparnya ke pangkalan baru dia melanjutkan jalannya menuju ke kantor. Hari ini Tama akan sibuk jadi hanya Ibu, dan Sasa yang menemani Bapak yang baru saja masuk ke dalam ruang operasi sementara Ratna dengan terpaksa harus meninggalkan Bapak untuk mengurus pasiennya di IGD.
__ADS_1
"Berapa orang?" tanya Ratna pada seorang perawat.
"3 orang luka berat. Sampai dalam 8 menit," jawab perawat itu.
"Sudah hubungi dokter ortopedi dan saraf kan?"
"Sudah."
Ratna memeriksa pasiennya bersama dengan Jay sedangkan di ruang sebelah satu dokter neurologi memeriksa pasien yang lainnya. Tak jarang pasien kecelakaan datang dengan kondisi yang gawat, dan menyeramkan. Seperti pasien yang tengah ditangani Ratna saat ini misalkan, pasien laki-laki berusia sekitar 40 tahunan yang kecelakaan dan membuat kakinya patah. Jay sedang memeriksa kondisi tulang kakinya yang mencuat keluar sedangkan Ratna memeriksa bagian perut karena menemukan luka lebam yang cukup jelas di area perut.
"Jadi siapa dulu ya masuk?" tanya Jay.
"Pendarahan di perutnya harus segera dihentikan. Bisa kakinya menunggu?" tanya Ratna.
"Ok, aku masuk setelah kau selesai. Sus, tolong siapkan semuanya," kata Jay dengan tenang.
Ratna dan Jay langsung menuju ke ruang OK dan bersiap mengurus pasien yang datang. Sambil menunggu pasien siap, Ratna dan Jay mempelajari kembali kondisinya seperti apa. Terutama Ratna yang harus mengamati secara detail kira-kira dimana letak lukanya. Ratna dibantu 2 orang residen lebih dulu melakukan pembedahan kemudian setelah selesai dia serahkan pasien kepada Jaehyun untuk ditangani dengan lebih lanjut. Ketika Ratna baru keluar dari ruang operasi, sudah ada dua orang polisi yang mencarinya.
"Tugas kami di sini hanya memeriksa dan mengusahakan kesembuhan semua pasien yang datang. Kami tidak peduli pada status pasien. Jika anda mengajukan tuntutan, silahkan anda bicara dengan polisi. Bukan kepada saya," kata Ratna.
"Dasar dokter gila uang," katanya membuat emosi Ratna langsung memuncak. Beruntung Jay menahannya jadi Ratna tidak mengamuk.
"Bu, sebelum kami dinyatakan sebagai dokter dan diizinkan menangani pasien kami sudah disumpah lebih dulu. Dalam sumpah kami menyebut akan menyelamatkan siapapun yang membutuhkan bantuan tanpa memandang status. Jika kami tidak menyembuhkan pasien hanya karena permintaan Ibu, kami melanggar sumpah kami sendiri. Kami juga bisa mendapatkan surat peringatan atau bahkan pemecatan. Menegakkan keadilan bukanlah tugas kami, karena menurut kami semua staff medis keadilan artinya memberikan pelayanan kesehatan kepada siapapun tanpa pandang bulu, anda sudah mengerti?" kata Jay sebelum benar-benar pergi.
Sampai di ruangan Ratna mengamuk. Dia menggigit ujung lengan jaketnya untuk melampiaskan kekesalannya. Ela yang sedang berada di sana sampai heran kenapa Ratna bisa semarah itu.
"Ada apa sih?"
"Biasa," kata Jay.
"Gila tuh orang. Mulutnya nggak pernah disekolahin kali ya. Seenak jidat ngatain gue gila duit. Kurang ajar," kata Ratna masih terus mengutuk.
__ADS_1
"Mulutmu juga ikutan nggak sekolah lama-lama. Udah sih nggak usah dipikirin," kata Jay.
"Emosi gue lama-lama. Jaman sekarang masih ada aja yang modelan begitu."
"Banyak Ratna, banyak banget," kata Ela tanpa menoleh pada Ratna yang masih marah-marah.
"Tau ah gue ogah terjebak sama bacotan kalian berdua. Gue mau nemui ayang beb ajalah," kata Jay.
"Nita nggak ikut masuk ruang operasi?"
"Gila anda. Mau jadi apa anak gue kalo Nita sampai ikut masuk ruang operasi," protes Jay.
"Hah. Mulut lo juga sama aja kotornya. Tau nggak?" protes Ratna pada Jay kemudian mendahului keluar dari ruang kerja mereka. Bagaimanapun juga Ratna masih harus merawat pasiennya dengan baik. Sembari menunggu Bapak keluar dari ICU, Ratna memajukan jadwal visit pasiennya jadi dia bisa menemani Bapak setelah ini.
Sekitar 2 jam perawatan di ICU, Bapak dinyatakan baik dan diperbolehkan pindah kembali ke bangsal. Sasa sedang mengantar Gandhi ke bandara jadi hanya ada Ibu yang menemani Bapak. Ratna menerima laporan hasil operasinya dari Theo kemudian dia menyusul Ibu ke paviliun.
"Bu udah makan?" tanya Ratna.
"Belum sempat."
"Yasudah Ibu makan dulu saja."
"Lha kamu?"
"Aku nunggu Mas pulang. Ibu kalau mau makan di kantin bawah buka sampai malam kok Bu."
"Nantilah nunggu Sasa balik aja. Wong katanya dia mau beliin makan sekalian," tolak Ibu.
"Beneran?"
"Iya wis rapopo."
__ADS_1