
Semakin malam Ratna semakin panik dan semakin tidak terkondisikan. Semalaman dia tidak bisa tidur karena kontraksi yang terus mengganggunya. Tama diam-diam berkonsultasi bagaimana caranya agar setidaknya dia bisa meringankan beban pikiran Ratna. Dokter bilang kemajuan Ratna lambat karena dia terus mengalami panik dan stres jadi dokter menyarankan untuk Tama mengajak Ratna jalan-jalan di taman rumah sakit mencari udara segar atau dibelikan makanan apapun yang dia mau.
Tama bukan hanya sekedar mengajak Ratna ke taman rumah sakit, dia sudah lebih dulu membeli roti coklat hangat yang selalu dijual di minimarket depan rumah sakit. Tama juga membelikan segelas teh hangat untuk Ratna yang dia masukkan ke dalam termos kecil bergambar lumba-lumba yang dibawa Mama tadi. Ratna terlihat asik memakan roti sambil disuapi oleh Tama. Sesekali dia memang merasakan sakit, dan ketika sakit itu muncul dia akan menggenggam tangan Tama dengan begitu erat.
"Dek, sakit banget?" tanya Tama.
"Maaf, sakit ya?" Ratna balik bertanya sambil mengelus lengan suaminya yang sedikit memerah.
"Nggak papa. Sini, masih sakit nggak? Mau pegang tangan Mas lagi?" tawar Tama tapi digelengi oleh Ratna.
"Mas, aku mau ngomong."
"Apa?"
"Andai nanti prosesnya nggak lancar dan aku nyerah ditengah jalan...,"
"Dek, kenapa kamu pesimis. Jangan bilang kaya gitu lah. Mas takut, serius," cegah Tama.
"Dengerin dulu."
"Andai aku nggak kuat dan mau nyerah nanti, Mas harus bisa kuatin aku. Mas harus paksa aku buat bertahan. Aku nggak akan bisa kalau berjuang sendirian. Mas janji kan nanti akan ada sama aku terus?" kata Ratna diangguki oleh Tama.
"Nanti kalau aku teriak Mas jangan pergi," katanya lagi.
"Iya sayang, Mas nggak akan pergi kok. Kuat nggak kuat Mas akan ada di samping kamu."
"Sakit lagi?" tanya Tama ketika Ratna yang duduk dihadapannya menunduk dan kembali meremat tangan Tama dengan kedua tangan mungilnya.
"Kalau sakit banget kita balik aja ya," kata Tama lagi.
"Nanti dulu ah. Suntuk di kamar terus,"
__ADS_1
"Udah nggak sesak nafas lagi kan tapi?" tanya Tama.
"Nggak sesak kok, biasa aja. Tapi pikiranku melayang-layang. Susah banget rasanya buat nggak mikir yang aneh-aneh," keluh Ratna.
Tama mengelus perut Ratna yang terasa lebih kaku dibandingkan semalam. Tama membetulkan jaket yang menyelimuti tubuh istrinya kemudian dia gosokkan kedua tangannya untuk menghangatkan pipi Ratna yang terasa dingin. Ketika Ratna merasakan kembali kontraksi di perutnya dan kembali mengencangkan genggamannya pada Tama, dia beralih mengelus kepala Ratna kemudian mengecup kening istrinya penuh sayang.
"Udah balik aja Dek, kamu istirahat, tidur. Perjuanganmu masih panjang," kata Tama.
Ratna menurut, setelah selesai kontraksi barusan, dia bangkit berdiri. Tama dengan sabar memapah Ratna kembali ke dalam kamar inapnya, menyusuri lorong rumah sakit. Karena kamar rawat Ratna ada di lantai 3, mau tidak mau mereka menggunakan lift. Dalam lift hanya ada mereka berdua sebenarnya, tapi ketika pintu akan tertutup ada seseorang memencet tombol membuat pintunya kembali terbuka. Tadinya Ratna tidak ambil pusing, tapi setelah tau siapa yang memencet bel dia langsung memojokkan dirinya.
Tama panik melihat Ratna seperti orang ketakutan. Pintu lift sudah terlanjur tertutup membuat Tama tidak bisa mengusir orang yang membuat Ratna rakut. Dia hanya mampu berdiri di depan Ratna dan menghalau pandangan istrinya.
"Maaf, bisa anda bergeser? Saya harus membawa istri saya turun," kata Tama ketika lift sampai di lantai 3.
"Saya juga turun di lantai ini," jawabnya mendahului Tama dan Ratna turun dari lift.
Ratna masih terus bertanya-tanya kenapa laki-laki itu bisa ada di rumah sakit padahal Dipta bilang istrinya sudah melahirkan 3 minggu sebelum Ratna.
"Udah nggak usah dipikirin. Fokus aja sama yang di sini. Mas kan ada di sampingmu jadi kamu nggak perlu takut," jawab Tama berusaha menenangkan istrinya.
"Kenapa Tam?"
"Itu Bu, ada mantan pacar Ratna dulu. Istrinya agak nyeleneh, pernah dorong Ratna juga," kata Tama.
"Memangnya kamu masih ada rasa sama dia kok sampai istrinya kaya gitu?"
"Ma, jangan mulai," tegas Tama.
"Nggak ada Ma, sumpah nggak ada," kata Ratna yang langsung merasakan tekanan.
"Kalau kamu nggak ada rasa kenapa istrinya bisa kaya gitu? Pasti ada alasannya dong."
__ADS_1
"Mama. Sudah kubilang berhenti!" kata Tama tanpa sengaja berteriak.
Perut Ratna langsung bergejolak membuat rasa sakitnya berlipat ganda. Ratna kembali meremat lengan Tama membuat Tama segera menetralkan perasaan hatinya. Tama meminta Mama untuk keluar sebentar karena tiba-tiba Ratna merintih begitu keras. Tama juga memanggil dokter untuk datang dan dokter bilang Ratna harus melahirkan sekarang juga. Setelah diperiksa, Ratna segera dipindahkan ke ruang bersalin dan terus berada di sana dengan beberapa alat yang menempel pada tubuhnya.
"Bunda udahan nangisnya," kata Tama dengan penuh perasaan bersalah.
Ratna tidak merespon. Tangan Tama terus menangkup wajah Ratna dan menghapus setiap air mata yang lolos keluar dari pelupuk mata istrinya. Beberapa kali Tama mencium kening Ratna, juga bibirnya, beralih ke matanya. Semuanya dia lakukan demi melihat Ratna baik-baik saja. Dokter memperingatkan tingkat stres Ratna tinggi jadi kondisinya melemah.
"Mas...," kata Ratna dengan suara lirih.
"Kenapa sayang?"
"Oksigenku nggak kerasa," keluhnya.
"Bunda, oksigennya sudah tinggi lho. Dokter aja nggak berani naikin levelnya lagi. Diatur yuk nafasnya pelan-pelan. Bisa kok. Tenangin hatimu, istighfar Bunda. Percaya sama Mas, semuanya akan baik-baik saja," kata Tama sambil mengelus kepala Ratna dan membantunya mengatur nafas.
Sekitar 2 jam mereka berjuang bersama. Ratna mulai meraung kesakitan ketika merasakan ada yang keluar dari antara kakinya. Tama dengan setia selalu mendekap Ratna, tangannya terus menggenggam tangan Ratna dan tidak ada niat sedikitpun untuk meninggalkannya. Dia menyaksikan langsung, sekeras apa usaha Ratna mendorong keluar putranya. Seberapa beratnya Ratna berusaha untuk bertemu dengan Aksara.
Dokter terus menyemangatinya, begitupun dengan Tama. Air matanya sudah tidak terbendung lagi ketika Ratna beberapa kali ingin menyerah dan berhenti mendorong. Tama dengan amat terpaksa memaksa Ratna. Untuk pertama kalinya sejak keduanya saling mengenal, ini adalah kali pertama Tama memaksakan kehendaknya pada sang istri.
"Mas, aku nggak kuat," kata Ratna yang sudah kehabisan tenaga.
"Nggak. Kamu bisa Bunda. Kamu kuat. Kamu pasti kuat. Aku nggak mau tahu kamu harus kuat," kata Tama terus berusaha menguatkan Ratna.
Sekali lagi Ratna mendorong. Kali ini dia tidak sendiri, dia merasakan Tama ikut membantunya hingga akhirnya Ratna merasakan jika Aksara sudah sempurna keluar dari perutnya. Ratna langsung menangis ketika mendengar tangisan putranya yang masih penuh dengan darah. Aksara diletakkan di atas pelukannya, sedangkan Tama meraih gunting yang diberikan oleh dokter untuk menggunting tali pusat putranya.
Setelah bersama-sama memastikan Aksara sempurna secara fisik, dia dibawa oleh perawat untuk dimandikan. Ratna sedang dirawat oleh tim dokter sedangkan Tama melangkah keluar untuk memberi kabar pada Mama yang sudah menunggu di depan kamar bersalin. Bapak dan Ibu juga sudah berada di sana sejak beberapa waktu lalu dan ikut bahagia dengan kehadiran anggota baru dalam keluarga besar mereka. Air mata tumpah begitu saja, Bapak, Ibu, dan Mama bergantian memeluk dan mengucapkan selamat pada Tama yang masih menangis bahagia.
Tidak lama kemudian Tama dipanggil untuk kembali masuk, untuk pertama kalinya dia menggendong Aksara dalam dekap tangannya. Menggendong putranya yang sudah sejak lama dia dambakan kehadirannya. Tama dengan suara yang mantap mengumandangkan adzan tepat ditelinga kanan sang putra. Awalnya Aksa masih menangis tapi begitu mendengar suara ayahnya tangisannya lambat laun berhenti dan dia kembali tidur dengan tenang.
"Bunda, makasih ya kamu mau bertahan untuk ayah dan untuk Aksa," kata Tama kini mengecup istrinya yang hanya bisa memandangi Tama yang terlihat begitu berhati-hati ketika menggendong putranya.
__ADS_1